RENCANA

1807 Words
        Tuuuk.......bola putih melambung tinggi di atas kepala. Bola itu meleset jauh dari hole di tengah-tengah lahan hijau yang luas. Fairway shoot meleset dari tempatnya berdiri. "Hufh!" kesal Gilang.         Dia duduk di bawah payung tenda beristirahat. Ini sudah pukulan yang kesepuluh kali, tapi belum masuk hole juga.         Peluh bercucuran dari dahi hingga punggungnya. Gilang menyapu keringatnya hingga tak bersisa. Panas sungguh terik menyilaukan mata. Angin segar berhembus menggoyangkan dedaunan tanaman hias disekitarnya.         Segelas orange juice dari caddie diletakkan ke atas meja. Sepertinya juice itu nampak menyegarkan. Dilihatnya waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Jam yang pas untuk berolahraga di akhir pekan. Dia duduk menikmati segelas orange juice, sambil menunggu lawan mainya. "Hey, Mas broo.....!" datang seorang lelaki paruh baya menghampirinya.         Kenalkan, dia adalah Anton Gunawan. Lawan yang dia tunggu kedatanganya dari pagi. Pak Anton, merupakan atasan Adit di lantai enam. Jabatanya sama saja, hanya berbeda produk yang mereka naungi. "Udah lama, nunggu ?" tanya Pak Anton duduk di hadapan Gilang, sambil memakai sarung tangan. "Ah, enggak kok ! Sengaja datang lebih awal, lagi latihan fairway shoot" jawab Gilang meletakkan gelasnya ke atas meja. "Waah, hebat! Mau ikutan tiger master ?" gurau Pak Anton. "santai ajah Mas Gilang, terkadang membidik hole itu seperti membidik perempuan !" lanjut Pak Anton bergurau. "maksudnya ?" alis Gilang naik sebelah, mencoba memahami maksud Pak Anton. "Yaa, membidik perempuan. Pelan-pelan tapi pasti, nggak perlu terburu-buru, enjoy ajah !" imbuhnya sambil memasang merekatkan sarung tangan. "Pak Bro, kita pindah spot yuk ! Sambil ngobrol-ngobrol ajah" Gilang beranjak dari tempat duduk, lalu menghampiri mobil golf yang tadi dia gunakan.         Mereka pun beranjak pergi berdua mencari spot bagus sambil menikmati pemandangan padang rumput golf. Gilang memegang kendali mobil sambil bercerita tentang perasaanya.Gilang memang banyak memiliki kisah cinta sejak SMA. Namun semua itu dia dapatkan karena ketampanan, dan kekayaan. Entah itu perempuan pribumi, ataupun bule saat dia kuliah di Australia.         Setiap perempuan yang sudah mengenalnya, pasti lebih dulu memberikan perhatian, lebih agresif dan pandai merayu. Semua Gilang jalani tanpa ada chemistry. Hanya untuk mengisi kekosongan waktu saja.         Berbeda kondisinya sekarang. Gilang dibuat bodoh, bahkan merasa seperti pecundang. Dian, perempuan lugu, polos, pintar nan cantik tanpa make up sudah membuat pikiran Gilang kacau.         Meski Gilang mencoba lebih Down to Earth dengan usahanya membeli vespa matic. Tapi apa yang dia dapatkan ? Tidak ada. Perhatian yang Gilang berikan tidak ada imbal baliknya. Malah Adit, anak buah Pak Anton, si pegawai tidak seberapa itu mencuri perhatian Dian. Apa mungkin, laki-laki tampan, memiliki segalanya macam Gilang bukan selera Dian ? Karena hal itu, Gilang merasa direndahkan harga dirinya oleh Adit.         Pak Anton hanya tertawa-tawa kecil mendengar cerita Gilang yang berapi-api. Dia menepuk pundak Gilang "Sabar Mas broo ! Semua butuh proses" lanjutnya. "Iyah sih! tapi ini baru pertama kali loh Pak, saya dibiarin begini, sama perempuan" Gilang masih agak emosi. "Oh jadi Mas Gilang ini lebih suka dikejar ? Bukan mengejar ?" Pak Anton bertanya lebih lanjut.         Gilang diam sejenak. Dia berpikir, mungkin ada benarnya yang dikatakan Pak Anton. Dia lebih suka dikejar daripada mengejar. Bukankah, itu hal lumrah untuk laki-laki tampan dan tajir macam Gilang ? Harusnya perempuan itu yang mengejar. "Gini loh Mas Gilang, Dian itu anaknya agak kaku memang. Dikantor, banyak yang gemes sama dia. Jangan salah loh, diam-diam banyak yang suka sama dia !" jelas Pak Anton. "Oh ya ???" Gilang kaget. Ternyata selama ini, bukan dia saja yang suka. "Iyah ! Karena dikantor kita tuh laki-lakinya haus akan perempuan misterius macam Dian. Udah terbiasa sama yang agresif"         Gilang menghelakan nafas, meredakan emosi. Memang ada benarnya juga perkataan Pak Anton. Dian itu misterius, bikin gemas sendiri, rupanya banyak juga yang minat sama wanita macam Dian. "Jadi yaa wajar Dian lebih dekat ke Adit. Soalnya Adit anaknya supel, cepat akrab sama orang, ganteng juga orangnya. Menurut saya nih Mas Bro, Dian diam, karena segan sama kamu. Kamu kan, atasanya" lajut Pak Anton menjelaskan.         Gilang hanya mengangguk-angguk sambil mengendarai mobil, dia mencerna perkataan Pak Anton. "Okeh Pak saya ngerti" jawab Gilang singkat. "Nah gitu dong, jangan cepat menyerah ! Apa sih yang nggak bisa, dari Mas Gilang ?" Pak Anton tertawa sambil menepuk-tepuk bahu Gilang. Mereka masih berkutat di padang golf, berkeliling lapangan luas menghirup udara segar.         Tentang perasaanya ini, hanya Pak Anton yang tahu. Gilang sangat berhati-hati memberitahukan masalah ini. Pak Anton yang dianggapnya seperti Pamanya sendiri, cukup jelas menggambarkan apa yang ada di kantor mereka. Mengingat, Pak Anton lebih lama bekerja di perusahaan itu.         Tak terasa, obrolan mereka sampai ke sebuah spot yang menurut mereka cukup mudah untuk ditaklukan. Mereka berjalan lima meter dari mobil golf. "Pak bro, bisa bantu saya kan ?" Gilang menaruh bola golf. "Boleh, bantu apa ?" Pak Anton penasaran.         Gilang menarik nafas lalu mengayunkan sticknya. Tuuuk...... Pukulan keras stick golf mengenai bola hingga tak sengaja rerumputan dibawahnya terangkat. Bola itu melambung tinggi terlempar jauh, dan merendah, mendekati hole. Perlahan, bola pun mengelinding masuk ke dalam hole. "Yesss !!!" Gilang bersorak gembira. Pak Anton pun tercenggang. Itu fairway shoot yang berhasil pertama kali. "Wah,wah, keren banget Mas bro yang satu ini !" puji pak Anton. "Ah biasa ajah ! Itu hasil latihan tadi pagi" jawab Gilang merendah. "Oh iyah, ngomong-ngomong apa yang bisa saya bantu Mas Bro ?" Pak Anton masih penasaran. Gilang mendekat lalu merangkul Pak Anton. "Pak, tolong singkirkan Adit !" Gilang berkata serius. "Pecat dia maksudnya ?"         Gilang melepas rangkulanya, lalu berkata "Iyah, saya nggak suka liat dia dekatin Dian!" "Oh, nggak semudah itu Mas Gilang ! Saya masih butuh orang seperti Adit. Lagipula, saya masih banyak project yang harus dikerjakan" Pak Anton menolak. "Apa Adit, orang yang bisa diandalkan ?" Gilang tanya serius. "Bisa, bisa" "Kalau begitu, buat dia sibuk, sesibuk mungkin. Jangan sampai ada waktu buat dia datang ke lantai tujuh" usul Gilang. "Tenang ajah Mas Bro, saya bantu pokoknya lah !" Pak Anton tertawa sambil geleng-geleng kepala. Dia meletakkan bola golfnya lalu mengayunkan sticknya. Dilihatnya, bola itu melenceng dari hole. Ah, sungguh memalukan ! Seperti baru pertama kali main golf.         Sementara Gilang memalingkan wajahnya menyembunyikan senyum meledek. Padahal tadi dia sendiri yang menasihati agar tenang seperti membidik perempuan. ********         Sibuk ! Adalah kata sambutan setiap hari senin. Bosan ? Sudah pasti. Bagaimana rasanya menunggu hari minggu, yang harus melalui lima hari membosankan di kantor. Bekerja di sebuah perusahaan tambang ternama, menduduki posisi sebagai pegawai tetap, merupakan kondisi nyaman seumur hidup.         Ada yang iri ? Ada yang usik ? Bodo amat ! Yang penting, setiap bulan rekening terisi. Itu baru dari gajian, setiap tahun ada bonus sampai rekening mereka bengkak. Pokoknya, hidupmu terjamin jika bekerja di tempat ini.         Datang pagi, mengecheck email, laporan, dokumen, begitu terus dari pagi ke sore. Sistem di kantor sudah canggih. Jadi, kalau sudah tahu apa ritme pekerjaanya, bisa santai-santai dong !         Lihatlah kuku lentik nan apik milik Rini. Sejak tadi pagi, dia sibuk mewarnai kuku cantiknya dengan warna pink baby yang begitu soft. Duh, dia memang selalu punya waktu untuk percantik diri ! Hingga menjelang makan siang...... "Dian, kita makan siang apa ya ?" Rini memainkan jemari tanganya, dilihatnya kuku cantik itu dari kejauhan. "hemm.....!" seru Dian serius membaca emailnya. "makan apa ?" Rini mengulangi sambil memolesi lagi cat ke kukunya.         Dian berhenti membaca emailnya, lalu melihat layar handphone. Dia sedang menunggu kabar dari Adit. Kenapa sejak tadi pagi, dia tidak menyapanya ? w******p pun tidak dibalas. Dian menghela nafas, menenangkan diri. Dia membuang rasa curiga dan pikiran buruk. "Eh Rin, kamu lihat Adit ga ?" tanya Dian. "Enggak tuh ! Ga tau dia kemana," Rini masih sibuk mencat kukunya. "Yaah, kemana yaa dia ? Tumben dia nggak ada kabar" "Kamu kangeen yaa ?" ledek Rini. "Ih bukan, aku cuma bingung ajah, kok dia ga ngabarin apa-apa" Dian mengelak. "Ah, biasa itu mah ! Trik laki-laki, biar dikengenin !" Rini menutup botol cat kuku.         Dian diam saja, merasa khawatir. Dia membawa sekantong makanan berisikan nasi dan lauk pauk. Rencaanya makanan yang dia bawa, akan dimakan bersama saat jam makan siang. "Aku bingung mau makan dimana Rin, aku udah bawa masakan aku. Eh Adit nggak ada kabar juga, dari pagi" Dian menatap muram tas makanan di atas mejanya. "Buat saya ajah, Princes Diana !" sahut Pak Nugie.         Bapak paruh baya yang sering kali menyahut obrolan dua perempuan di depanya. Dia terkadang menyebalkan, tapi kalau dia tidak masuk, sering dicari keberadaanya.         Rini menoleh kebelakang, memutar kursinya, menatap Pak Nugie heran "Heh, bapak tua ! Masih ajah usaha. Dian udah nggak jomblo kaleee! Itu kan buat pacarnya" ledek Rini. "eh Syahrini! yang penting masih belum sah kaleee" balas Pak Nugie. "Sshhh, udah, udah jangan berisik ! Nanti Pak Gilang dateng loh!" Dian mencoba menengahi.         Mereka memang senang sekali beradu mulut, meski hanya sekedar candaan, tapi cukup membuat bising satu lantai. "Udah ah, aku mau kebawah dulu ajah ! Nanti juga kepikiran mau makan apa" Rini mengambil handphone dan dompetnya. "eh ikut dong Syahrini !" Pak Nugie susul beranjak dari mejanya. "Ayo Dian, kamu ga ikut ?" ajak Rini. "Nggak deh, duluan ajah! Aku udah bawa banyak makanan, sayang. Nunggu Adit ajah deh" jawab Dian agak bete. "jieee, setia menunggu loh ! Yaudah nanti kalau aku ketemu dibawah, aku suruh dia ke sini yaa, byee" Rini beranjak pergi, bersama Pak Nugie.         Heran, sudah sesiang ini tidak ada kabar juga. Dian mengechek beberapa postingan terkahir di sosmed Adit. Terakhir hanya stories kata-kata bijak sebelum dia tidur. "Loh Dian, kamu nggak ikut mereka makan ?" tegur Gilang. Dia baru keluar dari ruanganya . "Oh ini saya baru mau makan Pak" Dian tersenyum.         Dilihatnya, sekantung tas kotak makanan bertumpuk di samping komputer Dian. "Ini apa ?" Gilang melihat heran kantung makanan itu. "Uhm......itu makanan Pak, buat makan siang" Agak terbata-bata Dian memberitahunya. "kamu makan sebanyak itu ?" Gilang semakin ingin tahu. "Oh enggak, ini saya mau makan sama temen saya Pak" jelas Dian. Klingkung bunyi WA dari handphone Dian. "Sayang maaf, aku ga bisa makan siang bareng, lagi ada meeting di Pabrik sama Pak Anton"         Melemah rasanya tubuh Dian. Sudah banyak bawa makanan jauh-jauh, terdesak di kereta, hampir jatuh di jalan, ternyata Adit sedang tidak di kantor. "Dian, ada apa ?" Gilang makin penasaran melihat raut wajah muram Dian. "temen saya, nggak jadi makan siang bareng katanya" jawab Dian melemah. "Oh gitu, sayang ya makananya. Boleh nggak, buat saya ?"         Deegg!! Rasanya jantung Dian memacu detakan lebih cepat. Ya Tuhan ! Dia meminta makanan masakan Dian. "Uhm tapi Pak, ini takutnya nggak enak loh Pak !" Dian menggusap belakang lehernya, salah tingkah. Duh, bagaimana ya ? Masakan itu khusus dibuat untuk Adit. Semua bahan makanan dari uang Adit. Lagipula, menu makanan yang Dian bawa, pesanan Adit. "ah kamu jangan pesimis gitu dong ! Kan saya belum coba. Boleh ya ?" Gilang tersenyum manis. "Oh, boleh pak! Boleh!" Duh, kenapa sih Gilang terus meminta makanan ini ? Tidak mungkin dia tidak punya uang buat makan siang kan ? Mau tidak mau, kalau dia yang minta harus dikasih, walau dalam hati menggerutu. *********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD