Mistake 03

784 Words
Brakkkkkk.... Vely terkejut saat dirinya di dorong oleh pria yang menyeretnya.. "hei apa apaan kau ini...kau keterlaluan" pekik vely "cepat bersihkan bajumu dan ganti dengan ini...!" ucapnya tegas lebih terdengar seperti perintah, dia melemparkan sebuah jaket pada vely dari dalam paperbag yang ada di tangannya Vely terlalu lelah untuk berdebat dengannya dan lebih memilih untuk menurut. Ternyata pria dingin itu membawa vely kesebuah toilet. Vely mulai membersihkan baju dan badannya "aarhhh perih,"ringis vely saat membuka kemejanya yang basah dan dadanya sedikit melepuh dan memereh bagaimana tidak coffe yang tumpah di bajunya seperti baru saja dipanaskan dalam suhu yang tinggi.. Vely pun membuka kemejanya dan menggunakan jaket yang dilempar si pria itu dan... "jaketnya terlalu besar" gumam vely saat melihat dirinya didepan cermin.. Bahkan jaket itu jatuh sampai batas pahanya menutupi celana pendek yang ia kenakan.. Tidak ada pilihan lain selain menggunakan ini batin vely Setelah itu vely berjalan keluar toilet dan melihat pria itu bersandar kedinding Apa dia menungguku batin vely sambil melihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut Dia terlihat seperti bad boy dengan rambut keriting panjangnya, tato di tangannya dan posturnya yang tegap dan tinggi..tapi terlihat tampan. Batin vely "sudah selesai..,?"tanya nya membuyarkan lamunan vely "e eh i iya aku sudah selesai" jawab vely sedikit tergagap. Setelah itu dia kembali berjalan mendekat kearah vely dan kembali menarik tangannya membuat vely menahan kakinya untuk tidak ikut melangkah sehingga langkah kaki pria itu pun terhenti "apa yang kau lakukan...berhentilah menarikku sesuka hatimu.,!" ucap vely sambil melepaskan genggaman tangannya Pria itu hanya diam dan melihat tangannya yang dilepaskan oleh vely.. Kemudian dia berbalik menghadap ke arah vely Membuat vely sedikit beringsut mundur "kalau begitu ikuti aku,!" ucapnya lagi lagi terdengar seperti perintah di telinga vely "tidak aku tidak mau."ucap vely "sudah kuduga, itu alasanku menarik tanganmu karena jika aku meminta baik baik kau pasti tidak akan mau mengikutiku bukan." ucapnya "untuk apa aku mengikutimu.,?"tanya vely "kita harus mengobati luka mu itu.," ucapnya sambil menatap ke arah d**a vely dan reflek vely menutupnya dengan tangannya bagaimana dia bisa tau aku terluka batin vely "aku tau karena coffe yang aku pegang tadi sangat panas dan pasti kulitmu melepuh karenanya" ucapnya seakan tau apa yang ada di otak vely Bagaimana dia bisa tau isi hatiku batin vely kembali "sudah jangan difikirkan aku hanya menebak saja...jadi ayolah cepat" ucapnya kembali membuat vely mengerutkan keningnya Dia sudah berjalan beberapa langkah namun kembali berhenti dan berbalik ketika menyadri vely masih mematung memandanginya dari belakang "Kenapa masih diam, ayo cepat atau kau ingin aku menarik tanganmu lagi begitu" ucapnya "tidak, aku akan ikut dengammu"jawab vely cepat kemudian mengikuti langkah lebarnya... "masuklah.,!" ucapnya sambil membukakan pintu mobil untuk vely.. Dengan ragu veli melihat ke arah pria disampingnya. "cepatlah" ucapnya sambil mendorong bahu vely memasuki mobil miliknya..dia berjalan mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil, duduk tepat disebelah vely.. Mobil mulai melaju keluar Mall.. Vely melihat langit paris yang sudah gelap, padahal saat dia datang dengan lucie... "lucie....."gumam vely dan langsung merogoh ponsel dari dalam tasnya untuk menghubungi teman sekamarnya itu "hallo lu.." "vel kau dimana aku menunggumu lama,"pekiknya di sebrang telepon membuat vely sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga "lu maaf, tadi ada sesuatu yang terjadi padaku jadi aku harus ke apotek dulu...kau bis....." "Apa...!!! Apa yang terjadi denganmu.,? Kau terluka.,? Sekarang kau dimana biar aku menyusulmu.,!!" potong lucie dengan nada panik dan khawatirnya "tidak tidak lu, aku baik baik saja hanya luka kecil, aku bisa menanganinya sendiri, kau bisa pulang lebih dulu, tidak apa bukan" "kau membuatku khawatir vel"ucapnya "lu I'm fine jadi pulanglah dulu..ini sudah malam, maaf sudah merepotkanmu dan tidak membantumu" sesal vely " tidak apa vel, ya sudah urus apapun urusanmu sekarang dan cepatlah pulang ke asrama okey..dan satu lagi jaga diri baik baik kau orang baru disini..terlalu bahaya untukmu sendirian di kota yang tidak kau ketahui...ini sudah malam banyak orang jahat berkeliaran" ucap lucie mengingatkan "ya baiklah dan terimakasih lu..see u" ucap vely kemudian menutup sambungan telponnya Orang jahat berkeliaran Deg deg Kata kata lucie terngiang di telinganya.. Dengan ragu vely menatap pria yang tidak dia kenali yang berada disampingnya Dia masih fokus menyetir dan menatap lurus kedepan Apa dia seorang penculik, kenapa aku mau saja mengikutinya batin vely merasa takut, dengan susah payah vely menelah ludahnya dan menatap lekat pria disampingnya..tangannya mulai gemetar "tenanglah aku bukan penculik dan juga bukan orang jahat...aku hanya akan mengobatimu" ucapnya membuyarkan pikiran negatif dari otak vely Kenapa dia selalu tau yang aku fikirkan batin vely.. Sedetik kemudian dia melirik kearah vely dan tersenyum Senyuman yang membuat wajah vely memerah Ternyata pria dingin sepertinya bisa tersenyum juga batin vely "karena aku juga manusia" ucapnya lagi dan lagi menjawab isi hati vely.. "hei Apa kau bisa membaca fikiran orang.,?" tanya. Vely "tidak.,"jawabnya singkat "lalu kenapa kau selalu bisa menebak semua yang ada di fikiranku"ucap vely "karena kau orang yang mudah di tebak"ucapnya... Apakah aku memang mudah di tebak batin vely sambil menyandarkan tubuhnya...sedangkan pria disampingnya hanya tersenyum melihat eksfresi gadis di sebelahnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD