Hiruk pikuk keramaian malam menjelang akhir pekan, macet dimana-mana. Seakan semua orang berlomba-lomba merayakan malam sabtu, sebelum besok libur sejenak.
Antrian masuk mall pun panjang mengular hingga membuat kemacetan di jalanan.
Adit dan Dian sudah datang terlebih dulu di dalam mall. Mereka sejenak berjalan-jalan santai di dalam mall sambil melihat barang-barang new arrival.
"Itu dressnya keren, kamu nggak mau liat-liat dulu ?" Adit menunjuk sebuah counter pakaian ternama di depanya.
"uhm, enggak ah! Aku nggak lagi nyari dress" jawab Dian polos.
"terus, kamu lagi butuh apa ?" Adit serius bertanya.
"Mungkin sepatu" Dian melihat kedua kakinya.
Sepatu flat shoes sejak masa jabatan Bu Nindy yang selalu setia menemani, sampai masa jabatan Gilang, belum tergantikan. Sepatu itu nampak lusu, dan mulai tidak jelas warnanya.
"iyah, sepatu kamu udah jelek banget!" Adit pun ikut melihat sepatu Dian. "Eh, cari dulu yuk sebentar! Kali ajah ada yang cocok, sambil nunggu Rini" Adit menggandeng tangan Dian membawanya mencari counter sepatu di dalam Mall.
Sontak Dian pun memerah wajahnya. Sudah lama, tangan ini tidak ada yang menggenggam erat. Sudah lama, Dian tidak jalan bersama lawan jenisnya di mall atau sekedar jalan-jalan. Terakhir pun, waktu SMA. Sudah hampir sepuluh tahun berlalu dan tidak disadari, hari ini baru terulang kembali.
Mereka masuk ke sebuah counter sepatu ternama. Di dalam sana sedang ramai diskon terpajang. Dian pun menghampiri sepatu-sepatu diskon.
"kamu yakin mau beli yang diskonan ? Dilihat dulu dong! Kali ajah ada yang rusak" bisik Adit di belakang Dian.
"ini bagus nggak ?" Dian mengambil sepatu flat shoes dari bak diskonan.
"Jangan flat shoes melulu. Nggak mau coba sport atau heels, wedges gitu ?" tanya Adit meyakinkan.
"Kamu, tahu lebih banyak yaa dari aku ! hahaha" Dian tertawa lepas.
"Yaa kan, biar kamu makin kece ajah !" ledek Adit.
Mereka lanjut mengelilingi satu counter sepatu. Sedikitpun Adit tidak mau jauh dari Dian, dia selalu ada di belakangnya.
Sepatu model terbaru cukup mahal harganya, dari ratusan ribu hingga jutaaan. Tidak tega rasanya Dian melihat label harga di sepatu itu. Bukan karena tidak sanggup beli, tapi bagi orang yang tidak memikirkan gaya seperti dia, sayang rasanya.
Pegal juga mencari sepatu dari ujung ke ujung tapi tidak ada yang cocok. Dian duduk di bangku dekat rak sepatu. Sementara Adit masih antusias mencari sepatu yang sekiranya cocok.
"Dian, coba yang ini deh !" Adit membawa sepasang sepatu sport sneeker biru muda.
"Sepatu sport ?" tanya Dian.
"Iyah, coba dulu deh" Adit bertekuk lutut di hadapan Dian, lalu perlahan mencopot sepatunya.
"Eh, jangan, jangan ! Aku bisa sendiri" Dian melarangnya.
Namun Adit tetap memasang sepatu baru ke kaki telapak kaki Dian yang kecil seperti anak SMP.
"Nah, bagus kan ! Coba kamu berdiri deh, jalan !" Adit berdiri lalu tersenyum.
Dian tersipu malu melihat tingkah Adit. Ini terlewat so sweet ! Dia tahu model sepatu apa yang dia suka, dia memakaikan sepatu itu hingga benar-benar pas di kaki.
"uhm, nggak usah. Ini ajah juga udah bagus kok!" Dian makin gugup dibuatnya.
Mungkin memang benar, ketika usia sudah dewasa seperti ini, jatuh cinta itu rasanya sulit. Tidak semudah melihat lawan jenis yang lebih menarik, harta yang melimpah, atau bahkan sosok agamis yang menjanjikan ke kehidupan lebih baik.
Semua butuh proses, butuh saling mengenal satu sama lain.
Mereka berdua mengantri bersama di kasir sambil mengobrol dengan wajah sembringah. Waah, nampaknya mereka semakin dekat ya ! Apalagi Adit orang yang sangat, sangat perhatian.
"eh, jangan ! Pakai ini ajah" Adit mengeluarkan kartu dari dompetnya, mencegah Dian membayar sepatu pilihanya.
Duh! Ini kan yang paling disukai wanita, di ajak jalan, terus di belanjain deh ! Sepolos-polosnya wanita, tapi wanita mana yang tidak menolak di belanjain ?
Mereka keluar toko membawa paper bag berisikan sepati dengan wajah saling tersipu.
"Heh, ditelponin jugaan ! Lagi enak-enak belanja rupanya, heeemmm....." Rini tiba-tiba datang dari lawan arah.
Sedari tadi dia menunggu antrian parkir di gedung mall. Itupun sudah hampir satu jam lebih mencari lahan parkir.
"Yaudah, sekarang kita makan yuk !" Adit mengalihkan perhatian.
Rini semakin pensaran, sepatu itu pasti dibeliin Adit. Adit kan laki-laki royal yang nggak pernah kapok ditipu perempuan matre. Tapi, sudahlah mungkin itu yang bisa Adit lakukan demi mendapatkan perempuan dambaan untuk dinikahinya.
*******
Asap-asap diatas pemanggang mengepul hingga menutupi wajah. Lembar demi lembar daging diletakkan lalu mendarat ke dalam mulut setiap pengunjung restoran.
Adit, Dian, dan Rini sibuk memanggang lembaran daging. Mereka larut dalam candaan sambil memanggang daging pilihan mereka. Rini repot sendiri memegang sumpit ditangan kanan, dan handphone di tangan kiri.
Rupanya Rini sedang live di IG menyapa ratusan follower yang kebanyakan teman satu kantor. Dia mengayunkan handphonenya memperlihatkan suasana restoran dan kedua orang yang sedang kasmaran ini.
"Hii gengs, kita lagi makan malam sama pasangan baru nih !" mengarahkan handphone ke Dian dan Adit.
"Hello gaes !" sapa Adit melambaikan tangan.
"Haay, haay !" Dian melambaikan tangan.
Rini kembali menaruh handphonenya bersandar di depan tempat sumpit.
"Eh itu, ada yang nonton apa ? Nanti kuota abis, nggak ada yang nonton !" ledek Adit.
"Ada dong !" lanjut Rini melahap sehelai daging yang sudah makan.
"Ya Tuhan, princes Diana ku sekarang milik orang lain!" Pak Nugie join live dan berkomentar dengan nada candaan.
"iih Pak Nugie, apa sih ! Udah di tolak Dian ratusan kali yaa. Masih ajah usaha" Canda Rini tertawa-tawa.
"Siapa Rin ?" tanya Adit sambil menghabiskan makanan.
"fans beratnya Dian nih ! Hahahah" jawab Rini tertawa geli.
"iih bukan, bukan, cemceman Rini dia tuh! Tadi ajah ribut-ribut dulu" Dian mengelak dengan candaan.
Adit tersenyum lalu menggeser handphone Rini yang masih live IG. Wah cukup banyak juga yang join, sudah hampir sembilan puluh orang yang menonton.
"Gaes, doain yaa aku sama Dian bisa ke arah yang lebih serius lagi. Semoga bisa terwujud niat baik aku" ujar Adit di live IG.
"Uuncch so sweet banget sih kalian!" Rini mengambil handphonenya. "udah dulu yaa gaes, byeee" Rini melambaikan tangan lalu mengakiri livenya.
Begitulah candaan mereka bertiga yang semakin lama semakin akrab.Malam ini ada yang berbeda dari keseharian Dian. Biasanya dipenghunung minggu, dia menanti angkutan umum di pinggir jalan, lalu berdesak-desakan di kereta. Setelah itu sampai rumah, makan, tidur dan mengerjakan pekerjaan rumah sebentar, lalu tidur.
Tanpa mereka sadari, di arah jarum jam satu dari belakang mereka duduk, seseorang memperhatikan tingkah mereka. Dia memakai kaos biru berkerah dan bercelana pendek hitam. Busananya agak santai seperti dirumah sendiri.
"Ooh jadi begini ya! Didiamkan malah semakin menjadi-jadi" gerutu Gilang dari kejauhan.
Rupanya orang itu adalah Gilang. Dia pulang, dan tidak kembali ke kantor setelah menerima tamu asing di kantornya. Sekarang dia sedang bersantai sendirian di mall untuk menenangkan diri.
Bukan ketenangan diri yang dia dapat, malah kekacauan pikiran semakin menggunung. Mereka terus saja asik bersenda gurau sambil menyantap makanan. Sementara Gilang tak lepas memandang Dian dari kejauhan.
Senyum indah terukir di bibirnya, matanya berkaca-kaca penuh keceriaan. Dia sungguh nampak cantik mempesona di mata Gilang. Sayang sungguh sayang, senyum itu dibuat oleh Adit. Mata indah itu dibuat oleh Adit.
Semakin bodoh Gilang dalam permainan ini. Serasa menjadi pecundang gara-gara kelakuan mereka. Tidak mau terpikirkan, tapi dipikirkan. Bahkan ditunjukan kenyataan pahit di depan mata kepalanya sendiri.
Bodoh kamu Gilang ! Bodoh ! Kamu kalah Gilang ! Kalah !
********