three

1665 Words
"pak pras" panggil jihan kepada pras ketika mobil sudah berada di jalan raya. "iya" sahut pras. "maksud omongan bapak tadi apa ya?" tanya jihan. "yang mana?" tanya pras balik. jihan mendesah lemah mengetahui pras lupa dengan perkataan yang dirinya maksud. "lupain aja" balas jihan pelan. pras menatap jihan sekilas. "kamu tenang aja, yang di omongin papaku ga akan terjadi, itu cuma gertakan, kenyataan nya kita emang ga ngapa-ngapain" ucap pras. mendengar itu mata jihan berbinar. "apa bapak bisa jamin itu?" tanya jihan. "iya, saya akan menenangkan mereka" jawab pras. "terima kasih dan maaf udah bikin bapak hampir kena masalah" ucap jihan. "ini juga salah saya" balas pras. jihan hanya tersenyum tipis sebagai respon. 20 menit kemudian mobil sigit sampai di sebuah perkampungan. "berhenti disini aja pak" ucap jihan. pras pun menghentikan mobilnya di depan gang kecil. "dimana rumah kamu?" tanya pras. "rumahku ga jauh dari gang itu" jawab jihan seraya menunjuk gang yang ada di sisi kirinya. pras terkejut mendengar nya, ia prihatin mengetahui salah satu mahasiswi nya yang pintar tinggal di pemukiman sederhana. "maaf pak, tapi tolong jangan tatap saya seperti itu" ucap jihan yang melihat pras menatap nya iba. "oh ya maaf" balas pras. "kalo gitu saya permisi, assalamu'alaikum" ucap jihan lalu ia hendak keluar mobil namun pras menahan nya. "tunggu" cegah pras. "iya kenapa?" tanya jihan heran. "jangan pikirin masalah tadi ya, itu biar jadi urusan saya" ucap pras. "iya pak, makasih udah nolongin dan nganter saya pulang" balas jihan tersenyum tipis kepada pras. "ya sama-sama, walaikum'salam" balas pras. setelah mendengar itu jihan keluar dari mobil, usai memberikan senyuman perpisahan kepada jihan, pras pun meninggalkan lingkungan rumah jihan tersebut. setelah mobil pras sudah menjauh, jihan berjalan masuk ke gang menuju rumah nya, sementara sebagian warga terkejut melihat jihan keluar dari mobil mewah. "assalamu'alaikum" ucap jihan ketika dirinya tiba di pintu masuk rumah. "walaikum'salam" balas sang ibunda. jihan mencium punggung tangan sang ibu kemudian ia duduk di sisi kanan ibunya. "maaf aku baru pulang sekarang" ucap jihan. "gapapa, dosen kamu udah bilang ke bunda" balas indah. "ya udah aku mandi dulu ya bu" pamit jihan, lalu dirinya langsung melangkah ke kamarnya. sebenarnya jihan takut sang ibu menanyakan tentang insiden pingsan nya, namun dugaan nya salah, sang ibunda terlihat biasa saja dan tidak menanyakan apapun. jihan penasaran apa yang di katakan dosen nya itu kepada kedua orang tuanya sehingga bisa setenang itu, tetapi di sisi lain jihan bersyukur karena tidak membuat orang tuanya cemas. sepertinya jihan harus berterima kasih lagi kepada dosen muda dan baik hati nya itu. ¶¶¶¶¶¶¶ "apa kamu udah ngomong sama orang tua perempuan itu?" tanya reihan kepada sang putra yang sedang memakan masakan istrinya dengan lahap. pras menghentikan makan nya lalu menatap reihan. "perempuan mana?" tanya pras binggung. reihan tidak menyangka sang anak lupa dengan kejadian 1 minggu lalu itu. "perempuan yang udah kamu ajak tidur dengan alasan menolong" jawab reihan. pras terkejut karena sang ayah masih mengingat kejadian itu. "udah aku bilang berkali-kali, aku sama jihan ga berbuat apa-apa" jelas pras. "nikahi dia" perintah reihan tegas. "ga mungkin pah, lagian ini udah seminggu dan jihan ga kenapa-napa" ucap pras. "ok kalo kamu ga mau, hari ini juga papa akan coret kamu dari kartu keluarga, lagipula kamu pasti bisa hidup tanpa keluarga ini karna kamu udah punya perusahaan sendiri" ucap reihan santai. "pah" ucap pras pelan. "nikahi dia Prasetya" ucap reihan lembut. "aku udah punya elma" balas pras. "papa tau tapi kamu harus tanggung jawab sama apa yang udah kamu lakuin" ucap reihan. "aku sama jihan ga berbuat apa-apa, tolong percaya" ucap pras. "nikahi dia sayang, papa ga mau kamu jadi cowok yang gak bertanggung jawab" ucap reihan selembut mungkin. pras berdecak, ia lemah jika sang ayah sudah memanggilnya 'sayang' dan berkata lembut seperti tadi. "pah" ucap pras pelan. "turutin permintaan papa ya sayang, demi kebaikan kamu" ucap reihan masih dengan nada suara lembut. pras menarik napas dalam kemudian mengembuskan nya. "terus gimana sama elma?" tanya pras. "lepaskan dia, biarkan dia mencari laki-laki lain" jawab reihan. "aku cinta elma pah" ucap pras pelan. "mama udah cocok sama elma pah" sahut riana. "tapi anak kita harus tanggung jawab sama apa yang udah dia lakuin mah" balas reihan seraya menatap sang istri. riana menghembuskan napas kasar, ingin tidak ingin dirinya harus menerima gadis sederhana itu menjadi menantunya. sedangkan pras menghembuskan napas mendengar kedua orang tuanya masih tidak percaya kepadanya. "berapa juta kali pun aku akan selalu bilang kalo aku ga pernah ngapa-ngapain sama jihan" ucap pras kemudian ia bangkit dari kursi dan melangkah ke kamarnya. sementara kedua orang tuanya hanya menghembuskan napas pelan. ¶¶¶¶¶¶ "assalamu'alaikum" ucap sebuah suara dari luar rumah jihan. jihan merasa heran dengan tamu yang datang di waktu malam seperti ini, jihan pun memakai hijab panjang nya dan segera menuju pintu rumah. "walaikum'salam" ucap jihan seraya membuka pintu. jihan terkejut, karena teryata sang dosen dan kedua orang tuanya yang datang ke rumahnya. "pak pras" ucap jihan. "malem jihan" balas pras. "silakan masuk pak, om, tante" ucap jihan sopan. ketiga orang tersebut masuk ke dalam rumah sederhana itu, riana merasa prihatin dengan kondisi rumah jihan yang hanya terbuat dari kayu dan bata yang sudah tidak layak. "silakan duduk" ucap jihan lagi. mereka pun duduk di kursi sederhana di rumah jihan. "kedatangan kita kesini mau ketemu sama orang tua kamu" ucap reihan membuka suara. "oh, kalo gitu saya panggil orang tua saya dulu" ucap jihan, kemudian ia melangkah ke arah dapur. 5 menit kemudian kedua orang tua jihan muncul dari arah dapur, sementara jihan membuat teh dan menyiapkan cemilan untuk tamunya. tidak lama jihan datang membawa nampan yang berisi makanan dan teh, jihan menaruh cemilan dan teh tersebut di meja. "silakan di minum" ucap jihan sopan. "terima kasih" ucap pras. jihan pun duduk di sisi kiri sang ibunda. "ada keperluan apa ya bapak dan ibu datang kesini?" tanya johan membuka suara. "kedatangan saya dan keluarga kesini itu untuk melamar jihan untuk anak saya" jawab reihan tanpa basa-basi. jihan dan kedua orang tuanya terkejut mendengar hal itu. "maksud bapak apa ya?, kok tiba-tiba seperti ini?" tanya johan binggung. "apa bapak belum tau tentang kejadian 1 minggu yang lalu?" tanya reihan. johan mengerutkan dahinya. "kejadian apa?" tanya johan tak mengerti dengan apa yang sedang di bicarakan oleh reihan. sebelum reihan bicara, pras mencegahnya terlebih dahulu. "pah" ucap pras pelan seraya menyetuh bahu sang ayah. reihan menatap pras. "mereka harus tau"" ucap reihan kepada pras, lalu kembali menatap kedua orang tua jihan. tiba-tiba detak jantung jihan berdetak kencang, ia ingat kejadian salah paham 1 minggu yang lalu itu. "anak saya dan anak bapak telah melakukan kesalahan" ucap reihan pelan. "kesalahan apa?" tanya johan lagi. johan menatap jihan untuk meminta penjelasan. "mereka telah menghabiskan malam di kamar yang sama, satu minggu lalu" ucap reihan pelan. "APA" balas kedua orang tua jihan, mereka langsung menatap jihan dengan tatapan tak percaya. "kamu" ucap indah pada jihan. "gak bun, ini semua salah paham" balas jihan. "kamu tega merusak kepercayaan ayah dan harga diri kamu sendiri jihan" ucap johan tajam kepada jihan "aku ga ngelakuin kesalahan apapun" ucap jihan. "istri saya menemukan mereka tidur di 1 tempat tidur yang sama" ucap reihan. riana hanya mengangguk sebagai tanda pembenaran mengenai ucapan sang suami. johan langsung bangkit dan menatap jihan sangat tajam, saat ini amarah sedang menguasainya. "bisa-bisanya kamu merusak moral diri kamu sendiri, padahal ayah udah berusaha jadi ayah yang berbaik buat kamu" ucap johan kepada jihan. "dengerin penjelasan aku dulu yah" ucap jihan. "ga ada yang harus di jelasin, tega kamu mempermalukan keluarga ini" ucap johan tajam dan tinggi. "ayah" panggil jihan pelan, air mata jihan mengalir seketika, ketika mendengar bentakan sang ayah untuk dirinya. padahal seumur hidupnya, sang ayah tidak pernah membentak nya sekeras ini. sedangkan sang ibu sudah menangis dalam diam. pras merasa tidak tega dengan mahasiswi nya itu. "maaf pak" ucap pras membuka suara. johan langsung menatap pras. "apa kamu mau coba mengelak?" tanya johan tajam kepada pras. "tolong jangan bentak jihan, kita bisa omongin ini baik-baik" ucap pras. "teryata kamu berani membelanya" ucap johan. "saya tidak bermaksud membela nya pak" balas pras. "kamu memang harus menikahi anak saya" ucap johan tajam kepada pras. tiba-tiba jihan bangkit dari kursi dan keluar dari rumah, pras terkejut, dan tanpa basa-basi pras mengejar jihan. kedua orang tua mereka hanya diam melihat itu. "kita memang harus menikahi mereka pak johan" ucap reihan membuka suara. "iya, dan maaf untuk sikap saya tadi" ucap johan, ia kembali duduk di kursi. "iya saya mengerti" balas reihan. sedangkan riana tak menyangka putra sulungnya bisa melakukan berbuatan terkutuk itu dengan gadis biasa seperti jihan. ¶¶¶¶¶¶ "jihan" panggil pras pada jihan yang sedang duduk di pinggir lapangan di kampung nya. jihan tak menyahut, air matanya terus mengalir. "maaf" ucap pras lagi, dirinya duduk di sisi kanan jihan. "aku ga mau nikah di usia semuda ini, aku juga masih semester 2" ucap jihan pelan. "maaf jihan, aku gagal bikin mereka berhenti ungkit kejadian itu" ucap pras. "ga ada kejadian apa-apa di antara kita pak" ucap jihan. "iya, kita harus lurusin kesalahpaham ini" ucap pras. "caranya?" tanya jihan. "aku masih mikirin itu" jawab pras. tanpa mereka sadari, cara bicara mereka menjadi aku-kamu. "pulang yuk" ajak pras. "aku masih mau disini" balas jihan. "disini dingin" ucap pras. jihan menatap pras. "sejak kapan bapak suka mengaturku?" tanya jihan. "aku ga maksud ngatur kamu" jawab pras. "lebih baik bapak pulang" ucap jihan. "jihan" ucap pras pelan. "aku lagi ga mau di ganggu" balas jihan. pras diam mendengar itu, tetapi tiba-tiba supir pribadi pras mengehampir pras. "maaf tuan" ucapnya. "ada apa?" tanya pras seraya menatap supirnya. "hari pernikahan tuan dan non jihan sudah di tentukan" jawab nya. jihan langsung menatap pria yang bekerja dengan pras tersebut dengan tatapan tak percaya. "kapan?" tanya jihan. "minggu depan" jawab nya. "secepat itu?" tanya pras tidak menyangka. "iya" jawab sang supir, kemudian ia pergi dari hadapan pras dan jihan. setelah supir pribadi pras pergi, air mata jihan kembali mengalir, sementara pras hanya diam, ia setia duduk di sisi kanan jihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD