"kamu mau kemana?" tanya pras yang sedang sarapan, ia melihat jihan keluar dari kamarnya.
"saya mau pulang" jawab jihan.
"sini dulu" perintah pras pada jihan.
jihan pun mendekati pras.
"duduk" perintah pras lagi.
jihan langsung menurutinya, ia duduk di sisi kiri pras.
"saya yakin kamu belum mandi, mandi dulu sana" ucap pras.
"saya ga bawa baju ganti pak" balas jihan.
"saya udah beli baju muslim dan peralatan mandi buat kamu saat kamu pingsan, baju itu ada di gantungan kamar saya dan peralatan mandinya ada di meja kamar saya, pakai sana" ucap pras.
"tapi saya udah banyak ngerepotin bapak" ucap jihan pelan.
"saya bukan orang lain, jangan sungkan, udah sana mandi" ucap pras.
"iya pak, terima kasih" ucap jihan sopan, kemudian ia bangkit dari kursi dan kembali masuk ke kamar sang dosen.
pras hanya tersenyum sebagai respon, setelah jihan masuk ke kamarnya, pras melanjutkan sarapan.
20 menit kemudian jihan keluar dari kamar pras, dan ia mendekati pras di meja makan, pria itu sedang asik dengan ponselnya.
"pak" panggil jihan.
pras langsung menatap jihan.
"duduk, makan dulu" ucap pras.
"tapi pak" ucap jihan.
"duduk jihan" ucap pras sedikit tegas.
jihan terkejut mendengar nada suara pras yang berubah tegas, tanpa bantahan lagi, jihan langsung menuruti perintah pras.
"makan" ucap pras, ia telah menyediakan nasi goreng untuk jihan saat mahasiswi nya itu membersihkan diri.
jihan menuruti perintah pras tanpa bantahan, pras tersenyum melihat jihan menuruti perintah dirinya.
"muka kamu masih pucet, sementara waktu kamu disini dulu aja" ucap pras, mendengar itu, jihan langsung menatap pras.
"ga usah pak, saya harus pulang, saya harus kuliah dan orang tua saya juga pasti khawatir" balas jihan.
"nanti saya izinkan kamu di kampus dan saya akan menghubungi orang tua kamu" ucap pras.
"tapi pak" balas jihan.
"jangan membantah jihan, demi kesehatan kamu" ucap pras tegas.
"ya udah, makasih pak" ucap jihan pelan.
"santai aja, ya udah saya pergi dulu, apartement ini pake password, kamu ga bisa pergi, jadi kamu istirahat aja" ucap pras.
jihan terkejut mendengar nya.
"pak saya" ucap jihan tertahan.
"ga ada protes" balas pras tegas.
"ok-ok" balas jihan menyerah.
"ya udah selamat istirahat, assalamu'alaikum" ucap pras.
"walaikum'salam" balas jihan.
lalu pras melangkah keluar apartement, sementara jihan melanjutkan sarapan nya.
jihan baru mengetahui sifat dosen nya tersebut, teryata di balik sikap ramah nya selama ini kepada semua orang, terdapat sebuah ketegasan yang membuat nyali ciut, terutama nyali dirinya.
10 menit kemudian jihan telah menyelesaikan sarapan nya, lalu ia mencuci piring, setelah itu dirinya memperhatikan desain apartement pras yang bernuansa putih dan gold.
"mewah dan elegan" komentar jihan di dalam hati, mengagumi isi dan desain tempat tinggal dosen muda nya itu.
jihan menyusuri apartement pras, jihan menilai pras adalah pria yang suka kebersihan dan kerapihan, juga penyuka warna putih, karena hampir seluruh benda yang ada di apartement tersebut berwarna putih.
usai menyusuri apartement, jihan memutuskan membersikan dan merapihkan apartement dosen nya itu agar terlihat lebih bersih dan rapi.
¶¶¶¶¶¶¶
"capek ya?" tanya elma kepada pras yang terlihat sangat lelah.
"iya begitu deh" jawab pras, saat ini dirinya sedang berada di apartement elma, sang kekasih yang telah ia pacari 1 tahun lebih.
"aku pijitin ya" tawar elma dengan senyuman.
"iya boleh" balas pras ikut tersenyum.
elma pun langsung memijat bahu dan tengkuk pras dengan semangat, tetapi tak berselang lama tangan elma menyetuh d**a pras dan pras mengerti maksud dari sentuhan itu.
"jangan sekarang sayang, aku lagi bener-bener capek" ucap pras, ia meraih tangan elma dan menjauhkan dari d**a nya.
"sebentar aja" balas elma dengan nada suara manja.
"sayang please" ucap pras pelan.
"ya udah deh, maaf" balas elma, wajah nya tertekuk karena ia merasa di tolak, namun dirinya berusaha mengerti.
elma pun kembali memijat pras. dengan benar.
"cukup pijitnya" ucap pras tiba-tiba, kemudian menatap elma.
"kenapa?" tanya elma binggung.
"gapapa, aku pulang dulu ya" pamit pras.
"kamu ga nginep?" tanya elma.
"lain waktu aja, aku mau istirahat" jawab pras.
"tapi ini masih jam 10" ucap elma.
"aku mau istirahat sayang" balas pras lembut.
"disini aja" ucap elma manja.
"maaf sayang" balas pras pelan, ia berharap elma mengerti dirinya yang saat ini sedang merasa sangat lelah.
"ya udah deh, hati-hati pulang nya" ucap elma dengan berat hati, sigit pun bangkit dari soffa panjang yang dirinya duduk bersama elma, lalu ia mencium kening elma dan tersenyum kemudian melangkah ke luar apartement sang kekasih.
25 menit kemudian pras tiba di gedung apartement nya, ia pun keluar dari mobil dan menuju ke unit nya, ketika sudah sampai di dalam unit nya, ia melangkah ke kamarnya yang tak terkunci kemudian langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur tanpa mengunci pintu, dan dalam sekejap pras pun langsung masuk ke alam mimpi.
¶¶¶¶¶¶¶¶
"prasetya kamu ngapain?" tanya sebuah suara yang menggema di kamar berdiameter cukup luas itu.
2 orang yang sedang berbaring di tempat tidur pun langsung membuka mata seketika.
"mama" ucap pras yang melihat sang ibunda sedang melotot ke arah nya.
"kamu abis ngapain hah?" tanya wanita yang berusia 53 tahun itu kepada putra sulung nya.
"maksud mama apa?" tanya pras tak mengerti.
"kamu liat ke samping kiri kamu" ucap riana, pras pun menurutinya dan dirinya terkejut melihat jihan yang juga sedang terkejut.
"jihan" ucap pras.
"pak pras" sahut jihan.
"kalian ikut saya, cepat" perintah riana tegas dan tajam, setelah mengatakan itu riana keluar dari kamar pras dengan langkah cepat.
"bapak kenapa ada disini?" tanya jihan.
"saya lupa kamu ada disini, kenapa pintunya ga di kunci?" tanya pras balik.
"saya pikir, saya ga perlu lakuin itu karna ini bukan kamar saya" jawab jihan.
pras berdecak.
"saya kan udah bilang, ga usah sungkan" ucap pras.
"maaf pak" ucap jihan pelan, kepala nya menunduk.
"ya udahlah, udah terjadi ini, dan kayanya kita dalam masalah besar jihan" ucap pras.
"maksud bapak?" tanya jihan tidak mengerti.
sebelum pras menjawab pertanyaan jihan, suara sang ibu kembali menggema di apartement nya.
"Prasetya keluar sekarang, bawa juga perempuan itu" ucap riana cukup kencang.
"mama udah marah, ayo cepet keluar" ajak pras kepada jihan.
jihan pun langsung beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar sembari merapihkan penampilkan nya.
untunglah jihan tidak melepas hijab dan baju panjang nya saat tidur tadi, jihan memang tidak suka melepas hijabnya ketika dirinya menginap di rumah orang, sekali pun di rumah sanak saudaranya.
riana menatap tajam jihan ketika jihan baru keluar dari kamar pras.
"duduk" ucap riana dingin, jihan langsung menuruti perintah riana.
jihan duduk di soffa single yang berada di hadapan riana.
"ada hubungan apa kamu sama anak saya?" tanya riana kepada jihan.
"saya ga punya hubungan apa-apa sama pak pras tante, saya cuma salah satu mahasiswinya" jawab jihan pelan, saat ini jihan dalam keadaan sangat tegang dan takut.
"terus kenapa kamu bisa ada di kamar pras?" tanya riana lagi.
"ceritanya panjang tante, intinya pak pras menolong saya" jawab jihan.
"menolong" ulang riana.
"iya" balas jihan.
ketika riana ingin membuka suara kembali, suara pras mencegahnya.
"mama salah paham sama aku dan jihan" ucap pras, ia duduk di sisi kanan yang ibunda.
"yang mama liat tadi udah sangat jelas, kalian ga usah mengelak" balas riana.
"jihan itu perempuan baik-baik mah, dia salah satu mahasiswi ku yang pintar, dia ada disini karna aku menolong nya" ucap pras.
"menolong soal apa?" tanya riana kepada pras.
"waktu itu dia pingsan di restoran tempat kerjanya dan kebetulan aku ada di situ, jadi aku menolong nya dan bawa dia kesini" jawab pras.
"kenapa harus di bawa kesini dan tidur di kamar kamu?" tanya riana lagi.
"aku ga tau rumah jihan dimana dan kamar tamu disini kan di kunci, jadi ribet kalo harus ngambil kuncinya dulu, lagipula saat itu aku panik mah" jawab pras.
"kenapa kamu ga tidur di kamar tamu?" tanya riana lagi dan lagi.
"aku lupa jihan ada disini" jawab pras pelan.
"gimana kamu bisa lupa?" tanya riana ke sekian kali.
"tadi malem aku lagi capek banget" jawab pras masih pelan.
"kita ga ngapain-ngapain tante" ucap jihan membuka suara.
"mama ga percaya sama kalian berdua" ucap riana.
"ya ampun, yang bener aja, aku ini anak mama lohhh" balas pras.
"justru itu" ucap riana.
"tante please, ini cuma salah paham" ucap jihan.
"terus mama mau aku ngapain?" tanya pras pasrah.
"nikahin perempuan yang udah tidur sama kamu itu" jawab sebuah suara yang berasal dari arah dapur, pria paruh baya itu membawa secangkir kopi di tangan kanan nya.
"APA" ucap ketiga orang yang duduk di soffa.
"ga mungkin pah, aku udah punya elma" protes pras.
"udah tau kamu punya elma, tapi kamu malah bawa perempuan lain ke apartement dan bersenang-senang dengan nya" ucap sang ayah dengan nada suara tajam, ia duduk di soffa single yang berada di sisi kiri sang istri.
"gak pah, aku sama jihan ga ngapain-ngapain" ucap pras.
"papah tau kamu Prasetya adiwiguna" ucap reihan tajam, kemudian ia meminum kopinya hingga tersisa setengah, lalu kopi tersebut di taruh di meja.
"ya ampun pah, aku ga sebrengsek itu" ucap pras.
"pokoknya papa ga mau nanti ada kabar buruk tentang kamu yang tiba-tiba mencuat di muka publik" ucap reihan.
"ga akan ada kabar aneh-aneh tentang aku pah" ucap pras.
"iya om" sahut jihan menimpali.
"nikahi perempuan itu atau papah coret kamu dari kartu keluarga" ucap reihan serius.
"pah" ucap pras pelan.
"pilihan ada di tangan kamu, kamu tau kan gimana sifat papamu ini" ucap reihan, nada suara nya kembali terdengar santai.
"ok fine kalo itu yang papah mau" putus pras.
"maksud bapak apa?" tanya jihan.
pras menatap jihan.
"ayo saya antar kamu pulang" ucap pras, dirinya tidak menjawab pertanyaan jihan.
jihan ingin menolak namun ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk itu.
"iya pak, boleh saya ambil hp dulu di kamar bapak?" tanya jihan.
"iya silakan" jawab pras.
jihan pun melangkah masuk ke kamar pras dengan tergesa.
"liat mah, pras mengizinkan perempuan itu masuk ke kamar nya di hadapan kita, mereka pasti ada apa-apa, karna sebelumnya pras ga pernah bersikap kaya gini sama orang lain" ucap reihan.
"dia mau ngambil hp pah, denger sendiri kan tadi" balas pras.
"tolong jujur pras, kamu ada hubungan apa sama jihan?" tanya riana.
"ga ada apa-apa mah, dia itu mahasiswi ku" jawab pras.
"elma kurang apa pras?" tanya riana lagi.
"terserah lah mama sama papa mau mau bilang apa, aku ga mau bela diri lagi" ucap pras, lalu dirinya bangkit dari soffa dan melangkah ke arah kamarnya.
"mau ngapain lagi kamu?" tanya reihan yang geram melihat tingkah sang putra.
"ngambil kemeja dan itu ga sampe 1 menit" jawab pras sebelum hilang di balik dinding, pintu kamar pras tidak tertutup.