Tatapan Tajam Tante

1272 Words
Sesampainya di rumah, Sisil keluar dari mobil. Kaki jenjang Sisil melangkah seiring paman jono dan pak satrio masuk ke rumah. "Papa!" Seru sang istri--Liana Ardiansyah. Nama Ardiansyah di ambil dari paman Jono Ardiansyah. Wanita itu sangat senang atas kehadiran paman Jono di hadapannya. Paman Jono ikut membentangkan tangannya menyambut sang istri dalam pelukan hangat."Aku merindukanmu, sayang!" "Aku juga, istriku." Pelukan mereka terurai saat mata Tante Liana mendapati Sisil di belakang suaminya. Sisil hanya tersenyum. Ikut merasakan bahagia melihat sepasang suami itu. Gadis itu melangkah mendekati Tante Liana. Untuk memberi salam pada wanita itu. Saat ia mengulurkan tangan, Tante Liana hanya menarik paman Jono masuk ke kamar mereka. Tatapannya sinis tidak suka pada Sisil, mengabaikan kehadiran gadis itu. Sisil bergeming. Tangannya yang mengudara tidak tersambut dengan baik. Sisil pun perlahan menjatuhkan tangannya. Membiarkan paman Jono dan Tante Liana menjauh dari pandangannya. "Maaf Non, mari saya bantu bawakan kopernya," ujar pelayan, ia akan mengantarkan Sisil ke kamar yang akan di tempati gadis itu. Sisil mengangguk. Dia mencoba menepiskan pikirannya pada paman Jono dan sang istri. Matanya menelisik sekitar rumah itu, sangat luas dan barang-barang yang ada di sana, berharga mahal. Seperti guci besar yang di lihat oleh Sisil di sebelahnya. Tinggi guci itu melebihi tinggi Sisil. Tidak berlama-lama di sana, Sisil langsung mengikuti pelayan rumah menuju kamar yang ia tempati. Tidak terlalu luas, mungkin besarnya melebihi kamar Sisil di kampung. Tidak ada pendingin ruangan, selain kipas yang berdiri di sebelah tempat tidur yang tidak terlalu besar itu. Memang rapi, sprei telah di ganti, kamar itu memang terkesan bersih, tetapi ada yang mengganjal pikiran gadis itu. Sisil berpikir kalau mereka akan menempati rumah pamannya dengan kamar yang luas, dan terdapat pendingin ruangan. Bukan berharap bisa menikmati semua itu, hanya saja kamar yang ia tempati ini persis seperti kamar pembantu. Sisil merasa ini lebih baik dari pada ia tidur di jalanan. "Silahkan masuk, Nona," pelayan mempersilahkan Sisil masuk dengan ramah ke kamar itu. Sisil mengulas senyum di bibirnya."Terima kasih, bi." "Permisi Non, saya ke belakang dulu," ucap pelayan itu pamit undur diri dari hadapan Sisil. Malam pun tiba, ini waktunya mereka makan malam di meja makan. Sepasang istri itu ada di sana. Namun, perhatian mereka tersita dengan kehadiran Sisil yang berada di depan sepasang suami istri itu. "Silahkan duduk, Sil. Makan malam dulu sebelum tidur," pinta paman Jono. Tante Liana melirik Sisil dengan sudut matanya yang tajam. Sisil tidak memperdulikan itu. Gadis itu memilih menarik kursi, lalu mendarat duduk sebelum sang paman selesai lebih dulu dan Tante Liana akan menampakan taringnya. Ada hawa ketidak sukaan yang terpancar dati air wajah wanita itu. "Mulai besok kau sudah bisa bekerja, Sil. Kau akan di antar paman Satrio ke restauran,"ucap paman Jono, menghentikan suapannya sejenak untuk mengatakan pekerjaan Sisil. Sisil menuruti kata yang sang paman."Baik, paman." Saat sisil mengambil ikan nila bakar di hadapannya itu, tangannya di tepis oleh Tante Liana. Mengambil alih ikan itu untuk ia berikan pada paman Jono. "Mas, ini ikan kesukaanmu. Aku membuatnya khusus untukmu, Mas," ucapnya bohong. Tante Liana meminta memasakkan ini semua pada pelayan. Sebab, wanita itu habis memanjakan dirinya melakukan SPA untuk perawatan kulitnya. Wanita itu memang bisa memasak, tetapi semenjak di nikahi paman Jono jiwa orang kayanya meronta-ronta. "Benarkah? Ok! Aku akan cicipi. Pasti masakanmu ini enak," puji paman Jono, menyindir. Lidahnya yang sangat baik masalah pengecapan rasa, tentunya bisa membedakan makanan Tante Liana langsung dengan yang tidak. Sebab, paman Jono sempat merasakan masakan wanita itu sebelum semuanya berubah. Mengangkat derajat Tante Liana yang dulu posisinya sebagai pelayan restauran. "Bagaimana Mas, enak bukan?" tanya Tante Liana dengan mata melebar menunggu jawaban sang suami. Lelaki itu menerbitkan seutas senyum palsu."Enak! Masakanmu selalu enak sayang."killahnya. Tentunya Tante Liana merasa senang telah membohongi sang suami yang ternyata dia sendiri juga kena batunya. "Kau sudah bisa membohongiku, Liana. Aku menyuruhmu masak untukku, karena aku menyukai wanita yang memperhatikan suaminya. Meski kau menikmati ini semua, namun aku sangat ingin makan di rumah itupun masakanmu! Lagi pula untuk apa kau membohongiku? Sampai mengatakan ikan ini kau yang masak. Kau pikir bisa mengelabui aku? Lidahku pengecap terbaik, Liana ini dari restauran kau ambil. Meski bukan dari makanan di restauranku!" batin lelaki itu. Sisil mengambil lauk pauk yang lain, dia mengambil ikan yang di lumuri saus tiram dan tahu. Itu ia ras cukup untuk mengganjal perutnya malam ini. Paman Jono yang melihat itu, ia pun bersuara."Sil, coba ikan bakar itu. Rasanya sangat enak. Itu masakan Tante Liana. Masakannya selalu enak dan membuat paman sangat betah makan di rumah." Lelaki itu melirik pada Tante Liana yang senang akan pujian palsu dari suaminya itu. "Terima kasih, Paman. Ini saja cukup," tolak Sisil. Tatapan Tante Liana kan sangat tajam, jika dia mengikuti perkataan sang paman. Selesai menikmati malam, Sisil kembali ke kamarnya. Tubuhnya bersandar pada headboard tempat tidur. Sisil mengambil ponselnya yang ada di bawah bantal untuk menghubungi Ibu Melisa. Namun, tidak di angkat. Sisil sempat berpikiran buruk. Kenapa panggilannya tidak di angkat sang ibu? Sisil pun mengirim pesan. Tidak lama kemudian balasan pesan juga di terima oleh Sisil. Ternyata sang ibu telah tidur. Pesan itu di balas oleh sang adik. Merasa tubuhnya merasa lelah dan ngantuk, Sisil perlahan membaringkan tubuhnya. Matanya berayun-ayun ngantuk. Tidak lama kemudian kelopak mata gadis itu terpejam rapat. *** Di luar, di bawah langit yang gelap gulita menerangi langit di atas sana, Rendra berbaring sambil tangan berlipat sebagai alas kepalanya. Lelaki itu terbuai dalam lamunan atas kerinduan dan rasa bersalah pada orang tuanya. Sudah beberapa hari ini hidup sebagai sebatang kara. Bukan di tinggalkan orang tua, melainkan atas kesalahannya sendiri. Malu akan keputusannya yang salah, Rendra memilih hidup mandiri meninggalkan kemewahan yang ia miliki. Bersyukur ada seorang teman yang mau membantu dan menopang hidupnya sampai di carikan pekerjaan sebagai pelayan cafe. Awalnya Rendra sempat ragu, melihat pakaian seragam pelayan cafe. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain selain bekerja sebagai pelayan. Toh, apa yang ia banggakan sekarang? Memilih pulang dan menikmati kekayaan orang tuanya? Rasanya sangat memalukan keputusan itu. Lebih baik ia menurunkan gengsinya untuk menyambung hidup. "Rendra!" seruan itu tidak membuat Rendra tersentak. Sudah berapa kali Davin menyeru nama itu, nyatanya hanya di anggap angin lalu. Davin menghampiri Rendra, untuk menyadarkan temannya yang hanya berdiam diri dengan mata melihat ke atas. "Hai!" ucap Davin lagi sambil tangan menepuk bahu Rendra. Temannya itu terperanjat kaget kehadiran Davin yang ia rasa tiba-tiba. "Tidak bisakah kau mengagetkanku?!" sembur Rendra, sambil menarik tubuhnya duduk di kursi kayu panjang itu. Davin berdecis kesal."Kau saja yang tidak punya telinga. Suaraku ini berteriak memanggil namamu, kau saja yang tidak punya telinga?" "Ngapain melamun di sini, ha? Ingat orang tua? Gih sana, pulang ke orang tuamu. Aku sudah yakin sebelumnya, kau tidak akan kuat hidup jauh-jauh dari kemewahan itu," kelakarnya yang ternyata membuat iris mata Rendra menghunus tajam pada Davin. "Sekali lagi kau berkata seperti itu, akan aku jahit bibirmu!" sembur Rendra."Akan aku buktikan padamu, aku akan menjadi orang sukses tanpa bantuan orang tuaku!" Bibir Davin mencebik."Buktikan perkataanmu itu! Awas saja kalau kau sampai meminta bantuan orang tuamu, yang jelas-jelas hartanya bukan dari kerja kerasmu." "Tidak akan! Itu tidak akan terjadi. Kau boleh lihat nanti, bagaimana aku akan menaklukan hidup ini. Meski aku tidak memiliki apa-apa selain menjadi karyawan, aku akan mencapai titik untuk menjadi seorang CEO dan kau ...." Rendra mendekati telinga Davin."Karyawanku!" Gelak tawa Rendra pecah, ia menyadari hayalannya melampaui batasan. Namun, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini asalkan kita mau berusaha. Tidak ada yang dapat merubah hidupnya, selain orang itu sendiri. Davin juga ikut tertawa. Mendengar kelakar lelaki itu. Tekatnya yang tinggi, sebagai teman Davin mendoakan yang terbaik untuk temannya itu. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD