Festival sekolah tengah berlangsung. Keceriaan terukir jelas di wajah siswa-siswi. Lantunan suara indah menggema bebas di udara. Tempat itu sungguh damai, jauh dari segala mara bahaya.
Padahal sesungguhnya, nun jauh di perbatasan Indonesia, saat ini tengah terjadi ketegangan luar biasa. Himpunan armada ketujuh Amerika, beserta konvoi lautan negara tetangga telah datang untuk menyapa. Mereka bertandang seraya menenteng beragam senjata.
Dari dek kapal induk berukuran raksasa, puluhan pesawat tempur lepas landas hendak menerobos angkasa. Ruang udara yang dihirup jauh memasuki area lautan negara Indonesia.
Inilah invasi utama. Jawaban dari kekacauan yang terjadi beberapa minggu sebelumnya. Negosiasi gagal dilaksanakan. Berperang dengan Israel bisa dipastikan akan menyeret seluruh aliansi, termasuk Amerika, Eropa, Jepang, juga Australia.
Dari pihak Indonesia, tiga skuadron pesawat tempur memelesat tinggi berusaha menggapai angkasa. Misinya adalah tentu saja untuk mencegat tiap ancaman. Pangkalan di Batam, cukup dekat sebagai tim respons utama, menyambut kedatangan armada dari arah Singapura.
Gemuruh pertempuran tercipta di atas lautan. Beragam deru senapan mesin terdengar riuh, suara ledakan terdengar meriah memekakkan telinga.
Akan tetapi, pihak Indonesia tak sadar, bahwasanya pertempuran itu hanyalah semacam pengalihan. Karena dari arah berseberangan, tepatnya dari Samudera Hindia, terdapat sekawanan bomber B21 Spirit terbang tinggi tanpa terdeteksi oleh radar. Burung besi itu memuntahkan ratusan kilogram bahan peledak berpresisi tinggi, tepat mengenai sasaran berupa landasan udara, lengkap dengan pos komandonya.
Beberapa pesawat pengebom lainnya tak lupa melepas muatan tepat di beberapa lokasi vital lainnya. Tiap jatuhan menghantam persis markas militer Negara Indonesia. Mereka memang mencoba mengebom langsung Jakarta, juga kota Purwakarta di mana St. Mary Berada. Akan tetapi, baterai SAM—Surface to Air Missile—generasi terbaru membidik bomber itu dengan siaga, mengurungkan niat mereka untuk membuat kekacauan di dua kota yang paling dijaga.
Sistem pertahanan negara ini masih ada dalam level biasa saja. Wilayahnya terlalu luas. Banyak celah untuk bisa ditutup. Digempur secara bersamaan seperti ini tentulah sebuah kegawatdaruratan.
Tak cukup sampai di sana, radar kini mendeteksi kedatangan serangan lain dari arah selatan, tepatnya Australia. Pihak Indonesia seakan tak diberi napas akan rentetan serangan yang ada. Negeri itu harus membuka dua front secara bersamaan. Dari arah Darwin mereka menyerang, menerjunkan pasukan amfibi untuk merebut daerah kekuasaan, tepatnya di wilayah Indonesia timur.
Sementara itu dari sisi utara, armada ke tujuh negeri paman Sam dengan leluasa mengacak-acak pertahanan laut. Selusin kapal selam canggih, nyaris tanpa suara sibuk menerobos jauh ke dalam jantung pertahanan. Masing-masing melepaskan torpedo selayaknya anjing menyalak. Tak pelak, kumpulan kapal penjaga pantai nyaris tanpa pertahanan sukses tenggelam hingga ke dasar lautan.
Wakil presiden Negara Indonesia berhasil dievakuasi, sisanya tinggal jajaran kabinet dan para menteri.
Di ruang koordinasi, para Jenderal beserta jajaran petinggi tengah memerhatikan briefing atas gawatnya situasi.
Dalam waktu satu hari saja, beragam objek vital telah dikuasai.
Serangan itu begitu mendadak, dilakukan sesaat setelah berakhirnya negosiasi. Perang itu nyaris tanpa didahului oleh deklarasi. Kejadian ini mirip dengan proses dimulainya perang dunia dua di bagian front Pasifik. Kala itu Jepang melancarkan serangan menuju Pearl Harbour tanpa peringatan sama sekali.
Bedanya, kali ini Indonesia diserang oleh seluruh Negara sekutu tanpa terkecuali. Anggota ASEAN yang semua menyatakan dukungan, kini bungkam tak berdaya di hadapan kekuatan aliansi. Tiongkok yang selama ini bersitegang dengan Amerika Serikat bahkan sampai dibuat berdiam diri.
Negara ini diperlakukan keji, mirip dengan posisi Jerman yang dikeroyok pada perang dunia ke dua.
Kesalahan fatal dari Maria di malam itu kini hendak berujung pada kehancuran. Pada kasus biasa, tentulah rakyat yang tak terima akan berdemonstrasi serta melakukan kudeta.
Namun tidak dengan negara ini. Mereka telanjur jatuh cinta pada pemimpin itu, hingga tak kuasa untuk berbalik menurunkannya.
Presiden berparas cantik di usia remaja, memiliki kekuatan mistis melebihi segala teknologi. Jasanya terlampau tinggi di perang sebelumnya. Siapa yang tidak jatuh hati padanya?
Dosanya di masa pemerintahan hanyalah tidak tunduk pada hegemoni negara-negara barat.
Sebagian besar rakyat sebenarnya mendukung akan hal ini. Kebijakan isolir itu telah mendongkrak ekonomi hingga melampaui rekor tertinggi.
Dari sudut pandang luar, Negara Indonesia dianggap sebagai ancaman perdamaian dunia.
Keberadaan Maria sendiri bahkan dianggap sebagai sebuah mara bahaya.
Ketika kekuatan senjata nuklir kalah oleh seorang manusia saja, di saat itulah sifat deterrence—daya gentarnya musnah menjadi tak berguna.
Umat manusia pada dasarnya memiliki sifat bawaan barbar gemar pertikaian. Perang besar di masa lalu tak sedikit pun mereka jadikan pembelajaran.
Negara-negara penjajah itu tak kehabisan akal untuk membuat alasan. Dimulai dari fitnah media, menyebut Indonesia sebagai sumber teroris, hingga kepemilikan senjata pemusnah masal yang harus dimusnahkan.
Dan terakhir, menjebak Maria hingga terlihat bersalah atas p*********n di timur tengah. Kejadian carpet bombing berisi fosfor putih[1] tak lain hanyalah bentuk lain dari propaganda.
“Pak Jenderal, opsi apa yang kita punya?” ucap sang Wakil Presiden.
Kebisuan diberikan sebagai jawaban.
Butuh waktu beberapa lama bagi pria paruh baya berseragam militer itu untuk memberikan balasan, “Bapak Joukui, Di atas kertas, kita kalah dari segi pertahanan, logistik, dan alutsista.”
Orang paling berkuasa ke dua itu agak meradang mendengar pengakuan jenderalnya, “Jadi, menurut Anda kita menyerah saja dari pada memperjuangkan perang yang mustahil untuk dimenangkan?”
“Saya tidak bilang begitu. Saya tegaskan, DI ATAS KERTAS kita memang kalah.”
Alis pria bersetelan itu mengerut sejenak, “Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Jelas sekali diplomasi ada di luar pilihan. Bu Presiden sudah memberikan mandat pada seluruh jajaran, bahwasanya tentara asing haram untuk menginjakkan kaki pada tanah ibu pertiwi.”
“Dan seperti yang kita lihat, kita gagal menjaga amanah. Maka tak ada salahnya kita kembali mengharap pertolongannya.”
Wakil Presiden itu merenggut sejenak, lengannya bertumpu pada meja seraya batinnya bergejolak menimang dilema. Ia tahu siapa yang sedang dibicarakan.
Fiani Maria Fransiska, Presiden termuda dalam sejarah RI. Seorang remaja berkekuatan mistis yang sulit untuk dipahami.
Sesungguhnya, di atas segala formalitas itu, Pak Joukui merupakan sosok Presiden RI yang sah. Namun, keberadaan Maria—sebagai entitas tak wajar—telah menggeser posisinya. Batinnya lebih mengakui, bahwasanya gadis itu memang lebih pantas dijadikan ikon persatuan. Selama ini pria paruh baya itu senantiasa bekerja dari balik panggung.
Pemimpin harus bisa melindungi. Itu sebabnya kerajaan di masa lampau pasti memiliki raja dengan keahlian pedang dan fisik yang mumpuni.
Akan tetapi, hal itu sudah tak relevan seiring dengan berkembangnya teknologi. Di zaman ini, hal yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan beserta kecakapan dalam berkompromi.
Sayangnya, Maria merupakan sebuah anomali. Gadis itu lebih cocok disebut sebagai pelindung sejati atas kemampuannya yang melebihi teknologi.
Sendirian, gadis itu sanggup menghadapi seluruh armada canggih yang terkoordinasi. Kemampuannya dalam mengendalikan amukan alam, sama sekali tak tertandingi. Tak peduli berapa banyak kapal laut yang mereka kirim, semuanya akan karam oleh tornado serta ombak tsunami. Meski musuh mengirimkan satu skuadron burung besi, niscaya mereka semua akan berakhir tragis jatuh menuju bumi. Tanah, air, udara, serta panas, dan dingin, segala elemen itu ada dalam genggaman tangan sang penyihir sejati.
Manusia berkekuatan super itu harus kembali memimpin perang, persis seperti kejadian tiga tahun yang lalu.
Namun justru itu yang menjadi beban pikiran Joukui.
Usia atasannya itu jauh di bawah dirinya saat ini. Sang Presiden—Panglima tertinggi, pemimpin Negara—bahkan lebih cocok hidup sebagai cucunya sendiri. Hati kecilnya meringis membayangkan segala horor yang gadis itu harus alami.
“Beritahu beliau, kita semua berada dalam situasi darurat.” Pria paruh baya itu merenung sejenak, “Semoga ia paham akan hal ini.”
Mendadak terlintas masa-masa terakhir Maria menampakkan diri di istana kepresidenan. Gadis itu dengan tegas menyatakan mundur dari segala administrasi. Ia tak sudi hidup dalam tekanan sebagai pimpinan tertinggi.
Sayangnya, masyarakat tak menginginkan itu. Posisinya dianggap sebagai faktor krusial pemersatu. Meski dengan seluruh pengabaian itu, nyatanya Maria tetap berstatus sebagai Presiden RI.
Gadis itu tak bisa lagi bersembunyi.
-------------------------------------------------------------------
[1] Fosfor putih = Senjata perusak mematikan bersifat membakar. Korban yang terkena akan tewas dalam kondisi hangus hingga menembus tulang.