Garis senja melintang di atas langit. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Hembusan angin bertiup menggoyangkan dedaunan di atas pohon, beberapa diantara mereka jatuh berguguran. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, dan orang-orang meninggalkan meja kerja mereka.
Dua minggu kepergian Gilang ke Kalimantan, lalu hari ini adalah hari pertamanya kembali kerja. Dia nampak sibuk bolak-balik ke bagian administrasi dan meeting ke beberapa divisi. Sampai dia mengabaikan jam istirahat, tidak makan siang. Hanya ada secangkir kopi dan air mineral di mejanya.
Sejak siang, Dian hanya bisa memperhatikan Gilang dari mejanya. Gorden ruangan Gilang terbuka lebar, meski ruang kaca blur menghalangi pandangan, sesekali Dian menoleh melihat keadaan Gilang.
"Dian, ga balik ?" tegur Rini sambil membereskan mejanya.
"Nanti ajah, masih macet," jawab Dian sambil terus memperhatikan ruangan Gilang.
Rini berdiri menoleh ke ruangan Gilang lalu menoleh lagi ke meja Dian.
Rini menepuk bahu Dian "Eh, udah pulang ajah ! Mumpung dia sibuk. Dia lagi sensitif tau."
"Oh, nggak apa-apa Rin ! Duluan ajah," Dian tersenyum.
Ooh, dia sibuk ! Pantas saja, tidak sempat menegur. Tapi, kenapa sampai melirik saja dia tidak sempat. Anehnya Gilang, kadang dia baik, kadang dia cuek. Ya Sudah, mungkin hari ini dia benar-benar sibuk !
Dian menggendong tasnya beranjak bangun dari tempat duduk. Tluut....tluut....telepon di meja berdering. Nampak Gilang berdiri disamping mejanya memegang telpon sambil memberi isyarat agar Dian mengangkat teleponya.
"Haloo…,"
"Dian, jangan pulang dulu !"
"Iyah"
"Aku sebentar lagi selesai kok. Tunggu ya."
"Okey." Dian menutup telepon.
Memerah wajah Dian, dia merasa malu sudah berprasangka buruk. Dia pikir, Gilang tetap mementingkan pekerjaanya meski sudah jam pulang kerja sampai lupa bertegur sapa.
********
Dian berdiri tenang di depan lobby, menunggu kedatangan mobil hitam mewah. Apakah dari bulan lalu sampai saat ini, akan jadi rutinitas baru ? Kalau terus begini, kan jadi bisa irit ongkos. Bagaimana bisa yah, Gilang sebaik itu ? Apa karena Dian kenal dia lebih dulu ?
Sepuluh menit kemudian, datanglah sebuah motor vespa matic hitam dikendarai laki-laki berjaket kulit hitam memakai helm bergaya classic. Perawakanya hampir mirip orang yang Dian kenal. Dian perlahan menghampiri keluar lobby lalu mendekatinya.
"Hey, ayo naik !"
"Loh, Gilang ?" Dian terkejut. Dia benar-benar mengendarai motor setelah pulang dari Kalimantan.
"Iyah, kenapa? Nggak mau ya ?" Gilang heran, dan wajahnya polos.
"Iih, kamu beneran naik motor hahaha," Dian tertawa geli.
Gilang ikut tertawa geli melihat wajah Dian tertawa hingga memerah.
"Iyah, biar ga macet. Ayo naik !" seru Gilang seraya memberikan helm yang sama seperti yang dia kenakan.
"Oh, oke !" Dian meraih helm.
"Pegangan yah!" seru Gilang.
"Pegangan dimana ?" Dian bingung. Apa mungkin pegang pinggang Gilang? Biar bagaimanapun, dia atasan Dian. Sebenarnya agak segan juga diboncengi dia di depan lobby kantor, ada security dan beberapa staf yang turun.
"Yaa, dimana ajah deh ! Yang penting kamu aman," Gilang tarik gas.
Melaju vespa matic hitam yang masih baru. Dian tersenyum tidak menyangka Gilang benar-benar membeli motor ini untuk ke kantor. Hanya karena bosan bermacet-macetan di jalan.
Gilang pun tersenyum dalam hatinya sangat senang tak terkira. "Akhirnya, aku bisa sedekat ini bersama Dian. Pokoknya, sebentar lagi Dian, sebentar lagi," gumam Gilang dalam hati, segaris senyuman bermakna terukir di paras tampan.
********
"Diaan..... " panggil Rini berbisik disebelahnya.
Dian asik mengetik sambil memeriksa dokumen.
"Ssh..... Diaan.... " panggil Rini sekali lagi.
"Oh, aku? Kenapa Rin?" Dian berhenti mengetik.
Rini mengambil handphonenya senyum-seyum sendiri. "Eh, kamu dapat salam nih dari lantai 6" Rini menscroll chat di whatsappnya.
"Salam?" Dian bertanya heran.
"Dia tuh yang duduk di samping kamu, waktu training minggu lalu di Auditorium loh! Inget ga?" Rini mencoba meyakinkan.
Dian mencoba menginggat saat minggu lalu dia training di auditorium bersama pegawai lainya. Dia saling bertegur sapa dengan banyak orang, dan tidak mengingatnya. Orang yang dia tegur banyak, dan sekedar saling sapa saat itu saja.
"Udaah, inget ajah ! Dia temen kuliah aku kok. Senior sih, masih single tuh. Mau kenalan ga sama dia ?" Rini semakin mendekat.
"Uuhmmmm....... " Dian berpikir.
"Ah, udah mau ajah yaa ! Aku nggak tega lihat dia jomblo terus. Kamu juga, mikir melulu ! Kenal ajah dulu, Dian. Nanti baru deh.... " Rini semakin membujuknya. "Nih, nomor kamu, aku udah kasih ke dia. Selamat berkenalan yaaa!" Rini senyum jahil.
Dian sejak tadi diam kaku tidak menanggapi Rini. Dia masih menghadap Rini tapi matanya melirik ke belakang bangku Rini.
"Udah selesai ?" tegur Gilang bernada ketus.
Hening sejenak, Rini kembali duduk tegap menghadap komputer. Dia salah tingkah ketahuan merumpi. Padahal pekerjaan masih menumpuk dan belum selesai.
"Eh Pak, sebentar lagi kok," Rini bergegas duduk tegap lagi.
"sebelum jam satu ya, saya mau kasih kabar," Gilang beranjak berwajah masam.
Rini menghelakan nafas sejenak, lalu bergumam "Hufh, reseh banget!" sambil lanjut mengetik.
Dian melirik di balik bilik mejanya, memperhatikan tingkah kesal Gilang. Dia kesal karena Rini belum selesai atau karena yang lain ya? Kenapa dia tiba-tiba datang dan menguping ?
********
Malam begitu sunyi, hening dan dingin. Suara jangkrik saling bersahutan di balik jendela kamar. Semilir angin malam menembus sela-sela jendela membuat Dian menarik selimutnya hingga leher.
Suasana pinggiran kota Jakarta, masih asri, dingin, tenang, jauh dari kata bising dan polusi. Rumah ini memang lokasi yang tepat untuk beristirahat melepas lelah. Jam dingding menunjukkan pukul sembilan malam. Memang belum begitu larut, tapi waktu biologis yang ideal untuk memejamkan mata.
Mata Dian masih terbelalak menatap atap kamar. Pikiranya masih melayang jauh dari tempat tidurnya.
"Sebenarnya Gilang itu kenapa ya?" satu pertanyaan yang ada dalam pikiranya.
Tadi sore, Dian masih diantar Gilang mengendarai motor vespa classic barunya. Tapi, diperjalanan tidak ada tanya jawab atau obrolan yang menghidupkan suasana. Kaku, diam, sampai lalu turun, dan berterima kasih. Ingin membuka obrolan, tapi Gilang sudah tancap gas membuang muka.
"apa dia keberatan ya, kalau setiap hari aku nebeng ke Stasiun?" pikir Dian masih bingung.
Tangan Dian meraba-raba mencari handphone di samping bantalnya. Dia memberanikan diri menyapa Gilang di w******p.
√ "Gilang, kamu sudah tidur ? "
Hanya checklist satu dan tidak berubah sampai tiga menit pertama. Dian agak bete mendapati suasana ini. Mungkin handphonenya sedang di charge dalam keadaan mati. Dian menaruh kembali handphone di samping bantalnya, lalu memejamkan mata.
Triiingg.....Satu menit kemudian suara w******p masuk.Muncul sebuah nomor tanpa nama, terpasang foto laki-laki menegenakan kemeja hitam, kulit sawo matang, dia duduk dengan meja kosong di hadapanya, memalingkan wajah seakan dicandite.
"siapa ini ?" Dian penasaran, lalu membuka pesan.
"Dian, maaf. Apa kamu sudah tidur?"
"belum, ini siapa ya?"
"Aku Adit, temanya Rini. Salam kenal."
Dian terkejut!! Ternyata nomornya benar-benar diberikan Rini. Laki-laki itu memang benar duduk disamping Dian minggu lalu. Dia selalu mengajak bicara saat narasumber membawakan materi sampai membuat Dian tidak fokus.
"Hi Adit, salam kenal"
"maaf aku sudah buat tidurmu keganggu, nggak apa-apa?"
Apa maksud Adit malam-malam mengajak chat hanya sekedar berkenalan? Kemarin kan, sudah banyak bicara saat training. Mata Dian mulai agak sayup-sayup melihat layar handphone. Semilir angin meniup kelopak matanya seakan mengajaknya terpejam. Tapi jari, pikiran dan perasaanya masih enggan beristirahat.
"iyah, nggak apa-apa kok ! Kamu dari divisi apa sih, aku lupa ?" lanjut Dian.
Sekejap dia keluar dari aplikasi tanpa melihat kolom chat baik-baik. Trringg.....Dian kembali membuka matanya lalu meraih handphone di samping bantal.
"Divisi apa ???" Dian terbangun sambil mengucek matanya. Loh, rupanya yang balas Gilang??? Jadi, tadi balasnya ke Gilang, bukan Adit.
"Gilang, maaf, aku salah kirim." Dian panik membalas chatnya.
"Oh gitu...,makanya, malam waktunya tidur, bukan chattingan." lanjut Gilang.
"iyah, maaf"
Selesai. Tanpa ada balasan lagi. Lima menit sudah berlalu tapi tidak ada balasan lagi. Ada apa ya ? Sejak siang sampai malam ini, dia jutek sekali. Tidak ramah, tidak ada senyum manis seperti biasanya.
*********
Gemuruh riuh orang bersahutan meninggalkan meja kerja mereka. Siang diluar sana panas terik tidak menyurutkan niat mencari makan siang diluar gedung. Padahal, dalam gedung banyak kantin berjejeran.
Rini masih duduk di dalam ruangan menyusun slide presentasi. Si Gilang yang prefecsionist memeriksa satu persatu isi slide buatan Rini. Namun, seketika fokus Gilang terpecah.
Dian beranjak dari mejanya bersama seorang laki-laki membawa dompet dan handphonenya. Raut wajah mereka malu-malu ketika berjalan bersama.
"itu siapa?" Gilang melihat dari kaca ruanganya.
"Oh, itu Adit Pak! Yang di lantai enam"
"kamu kenal dia?" Gilang makin penasaran.
"Dia senior saya di kampus, dulu Pak. Kasihan jomblo terus. Yaa, saya comblangin ajah sama Dian"
"Hah, comblangin???"
"Iyah Pak!"
Gilang menghelakan nafas sejenak. Baiklah Gilang jangan terlihat bodoh di depan anak buahmu! Jangan tunjukkan rasa tidak sukamu. Tetaplah tenang.
"Yasudah, istirahat dulu! Nanti kita lanjut" Gilang beranjak dari mejanya.
Rini melirik heran tingkah atasanya yang serba perfecsionist itu. Dia atasan yang paling tidak mau diajak berteman seperti waktu Bu Nindy menjabat. Peraturan kantor benar-benar ditegakkan dan semua laporan, presentasi, harus ON TIME.
********
Hiruk pikuk kepadatan kendaraan di tengah jalan raya seolah tidak ada habisnya. Terik matahari pukul dua belas siang memantul di atas kepala, asap knalpot menghalangi pandangan sejauh mata memandang. Klakson saling bersahutan seakan mewakili kekesalan mereka.
Kiri-kanan bahu jalan sudah dipenuhi kendaraan terpakir. Dian duduk terdiam di belakang Adit. Rupanya mereka sedang mencari makan siang yang jauh dari gedung kantor.
"makan seefood gimana ?" Adit perlahan menepi sambil mencari lahan parkir.
"Yaudah, boleh deh" Dian agak kesal.
Dian pikir, mereka akan makan di kantin bawah kantor atau warung makan sekitar kantor. Tiba-tiba saat di halaman loby, Adit sudah mengendarai motor menghadang.
Asap arang dan bara api menyambut kedatangan mereka. Aroma ikan bakar bercampur amis menusuk hidung. Meja-meja dipenuhi berbagai macam piring berisikan makanan seafood, asik dilahap pengunjung resto itu.
"Silahkan, untuk berapa orang ?" sambut si Pelayan.
"dua" jawab Adit
Mereka ditujunkan masuk ke meja melewati orang-orang yang sedang asik melahap makan siang. Dian terheran-heran dengan porsi yang mereka lahap.Mereka duduk saling berhadapan memilih menu. Memang banyak pilihan menu yang ditawarkan tapi Dian menunjuk satu menu saja.
"Loh, kok kamu pilih menu paket ikan gurame goreng doang ?" Adit terheran.
"iyah" jawab Dian datar.
"Bener nih, nggak nyesel ?"
"iyah" tanggap Dian datar.
"Beneran nih, kamu nggak mau makan yang lain ?" Adit masih membuka halaman menu.
"iyaaah, beneran" Dian mulai agak kesal. Moodnya menghilang seketika.
Panas sepanjang jalan, macet, banyak debu berasap dan cukup jauh dari kantor. "kok dia suka sih, makan jauh-jauh begini ?" gerutu Dian dalam hati.
Adit memesan ikan bakar, tumisan kangkung dan kepiting saus padang.
"nanti kamu join ajah yaa. Aku ga bisa makan sendirian" Adit menutup menu.
Dian tersenyum manis, lalu lanjut melihat handphonenya. Jam 12:30 dilayar handphone seakan mengingatkanya dengan dokumen di meja. "haduuh, udah jam segini, tempatnya jauh, makananya juga masih di masak" gerutu Dian sambil menggeser-geser menu.
"Uhm Dian, kamu lagi ga banyak kerjaan kan ? Aku udah izin kok sama Rini" tegur Adit tersenyum.
"Ooh enggak kok, enggak. Nggak apa-apa" Dian menenggakan kepala.
Adit sales inside team dari lantai enam. Penampilanya tidak kalah tampan dari Gilang. Rambutnya pome klimis belah pinggir, hidungnya mancung, alis tebal dan kulitnya sawo matang. Jam tanggan hitam di lengan kirinya menambah keren.
"boleh juga sih" gumam Dian sambil menyembunyikan senyum kecilnya.
"Dian, maaf yaa aku bawa kamu jauh dari kantor. Pengin kasih tau ajah sih, tempat makan yang enak" jelas Adit membuka obrolan.
"Oh gituh, nggak apa-apa sih! Cuma shock ajah, aku pikir aku mau dibawa kemana gitu" Dian bergurau.
"Yah ampun, aku ga berani juga kali. Ada-ada ajah kamu!" balas Adit bercanda.
Mereka mengobrol tentang lama mereka bekerja di kantor, keseharian dirumah, kegiatan di waktu senggang, dan hobi mereka masing-masing. Adit orang yang mudah bergaul, pandai mencari bahan pembicaraan dan suka bercanda. Seketika bad mood Dian hilang terbawa suasana, larut dalam obrolan ringan yang mereka bicarakan.
********
Matahari kian menurunkan bayanganya. Sinarnya menerpa sela-sela hordeng kantor menyilaukan mata. Waktu tepat pukul setengah tiga sore. Usai jam makan siang sampai setengah tiga ini, telpon tak ada hentinya berdering di meja Dian. Rini pun kewalahan sendiri menjawab telpon dan mencatat permintaan customer. "Duuh, diajak kemana sih Dian ? Nanti Boss marah lagi" gumam Rini sambil menulis stick note.
"Rini, report udah selesai ?" tegur Gilang muncul tiba-tiba dihadapanya.
"Iyah Pak, lagi mau saya email" jawab Rini sambil menempel stick note di ujung layar komputer Dian.
Gilang melihat heran catatan-catatan kecil di meja Dian. Sepertinya tadi pagi dia ada, tapi belum dilihatnya lagi sejak jam makan siang.
"Dian kemana?" tanya Gilang heran.
"Kurang tahu Pak, temen saya, saya telpon nggak diangkat-angkat lagi" jawab Rini agak kesal.
"Oh dia pergi dari jam makan siang itu, belum balik lagi ?"
"Iyah Pak" jawab Rini.
"Coba deh, Dian ditelpon dimana dia sekarang ?" Gilang mengehela nafasnya membuang sepotong emosi, dan beribu prasangka jelek.
"sebentar Pak !" Rini segera menelpon Dian melalu handphonenya.
Kriing...kriing....suara handphone berbunyi dari kejauhan, suara itupun semakin lama semakin mendekat.
"nggak diangkat Pak" Rini mematikan handphonennya.
Dian datang tiba-tiba dari pintu kaca depan. Dia sedikit malu tertunduk memgetahui ada Gilang di depan meja Rini, yang tepat bersebelahan. "Tuh kan, pasti dia mau marah-marah nih!" gumam Dian dalam hati. Dia berusaha tersenyum saat mulai mendekati meja kerjanya.
"Dian, kamu makan siang di Arab ?" sindir Gilang.
"Maaf Pak, jalanan diluar macet" Dian agak menunduk.
Gilang tidak menanggapi apapun, hanya raut kekesalan di wajahnya lalu kembali ke ruangan.
Dian kembali duduk perlahan sambil memperhatikan gelagat Gilang dari mejanya.
"emang kamu makan dimana sih ?" Rini memecahkan lamunanya.
"makan seafood di Kemang" jawab Dian bernada polos.
"ah Gila si Adit! Siang bolong kulineran, macet kan ke arah sana tuh !" seru Rini yang agak kepo.
Dian hanya tersenyum-senyum tersipu sambil lanjut mengerjakan pekerjaanya. Dia teringat gurauan-gurauan konyol Adit saat mereka makan.
"Cieee, gimana dia ? Seru kan anaknya ?" Rini makin kepo.
"iyah, dia seru orangnya! Ngobrol sama dia jadi lupa waktu"
Tluuut.....tluuut.....bunyi telepon berdering di meja Rini.
"Rini, saya tunggu sampai jam 4 yaa" begitu isi pesan dalam telepon dari Pak Gilang.
Gilang masih mengawasi mereka dari kaca ruanganya. Dia jadi tidak karuan sendiri mengetahui Dian pergi keluar bersama lelaki lain. Terlebih lelaki itu teman Rini, memang Rini menjadi biang masalah.
"Jangan bodoh Gilang, jangan bodoh! Tetap tenang. Wibawamu akan hilang kalau terus-terusan marah"
Gilang duduk menahan rasa tak karuan dan gaduh dipikiranya. Dia membalikkan jam pasir kecil diatas mejanya sambil berpikir apa yang harus dia lakukan.
Tidak mungkin hari demi hari hanya mengantar Dian sampai stasiun, atau mengajaknya pergi makan malam setelah jam pulang kerja. Terlebih lagi, Gilang bukan tipikal laki-laki yang bisa basa-basi caribahan obrolan apalagi sekedar gurauan.
Ayo Gilang, berpikir, berpikir, berpikir! Sebelum Dian diambil orang lain.
********