CURIGA

1966 Words
        Hamparan gedung pencakar langit menjulang tinggi saling berlomba ingin menembus awan. Langit biru membentang luas seakan melindungi hamparan gedung dan sekelompok rumah ditengah-tengahnya.         Memandang hamparan langit luas berhiasakan gedung-gedung, cukup menyejukkan mata sejenak. Melepas penat pandangan yang hanya tertuju di depan layar komputer sejak pagi. Tidak banyak pegawai yang tahu pemandangan indah dari pantry lantai tujuh.         Empat potong ayam goreng dan capcai dihidangkan ke atas meja dekat kaca gedung. Meja itu melingkari kaca, menghadap pemandangan luar gedung.         Gilang tersenyum memandang Dian di hadapanya begitu dekat. Sekotak nasi putih, sepotong ayam goreng dan sekotak capcai sudah siap disantap. "Waah, pasti enak nih !" seru Gilang memuji. "terima kasih Pak, silahkan dimakan" jawab Dian tersenyum.         Dian duduk melewati satu bangku disamping Gilang. Segan rasanya duduk makan siang di dekat pimpinan. Apalagi, di pantry ini hanya ada mereka berdua.         Sesendok nasi berisikan ayam dan capcai terhenti memasuki rongga mulut Gilang. Dia menyadari, Dian berada dijarak agak jauh dari tempatnya duduk. Seketika, dia menggeser kotak makanya lalu duduk tepat di sebelah Dian. Uhuuukkk.....! Sebutir nasi langsung masuk ke dalam tenggorokan Dian.         Aarrgghh, kenapa Gilang malah mendekat ? Padahal Dian sengaja menjauh agar tidak ada orang yang berpikir macam-macam. "Dian, kamu nggak apa-apa kan ?" Gilang menepuk-tepuk bahu Dian. "uhm, enggak kok, nggak apa-apa" Dian mengelap mulutnya dengan tissue. "Oh iyah, ngomong-ngomong kita udah jarang yaa pulang bareng lagi!" Gilang mencoba mulai obrolan. "Iyah" jawab Dian singkat. "Kamu sering pulang bareng sama yang dilantai enam itu ya ?" Gilang mulai mendesak. "iyah Pak, namanya Adit. Dia staffnya Pak Anton" Aduh, Gilang mulai mengintrogasi !Harus lebih berhati-hati bicara, agar tidak kelepasan jadi curhatan. "Ini enak loh, masakan kamu. Gurih! Kalau boleh tahu, kamu masak buat siapa ?" Gilang lanjut menyuap.         Tuh kan, pasti dia tanya ! Nggak mungkin nggak ditanya. Makin deras cucuran keringat dingin di dahi Dian. Makanan semula terasa gurih menjadi hambar. Serat rasanya tenggorokan mendengar pertanyaan Gilang. "Saayaa....., saya, masak buat Adit Pak!" jawab Dian terbata-bata. "Oh, gitu! Enak ya Adit" "kenapa ?" Dian penasaran. "Dimasakin sama kamu, perhatian banget yaa kamu ke dia" Gilang lanjut menyuap sesendok terakhir. Deeg! Jantung Dian seperti berdetak sekali, selebihnya mati rasa. Kenapa dia berkata seperti itu ? Gilang meminum segelas air putih, lalu mengelap mulutnya dengan selembar tissue. "Ehm, boleh nggak, kapan-kapan kamu masakin buat saya" sorot mata Gilang berkaca-kaca. "Ooh, itu ! Iyah bisa Pak, bisa" jawab Dian menampik pandangan teduh itu sambil lanjut menyuap sesendok nasi.         Gilang tetap duduk, enggan beranjak dari pantry. Dia termenung memandang gumpalan awan putih bergerak mengikuti arah angin di atas gedung-gedung tinggi. Senyaman ini kah berada di dekat perempuan impian ? Sungguh, rasa gundah dan kesal ini sedikit terobati. "Kalau boleh tahu, apa kamu serius dengan Adit ?" Gilang menoleh, memandang wajah Dian disampingnya. "Kami masih berkenalan Pak, sepertinya Adit ingin lebih serius" jawabnya berani. Dian pun ikut menoleh memandang wajah Gilang. Upss! Dekat sekali pandangan mereka, hanya berjarak lima senti.         Jemari tangan lembut Gilang mendarat dipipi Dian, perlahan jari telunjuknya menjamah bibir tipisnya. Sorot mata teduh menghipnotis tatapan kaku perempuan paling dingin di kantor.         Dian membiarkan jemari tangan itu menjamah pipi dan mengusap bibirnya. Dia tertunduk, menyembunyikan pipi merahnya. "Kamu sekarang pakai foundation sama lipstik ?" Gilang merasakan jemari tanganya agak lembab. Tersisa goresan lisptik pink nude diujung jari.         Wajah Dian memerah ranum. Sentuhan telunjuk di bibir cukup membuat nyawa ingin terbang. Dia menenggak sisa air digelas mecoba menenangkan diri.         Kalau hanya ingin bertanya soal make up kenapa harus menjamah pipi hingga bibir ? Dia sudah membuat perempuan dingin ini semakin kaku. "Kalau aku perhatiin, sejak kamu kenal Adit, jadi suka bersolek" lanjut Gilang semakin menggorek. "ah, masa sih Pak ? Dari dulu saya memang sudah pakai make up, tapi ga di touch up ajah" Dian mulai berani berucap sambil cepat-cepat habiskan makanan. "Oh gituh ? Sejak kenal Adit, kamu jadi rajin touch up ya ?" "Uhm, enggak juga sih! Tunggu mood ajah!" sangkal Dian.         Gilang memperhatikan penampilan Dian dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut tebal hitam lurus sebahu terlihat semakin berisi. Celana panjang yang biasa dia kenakan terganti rok span selutut dipadukan kemeja lengan panjang pas di badan. "Sudah mulai bergaya, rupanya" gumam Gilang dalam hati. "ada apa ya Pak ?" Dian rada risih dengan cara Gilang memandangnya. "Ehm enggak, kamu jadi beda ajah !" Gilang menghela nafas perlahan lalu kembali melihat pemandangan luar. "bedanya ?" tanya Dian heran. "Sekarang kamu nampak lebih ceria. Dulu saya lihat kamu makan siang sendiri di meja, sambil nonton film di hp, dulu kamu jaga jarak sama Rini, sekarang kelihatan lebih dekat" Gilang tersenyum.         Dian menenggak segelas air putih hingga tak bersisa. Dikepalanya mencoba mencerna maksud ucapan Gilang. Dian memang sengaja mengubah gaya berpakaianya jadi lebih menarik dimata Adit. Tapi itu tidak perlu dijelaskan secara detail juga kan, apalagi lapor ke atasan. "Oh iyah, si Adit temanya Rini kan ya ?" lanjut Gilang mengintrogasi. "iyah, senior kuliahnya dulu" jelas Dian. "kamu apa nggak curiga sama mereka berdua ?" desak Gilang. "curiga apa ?" Gilang beranjak bangkit dari bangku. Kedua telapak tanganya diletakkan ke saku celana, dengan nada agak sinis dia melanjutkan perkataanya "Rini cantik, popular, sama seperti Adit, ganteng, popular juga. Kamu ga curiga sama pertemanan mereka ? Masa sih selama itu cuma berteman. Apalagi satu kampus, sekarang satu kantor" Sejenak Dian terdiam mencerna perkataan Gilang. Semenit kemudian dia menepis prasangka buruk yang menyelimuti pikiranya. "Ah enggak tuh Pak ! Saya biasa ajah" sangkal Dian. Gilang tersenyum lalu dia melipat tangan di depan d**a "Dian, kamu boleh berpikir positif, tapi curiga itu harus" "harus ???" alis Dian naik sebelah. "Iyah harus, biar kamu nggak gampang dibodohi" hasut Gilang.         Dian terdiam menundukkan kepala. Prasangka buruk itu seketika datang lagi menyelimuti kepala, segala tanya tentang kebenaran menggumpal dalam dadanya.         Ada benarnya juga ucapan Gilang. Apa benar hubungan mereka sebatas teman ? Selama mereka kuliah hingga satu kantor di sini, benar hanya teman ? Tapi, kenapa Rini mengenalkan Adit, kalau mereka memang bukan sekedar teman ? Aah tidak mungkin rasanya !         Di balik punggung tegap berbadan tinggi, sebuah senyuman sinis tergambar jelas di wajah Gilang. Dia melangkah beranjak pergi meninggalkan pantry. Rupanya seru juga menggangu hubungan orang lain, "Hhm, selamat berpikir Dian !" *********         Derap langkah kaki menapaki aspal jalanan lengang dipenghujung minggu. Kriing.....kriing...bel sepeda saling bersahutan dikayuh sekelompok orang berpakaian zaman penjajahan. Beberapa diantara mereka menyetel musik keras dengan radio tape di keranjang. Mendengar bunyi itu, semua orang di depanya menepi memberi jalan sekelompok pengayuh sepeda kuno.         Peluh bercucuran menetes dari dahi hingga keseluruh tubuh. Langkah kaki terus melaju di atas aspal, pantang menyerah. Jalanan yang biasa dipenuhi mobil-mobil, setiap minggu pagi terganti oleh kerumunan orang-orang yang berolahraga. "Dian, kamu masih kuat kan ?" tanya Adit berlari kecil di samping Dian. "masih kok, masih !" jawab Dian dengan nafas terenggah-enggah.         Adit menyamakan kecepatanya berdampingan Dian sambil terus memberikan semangat. Adit si pelari sore setiap pulang kerja sangat rajin berlatih.         Hampir sebulan mereka hanya bertegur sapa sekedarnya di w******p dan sosmed. Hari ini mereka sepakat lari pagi dari patung kuda monas sampai senayan.         Keringat mengalir deras membasahi baju hingga rambut pun lepek seperti kena air hujan. Telapak kaki mulai terasa panas di dalam sepatu. Semilir angin berhembus menepis hawa panas tubuh.         Dian tiba-tiba berhenti sejenak lalu membungkukkan badan. Rasanya nafas berada diujung tenggorokan. Dia kembali berdiri menarik nafas dalam-dalam menenangkan diri. Meski hanya berlari kecil pelan-pelan, cukup membuatnya kelelahan.         Menyadari Dian tidak disampingnya, langkah Adit terhenti lalu menoleh ke belakang. "Dian, kamu nggak apa-apa kan ?" tegur Adit menghampiri. "Enggak kok, aku jalan ajah yaa" Adit tersenyum lalu mengulurkan tanganya "yaudah yuk !"         Dian balas tersenyum meraih tanganya. Mereka berjalan meneruskan sisa rute dari Semanggi menuju Senayan. "Kamu gimana sih, dikit lagi tuh padahal !" Adit mengusap kepala Dian. "Maaf, aku udah lelah banget" wajah Dian memerah.         Sepanjang jalan utama ditengah gedung-gedung tinggi mereka bersenda gurau melepas kerinduan. Meski sering bertegur sapa di telepon, dan terasa dekat. Tapi kalau tidak bertatap muka, rasanya bagai laluan angin yang berhembus sesekali.         Adit terpesona memandang senyum merekah di wajah wanita pujaanya. Senyum yang dia rindukan selama sebulan. Dia sedang sangat tekun mencari pundi-pundi rupiah demi Dian. Tawaran pekerjaan apapun dari Pak Anton tidak akan dia tolak. Asal saldo tabunganya membengkak, semuanya pasti dia ambil.         Sesampainya di lapangan parkir senayan, mereka beristirahat meregangkan kaki. Adit membuka pintu belakang mobil maticnya lalu duduk sambil mengelap keringat di wajahnya. "kamu mau sarapan apa ?" tanya Adit.         Dian masih mereggangkan kaki, duduk di atas rerumputan. "Uhm, bubur ajah kali yaa !" Dian bangkit lalu duduk di samping Adit. "Untung pas start pertama, kita naik TJ ! Coba kalu bolak-balik Monas Senayan. Bisa-bisa aku nggak masuk kerja nih besok" tambah Dian agak meledek. "Huh, dasar manja !" Adit mencubit pipi Dian. "Sebentar yaa, aku pesan dulu" Adit menghampiri gerobak bubur beberapa meter di samping parkiran mobilnya.         Krrinnggg.....kriiinggg....bunyi telpon w******p berdering. Terpampang foto Rini di handphone Adit. Handhphonenya tepat disamping telapak tangan Dian.         Loh, ada apa masih pagi begini Rini menelpon ? Dering handphone itu tidak urung berhenti. Dian membiarkan handphone itu berdering, mencoba pura-pura tidak tahu. Sementara dari kejauhan Adit masih mengantri bubur. Angkat tidak ya ?         Dian meraih handphone itu hendak menjawabnya. Namun belum sempat icon hijau digeser, handphone berhenti berdering. Baguslah ! Berhenti sebelum di jawab. Semenit kemudian, pesan w******p masuk, muncul di layar notifikasi. "Diiit, dimana ? Nanti jadi kan kita ?"         Mengerenyit dahi Dian, alisnya naik sebelah. Di kepalanya berpikir keras, hatinya pun gundah. Dia teringat perkataan Gilang sewaktu di pantry kantor. Berpikir positif boleh, Curiga itu harus.         Mau kemana mereka berdua, tanpa sepengetahuan Dian ? Kenapa Dian tidak diajak ? Kenapa bertanya pagi-pagi begini ? Apa Adit sedang membagi waktunya ? Jadi pagi bersama Dian, siangnya dengan Rini.         Segala macam tanya dan prasangka semakin menyelimuti kepala. Panas dalam d**a semakin membuat gerah suasana. Bahkan hembusan angin menggoyangkan ranting-ranting pohon besar tidak terasa tiupanya. "Dian, inih ! Maaf lama, ngantri banget" Adit datang membawa semangkuk bubur ayam. "Duuh, maaf yaa aku udah bikin kaki kamu pegal-pegal!" lanjutnya duduk di samping Dian.         Adit menyantap lahap bubur sambil mengechek handphonenya. Sesekali dia mengajak Dian membicarakan soal kerjaanya di kantor. Dian menjawab seperlunya saja sambil mengaduk-aduk bubur. Wajahnya tertunduk murung, menyuap sedikit bubur ayam yang sudah cair. "Kok nggak dimakan buburnya ?" tanya Adit heran. "Oh, iyah !" jawab Dian sambil menyuap. "Apa ada yang kamu nggak suka ? Taro sini ajah!" Adit menyodorkan mangkuknya. "Uhm, enggak kok, enggak apa-apa" jawab Dian singkat. "Kamu capek banget nih kayaknya! Nggak biasa lari pagi" Adit bergurau. "Enggak juga!" Dian kembali mengaduk-aduk bubur dimangkuk.         Adit terdiam sejenak lalu memperhatikan Dian yang tiba-tiba murung. Sungguh Adit tidak mengerti kenapa perempuan ini hilang mood seketika. "Dian, ada apa ?" Adit tertunduk ingin melihat wajah Dian. Dia melembutkan suaranya. Luluh seketika segala prasangka buruk yang mengengkang di kepala. Suara lembut itu menyadarkan Dian dari kekesalan semu. "Uhm, enggak kok nggak apa-apa" Dian mengangkat kepalanya berusaha tersenyum. "kalau kamu ada yang mau diomongin, omongin ajah. Nggak apa-apa kok !" Adit memancingnya. "Kamu setelah ini mau kemana ?" tanya Dian. Dia sengaja tidak bertanya yang sebenarnya. Sengaja, ingin tahu apakah Adit akan mengaku ada janji dengan Rini. "Nggak kemana-mana kok, paling tidur istirahat dirumah" Ooh begitu rupanya! Adit tidak mengaku ada janji. Kenapa harus ditutup-tutupi ? Mereka kan teman. Apa salahnya bilang ada janji sama Rini ? "kenapa ya ?" tanya Adit lagi kebingungan. "Oh enggak apa-apa. Kalau gitu, aku juga istirahat ajah deh !" sanggah Dian masih menyembunyikan rasa kesal. "Istirahat, besok kerja. Lagipula besok aku di Jakarta ajah kok. Nggak kemana-mana" Adit mengusap kepala Dian sambil menampakkan senyumnya. "iyah !" balas Dian singkat.         Meski senyum manis Adit terukir diwajahnya. Meski mata berkaca-kaca itu nampak indah di bola matanya. Gelisah, curiga, penuh prasangka buruk bersarang di kepala Dian. Jadi benar, berpikir positif boleh tapi curiga itu harus ? Rasanya prinsip itu harus Dian pegang mulai saat ini, agar tidak dibodoh-bodohi. *********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD