one
seorang gadis sedang memasukan alat tulis ke dalam tas nya yang berwarna merah muda, usai itu gadis itu berdiri dan keluar dari kelas, ia menuju toilet kampus untuk berganti baju, 10 menit kemudian dirinya keluar dari toilet dengan sudah mengganti baju santainya dengan seragam kerjanya, gadis berhijab tersebut bekerja di salah satu rumah makan ternama, setelah di rasa rapi, gadis itu pun melangkah ke luar lingkungan kampus
"jihan" panggil sebuah suara bass dari belakang saat dirinya berada di ambang gerbang kampus.
pemilik nama itu pun langsung menoleh ke sumber suara.
"iya pak, ada apa ya?" tanya jihan yang melihat dosen nya berada di dalam mobil.
"kamu mau pulang?" tanya dosen itu.
"gak pak, saya mau ke tempat kerja" jawab jihan.
"naik apa?" tanya sang dosen lagi.
"angkot" jawab jihan.
"kamu kerja dimana?" tanya lagi dan lagi pria yang berusia 30 tahun itu.
"di restoran makanan tradisional yang gak jauh dari sini pak" jawab jihan.
"oh ya saya tau restoran itu, ya udah saya antar aja yuk, kebetulan kita satu arah" ajak dosen sastra indonesia itu.
"ga usah pak pras, makasih, saya naik angkot aja" tolak jihan halus.
"gapapa ayo, sayang uang kamu kalo di pake naik angkot, mending buat jajan" ucap pras.
"tapi pak" ucap jihan tertahan.
"saya ini dosen kamu, ga usah takut atau sungkan" ucap pras.
"ya udah, makasih sebelumnya pak" ucap jihan, dirinya melangkah ke arah mobil sang dosen dan masuk di kursi belakang.
pras sempat terkejut namun ia memaklumi, setelah jihan masuk ke mobilnya, ia langsung melajukan mobil ke jalan raya.
"udah berapa lama kamu kerja disana?" tanya pras membuka suara saat mobil sudah berada di jalan raya.
"baru 6 bulan pak" jawab jihan pelan.
"oohh, nanti kapan-kapan saya mampir kesana ya, harus kamu lohh ya ngelayanin" ucap pras.
"siap pak, nanti tinggal panggil saya aja" ucap jihan.
"ok deh" balas pras.
beberapa menit kemudian mobil pras pun berhenti di depan sebuah rumah makan bernuasa klasik namun modern.
"disini kan?" tanya pras.
"iya pak, makasih banyak, beruntung saya punya dosen ramah kaya bapak gini" ucap jihan terseyum.
"sama-sama, bisa aja kamu" balas pras ikut terseyum.
jihan pun keluar dari mobil pras, lalu pamit kepada sang dosen dan langsung masuk ke dalam rumah makan, setelah jihan tidak terlihat lagi, pras melajukan mobilnya pergi dari tempat kerja salah satu mahasiswi nya itu.
20 menit pras memacu mobilnya menuju kantor, akhirnya ia pun sampai di perusahaan miliknya.
setibanya di parkiran kantor khusus, pras keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung berlantai 40 itu, ia menuju ke ruangan nya yang berada di lantai paling atas.
"sore pak" sapa sang sekertaris, saat pras ingin masuk ke dalam ruangan nya.
"sore juga" balas pras terseyum tipis pada pria yang telah 2 tahun bekerja dengan nya itu.
setelah membalas sapaan sang sekertaris, pras masuk ke dalam ruangan bernuasa putih itu.
tiba di dalam, pras langsung duduk di kursi kekuasaan nya dan sibuk dengan perkerjaan nya.
¶¶¶¶¶
sore ini sebelum pras kembali ke kantor, dirinya mampir terlebih dahulu ke rumah makan tradisional, tempat salah satu mahasiswi nya bekerja.
pras duduk di pojok restoran tersebut, tak lama pelayan datang menghampirinya.
"mau pesan apa?" tanya pelayan wanita kepadanya.
"maaf, apa ada pelayan yang bernama jihan disini?" tanya pras balik.
"ada, apa mau saya panggilkan?" tanya pelayan itu lagi.
"iya boleh, tolong ya" jawab pras sopan sembari terseyum tipis.
"baiklah, kalo begitu tunggu sebentar" ucap pelayan muda itu, ia pun langsung pergi ke dapur.
sampai di dapur wanita cantik itu mendekati jihan yang sedang mencatat sesuatu.
"jihan" panggil nya.
"iya" sahut jihan.
"kamu di cariin pelanggan meja nomor 21" ucap wanita yang bernama anya itu.
"ada apa ya?" tanya jihan.
"gak tau, cepet samperin gih" jawab anya.
tanpa merespon jihan langsung meninggalkan pekerjaan nya, ia berjalan ke meja nomor 21 dengan hati berdebar.
"pak pras" ucap jihan ketika ia melihat wajah pria itu dari samping.
pras langsung menoleh ke sumber suara.
"hay" sapa pras terseyum kepada mahasiswi nya itu.
"akhirnya bapak datang juga" ucap jihan.
"kamu nunggu saya?" tanya pras.
"iya begitulah" jawab jihan.
pras terseyum.
"saya pesan rendang dan jus jeruk 1 ya" ucap pras.
"siap pak" ucap jihan, lalu ia melangkah pergi namun ketika sedang melangkah tiba-tiba kepala jihan terasa berat dan pusing, tak lama kesadaran nya pun hilang.
suasana pun riuh seketika, sementara pras terkejut melihat jihan yang pingsan, ia langsung mendekati jihan dan tanpa basa-basi dirinya membawa jihan ke dalam mobilnya.
"ke apartement saya ya" perintah pras pada supir pribadinya.
"baik pak" balas pria yang seusia dengan pras tersebut.
mobil pun langsung melaju cukup cepat, pras menghubungi dokter pribadinya untuk segera datang ke apartement nya.
usai menghubungi sang dokter pras melihat wajah jihan yang pucat.
pras tahu jihan bukan dari kalangan orang berada seperti dirinya, jihan bisa berkuliah di universitas tempatnya mengajar itu berkat beasiswa, pras merasa kasihan dengan mahasiswi nya yang pintar ini.
¶¶¶¶¶¶
jihan mengerjapkan mata, menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada.
"dimana aku?" tanya jihan pada diri sendiri.
tidak lama ada seseorang yang masuk ke dalam kamar yang ia tiduri, jihan pun bangkit dari tempat tidur namun pras menahan.
"jangan bangun dulu, kamu butuh istirahat" ucap pras menahan bahu jihan.
jihan langsung mengelak merasakan sentuhan pras.
"maaf, kita bukan mahram" ucap jihan, ia sedikit menjauh dari seseorang yang menyetuh bahunya.
jihan belum bisa melihat jelas siapa pria yang ada di hadapan nya ini, karena dirinya masih merasakan pusing yang cukup berat.
"oh ya maaf, saya gak bermaksud" ucap pras, ia langsung menjauhkan diri dari jihan.
jihan mengenali suara tersebut, ia pun mulai menjelaskan pengelihatan nya.
"pak pras" ucap jihan terkejut saat melihat pras berada di hadapan nya yang sedang membawa segelas air putih di tangan kanan nya.
"maaf tadi saya ga maksud nyetuh kamu" ucap pras, ia menyerahkan air putih yang dirinya bawa kepada jihan.
"gapapa pak, tadi saya kira siapa" ucap jihan seraya menerima gelas dari pras.
jihan meminum air putih yang pras berikan kepadanya, setelah tandas jihan menaruh gelas kaca itu di meja dekat tempat tidur.
"tadi kamu pingsan di restoran" ucap pras, ia duduk di soffa single yang ada di kamarnya
"pingsan" ulang jihan.
"iya" balas pras.
"maaf saya bikin pak pras repot" ucap jihan pelan.
"santai aja, kata dokter kamu kecapean" ucap pras.
"iya mungkin" balas jihan.
"kenapa?" tanya pras.
"mungkin karna kegiatan saya yang terlalu padat" jawab jihan.
"emang kamu ngapain?" tanya pras.
"pagi kuliah sampe sore, terus lanjut kerja sampe malem" jawab jihan.
"begitu terus tiap hari?" tanya pras lagi.
"iya" jawab jihan.
"kenapa kamu kerja sekeras itu?" tanya pras lagi dan lagi.
"demi keluarga" jawab jihan.
"kamu tulang punggung ya?" tanya pras tanpa bosan.
"iya" jawab jihan.
"ya udah kamu lanjut istirahat gih" ucap pras.
"saya mau pulang aja" balas jihan.
"jangan, ini udah malem" cegah pras.
jihan pun melihat jam yang ada di tangan nya, dan jam menunjukan pukul 21:20 malam.
"aku pingsan lama banget" ucap jihan.
"iya, jadi kamu nginep disini aja dulu" ucap pras.
"tapi pak" ucap jihan tertahan.
"nanti saya tidur di kamar lain, setelah saya keluar kunci pintunya" ucap pras, lalu ia langsung bangkit dari soffa dan keluar dari kamar.
sementara jihan sibuk dengan pikiran nya sendiri setelah mendengar kalimat dosen nya barusan.