Lelaki yang melihat wajah Sisil menegang, tangannya memegangi tangan kursi. Ia hanya menatap lama pada Sisil. Perlahan pesawat itu terbang dengan sempurna meski ada sedikit turun dari ketinggian. Sensasi ini untuk pertama kalinya di rasakan oleh Sisil. Tanpa sadar ia memegangi tangan seseorang yang ada di lengan kursi yang gadis itu pegang, terasa erat genggaman itu penuh gemetar.
Lama di lirik sang lelaki, Sisil pun menoleh saat ekor matanya mendapati tatapan itu.
"Maaf, tanganku!" ucap lelaki itu seraya melirik ke arah tangannya. Diikuti oleh Sisil kemudian. Sontak membuat gadis itu menjauhkan tangannya dari lelaki yang memakai kaos putih dengan celana levis pendek dan mengenakan sepatu. Kuku Sisil yang panjang telah meninggalkan bekas di tangan lelaki itu.
"Maaf ...." Sisil tercengang, genggaman dari tangannya itu meninggalkan bekas di tangan lelaki itu. Kebetulan ada hansaplast di dalam tas jinjing Sisil yang sudah lama ada di sana. Saat tidak sengaja kakainya terbentur di batu ketika dia dan Frilly hendak turun dari gundukan batu di pantai. Sisil langsung membuka hansaplast itu lalu membaluti ke bagian luka tersebut."Maaf, aku tidak sengaja--"
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menutupi lukanya," titah lelaki itu memotong perkataan Sisil. Air wajah gadis itu benar-benar merasa bersalah. Membuat lelaki itu menjadi tidak tega."Perkenalkan namuku, Rudi."
Rudi mengulurkan tangannya memperkenalkan diri pada Sisil. Gadis itu pun menerima uluran tangan lelaki tersebut.
"Sisil ...." Jabatan tangan mereka pun teruraikan. Sisil tidak mau paman Jono menyadari perkenalan itu, dan menimbulkan persepsi lain tentangnya.
"Baru pertama kali naik pesawat?" tanya Rudi, Sisil mengangguk pelan. Ia malu akan sikapnya yang terlalu terbaca oleh lelaki itu. Rudi terkekeh singkat."Lama-lama juga terbiasa kok!"
Sisil hanya membalas dengan anggukan kecil sambil tersenyum, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Maaf aku terlihat seperti orang katrok!"
"Itu wajar, aku dulu juga seperti itu. Lagi pula kalau tidak ada perjalanan dari kota kita, mungkin belum tentu semua yang ada di pesawat ini menaiki pesawat sebagai alat transportasi udara agar cepat sampai di tujuan. Begitu juga denganmu!" kelakar Rudi.
"Kau benar! Aku menaiki pesawat ini memiliki tujuan ke tempat lain--rumah pamanku," timpal Sisil.
"Ngomong-ngomong kau mau kemana?" tanya Rudi, penasaran.
"Jakarta ...."
"Jakarta itu luas. Kau di mananya?" tanya Rudi, mungkin saja dia memiliki tujuan yang sama. Mungkin dia akan pergi bersama dengan Sisil.
"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu Jakarta saja. Kota kecilnya aku tidak tahu. Baru kali ini aku ke sana," jawab Sisil, membuat Rudi mengerutkan dahinya. Ia sebenarnya tahu, akan lebih baik rudi tidak mengetahui alamat rumah sang paman. Sisil takut lelaki itu akan mengunjunginya.
"Kalau kau tidak tahu, kau di jemput di bandara?" Kalau bukan kerabatnya yang menjemput, Rudi memikirkan Sisil yang akan mencari alamatnya sendiri. Apa lagi Sisil mengatakan ini pengalaman pertanya pergi ke kota.
"Hhuumm ... tidak!" sanggah Sisil, sebab lelaki yanga ada di sebelah rudi, bersebrangan tempat duduk, pamannya yang sedang terlelap dalam tidurnya."Aku bersama paman." Sisil melirik ke arah paman, Rudi pun juga melihatnya.
Lelaki itu termanggut-manggut. Ternyata tafsirannya beda. Rudi juga bersyukur, gadis yang sebelahnya itu tidak akan kehilangan saat mencari alamat. Mengingat Jakarta itu rawan. Apa lagi seorang gadis secantik Sisil."Aku pikir kau sendirian. Makanya aku bertanya panjang lebar. Maaf ya, mungkin telah membuatmu tidak nyaman."
"Sama sekali tidak! Aku tidak terganggu dengan pertanyaan itu," sanggah Sisil. Sebab, ia juga tidak merasa terusik dengn pembicaraan mereka.
Rudi merasa kelopak matanya membuyut ngantuk, sebab ia semalam tidak tidur dan bergadang dengan temannya. Tidur sejanak selama pesawat mengudara mungkin sedikit mengurangi kantuk di mata. Ia yang tidak henti-hentinya menguap, merasa tidak sopan atas sikapnya di depan Sisil."Sorry ... aku tidur dulu. Biasa, efek kurang tidur semalam. Sebelum pesawat mendarat. Nanti tolong bangunkan aku."
"Humm ... nanti aku akan membangunkanmu," timpal Sisil dengan senang hati. Membiarkan Rudi untuk terlelap.
Sedangkan Sisil memilih melihat pemandangan dari balik kaca. Awan-awn yang begitu putih, langit sangat biru, dan tidak lupa matahari yang bersinar terang. Tidak hanya itu, Sisil di buat terkesiap, ada pesawat yang juga melintasi udara selain pesawat yang ia tumpangi. Beruntungnya, tidak ada lampu lalu lintas yang membuat kemacetan. Semua bebas berterbangan. Sisil melirik ke bawah di sana juga terlihat laut membentang luas juga terdapat pulau-pulau kecil di tengah-tengah laut. Dari atas sana, memang terlihat sangat kecil. Semua terlihat seperti semut sama sekali tidak melihat manusia di atas sana.
Kalau di pikir-pikir oleh Sisil, kalau ia tidak pergi bersama paman Jono, mungkin Sisil tidak merasakan penerbangan ini yang kini menjadi pengalamannya. Sisil sedikit malu pada Rudi--lelaki yang baru saja ia kenal. Di umurnya mau jalan ke sembilan belas tahun, ia baru dapat merasakan naik pesawat. Menjadikan dirinya sebagai penumpang. Gadis itu selama ini hanya melihat dati bawah depan rumah, matanya memanah jauh ke atas, melihat pesawat melintasi rumahnya dari atas sana.
Ingin rasanya Sisil mengabadaikan momen ini dengan kamera di ponselnya. Pengalaman pertamanya berada di dalam pesawat. Namun, dari peringatakan yang di baca oleh Sisil di kursi dihadapannya, salah satunya terdapat larangan untuk menyalakan ponsel. Sebab, akan mengakibatkan gangguan pada perjalanan udara. Sisil yang lugu, hanya mematuhi peringatan tersebut. Mengingat dendanya sangat besar, dan juga akan di penjara. Mau di bayar pakai apa sama Sisil? Kertas? Untuk membantu biaya sekolah sang adik saja, tidak mampu.
Dua orang pramugari membagikan makanan, membuat Sisil menoleh ke arah pramugari itu saat kotak berukuran sedang di berikan pada Sisil. Gadis itu menerima dengan senang, dan juga mengambilkan untuk Rudi yang tengah tertidur. Nanti, Sisil akan memberinya pada lelaki itu kalau sudah bangun. Sisil tidak berani membangunkan Rudi. Lelaki itu bilang, dia sangat ngantuk.
Perlahan kotak itu di buka oleh Sisil. Di sana ada roti yang enak dan segelas aqua kecil sebagai minumnya. Kebetulan perutnya sudah merasa lapar lagi. Sambil melihat pemandangan di luar sana, Sisil melahap sedikit demi sedikit roti itu.
Tidak lama kemudian, burung berbadan besi yang membawa Sisil dan penumpang lainnya, mendarat di tanah bandara Jakarta dengan baik. Sisil terbangun dari tidurnya. Matanya berayun-ayun ngantuk setelah menghabiskan satu roti dan minuman. Ia sendiri juga tidak bisa tertidur nyenyak, gelisah akan keberangkatannya ini.
Hentakan dari roda burung berbadan besi itu ketika mendarat dengan mulus, menbuat Sisil membuka matanya yang ternyata pesawat telah menyentuh aspal landasan. Berjalan untuk mencari pemberhentian yang tepat menuruni semua penumpangnya. Termasuk Rudi, ia juga terbangun kelopak matanya juga terpisah mengerjap perlahan sambil memperbaiki duduknya yang merosot itu.
Sisil teringat akan kotak yang berisi roti dan air minum itu, memberikan pada Rudi sebagai pengganjal perutnya."Ini untukmu. Tadi pramugari memberikan untukmu, dan punyaku telah aku makan."
Rudi melirim ke kotak berwarna putih dengan corak burung berwarna biru di atasnya."Ambillah untukmu. Aku masih kenyang."
Rudi masih merasa kenyang di perutnya. Di bandara ia sudah makan. Itu sudah cukup mengganjal perutnya sampai di tempat tujuannya.
"Terima kasih," ucap Sisil kemudian. Ia tidaj tahu bagaimana cara menolaknya. Hanya bisa menerima pemberian Rudi. Lagi pula, Sisil juga menyukai roti di dalam kotak itu. Mungkin bisa untuk ia makan nanti. Bersyukur, meski ini perjalanan pertamanya dengan pesawat, gadis itu sama sekali tidak mabuk perjalanan. Ia sangat menikmati perjalanan di udara ini.
Melihat sebagian orang sudah berdiri beranjak dari tempat duduknya untuk segera keluar dari pesawat, Sisil juga berdiri setelah Rudi berdiri lebih dulu. Gadis itu juga mendapatkan kode dari paman Jono. Sang paman juga telah berdiri untuk segara mengantri keluar dari pesawat.
Setelah keluar dari pesawat, Sisil mengikuti paman Jono dari belakang utnuk masuk ke dalam bandara. Sisil melihat sekitarnya, bandara di sini sangat besar ketimbang bandara yang ada di kampungnya. Tidak sengaja, Sisil dan Rudi saling pandang. Lelaki itu tersenyum padanya, Sisil pun juga membalasnya. Rudi--lelaki yang telah menjadi temannya dalam perjalanan ini. Kenangan yang di dapat oleh Rudi, hansaplast yang bergambar hati itu telah menjadi obat pada lukanya. Pada hal tidak terlalu parah, anehnya Rudi juga tidak keberatan untuk mencabutnya, dan membiarkan menempel dengan nyaman.
Tidak lama kemudian, Sisil dan Paman Jono keluar dari bandara. Di sana sudah di tunggu okeh supir pribadinya. Tentu saja sang istri tidak ikut. Bukan wanita itu tidak mau, Paman Jono telah melarangnya lebih dulu. Ia membiarkan sang istri berada di rumah.
Supir itu membungkukkan tubuh, memberikan hormat pada sang majikan."Selamat siang, Tuan. Sini saya bawakan," ucap pak Satrio mengambil koper paman Jono dan Sisil.
"Bagaimana dengan istriku di rumah selama ini? Dia baik-baik saja? Apa ada yang kau curigai selama kepergianku?" tentunya pertanyaan Jono bukan hal biasa, dan pak Satrio mengerti kemana menjurusnya pertanyaan itu.
"Tidak ada tingkah aneh dari Nyonya, Tuan. Selama kepergian Anda dia di rumah. Kemana-mana juga saya yang mengantarnya, Tuan."
Paman Jono terdiam, keningnya berkerut kebingungan. Hanya kebisuan yang menjadi responnya saat ini. Lelaki itu menyadari ada Sisil yang berada di sebelahnya. Gadis itu pasti sudah bertanya-tanya, dari apa yang ia katakan. Paman Jono lebih memikih diam dari pada melanjutkan.
Meski kini Sisil di buat bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi pada keluarga kecil sang paman, Sisil memilih untuk tidak mengikut campuri yang bukan urusannya itu. Pamannya sudah dewasa, rumah tangganya biarkan menjadi urusan lelaki itu. Di sini dia akan fokus untuk berkerja dengan baik. Agar ia mendapatkan gaji untuk membiayai ibu dan adiknya di kampung. Tujuannya hanya itu, jadi hal yang lain akan di singkirkan dari jalannya.
Sisil membuang pandangan keluar Jendela. Melihat sepanjang jalan yang di lewati mobil itu. Tentunya bergabung dengan kendaraan lain di jalan beraspal, bukan lagi mengenai landasan. Akan tetapi, jalan tol.
Bersambung ...