BACK TO OFFICE

2010 Words
Deras hujan tak kunjung berhenti di luar sana. Di balik jendela guyuran air mengalir deras menepis dedaunan hingga tanah membuyar tak karuan. Bulan Febuari, sudah datang disambut hujan deras seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagian jalanan sudah menampung genangan air. Jemari lincah menari-nari di atas keyboard. Mata tajam, dahi mengerenyit membaca setiap email yang masuk. Sesekali diceruputnya secangkir kopi hangat melawan udara dingin. Gerimis turun sejak pagi, lalu disusul dengan hujan deras di siang hari. Gilang enggan beranjak dari kamarnya. Berkaos putih, dan celana pendek coklat muda, Gilang duduk di meja kerja kamarnya mengawasi pekerjaan dari rumah. Sejenak dia berhenti fokus, lalu bangkit membuka hordeng menatap hujan. "Deras banget ! Pasti macet nggak karuan sore ini," gumam Gilang. "Nak, kamu nggak ke kantor ?" sapa wanita paruh baya dari pintu kamar. Dia heran, pintu kamar Gilang terbuka sedikit sejak pagi hingga siang. "Oh, enggak ma," jawab Gilang, berjalan menghampiri mamanya. Wanita paruh baya ini adalah mama Gilang. Salah satu barisan nyonya besar di perusahaan tambang tempat Gilang bekerja. Meski jabatan Gilang hanya manager, tapi dia masih garis keturunan komisaris di perusahaan itu. Rambutnya rapi di blowing, gincu merah dan alis tebal dandanan standart baginya. Jari manisnya melingkar perhiasan berlian berkilau. Dia tersenyum manis lalu mengusap anak semata wayangnya itu. "Kamu, pemimpin ! Masa sama hujan ajah kamu takut," ledek Mama. "Enggak ma, aku awasi kok dari sini," Gilang tersenyum sambil menurunkan telapak tangan Mama dari kepalanya. Dilihatnya mama berpakaian rapi, mengenakan kebaya putih dan berkain batik. "Mama mau kemana ? Kok rapi banget ?" "Mama mau ada seminar Nak, nanti jam tiga mama jalan. Kamu mau ikut ?" Mama mengusap pipi anak lelaki kebanggaanya. "Uhm, enggak ma. Aku ada urusan" "Okey, mama pergi dulu yaa" Mama beranjak pergi dari kamarnya. "Byee mama !" ujar Gilang mengiringi mama beranjak dari kamar. Ya inilah, kekurangan Gilang. Masih jadi anak mama, diusianya yang sudah dua puluh delapan tahun. Kasih sayang penuh, harta melimpah tanpa kekurangan, tinggal dilingkaran kaum jetset, dan tidak pernah merasa susah. Jabatan yang dia duduki saat ini, hanyalah sementara. Menunggu sambil mempelajari perlahan apa yang ada di Perusahaan Tambang milik keluarga besar dan para sahabatnya. Lulus kuliah dari Australia, dia langsung mendapat jabatan di Perusahaan itu. Di usia yang tergolong muda, Gilang merasa goyah menghadapi segala permasalahan di kantor. Belum lagi, urusan hati yang dia sendiri tidak mengerti. Perasaan apa ini ? Hingga membuatnya segan menghadapi hari. Tingkah mereka sungguh membuat Gilang menjadi seorang pecundang. Sejenak Gilang menghelakan nafas. Apa yang dia butuhkan hari ini hanyalah ketenangan, dan merancang strategi. Fokus mencapai target tahunan agar bisa meningkatkan pendapatan perusahasn. Ah tapi, ini sedang kacau ! Masih terniang-niang diingatan gelagat Dian dan Adit di kantor. ******** Tiga hari sudah ruang kosong di pojok sana tak berpenghuni. Satu lantai terasa tenang tanpa pertanyaan-pertanyaan mendadak. Longgar rasanya d**a mereka, lebih luas menghirup udara. Terlebih lagi bagi Rini, dia bisa bersantai menceruput kopi pagi-pagi sambil merias wajah. Dian menaruh tas jingjingnya di atas meja. Dia melihat Rini sedang asik membuat alis dengan sangat hati-hati. "ampun deh nih orang !" gerutu Dian sambil duduk menyalakan komputer. "Pagi semua ....... !" sapa Gilang datang terburu-buru melewati barisan meja-meja para pekerja. Semua bergegas ambil posisi di meja masing-masing. Tiba-tiba mereka serius memegang dokumen, menelpon, mengetik, entah apa itu yang mereka lakukan yang penting terlihat serius bekerja. "Pagi Pak !" jawab orang-orang diruangan itu. Langkah kaki Gilang terhenti di meja Rini. Dilihatnya Rini mengukir alis serius, sambil bertanya-tanya penasaran ke Dian. "Dian, gimana kamu sama Adit ? Seru kan dia orangnya ! Udahlah tunggu apa lagi sih" Rini masih mengukir alisnya di depan cermin yang terselip di bawah komputer. Dian membalikan badanya ke arah Rini. Dia terdiam seketika. Gilang berdiri di samping meja mereka tapi tidak ada yang menyadarinya. Wajahnya masam tidak sedap dipandang. "Pagi Pak !" sapa Dian tersenyum menutupi rasa gugup. Rini berhenti sejenak, lalu menoleh ke samping mejanya. "Eh pak Gilang, pagi Pak !" Rini menaruh alis pensilnya duduk tegap lalu tersenyum. "Pagi !" jawab Gilang singkat, lalu dia beranjak pergi memasuki ruangan. "Rin, itu dia masuk," tanya Dian bisik-bisik. "iyah, aku juga ga tau kalau dia tiba-tiba masuk," ujar Rini sambil merapikan makeupnya. Tiga menit berselang, dua tamu lelaki dari Jepang datang diantar recepsionist. Mereka menuju ruangan Gilang sambil melihat kesekeliling meja para staffnya. Sontak Rini panik gugup mencari-cari dokumen di mejanya. "Rin, rin, emang mau meeting overseas ?" Dian berbisik. "Uhm, enggak...., enggak...., aku ada meeting di Finance. Nanti tolong yaa, kalau si reseh nyariin. Aku ke lantai 10 dulu," Rini bergegas meninggalkan mejanya. Dian hanya diam heran membiarkan Rini pergi. Itu sudah kebiasaanya meninggalkan meja saat sedang genting. Ada dua tamu asing datang pagi-pagi rapi, dan hanya membawa iPad ditangan mereka. Tidak mungkin Gilang tidak memberi kabar apapun bila ada tamu yang ingin datang. "Jangan-jangan, Rini belum ada persiapan apa-apa lagi !" gerutu Dian dalam hati. Dian menepis prasangka buruknya. Dia kembali mengerjakan pekerjaanya, sambil sesekali melihat ke dalam ruangan Gilang. Mereka nampak lancar berbincang-bincang. "Baguslah !" Dian menghela nafas. Sepuluh menit berselang, dering telepon di meja Rini berbunyi. Namun Rini tak kunjung datang kembali. Dian sengaja membiarkan telepon berdering mencoba sibuk dengan pekerjaanya. Tluuut...tluut.. Giliran telepon di meja Dian yang berbunyi. "Halo...." suara Dian berhati-hati. "Dian, tolong kamu kesini. Sekarang ya !" Perintah Gilang. Belum sempat dijawab, telpon sudah ditutup. Perintah pak Boss memang tidak butuh jawaban, tapi butuh tindakan. Dian bergegas masuk ke ruangan Gilang. Di dalam masih ada dua lelaki Jepang di meja bulat, mereka bertiga saling berhadapan. Agak canggung rasanya tiba-tiba masuk tidak mengerti apa-apa ditambah ada dua orang asing.     Senyum meringis tergambar di wajah Dian. Pelan-pelan dia menghampiri berdiri di samping Gilang. Gilang memperkenalkan Dian menggunakan bahasa Jepang ke tamu-tamunya dengan sangat fasih. Sejenak Dian tekejut, "Loh dia bisa bahasa Jepang !" gumam Dian dalam hati. "Dian, silahkan duduk !" perintah Gilang tersenyum sambil menarik kursi di sampingnya.         Dian makin senyum meringis. "Wah, disuruh duduk! Berarti akan lama di ruangan ini. Dasar kamu, Rini, lari dari tanggung jawab !" gerutu Dian dalam hati. "Dian, coba kamu jelasin ini list yang dibuat Rini," perintah Gilang sambil menyodorkan laptopnya. "Hah ???" Dian kaget. "Yaa kamu jelasin ke saya, nanti saya yang jelasin ke mereka", jelas Gilang bicara pelan-pelan agak gregetan. "Ooh !" Dian bernafas lega. Dian pun menjelaskan ulang apa yang sudah dia jelaskan sebelumnya. Mungkin dia lupa apa saja yang harus diingat. Lagipula, kenapa sampai tidak masuk tiga hari. Gilang tertegun melihat Dian menjelaskan pelan-pelan. Tiga hari tidak melihat wajahnya terasa tiga tahun tidak bertemu.Rambutnya yang sebahu, belum juga bertambah panjang satu sentipun. Matanya bulat dan alis mata tebal tanpa buatan pensil. Kulitnya kuning langsat bersih tanpa noda. Namun ada satu yang berubah darinya. Bibir tipis polosnya sudah dilapisi gincu berwarna nude, hampir sama dengan warna bibirnya. "Begitu Pak !" Dian menutup penjelasanya. "Ooh, okeh !" Gilang terpecah lamunanya. Dia lalu melanjutkan penjelasanya kepada dua orang tamu Jepang dihadapanya. Dian pun makin terpesona melihat gaya dia menjelaskan apa yang ditawarkan. Sungguh benar-benar eksekutif muda berbakat. Duh, wanita mana sih yang nggak terpikat sama dia ? Sudah tampan, kaya raya, pintar, sayang dia suka reseh dan cepat bete. Tiga hari tanpa kehadiranya, ruang satu lantai terasa hampa. Meski suara-suara bising saling bersahutan, masih saja ada yang kurang. "Dia kemana yaa, tiga hari tanpa kabar ? Kok, aku jadi aneh gini rasanya" ujar Dian dalam hati, tertegun memandang Gilang. Dia masih memperhatikan Gilang menjelaskan dengan bahasa Jepang. Tok...tok...tok...! Datang seorang office boy membawa tiga cangkir teh manis hangat dan beberapa slice kue lapis. "Mas, tolong satu lagi ya teh manisnya," perintah Gilang. "Baik Pak !" "Eeh, nggak usah Pak !" sanggah Dian. Si office boy pun berhenti kebingungan. "Nggak usah ?" tanya office boy lagi, meyakinkan. "Nggak apa-apa, sekalian tambahin air mineral ya Pak," sela Gilang. Dian pun hanya diam menahan rasa gelisah. Kalau sudah disugguhkan minuman dan makanan ringan, ini tandanya akan lama di ruangan. Masa sih, sebanyak slide ini, Gilang tidak ingat-ingat ? Material apa saja, gunanya apa saja, padahal produk tambang keluarganya sendiri. Duh, benar-benar yaa orang ini ! Sementara di luar ruangan, Rini sudah kembali ke mejanya. Dia sengaja duduk menunduk di balik sekat mejanya. Dari dalam ruangan Gilang, Dian melonggok lalu memberi isyarat agar dia menggantikan posisinya. Rini melambaikan tangan sambil meledek, agar Dian tetap berada diruangan Gilang. "Udah sih kamu sini ajah ! Rini ada urusan lebih penting," ujar Gilang berbisik. Dian kaget, ternyata sedari tadi dia memperhatikan tingkah mereka. "uuhm, iyah Pak!" Dian tidak bisa mengelak. Loh, tumben Gilang membela Rini ! Tidak biasanya seperti itu ? Apa Gilang sedang belajar menjadi orang yang lebih humble ? Ah, entahlah ! Tiga hari selama tidak masuk kantor, mungkin dia semedi di gua. ******** Sore menjelang, dan langit pun mulai gelap, semakin gelap. Rintikan gerimis menempel di kaca-kaca gedung. Tiupan angin membawa terbang reruntuhan daun dari rantingnya. Di bawah sana, orang-orang sibuk mencari tempat berteduh membuka payung, ada juga yang memakai jas hujan. Musim penghujan akhir tahun, tidak banyak orang yang sadar mempersiapkan diri. Tidak membawa payung, tidak membawa jas hujan, atau tidak mahir membawa kendaraan saat jalanan licin. Seperti perempuan manja yang satu ini "Duuh, hujan lagi ! Pasti macet banget," keluh Rini, gelisah melihat rintikan hujan dari kaca. "Kalau ga macet, bukan Jakarta namanya Rin," celetuk Dian sambil membereskan dokumen di atas meja. "Ampun deh ! Mana hari Jumat, nggak ada yang nyetirin," gerutu Rini gelisah sendiri di mejanya. "Yaudah sih, santai ajah ! Aku juga masih di sini kok," Dian mencoba menghibur. Sejenak Rini terdiam berpikir, kalau pulang lebih awal seperti ini pun percuma. "Duuh, ngapain yaa enaknya!" gerutu Rini sambil menscroll explore IG. "eh Dian, clubbing Yuk ! Yang deket-deket ajah !" ajak Rini antusias. "Uhm, gimana yah ?" Dian mikir-mikir. "Jangan mau Dian, Rini mah rusak ! Ntar ikut-ikutan rusak loh kaya dia," celetuk Pak Nugie rekan kerja Dian, dia duduk di belakang Rini. "apa sih bapak-bapak ini ikutan ajah !" sahut Rini. "Eh, Dian anak kalem nanti jadi Edan ikut-ikutan kamu loh !" ledek Pak Nugie. "Yahampun, Sirik tuh nggak diajak," Rini meledek. "Udah jangan berantem, nanti jodoh loh !" Dian ikutan meledek. "Ih apa sih ! udah sana pulang, pulang" Rini mengusir Pak Nugie, orang yang suka mengusili urusan orang lain. Kriiing.....kriiing.....income Video call Dilihatnya Adit menelpon. Yaa, memang sejak pagi dia tidak ada kabar. Siang pun tidak datang mengajaknya makan diluar. "Hiii, kamu masih di atas kan ?" Sapa Adit "Iyaah, aku belum pulang kok," jawab Dian tersenyum. "Ooh yaudah, aku ke atas yaa! See you," Adit seraya mengambil tasnya dari meja. "Byee see you" Dian menutup telepon. "Gitu doang ?" sahut Rini, daritadi memeperhatikan pembicaraan mereka. "Iyah !" jawab Dian singkat. "Aduuh, so sweet banget yaa dia ! Cuma mau ngomong gitu ajah video call. Beruntung kaan, aku kenalin sama cowok yang perhatian, ganteng lagi" Rini membanggakan diri dengan gayanya yang centil. "Iyaah, iyah, makasih Rini" balas Dian tersenyum meledek. Tiba-tiba dari ujung lorong pintu, Adit datang dengan wajahnya yang begitu lelah. Pakaianya mulai agak kusut seperti wajahnya, rambutnya sudah tidak lagi klimis. Perlahan dia mulai mendekat, tapi lelaki ini tetap saja sedap dipandang. Senyum manisnya menyapa Dian yang masih duduk santai di depan komputer. "Hey, Dian! Maaf aku ga ada kabar tadi, aku lagi banyak kerjaan" Adit menyapanya malu-malu. Pipinya memerah menutupi rasa gugup. "Iyah, Mas Adit. Nggak apa-apa kok" jawab Dian tersipu malu. "Ciyeeeh, dipanggil Mas loh ! Sampai lupa ada orang yaa disini" Rini meledek. "Loh, kamu belum pulang Rin ? Biasanya jam segini udah kabur" tegur Adit heran. "Belum, kalian mau langsung pulang ?" Rini kepoh. "Aku sih ada rencana makan malam sama Dian" Adit tersenyum sambil melirik ke arah Dian. "iih gitu kan, nggak ngajak-ngajak!" Rini si berisik dan centil satu ini selalu merasa ingin tahu urusan orang lain. "Yaudah, ayo kalau mau ikut !" Adit agak ragu juga mengajak Rini. Tapi yasudahlah, apa boleh buat ? Rini kan juga sudah berjasa, mengenalkan Dian. Sementara mereka berdebat mencari tempat makan, Dian melirik ke arah ruangan Gilang. Sejak jam makan siang, dia keluar makan bersama tamu Jepang, tidak kembali lagi. Tidak ada sapaan manis dan senyuman spesial hari ini, semua terasa biasa saja. ********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD