five

1082 Words
kamu masak?" tanya pras seraya melangkah ke arah dapur. mendengar suara itu, jihan memutar tubuh menghadap ke pemilik suara. "iya, pak pras mau makan apa?" tanya jihan yang melihat pras telah rapi dengan pakaian dinas nya. "apa aja" jawab pras, ia duduk di meja makan. "aku masak ayam sama sop" ucap jihan, ia kembali melanjutkan masak nya. "enak tuh" respon pras. 20 menit kemudian jihan telah menyelesaikan masak nya, lalu membawa masakan tersebut ke meja makan. "mau aku ambilin?" tawar jihan. "boleh" jawab pras. jihan langsung mengambilkan nasi dan lauk kemudian memberikan nya kepada pras. "makasih" ucap pras. "sama-sama" balas jihan. mereka pun makan dalam diam. "nanti kamu berangkat nya pake motor apa sama aku?" tanya pras setelah menyelesaikan makan nya. "pake motor" jawab jihan. "kamu bisa nyetir motor?" tanya pras. "bisa, waktu SMA aku sering di ajarin naik motor buat gantian nyetir" jawab jihan. "oohh" respon pras. pras ingin bangkit namun suara jihan mencegah nya. "pak" panggil jihan. "iya" sahut pras, dirinya kembali duduk di kursi. "kenapa pak pras nyuruh aku tidur di kamar bapak?" tanya jihan penasaran. "gapapa" jawab pras. "gak mungkin ga ada alasan" balas jihan. "gapapa jihan, kamar itu udah jadi kamar kamu juga" ucap pras. "tapi pak" ucap jihan tertahan. "jangan panggil aku pak, aku ga setua itu kan buat kamu" ucap pras. "terus aku panggil apa?'' tanya jihan. "terserah" jawab pras. "aku panggil mas aja kah?" tanya jihan lagi. "jangan, ga cocok" tolak pras. "ya udah om aja" balas jihan. pras langsung mendelik kepada jihan, dan jihan tersenyum melihatnya. "aku bukan om kamu" ucap pras. "terus apa?" tanya jihan lagi dan lagi. "umur kamu berapa?" tanya pras. "20 tahun" jawab jihan. pras terperangah. "kita beda 10 tahun" ucap pras. "pak pras umur 30?" tanya jihan tak menyangka. "iya" jawab pras. "tapi ga keliatan" balas jihan. "bisa aja kamu" ucap pras tersenyum tipis. "beneran" balas jihan. "iya deh, apa kata kamu aja" ucap pras masih tersenyum. "ya udah aku panggil kak pras aja ya" ucap jihan. "iya boleh-boleh" balas pras. "ya udah aku berangkat ya" pamit jihan kemudian ia bangkit dari kursi "yakin ga mau bareng aku?" tanya pras memastikan, dan itu membuat pergerakan jihan terhenti. "gak" jawab jihan tanpa menatap pras, lalu ia berjalan ke arah kamar pras yang juga sudah menjadi kamarnya. ¶¶¶¶¶¶¶ jihan datang ke kampus menggunakan sepeda motor yang di berikan pras sebagai salah satu mahar kepadanya. di kampus, jihan memang di kenal sebagai mahasiswi yang pintar namun pendiam, dan tak memiliki teman dekat, walau sebenarnya ada beberapa orang yang ingin dekat dengan nya namun jihan menghindar, jihan hanya bersedia di dekati jika ada yang membutuhkan bantuan nya mengenai materi yang belum di pahami oleh mahasiswa atau mahasiswi lain. tak terasa matahari sudah mulai meredupkan sinar nya, waktu ashar pun tiba, jihan segera menunaikan ibadah nya dan bergegas berganti baju kemudian pergi ke tempat kerjanya. sampai di tempat parkir, ketika dirinya ingin menyalakan mesin motor, pras tiba-tiba menghampiri nya. "kamu mau kerja?" tanya pras. "iya" jawab jihan, ia kembali mematikan mesin motor. "keluar aja dari sana" ucap pras. "lohh kenapa?" tanya jihan bingung. "kamu ga inget status kamu sekarang?" tanya pras dengan nada suara pelan. "ini kan cuma sementara, lagian aku harus tetep ngasih uang ke bunda" ucap jihan. "biar itu jadi tanggung jawabku, sekarang juga kamu keluar dari restoran itu" ucap pras tegas. "aku masih mau kerja" balas jihan pelan namun masih bisa di dengar oleh pras. "berani bantah suami?" tanya pras tajam. "ini kan bukan urusan kak pras" balas jihan memberanikan diri. "sekarang jadi urusanku" ucap pras tegas, kemudian ia membawa jihan ke dalam mobilnya, dan mobil tersebut langsung menuju tempat dimana jihan bekerja. sampai di rumah makan, pras membawa jihan masuk, dan pras langsung bertemu dengan petinggi rumah makan tersebut. pras mengatakan kepada manager rumah makan tersebut bahwa jihan ingin keluar dari situ karena sudah menikah, dan tanpa pertimbangan apapun, manager itu langsung mengabulkan keinginan pras. setelah urusan nya selesai, pras langsung membawa jihan kembali ke apartement, selama di dalam mobil, tidak ada yang membuka suara di antara mereka. jihan kesal namun dirinya tidak bisa mengatakan itu kepada pras. "kamu marah?" tanya pras ketika mereka sudah sampai di apartement. jihan tak merespon, ia malah melangkah ke arah dapur, dan pras segera menyusul nya. "aku ga mau kamu pingsan lagi" ucap pras lagi. jihan masih tak merespon, dirinya sibuk membuat 2 gelas es kopi untuk dirinya dan pras. "jihan" panggil pras jihan diam, seperti tak menganggap suara pras. pras memberanikan diri untuk menyentuh dagu jihan, namun jihan segera menjauh, pras menggenggam pelan, sebelumnya tidak ada wanita yang menolaknya seperti ini, hati kecil pras merasa tersentil. pras menarik tangan jihan dengan paksa agar menghadap nya. "berani kamu bersikap kaya gini sama aku?" tanya pras tegas. "harusnya aku yang marah" ucap jihan. "itu demi kebaikan kamu" balas pras. mendengar itu, jihan memberanikan diri menatap mata pras. "aku menyesal menerima bantuan bapak jika akhirnya pak pras mengatur hidupku seperti ini" ucap jihan dingin, kemudian dirinya langsung pergi masuk ke kamar pras. pras berdecak, teryata jihan berbeda dengan wanita yang biasa ia temui di luar sana. ¶¶¶¶¶¶ "ini kunci motor kamu, kemaren aku minta orang suruhan ku nganterin motor kamu kesini" ucap pras ketika ia dan jihan sedang sarapan, ia menyerahkan kunci kepada jihan. tanpa merespon, jihan menerima kunci tersebut. "aku udah beli rumah baru buat ayah sama bunda, mereka juga aku kasih toko dan isinya buat usaha" ucap pras lagi. "makasih" ucap jihan pelan. "sekarang kamu fokus kuliah aja, kalo udah selesai kuliah, baru kamu boleh kerja sesuai sama bidang kamu" ucap pras. "iya" balas jihan. "maaf buat yang kemaren" ucap pras pelan. mendengar itu, jihan pun jadi merasa bersalah juga kepada pras. "aku juga minta maaf karna udah bersikap ga sopan sama kakak" ucap jihan pelan. "kita sama-sama salah kemaren" balas pras. "perasaan kita sama-sama salah mulu" ucap jihan, mencoba mencairkan suasana. "iya, aku juga ga ngerti" balas pras. "ya udah aku berangkat ya kak" pamit jihan. "tunggu" cegah pras. "kenapa?" tanya jihan. "kamu beneran udah ga marah?" tanya pras. "gak, aku juga capek kerja terus, kemaren aku cuma ga mau bikin kakak repot aja" ucap jihan. "aku ga ngerasa di repotin sama sekali" balas pras. "makasih" ucap jihan. "udah jadi tanggung jawabku" balas pras. "ya udah aku pamit, assalamu'alaikum" ucap jihan seraya mencium punggung tangan pras. "nanti aku pulang malem, kamu ga usah masak banyak ya" ucap pras. "iya" balas jihan. "ya udah walaikum'salam" balas pras, lalu jihan pun keluar apartement.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD