MOOD BOOSTER

1888 Words
        Hari demi hari tetap sama. Nasib manusia kantoran selalu terjaga oleh siklus tiada hentinya sampai usia senja memutus mata rantai. Diluar sana sudah heboh dengan pengusaha muda, sukses, kaya raya dalam waktu singkat. Ditambah cerita-cerita sukses para pedagang online dengan omset ratusan juta perbulan terpublish di artikel media sosial.         Cukup Dian ! Berhenti membaca artikel bullshit itu. Tegakan kepalamu dan terima kenyataan. Ini sudah malam hari, sudah penghujung weekend lagi. Pulang malam lagi. Sementara yang lain bersenang-senang menonton film, hangout atau sekedar makan di kaki lima. Dian hanya sekedarnya di kantor, tidak mau ikut hangout karena ingat apa yang harus dihabiskan dengan uang gajian yang serba pas.         Dian meletakkan handphone ke kantung tasnya di sebelah kanan. Dia melipat tangan di depan d**a, sedikit khawatir di wajahnya karena sudah hampir satu jam berdiri tapi tidak ada angkot yang lewat.         Ini baru jam delapan malam, biasanya angkot masih berkeliaran di depan jalan kantor. Kenapa setiap jum'at malam sabtu jarang lewat. Dengkul Dian sudah bergemetar, cacing-cacing di perut berteriak meminta makan. "Aduh, mana sih ya ?" celingak-celinguk melihat kejauhan.         Tiba-tiba berhenti sebuah mobil sedan mewah hitam di depan Dian. Perlahan kaca mobil turun menapakkan wajah yang tidak asing lagi. "Dian....!" panggilnya dari dalam. "Iyah !" Dian menghampiri mobil. Rupanya di dalam mobil itu adalah Gilang. "Kamu nunggu siapa ? Belum pulang ?" "Saya nunggu angkot Pak. Belum datang juga" "Oh gituh, kamu mau kemana ?" "Saya mau ke stasiun Pak" "Oh, yaudah naik ajah!" Gilang tersenyum. "Saya ?" tanya Dian heran. "Iyah, ayo cepat ! Di belakang macet tuh, nungguin."         Dian bergegas membuka pintu mobil lalu duduk di samping Gilang. Wah, mimpi apa semalam bisa duduk di dalam mobil mewah? Terlebih lagi duduk disamping Gilang, manajer muda. Kalau memang ini mimpi, mungkin Dian tidak mau bangun dari tidurnya. "Dian, ini kok macet banget ya Jakarta?" Gilang membuka pembicaraan. Sejak berada di dalam mobil, mereka saling diam. Hanya ada suara radio di mobil. "Ya, namanya juga Ibu kota Pak! Banyak aktivitas, jadi wajar ajah macet," jawab Dian berekspresi datar.         Alis Gilang naik sebelah dan dahinya mengkerut "Jawabanya tidak menarik ! " gumamnya dalam hati. Sepertinya perempuan ini, memang jarang berbasa-basi atau sekedar membuka obrolan hangat dengan lawan jenis. "Waktu saya di Sydney tidak seperti ini sih !" Gilang terus mencari cara agar Dian banyak bicara. "Uhm mungkin, karena pengguna kendaraan pribadi disini banyak Pak, dan penduduknya tidak sebanyak di Sydney," jelas Dian masih polos. "Ooh, gitu," Gilang menanggapinya singkat. Heran, sudah dipancing dengan obrolan ringan, dia tetap tidak peka. Itu jawaban pasti! Tidak perlu ditanya, semua orang juga tahu. Terlebih lagi Dian tidak balik tanya, apapun. Setidaknya tanya kehidupan dia di Sydney dulu, atau tanya tentang pekerjaan.         Sementara itu Dian nampak kaku duduk di samping Gilang. Siapa sangka dia pulang bersama atasan yang selama ini menghiraukan dirinya. Tanganya memeluk erat tas yang dia pangku.         Di depan kaca mobil, antrian tetap mengekor tanpa henti. Siapa pun pasti gelisah menghadapi kemacetan apalagi sudah malam. Suara penyiar radio masih bergaung membahas topik kurang penting di dalam mobil. Mereka terdiam kaku mendengar ocehan penyiar radio sambil saling menunggu pertanyaan dari keduanya.         Dilihatnya Dian memakai sweater menutupi kemeja kerja. Celana hitam panjang dan memakai flat shoes yang sama saat pertama mereka bertemu. Sesekali Dian memanjangkan ujung lengan sweater menyembunyikan jemari tanganya. "Kamu kedinginan ?" telapak tangan Gilang merasakan ac di depan Dian. "Enggak Pak, biasa ajah." "Itu, tangan kamu kok nggak ada ?" "Oh ada Pak, ada !" Dian menarik lengan sweaternya. Gilang tersenyum lalu menurunkan suhu ac di dalam mobil. "Kalau segini, cukup kan?" "I...i... iyah pak!" Dian agak tergagap. Dia malu, rupanya bahasa tubuhnya terbaca. Biasa naik angkot, malah naik mobil mewah. Alhasil dia kedinginan sampai menggigil di dalam mobil. "kamu gugup ya? Hahaha," Gilang menertawakan kelakuan Dian. "Uhm, sedikit Pak," jawab Dian masih polos. "Jangan panggil Pak, kita seumuran."  "Ooh, Bapak kelahiran tahun berapa ?" "Saya tahun delapan-sembilan." "Oh ya? itu setahun di atas saya" "Berarti kamu sembilan puluh ?" tanya Gilang. "iyah Pak!" "Tuh kan, panggil Bapak lagi!" "Oh, maaf. Maaf....," Dian tersenyum. Sedikit salah tingkah sambil berpikir "Aku panggil namanya ajah, gitu ? Sopan banget !" gumam Dian dalam hati. "Ya panggil aku seperti kamu panggil teman-teman kamu di kantor !" "Gilang ?" "Nah, gitu kan enak di dengarnya. Jadi aku nggak tua-tua banget! Tapi kalau lagi nggak di kantor ajah ya," pesan Gilang sambil tersenyum. "Loh, memang kita akan ketemu selain urusan kantor ?" tanya Dian bingung.         Sontak Gilang bingung dan berpikir keras. Benar juga, dia bertemu Dian hanya di kantor saja! Lalu kapan Dian memanggil nama Gilang tanpa sebutan "Pak ?” "Ya, kalau misalnya nanti ketemu di jalan, atau tiba-tiba ketemu di Mall," sanggah Gilang. "Ooh, iya. Bisa, bisa," Dian meringis sambil berpikir, "Aku jarang ke Mall. Males juga kalau tiba-tiba ketemu dia."         Lepas lampu merah perempatan jalanan nampak lengang. Mobil pun bisa melaju kecepatan sedang. Sejauh mobil berjalan, Gilang mengajak Dian mengobrol. Dia sangat ingin mengetahui pribadi Dian sesungguhnya. Apakah dia sudah berkeluarga atau belum? Atau mungkin sudah punya kekasih? Apa yang dia suka? Tapi bagaimana cara bertanyanya ya?         Gilang sempat dibuat kebingungan dan berpikir keras. Perempuan seperti ini menurutnya kurang jam terbang dalam hal basa-basi. Mungkin dulu Bu Nindy sering tidak mengajaknya meeting client karena dia terlalu kaku untuk di bagian marketing. Dia memang pintar, dia cekatan, dan bisa diandalkan. Satu kekurangannya, tidak bisa bermulut manis layaknya wanita-wanita manja diluar sana. Baru kali ini Gilang ingin merayu tapi harus berpikir dulu.         Trringg.... Triingg.... Handphone Dian berbunyi di dalam tas. Dian panik mengaduk-aduk isi tas mencari handphonenya. "Hallo, iyah.. Masih di jalan mau ke stasiun. Kenapa ? .....Tidur duluan ajah," Dian menutup telepon. Dilihatnya garis merah di layar handphone, pertanda akan mati. Sementara perjalanan masih jauh, dan handphone sangat dibutuhkan agar orang di rumah bersiap membuka pintu. "Uhmm, Gilang ! Aku boleh numpang cas ya?" rasanya mulut masih kaku memanggil nama Gilang tanpa sapaan. "Oh boleh kok ! Masih jauh kan ini stasiunya ?" "Sepuluh menit lagi !" "Tadi suami kamu ?" tanya Gilang penasaran. "Bukan, itu Ibu aku, aku masih single." "Oh gitu yah !" Gilang menanggapi singkat. Benar dugaanya, ternyata Dian masih single. Gelagatnya sudah ketahuan kalau dia tidak terbiasa dengan laki-laki.         Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di stasiun. Di sana, masih banyak orang-orang dengan gelisah menanti kereta. Padat, ramai, sampai berdiri pun terbatas. "Loh, ini seperti ini ?" Gilang shock melihat kerumunan orang di depannya. "Iyah, sudah biasa Pak !" Dian melepas seat belts bergegas membuka pintu. "Hati-hati yaa ! Have a nice weekend, byee !" ujar Gilang sambil melambaikan tangan. "Byee...!" Dian tersenyum sambil membalas lambaian tangannya. Lalu dia terburu-buru menuju pintu masuk.         Tanpa disadari, handphone Dian tertinggal di dalam mobil Gilang. Dian tidak menyadarinya, dia terus menerobos kerumunan orang demi masuk kereta. Gilang melihat ada handphone di laci bawah radio. Sejenak Gilang melihat keluar kaca, namun Dian sudah lenyap diantara orang-orang itu.         Biarlah, handphone ini Gilang simpan sampai masuk kantor. Cukup lama, sekitar dua hari tidak ada handphone. Bagaimana rasanya ya? Salah sendiri turun terburu-buru sampai lupa berterima kasih.         Sementara itu, Dian sudah berhasil masuk ke dalam kereta. Ditengah himpitan manusia-manusia kereta, Dian teringat ada sesuatu yang tidak lengkap dalam tasnya. "Aduh, bodoh sekali ! Kenapa harus ketinggalan sih, di mobil Pak Bos lagi," gumam dia dalam hati. **********         Malam sebelum tidur, Dian masih gelisah memikirkan handphone. Memang tidak ada yang penting dalam handphone itu, tidak ada yang menghubunginya juga. Tapi masalahnya, Bagaimana dia mengembalikan handphone itu? Bagaimana, Dian memintanya?         Dian meminjam handphone adiknya untuk menelpon. Ini sudah jam sebelas malam, mungkin ini belum terlalu larut malam. Di tempat lain, Gilang sedang gosok gigi di depan kaca. Dia terburu-buru membersihkan mulutnya lalu mengangkat telepon. "Halo…, " sapa Dian terlebih dahulu. "Iyah, ini siapa ya?" Gilang pura-pura tidak tahu. "Ini Dian, Pak Gilang." "Pak ?" Gilang masih risih mendengar sapaan itu. "Oh, maksud saya , Gilang." "Iyah Dian, handphone kamu ketinggalan." "Uhhm, maaf saya ngerepotin." "Nggak apa-apa, lagian buru-buru ajah sih !" "Iyah maaf, saya terburu-buru," Dian menghaluskan suaranya. "Yaudah, nggak apa-apa. Handphonenya aku simpan sampai senin nanti kita ketemu," jelas Gilang menenangkan. "Gilang, terima kasih ya. Maaf, tadi saya lupa bilang terima kasih." "Iyah sama-sama. Next time lebih tenang yaa," tegur Gilang. "Iyah, Gilang. Selamat malam," Dian lebih memelankan suaranya. "Selamat malam," Gilang oun bersuara halus.         Ya Ampun ! Apa yang terjadi malam ini? Dian menelpon Gilang si Manajer baru yang penuh emosi itu? Bersuara pelan, halus, malam-malam saat mau tidur. Dian masih terpaku memegang handphone adiknya. Dia termenung tatapan kosong.         Sementara itu, Gilang senyum-senyum sendiri sambil menggenggam handphone Dian. Betapa polosnya Dian menelpon dengan suara gugup malam sebelum jam tidur.    "Heh Kak! Telpon pacar ya? Sok imut gitu sih." Danang, adik lelaki Dian yang masih kuliah semester satu terbangun mengucek mata. "Ish apaan sih!" Dian menaruh handphone adiknya di atas meja. "Yaudah sana, keluar dari kamar aku! Udah selesai kan telponya ?" Danang menarik selimut lagi.  *********         Hari senin setelah long weekend kembali bekerja. Masih terhitung tanggal muda untuk menghabiskan uang. Jam istirahat tiba, dan kompak para staff beranjak pergi dari meja. Di depan lift mereka tertib mengantri turun.         Diluar sana terik panas matahari membuat enggan Dian bergerak. Dia tetap menyantap bekalnya meski handphone tidak kunjung dikembalikan. Padahal makan siang dan drama korea tidak bisa dipisahkan bagi Dian.         Dian membuka kotak nasi dan beberapa bungkus lauk. Memang hampa tanpa handphone, tidak ada hiburan. "Dian, ini handphone kamu," Gilang tiba-tiba ada di depan mejanya. "Oh iyah Pak ! Terima kasih," Dian bangkit dari kursi lalu mengambil handphone. "Pak ?" "Kan ini di kantor," jawab Dian bingung. "Tapi liat itu, nggak ada orang selain kita," Gilang tersenyum. "Oh iyah sih, maaf saya sudah reflek panggil Pak," Dian balas tersenyum salah tingkah. "Yaa, nggak apa-apa. Maaf saya ngasihnya jam istirahat. Tadinya mau kasih pagi-pagi, tapi masih banyak orang."         Dian tidak membalas perkataan Gilang. Dia hanya tersenyum manis menunduk menyembunyikan wajah memerah. "Saya pergi dulu yah ! Mau ketemu client. Byee," Gilang beranjak pergi meninggalkan senyum berbeda. "Byee....!" Dian terpana melihat Gilang beranjak pergi.         Dian kembali duduk memegang handphonenya erat-erat. Akhirnya handphone ini kembali ke tangan. Pruk.... Prukkk suara langkah kaki terburu-buru semakin mendekat. Dian sontak memasang wajah seperti biasa, menyembunyikan rasa senang. Siapa tahu, Gilang datang kembali. "Eh Dian !" tegur Rini, tiba-tiba datang. "Iyah kenapa?"         Rini lanjut berjalan menghampiri tas di atas mejanya. "Aku lihat pemandangan aneh, hari ini." Rini masih tetap berdiri. "Apa tuh ?" "Aku melihat senyuman yang tidak biasa dari Pak Gilang," Rini kembali berjalan mendekat perlahan ke meja Dian. "Wah, kenapa tuh dia ?"  "Aku sangat yakin, dia sedang jatuh cinta. Moodnya juga sedang bagus banget hari ini." jelas Rini berbisik sambil melihat situasi. "Sok tahu deh kamu Rin," sahut Dian. "Ah susah deh, kalau cerita sama kamu ! Kurang peka !" sindir Rini. "Yaudah sih Rin, bagus dong ! Berarti hari ini dia ga marah-marah." "Benar sih, tapi yang bikin aku bingung tuh, siapa sih yang bikin dia jatuh cinta? Apa ada orang yang dia suka disini atau diluar ya ?" Rini penasaran. "Yang penting dia ga marah-marah lagi kan Rin, yaudah sana makan siang, nanti habis loh," Dian menepis. "Oh iyah, nanti aku cari tahu pokoknya. Daaah.....," Rini beranjak pergi.         Dian masih tidak percaya apa yang dikatakan Rini. Gilang memang tersenyum, tapi tersenyuman itu biasa, tidak bermakna. Mungkin saja dia tersenyum mengingat hal yang lain. Bukan tentang handphone, bukan tentang tegur sapa menjelang makan siang. **********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD