Catatan No. XI : “Penyelidikan”

1894 Words
Tyan terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Di balik baju pasien longgar itu, beberapa perban melilit dadanya untuk menutupi luka bekas operasi. Monitor ECG menunjukkan denyut jantung normal tanpa kendala apa pun. Kondisinya cukup stabil meski berada di ruang ICU. Setidaknya ia tak perlu dipasangkan ventilator sebagai penyambung hidup. Di samping kasur rawat, terdapat Yuki berdiri seraya lengannya terangkat sebatas d**a. Pria itu berusaha mencipta lingkaran sihir tepat di atas posisi Tyan. “Kau bersungguh-sungguh bisa melakukan ini?” ucap Arby menyangsikan. “Kemampuanku tak sehebat Celine, tapi setidaknya aku memahami dasar-dasar untuk sihir penyembuh.” Pada awalnya, perawat melarang keberadaan mereka. Akan tetapi, posisi sebagai abdi negara sanggup membuat Arby mampu menerobos protokol apa pun di instansi mana pun. “Setidaknya Kak Yuki bisa mengeluarkan Tyan dari kondisi kritis,” ucap Orchid. Sedari tadi ia sibuk memegang gadget, entah melakukan apa. Mulut Yuki berkomat-kamit, merapal mantra dalam suara nyaris tak terdengar. Udara bertiup sepoi, mencipta pusaran angin lembut searah jarum jam. Lingkaran sihir tadi berubah kian terang, lalu meletup kecil dalam satu entakkan tangan. “Lima tulang rusuk yang patah berhasil menyambung kembali. Liver, paru-paru kanan yang runtuh, juga beberapa organ lain berhasil melaksanakan fungsi dasar.” Yuki merinci apa yang baru ia lakukan, “Kondisi dia belum kembali utuh seperti sediakala. Kau bisa meminta bantuan Celine untuk bisa menyembuhkannya seperti sediakala.” “Sayangnya, Celine nggak ada,” timpal Orchid. “Juga presiden kami,” sahut Arby. Pria itu kemudian mengajak Yuki dan Orchid keluar dari ruangan. “Sesuai janjiku, akan kuberikan informasi apa pun yang kau mau.” Mereka pun memulai sesi tanya jawab, ketiganya duduk rapi di sofa ruangan. “Oke, apa yang tadi kau ingin tanyakan?” Arby duduk menyandar, sambil meminum secangkir teh. Belum sempat Yuki mengucap, Orchid keburu menyambar, “Kak Arby bisa cerita tentang Maria? Kakak tahu kan, dia sangat mirip dengan rekan kami yang sudah tiada.” Arby berpikir sejenak, “Sepertinya akan sedikit panjang..” Pria itu menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi empuk. “Maria dijuluki Penyihir gelap. Pertama kali muncul ke publik tiga tahun yang lalu.” “Penyihir Gelap?” Yuki membeo dalam gumaman pelan. Sesuatu menggelitik pikirannya. Sementara Orchid menunjukkan wajah terkejut kala mendengar kalimat terakhir. “Tiga tahun yang lalu— itu berarti..” Arby kebingungan, Orchid dan Yuki terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing. “Bukan apa-apa,” sanggah Yuki. “Boleh aku lanjut?” “Silakan.” “Di dunia ini, sihir merupakan hal asing yang hanya ada di dalam dongeng dan kisah fiksi. Kemunculan Maria di tengah gentingnya peperangan sukses memutarbalikkan situasi. Ia menjadi pahlawan karena berhasil menyelamatkan seisi Negeri.” “Perang?” Yuki semakin tertarik. Sejak awal ia memang penasaran dengan konflik yang disebut-sebut terjadi tiga tahun yang lalu. Arby mengangguk, “Perang meletus di kawasan ASEAN. Indonesia nyaris runtuh karena keterbatasan alutsista serta persenjataan. Seluruh kota berhasil diduduki, kekalahan angkatan laut menciptakan efek domino runtuhnya pertahanan seisi negeri.” Wajah Arby merenggut sejenak, membayangkan kembali horor yang pernah terjadi. “Semuanya dirasa tak lagi memungkinkan, hilang harapan dihadapkan dengan akhir berupa kekalahan.” “Di saat itu kak Maria tampil dan membalikkan keadaan?” potong Orchid pelan, berusaha menebak kelanjutan cerita. Anggukan kecil Arby berikan sebagai jawaban, “Gadis itu berperan selayaknya One Man Army. Kedatangan infanteri dibabat habis lewat sapuan sihir berelemen api. Sisa kekuatan yang ada ia perbantukan dengan lapisan perisai mistis tak tertembus. Dia juga sanggup melakukan teleportasi. Jarak bukanlah masalah. Satu jam ia membantu di suatu daerah, menit berikutnya ia tiba di front lainnya tanpa halangan berarti.” Tak peduli secanggih apa pun teknologi warga Planet Bumi. Kemampuan itu hampir  mustahil untuk tertandingi. “Gadis itu satu-satunya alasan negeri ini mampu bertahan. NKRI tak akan selamat tanpa kegigihannya melakukan perlawanan. Tak heran dia dianggap sebagai pahlawan. Semua orang sepakat, dia pantas maju menjadi pimpinan.” “Jadi itu alasan kenapa dia diangkat Presiden di usia muda.” Yuki berkomentar mencipta satu kesimpulan. Arby melanjutkan penjelasan, “Maria berhasil mengambil hati rakyat lewat beragam kebijakan. Gadis itu memberantas korupsi lewat menghukum mati para koruptor. Tanpa Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Negeri ini melejit menjadi Negara Super Power, hanya dalam 2 tahun saja. Indonesia kini maju sebagai negara industri siap menantang dunia. Kekayaan alam berhasil dimanfaatkan dengan baik, walaupun dengan SDM yang masih di bawah rata-rata. Pada awalnya, banyak negara barat yang ingin memecah belah. Namun mereka sadar, usaha mereka sia-sia selama negeri ini berada di bawah kepemimpinannya.” “Hebat...” Orchid takjub mendengarnya. “Hampir seluruh negara barat kini memusuhi Indonesia, terlebih dengan adanya rumor keterlibatan Maria di perang Timur Tengah. Ia beraksi sendirian melawan pasukan musuh untuk membantu negeri lemah yang hendak dijajah. Yah, kalian sendiri tahu kan kebenaran rumor itu.” Orchid mengacungkan tangan tinggi-tinggi, “Oh, waktu pertama kita bertemu di kota hancur itu ya?” Arby menganggukkan kepalanya, “Maria menentang keras kekerasan di Timur Tengah. Ia berusaha menguak organisasi tersembunyi yang tengah mengendalikan dunia. Hasilnya tentu saja bisa dibayangkan. Politik dunia menjadi panas, organisasi tersembunyi itu mengadu domba agama mayoritas di bumi. Konflik antar keyakinan pun memanas. Israel dengan gerakan Zionis, dibantu negara barat. Berperang melawan negara-negara mayoritas lainnya di Timur Tengah. Perang dunia kembali berkecamuk.” “Jadi saat ini sedang terjadi perang dunia?” Orchid belum bisa menangkap penjelasan Arby. Arby kembali menjawab dengan gelengan kepala. “Terakhir kali negeri ini berperang, kami berhasil meratakan beberapa kota di salah satu negeri musuh. Sejak saat itu, dunia seakan membisu, hingga akhirnya gencatan senjata berhasil diadakan. Setelah melewati lika-liku diplomasi Panjang, salah satu negara adi daya kemudian bersedia untuk mencipta perjanjian perdamaian.” “Tiongkok?” tebak Yuki. Pikirannya kembali membayangkan kejadian di hari sebelumnya. Entah apa respons negeri itu setelah kepala negara mereka nyaris meninggal di negeri musuhnya. “Tepat sekali,” tukas Arby. “Maria selalu nekat mendatangi garis terdepan, menjadi satu-satunya manusia di bumi yang memiliki kemampuan sihir. Berkat itu pula ia selalu selamat dari tiap pertempuran. Gadis itu menghajar ratusan tank, menenggelamkan Aircraft Carrier, juga melumpuhkan beragam peralatan modern lain seorang diri. Semua itu dilakukan tanpa peralatan apa pun. Hanya dengan mengandalkan Sihir. Keberadaan dia benar-benar mengacaukan keseimbangan geopolitik dunia. Selama ini kedamaian universal dianggap berhasil tercipta berkat doktrin MAD—mutual assured destruction—lewat keberadaan senjata Nuklir. Artinya, tidak ada orang yang mau mengobarkan perang karena pada akhirnya, masing-masing pihak akan menjadi abu setelah saling bertukar hulu ledak nuklir. Lantas apa yang terjadi Ketika satu negara memiliki daya penghancur yang bahkan melebihi nuklir?” Arby memancing. “Negara lain akan merasa terancam, lalu keseimbangan Kawasan gagal tercapai.” Yuki menyimpulkan. “Konflik tak akan bisa terhindarkan.” “Kau cepat menangkap.” Arby memuji. Senang rasanya ia bisa bertemu dengan orang yang bisa diajak ‘bicara’. “Lalu apa benang merah dengan organisasi yang kau sebut dengan WCS? Kukira hanya Maria saja yang sanggup menggunakan sihir di sini?” Yuki ingat betul, bagaimana Nida dan Celine menghilang setelah dibungkus oleh semacam sihir teleportasi. “Itu yang sedang kami coba selidiki.” Arby mengerutkan alisnya, berusaha memutar otak, “Meski mereka tak sehebat kau dan Celine, harus diakui bahwasanya memang benar terdapat keberadaan masyarakat tersembunyi yang benar-benar sanggup menggunakan sihir seperti Maria.” “Maria tak bisa menggunakan sihir penyembuh?” Orchid kembali bertanya. Arby menggeleng sejenak, “Seluruh jenis sihir Maria adalah seputar elemen alam, serta teleportasi.” “Empat elemen?” Orchid kembali menebak, “Air, api, tanah, dan udara? Jangan-jangan Maria seorang Ava—” Yuki menginjak kaki Orchid, memintanya agar tetap fokus. “Ada indikasi WCS ini didanai oleh salah satu negara musuh?” ucapnya kembali ke topik pembicaraan. “Sejauh yang kuketahui, belum ada indikasi sponsor dari pihak mana pun. Mereka berdiri sendiri.” Arby kemudian teringat salah satu agen ganda yang menyusup ke sana, “Menurut informanku, mereka dibimbing oleh semacam suara misterius. Telepati, atau mungkin semacam metode cuci otak lewat frekuensi tertentu.” “Ini membingungkan,” Yuki berusaha menyusun rangkaian puzzle yang ada di kepalanya. “Satelit kami sama sekali belum menemukan tanda-tanda keberadaan Maria. Kapsul pemancar yang ada di pakaian dia tak terdeteksi sama sekali.” “Ada kemungkinan di bawah tanah?” “Mungkin saja, tapi seharusnya sinyal neutrino dari pemancar di tubuh Maria sanggup menembus apa pun, bahkan hingga ke luar angkasa.” Sepanjang Maria masih ada di planet Bumi. Di mana pun ia berada, pasti akan bisa dengan mudah ditemukan. Penyelidikan ini menemui jalan buntu. Kebisuan memenuhi udara, hanya suara langkah kaki dan derau pengunjung lain yang terdengar di telinga. “Kak Maria itu presiden seperti apa sih?” Orchid memecah kebisuan dengan pertanyaan polos lainnya. Arby tak langsung menjawab. Ada semacam jeda ketika pria itu memasang wajah teduh, untuk kemudian menjawab Orchid lewat senyuman saja. “Maria adalah Presiden tersukses sepanjang negeri ini. Ia mengisolasi negeri ini dari pengaruh asing. Tak ada lagi perdagangan antar negara, tak ada Ekspor-Impor. Segala sesuatu harus menggunakan merek lokal. Pada awalnya banyak yang menentang, mereka pikir ekonomi Indonesia akan hancur tanpa sokongan negara luar. Banyak yang pesimis, tapi ternyata negeri ini mampu berdiri mengandalkan sumber daya sendiri. Sukses memberantas Korupsi, gadis itu pun menjadi simbol kebangkitan negeri ini.” Mendengarnya membuat Yuki sedikit terperangah. Ia bahkan sempat saling bertukar pandang dengan Orchid. Sehebat itu kah Maria? Maria yang di ceritakan Arby benar-benar berbeda dengan Fia. Seingat Yuki, Tunangan Nida itu wataknya terkesan masih kekanak-kanakan. Sifatnya ceria, manja, dan tentu saja tak mau menanggung beban. Tak mungkin Fia seperti itu bisa memimpin sebuah Negara Adidaya. Arby kembali melanjutkan penjelasannya, “Namun dibalik kesuksesannya, ia juga memiliki banyak musuh. Maria selalu menjadi target pembunuhan dari para Assassin, banyak yang ingin menyingkirkannya, terutama organisasi yang mengendalikan dunia dari belakang… Illuminati.” Yuki terhenyak mendengar kata Illuminati. Pun begitu, pria itu sama sekali tak menunjukkan rasa keterkejutan. Sedetik tadi kelopak matanya terlihat sedikit membuka dari biasanya. “WCS adalah nama lain dari Illuminati?” “Tidak, mereka organisasi yang berbeda.” “Ada berapa banyak organisasi sih?” Orchid tak sanggup mengikuti percakapan ini. “Maria tak bekerja sendirian, ia dibantu Herotics—perkumpulan orang dengan kemampuan khusus. Masing-masing bertugas menjaga keselamatan Maria. Sayangnya, saat ini hanya tersisa Aku dan Tyan.” “Tersisa?” Orchid kebingungan. “Pada awalnya, tim inti beranggotakan delapan orang. Namun setelah melewati berbagai pertempuran. Banyak dari kami yang gugur dalam menjalankan tugas. Kebanyakan junior yang baru bergabung bahkan terbunuh ketika mempertahankan kota Teheran. Seminggu yang lalu.” Orchid mengerti, “Seminggu yang lalu? Itu kan..” “Ya.. Saat di mana kalian bertempur melawan empat divisi angkatan darat PBB. Berkat perlindungan kalian, Maria bisa selamat, dia hampir saja dibawa ke markas musuh. Kalian juga tak menyisakan satu pun saksi mata. Itu bagus, karena jika dia terbukti terlibat dalam perang, maka sekutu akan kembali menyatakan perang terhadap Indonesia.” “Walau pada akhirnya, Maria sendirilah yang menghabisi para cecunguk itu,” ucap Yuki dengan nada mencibir. Teringat saat-saat semua orang tumbang menghadapi persenjataan modern. Hanya Nida yang masih berdiri. Dia memang tangguh, tetapi bukan seorang immortal. Ketika pria itu pun hendak pingsan, Maria datang menyelamatkan lewat sihir dahsyat. Kemampuan itu begitu hebat, hingga seluruh pasukan di hadapan hancur tak bersisa. “Saat itu Maria kehabisan energi setelah bertahan dalam ledakan nuklir, itu sebabnya dia kalah dan jatuh ke tangan musuh. Namun setelah pulih, dia kembali beraksi menyelamatkan nyawa kalian.” “Kupikir Nuklir adalah senjata terlarang,” Yuki melontar sarkasme. “Pengecualian untuk Maria, mungkin?” Arby agak terkekeh menjelaskan kemunafikan seisi dunia. “Satu lagi..” Orchid berusaha memberanikan diri melempar pertanyaan yang bersifat sensitif, “Apa kak Arby tahu tentang masa lalu Maria?” Arby terdiam sejenak, menimbang jawaban. “Maaf, tapi Itu informasi rahasia. Aku tak bisa menceritakannya.” “Sayang sekali...” ucap Yuki pelan. Apakah Maria di negeri ini adalah Fia teman mereka? Ataukah hanya sekedar salinan karena berada di dimensi yang berbeda? “Namun setidaknya aku dengan percaya diri bisa menegaskan ini.” Arby melepaskan sandarannya, menatap Yuki dan Orchid dengan sorot mata penuh penekanan. “Lupakan hal tentang kemiripan Maria dan tunangan Nida. Aku mengenal gadis itu bahkan ketika ia masih belum sanggup berkata-kata sebagai seorang balita. Dia bukan orang yang kalian maksud.” Sepertinya Arby sadar salah satu tujuan mereka adalah mengorek informasi tentang Fia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD