Kini tian terbangun ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 4:35 yang menunjukkan sudah waktunya melaksanakan sholat subuh, kemudian dia bangkit dengan perlahan-lahan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu,Tian kemudian melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim di samping itu Tak lupa membaca ayat suci Al-Quran. Setelah beberapa saat ia telah selesai dan bangkit merapikan tempat tidurnya dan berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan buat keluarganya.
"Pagi-pagi amat, kamu buat apaan an"
" Ini bu buat bubur ayam , buat sarapan aku juga udah buat teh, kopi dan s**u buat yang lainnya"
" Tumben rajin dek, ada maunya yaa"
"Its, kakak apaan sih orang aku ikhlas kok buatnya kan buat ponakan-ponakan Tante juga supaya sehat,ya kan" tian berkata sambil mengelus perut kakak nya yang belum buncit
"Terserah kamu deh, asal sering-sering aja yah"
" Siip kakak tapi uang jajan aku di tambah yah"
" Tuh kan ada maunya" ucap Amel sambil geleng-geleng
" Nggak kok orang bercanda juga tapi kalau di kasih yaaa nggak nolak juga sih" ucap Tian sambil nyengir
Yang lainnya hanya tertawa melihat perdebatan kakak beradik itu
" Yaudah silahkan di coba masakan ala chef Tian, rasanya di jamin pengen lagi dan lagi, hehe"
Tian pun menyajikan ke piring semua orang dan ikut serta untuk makan, Saat makan berlangsung suasana kembali hening, Tok tok tok assalamualaikum seseorang mengetuk pintu.
" Biar aku aja, yang kedepan" ucap Tian yang di balas anggukan ayahnya
" Wa'alaikum salam , ada apa pak"
" Ini dek, ada surat buat atas nama pak Agus Salim, betul ini rumahnya dek"
" Eh iya pak"
"Yaudah,ini suratnya dek" pak pos sambil menyerahkan surat tersebut
"Makasih pak"
"Iya dek sama-sama"
Tian berbalik hendak menyerahkan surat tersebut tapi jiwa penasarannya meronta nggak papalah kalau cuma ngintip doang pikirnya dalam hati, pas ketika di buka itu adalah surat dari bank yang menunjukkan daftar hutang keluarganya, setelah berpikir keras Tian akhirnya menyadari akhir-akhir ini bengkel ayahnya sedang sepi tetapi pengeluaran sehari-hari semakin bertambah. Setelah melihat nominal yang tertera di sana tian akhirnya berfikir ulang untuk melanjutkan pendidikannya.saat ia berjalan ke ruang makan tian mendengar keluarganya sedang berdiskusi .
" Ayah yakin menyetujui permintaan Tian buat lanjut ke univ di Amerika, biayanya tidak murah ayah kami tahu keuangan ayah bagaimana kami bisa saja membantu tapi untuk berapa lama, kita tidak mengetahui biaya disana tempat tinggal dan yang lainnya sampai kapan tian bisa bertahan"
"Ayah janji akan berusaha keras, ayah tidak ingin memutuskan harapannya dia sangat menginginkan itu, ini pertama kalinya adikmu itu meminta sesuatu apa pantas kita melarangnya."
Tian mendengarkan semua dan pura-pura tidak mendengarnya dia kembali duduk dan pura-pura menggerutu menahan kekesalan sungguh acting yang sangat sempurna.
" Siapa dek"
" Ntah lah, orang yang salah alamat bikin kesel aja"
" Yasudah, lanjut makan nya"