SEKARANG ATAU NANTI ?

2219 Words
"Dian, kamu tahu, hari ini sampai dua minggu kedepan aku bakal sibuk banget !" Rini mengetik sambil mengajak Dian bicara. "Kenapa ?" tanya Dian, tetap fokus ke layar komputer. "Pak Gilang mau pergi ke Kalimantan," jelas Rini tetap mengetik. "Oh, tapi dia pulang kan ?" "Ya pulanglah Dian, kan disana cuma lihat-lihat tempat penambangan baru sama meeting," jelas Rini. "Ooh gituh !" Dian menghelakan nafas lega. "Eh, selama aku sibuk ! Kamu jangan cuti ya, sakit juga ga boleh," tegas Rini masih sibuk mengetik. "Loh, kenapa ? Kalau sakit siapa juga yang mau," tangkis Dian. "Bantuin aku dong, dikiiiit ajah ! Temenin deh, temenin," Rini merayu. "Uhm, bantuin ga yah ?” Dian menaikan alis meledek Rini. "Pleaaasee, Dian ! Kamu tuh perempuan paling kece, baik, kalem, cantik banget," Rini makin merayu. "Hmmmmm..... Gimana yah !" "Yaudah, Dian mau apa ? Make up ? Sepatu baru ? Tas ? Jam tangan ?" Rini terus membujuk. "Kok kamu tumben sih tawarin hadiah ?" Dian sok jual mahal. Dalam hati curiga, Rini yang biasa memberi tugas begitu saja tanpa iming-iming hadiah, sekarang menyodorkan banyak tawaran. "hehehehe......, " Rini meringis.         Dian berhenti mengetik, bergeser ke samping sambil meledek, "Mau ambil cuti yaa ?" "Ssshh ! Kali ini doang Dian, sayang nih udah pesan tiket dari jauh-jauh hari."  "Emang kamu mau kemana ?" "Hongkong. Sebentar kok, lima hari doang !" jawab Rini tersenyum. "Mau dibawain yang gampang dibawanya deh !" "Apa tuh ?" Rini bingung, penasaran. "apa aja deh Rin, yang penting gampang dibawa, nggak repotin kamu." "Oh, iyah....., iyah...., " Rini lanjut bekerja. Anak itu ya, kalau ditanya maunya apa, jawabnya tidak jelas. Jarang protes, tidak ada keinginan dan ambisi mau apa. Datar-datar saja, membuat lawan bicaranya bingung. ********         Dian berdiri di depan lift memandangi wajahnya yang lusuh. Seakan tidak ada habisnya pekerjaan yang dia kerjakan. Setiap hari pekerjaan terus bertambah, tapi penghasilan sama saja. Dian mengehela nafas sejenak, melipat tangan di depan d**a, sambil menggoyangkan kakinya ke kiri-ke kanan, menepis rasa bosan. "Dian !" "Eh, Pak Gilang ....," Dian meringgis. "Kamu ngapain goyang-goyang begitu ?" Gilang tersenyum heran melihat tingkah Dian. "Nggak kok, cuma lagi stretching ajah," tepis Dian berusaha kembali berdiri tegak.         Tinggg.....!  Pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam lift tanpa ada orang lagi. Dian berdiri di pojok kiri sementara Gilang di pojok kanan.         Gilang hanya tersenyum melirik Dian yang berdiri kaku di pojok kiri, dan Dian hanya membalas senyumnya sesaat, lalu memalingkan wajah ke depan. "Ini, diam ajah? Dia nggak mau tanya apa gitu ?" gerutu Gilang dalam hati.          Agak sombong juga ya dia, padahal tidak cantik, tidak menarik, meski dia sedikit pintar dan cekatan soal kerjaan. Makanya dia sering jadi tameng rekan-rekan kerja yang cuti, atau sedang malas bekerja.         Tiing....! Pintu lift terbuka mengantarkan mereka ke lobby dasar. Mereka keluar dari lift seolah tidak saling kenal. "Masa gini doang sih?" gumam Gilang dalam hati. Sementara Dian di depanya sudah tap pintu keluar gedung. "Diaaan.....!" panggil Gilang.         Dian berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang "Iyah Pak !" Gilang menghampirinya mendekat, Ups, dekat sekali ! Jaraknya hanya ujung sepatu pantofel. Dian mundur selangkah menjaga jarak. "Uuhm, kamu mau ke Stasiun kan ?" tanya Gilang malu-malu. "Iyah Pak !" "Tunggu di lobby depan ya, kita bareng. Jangan kemana-mana !" Gilang bergegas menuju pintu samping parkir Valet.         Dian tercengang, lalu sontak terdiam. Dia perlahan berjalan menuju pintu utama lobby gedung. Berpikir "Kenapa dia tergesa-gesa mengajak ke stasiun bersama?"         Sebulan setelah kejadian handphone tertinggal di mobilnya, Gilang tidak menegur sapa. Meskipun sekedar saling berpapasan di lorong. Senyum saja tidak dihiraukan, hari-hari yang lalu. Sekarang ada angin apa, Dia tiba-tiba memberi tumpangan ke stasiun ?         Tiint....! Klakson mobil sedan mewah hitam menyapa Dian. "Ayo naik !" ujar Gilang tersenyum dari balik kaca mobil. Dian membuka pintu, lalu duduk menggunakan seat belt. "Kalau kedinginan bilang ya !" ledek Gilang sambil melaju kemudinya menuju pintu keluar. "Oh, iyah Pak," Dian tersipu malu. "Aduh, kamu tuh berapa kali ya bilang Pak ?" Gilang gemas. "Oh maaf, Gilang, maaf.... " "Nah, gitu dong ! Jadi kan, kita lumayan akrab didengar." "Iyah, hehehe....., " Dian dibuat salah tingkah lagi. "Uhm, gimana kerjaan ? Lagi banyak atau tambah banyak ?" Gilang menyetir sambil mencari celah kosong. "Eehm, yaa gitu deh ! Tambah banyak, tapi yaa dikerjain ajah," jawab Dian singkat.         Lalu mereka diam lagi tanpa ada pertanyaan balik atau obrolan yang menghidupkan. Terdengar ocehan dua penyiar radio bergema di mobil. P : Kalau nggak macet, bukan Jakarta namanya loh Listeners! Jadi sabar yaa.  L : Yaps, bener banget! Selain playlist kita yang nggak kalah ngehits, kita bakal bahas soal mengatasi kemacetan.  P : Ouh My Gosh, Bisa nggak yah? Waah, emang yaa kalau ngomongin soal yang satu ini, nggak akan ada ujungnya, dari tahun ke tahun. Apalagi sekarang kendaraan mudah di dapat loh, jadi nggak heran deh, makin macet!  L : Ririn, kalau kamu sebagai warga Jakarta, pengenya gimana sih Jakarta tuh biar nggak macet?  P : Kalau aku sih Ge, maunya nih kaya di Singapore gitu. Aku jalan, naik MRT PP buat siaran, lagipula kan sehat jalan kaki. Nggak masalah dong kalau diterapkan di Jakarta ? L : Nah, masalahnya nih sekarang. Pakai transportasi yang ada, Kereta Commuter Line. Kamu mau ga, tiap hari PP siaran naik itu? P : Uhm, kayaknya enggak deh! Aku kalau bisa naik jet pribadi ajah buat siaran yaah, hahahah...... --Playlist Song-- "Kenapa bawa-bawa commuter line sih ?" celetuk kesal Dian. "Yaa itu memang kurang manusiawi sih ! Cuma mungkin belum ada pilihan transportasi yang lain," Gilang tetap fokus menyetir. "Uhm, Gilang ? Kok kamu bawa mobil sendiri sih ?" Dian memberanikan diri bertanya. "Yaa pengen ajah, lagian kan masih sehat juga. Biar Mama, Papa ajah yang pakai Supir. Kenapa ? Heran ya ?" "Iyah, nggak biasanya manajer bawa mobil sendiri." "Biasa ajah, lagi pula aku sama kok seperti kamu. Bedanya, tanggung jawab aku lebih berat. Semua keputusan, aku yang pegang. Itu lebih berat," Jelas Gilang. "Ooh, iyah sih. Tapi bersyukur, bisa dipercaya jadi Manajer. Sudah tampan, pintar, memang berbakat, mandiri lagi," Dian tanpa sengaja memuji. "Biasa saja kok, nggak sebagus yang orang pikirkan. Semua orang bisa mendapatkan materi, kalau memang berusaha," Gilang tersenyum. "Iyah, benar. Semua orang pasti bisa," Dian pun tersenyum.         Deeg!  Sesaat jantung Gilang seakan berhenti. Senyum manis dari paras lugu mampu menghentikan detak jantung sejenak. Bibir tipis polos tanpa gincu masih tersenyum melekat. Mata Gilang berbinar-binar memandang indah senyuman perempuan lugu yang belum pernah dilihat sebelumnya. "Ehhm, Dian. Kita cari makan dulu yuk ! Aku lapar nih, yang dekat Stasiun saja biar nggak kejauhan," Gilang basa-basi. Sebenarnya dia masih ingin bersama Dian lebih lama lagi. "Uhm, kamu lapar ?" tanya Dian. "Loh, emang kamu nggak lapar ?" Gilang balik bertanya. Dian terdiam bingung. Apa mungkin dia mau makan makanan di pinggir jalan seperti yang Dian lakukan. Bakso, Mie Ayam, Nasi Goreng, Sate??? "Helooo, Diaan....., kamu lapar nggak ?" "Oh, boleh, boleh! Ayo kita makan!" jawab Dian. *********         Gemericik suara air terjun buatan mengalir di taman kecil sebuah cafe. Instrumen musik klasik menambah ketenangan penikmat malam Jakarta. Setelah beberapa tempat Dian tunjukkan di dekat Stasiun, tapi tidak ada yang Gilang suka, mereka berada di tempat yang jauh dari Stasiun.          Dian duduk diam melihat suasana cafe sambil menunggu pesanan. Gilang pun terdiam sambil sesekali melihat handphonenya. Dilihatnya Gilang menggulung kemeja lengan panjang, jam tangan hitam mewah melingkar di lengan kirinya. Rambut sudah tidak lagi klimis, wajahnya bersih, hidungnya mancung, alis matanya tebal. Dia tertunduk melihat handphone serius. "Gilang, kamu mau pergi ya besok ?" Dian mencoba membuka obrolan. "Iyah, perginya jauh. Agak lama juga. Aku belum pernah ke tempat itu sih," jelas Gilang, sambil mengantongi handphonenya. "Semangat ya ! Semoga sukses bisnisnya," Dian tersenyum.         Degg!!! Jantung sejenak berhenti melihat senyuman Dian, terpancar mata yang teduh. "Dian, tolong jangan tersenyum. Nanti aku serangan jantung," gerutu Gilang dalam hati. Gilang salah tingkah, dia gugup sendiri. "Eehm, iyah !" jawab Gilang. Mereka duduk saling berhadapan menunggu pesanan. Tidak ada obrolan yang lancar seperti layaknya teman. Mereka saling bertanya pertanyaan kurang penting sedikit demi sedikit. "Kamu mau pergi ke Kalimantan kan ?" tanya Dian lagi. "Iyah," jawabnya singkat. "Kamu sendirian ke sana ? Nggak ajak Rini ?" "Enggak, biarin ajah dia ditinggal. Ga guna juga," jawab Gilang agak ketus. "Loh kok kamu ngomongnya gitu sih ?" tanya Dian heran. "Yaa nanti dia cuma ngacak-ngacak schedule, sama genit-genit nggak jelas. Memalukan."         Datang dua gelas minuman teh s**u dingin beserta dua botol air mineral kecil. Gilang mengaduk segelas air teh s**u dingin. "Dia itu nggak bisa kerja. Sama kamu, bagusan kamu. Tapi aku nggak tega kalau kamu ikut aku kemana-mana," lanjut Gilang. "Ah, enggak kok. Dia cukup paham sama kerjaanya. Dia juga supel sama orang yang baru dikenalnya," tepis Dian. "Iyah sih, tapi aku sebel ajah sama tingkah bodohnya yang suka cari perhatian di depan client, jadi kesanya murahan," jelas Gilang. Sepertinya dia memang tidak suka dengan gelagat Rini yang kencentilan "Tapi, dari zaman Bu Nindy, dia memang popular sih dikanto.r" "Popular apa ? Dandan cantik ? Alis dan gincu tebal? Kamu juga bisa kok begitu, tapi kalau isi otak nggak ada yang bisa samain," Gilang agak sentimen membahasnya.         Dian terdiam berpikir "Kok dia seperti benci ya? Padahal itu asistenya," ujarnya dalam hati. "Aku mungkin bisa ajah nunjuk kamu jadi asisten aku. Jadi kita bisa pergi kemana sama-sama. Tapi, aku nggak mau ada orang yang tahu kamu," jelas Gilang sambil minum teh s**u. "Maksudnya ?" alis Dian naik sebelah. "Ehm, maksudnya gini loh Dian, diluar sana ada banyak Client kita. Aku harus jelasin apa yang aku tawarin ke mereka, aku suka bawa asisten untuk urusan itu. Jadi kalau aku meeting, bawa kamu sebagai asisten aku, nanti mereka nggak fokus," jelasnya panjang lebar meyakinkan. "nggak fokus ?" Dian makin bingung. "Iyah, nggak fokus. Nanti mereka liatin kamu ajah lagi !" "Liatin aku ? Emang aku kenapa ?" Dian semakin tidak mengerti. "Soalnya kamu....., kamu....., " "Permisi !" pelayan menaruh pesanan mereka. Ikan bakar, tumis kangkung, cumi goreng tepung datang memenuhi meja mereka.         Gilang menarik nafas panjang menyimpan rasa kesal "Kenapa sih, pakai acara iklan segala ?" gerutunya. "Uhm, aku kenapa Gilang ?" tanya Dian sekali lagi penasaran. "Ooh, enggak kok. Mungkin memang belum waktunya ajah. Ayo, dimakan !"          Gilang bergegas mengambil sendok dan garpu. Ya, tidak sekarang. Bukan sekarang. Semua terlalu cepat jika diungkapkan saat ini. Sekarang lihat bagaimana Dian menanggapi kelakuan Gilang yang serba salah tingkah. Apa mungkin dia paham perasaan Gilang.         Sementara Dian pelan-pelan menyuap makanan sambil berpikir, "Apa mungkin Gilang menyukaiku? Ah, pede banget! Semua ini karena kebaikan dia saja," Dian terus menyuap makanan.         Malam itu di cafe berlalu sekedarnya saja. Tidak ada pembicaraan yang spesial ataupun serius. Semua tentang pekerjaan dan keseharian mereka masing-masing.          Sebenarnya Gilang ingin sekali bertanya dan mengatakan hal yang serius. Tapi mulai darimana ? bicaranya bagaimana? Sudah lama Gilang tidak merasakan jatuh cinta lagi. Baik, jangan terburu-buru ! Ini baru perkenalan, perlahan tapi pasti. Dian akan memahami apa yang Gilang rasakan. ********         Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mereka sudah meninggalkan cafe tiga puluh menit yang lalu, tapi jalanan tetaplah padat merayap. Tidak ada bedanya pulang lebih cepat atau pulang belakangan.         Jemari tangan Gilang tidak ada hentinya mengetuk-ketuk stir mobil. Duduknya tidak bisa diam, sender ke kanan, melihat ke belakang, celingak-celinguk ke arah antrian depan sesekali menoleh ke samping jendela. Tapi dia enggan menghadap Dian.         Dian merasa makin aneh melihat tingkah bodoh Gilang. Gilang yang tegas, jutek, cool semua tidak ada dalam dirinya di malam ini. Seketika kewibawaanya sebagai pemimpin hilang tertutup tingkah bodohnya. "Uhm, Gilang......, " sapa Dian membuka obrolan. "Oh, iyah ! Iyah...., " sontak Gilang terpecah lamunanya. "Terima kasih yaa, sudah traktir aku. Lain kali, aku ganti yaa," Dian tersenyum.         Deg!!! Jantung berdegup kencang tak menentu. Keringat dingin menetes di dahi meluncur hingga ke leher. Apa mungkin ini tanda-tanda serangan jantung dadakan? Nafas pun sulit diatur sampai wajah memerah. "Dian, jangan tersenyum. Aku jadi susah bicara," gumam Gilang dalam hati. "Ehhm.... enggak...., enggak...., enggak usah. Enggak perlu, enggak apa-apa," Gilang terbatah-batah bicara. "Oh, Serius yaa nggak apa-apa ?" "Iyah, nggak apa-apa kok," Gilang masih berusaha menutupi kegugupannya. "Uhm, ngomong-ngomong biar nggak macet lewat mana ya?" "Aku nggak tahu jalanan sekitar sini sih !"         Gilang mengehelakan nafas membuang rasa kesal. Tidak ada habisnya kepadatan, ditambah jalanan makin sempit serta ulah pengendara motor yang tiba-tiba menyalip dari samping. "Kayaknya naik motor lebih cepat ya ?" Gilang memperhatikan pengendara motor yang menyalip di depanya. "Iyah, bisa salip-salip di sela jalan kecil." "Ooh, iyah juga sih. Mungkin besok aku mau coba naik motor ke kantor." "Hati-hati kalau naik motor di Jakarta" "Iyah, sepertinya seru naik motor. Aku mau coba besok, pulang dari Kalimantan. Gimana menurut kamu ?" "Uhm, silahkan. Tapi harus tetap hati-hati yaa," Dian tersenyum lagi. "Okay !" Singkatnya lalu membuang muka.         Apa Dian tidak mengerti ya, kalau dia senyum waktu terasa berhenti. Jantung berdegup dua kali lebih cepat, keringat dingin mengalir deras dari dahi sampai leher. Ya Tuhan, orang setampan Gilang sulit dipercaya kalau dia sudah lama tidak jatuh cinta ! Perasaan yang dulu pernah ada, hilang lalu dibangkitkan dengan segaris senyum manis dari bidadari lugu.         Meski hanya sekedar makan malam, menunggu sepi jalanan, Gilang merasa sangat senang malam ini. Dian, si perempuan cool, jarang bersolek, bicaranya santun, pintar dan pandai menjaga jarak. Dia tidak seperti perempuan lain, yang diajak jalan seakan kesempatan memanfaatkan, sok cantik dan banyak mintanya. Dia memang benar-benar berbeda dari kekasih Gilang sebelumnya. ********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD