Di ruang tunggu, Sisil hanya terdiam duduk sambil memandang luas ke lapangan landasan pesawat. Tentu saja dapat di lihat, karena hanya di batasi kaca sebagai sekatnya seluruh ruang tunggu itu.
Sisil senang, dapat melihat secara langsung pesawat besar di hadapannya itu dengan ekor bercorak biru. Dia juga penasaran, bagaimana nanti duduk di dalam sana. Selama ini Sisil hanya melihat pesawat melintas di udara lewat, jauh dari atap rumah. Bentuknya pun sangat kecil, hanya dengungannya yang dapat di tandai bahwa burung berbadan besi itu tengah mengudara. Sekarang ia akan menduduki di dalam sana sebagai penumpang.
Tepat jam tujuh pagi tadi, Sisil dan paman Jono berangkat dati rumah. Di antar oleh mobil teman paman Jono. Dengan berat hati, tangisan pilu yang tak dapat menyeruak dari dalam hati, kakinya perlahan meninggalkan Ibu dan adiknya. Berat memang, tetapi Sisil berusaha tegar demi menumpang kehidupan sang Ibu dan adik. Sisil tidak ingin sepenuhnya biaya mereka di tanggung sepenuhnya oleh paman Jono ataupun Tante Siti. Sedikit banyaknya, Sisil akan meringankan dengan menyisihkan gajiannya nanti.
Ibu Melisa memeluk erat Sisil, pelukan hangatnya untuk beberapa waktu yang lama tidak akan dapat Sisil rasakan lagi. Hanya wajah sang ibu yang dapat membayang di pikiran Sisil.
Sisil dan Frilly juga sempat bertukar suara sebelum keberangkatannya ke bandara. Sahabatnya itu menangis, Sisil akan pergi meninggalkannya dalam jangka waktu yang tidak dapat di tentukan. Sisil hanya bisa tersenyum getir, untuk menghibur Frilly. Meski hatinya juga terasa pilu.
"Ini untukmu," sekotak pop mie di berikan paman Jono, membuyarkan pikiran Sisil.
Sisil melirik sejenak, lalu mengambil pop mie itu dari tangan paman Jono."Terima kasih, paman."
Walau Sisil sering dongkol liat paman Jono, tetapi tidak menghilangkan sopan santunnya pada lelaki itu. Kecuali, perkataan yang menyakiti hatinya.
"Kau belum makan, kan? Isi perutmu dulu. Sebelum pesawat lepas landas," titah paman Jono. Mendarat duduk di kursi sebelah Sisil.
Gadis itu mengangguk setuju, perutnya memang belum terisi oleh apapun. Sisil juga tidak merasakan lapar. Kalut di hatinya seakan menetralisirkan rasa lapar. Namun, aroma dari sebuah pop mie menggugah selera Sisil. Menyeruak masuk ke hidungnyanya hingga membuat tenggorokan sudah menyicipi dulu rasa dari makanan tersebut.
Mie yang di sendokan di mulutnya, seraya mata gadis itu melihat kearah satu pesawat lepas landas. Sisil di buat mengerjap, pemandangan di matanya itu sangat membuat diri merasa takjub. Entah ... rasanya dia benar-benar merasa kampungan. Delapan belas tahun sudah umurnya, selama itu juga di tidak pernah melihay secara langsung penerbangan pesawat ini. Seakan Sisil ingin sekali menceritakan pada Diana ataupun sang Ibu atas pengalamannya ini.
"Aku akan berada di sana? Bagaimana rasanya ya nanti?" batin Sisil, pikirannya sudah menghayal menempati posisi dalam pesawat.
Sisil di buat menoleh penuh pada paman Jono, lelaki itu sedang menerima telepon dari sang istri. Lelaki itu belum karuniai anak sampai saat ini. Itu menjadi kekurangan dari pernikahannya. Meski harta berlimpah, namun Tuhan belum memberikan kepercayaan pada mereka untuk di beri anak di tengah keluarga kecil mereka. Ujian dari Tuhan itu memang berbeda-beda di kehidupan masing-masing manusia. Ada yang belum menikah, malah melahirkan anak. Kejamnya lagi ayah kronologi sang bayi tidak mau bertanggung jawab melarikan diri entah kemana. Kembali lagi pada takdir yang sudah di gariskan. Tidak lain agar manusia bisa mengambil pelajaran dari hidup yang mereka lalui.
Sisil menaruh kotak pop mie itu ke dalam tempat sampah. Saat kini semua isinya telah ia lahap, dan bersyukur perut juga telah merasa kenyang. Saat Sisil hendak duduk kembali, staf bandara memberitahukan keberangkatan pesawat garuda yang tertera di tiket. Mendengar itu sontak membuat mata Sisil mencari paman Jono. Lelaki itu juga telah selesai bicara dengan sang istri.
"Ayo, sil! Bawa kopermu. Tiketmu mana? dan jangan lupa kartu tanda pengenalmu," tanya paman Jono.
Sisil mengambil kartu tanda pengenalnya. Bersyukur kartu itu ia buat ketika umurnya memasuki 17 tahun tepat duduk di kelas 2 sekolah menengah atas. Ketika lulus ia sudah mempunyai itu sebagai kartu tanda pengenalnya.
Gadis itu berada di belakang sang paman, berderatan dengan para pengantri untuk memperlihatkan tiket dan tanda pengenal mereka masing-masing. Agar segera menuju pesawat yang telah berada di luar sana menunggu penumpang yang akan ia bawa terbang di atas sana. Sisil menarik napas dalam-dalam, matanya menatap nanar pada selembar kerta putih itu. Berat meninggalkan kampung halaman. Karena tidak terbiasa jauh-jauh sebelumnya.
"Bu ... Sisil berangkat." Batinnya lirih pilu, matanya terpejam sesaat. Ada yang harus ia raih, demi membahagiakan sang ibu dan biaya sekolah sang adik.
Satu persatu orang yang di depan Sisil, sudah lolos dari pemeriksaan tiket sesuai data manifest penumpang pesawat garuda. Termasuk paman Jono yang berada di depannya tadi. Lelaki itu berhenti tidam jauh dari pemeriksaan. Setelah menunggu, Sisil pun juga melangkahkan kakinya melalui koridor bandara menuju masuk pesawat dengan pramugari di depannya memberi sapaan hangat pada para penumpang dengan mengatupkan kedua tangan. Senyuman pramugari itu merekah pada setiap oenumpang yang akan masuk ke pesawat.
Tepat di nomor kursi yang sesuai tiket Sisil, pramugari mengarahkan gadis itu duduk di samping kursi paman Jono, tetapi Sisil mengambil duduk mendekati kaca. Sebab, ia sangat penasaran bagaimana dari luar sana pemandangan di atas awan, dan langit yang biru. Tanpa Sisil sadari, ada seorang lelaki duduk di sebelahnya. Lelaki itu masih muda, tampan. Pakaiannya sangat rapi, stylenya sesuai selera semua gadis termasuk ... Sisil.
Gadis itu tidak sengaja memegangi tangan kursi pesawat yang ternyata tangan lelaki itu. Tentu saja membuat Sisil terperanjat setelah sadar dari lamunannya."Maaf, aku tidak sengaja."
"Tidak masalah,"timpal lelaki itu. Mereka kembali tidak saling mengacuhkan.
Deruman mesin pesawat hingga membuat pekak di telinga para penumpang, membuat Sisil cukup telinganya merasakan tidak jelas dari pendengarannya. Gadis itu cukup terperangah. Maklum, ini pengalaman pertamanya. Tidak lama kemudian, burung berbadan besi itu bergerak. Mencari landasan yang tepat dan arah kemana pesawat ini di terbangkan. Tentunya sang pilot tidak lepas sinyal yang ia dapatkan. Untuk itu, ponsel harus di matikan. Takut mengganggu penerbangan.
Setelah pesan di kirim oleh Sisil kepada Ibu melisa, gadis itu mematikan ponselnya. Ia kembali menatap jauh keluar kaca. Tidak memperdulikan orang- orang sekitarnya. Termasuk lelaki yang ada di sebelahnya itu semenjak tadi matanya tidak lepas dari Sisil.
Tubuh sisil menegang, remang. Saat kini pesawat garuda mulai meluncur kencang untuk mencapai ketinggian di atas sana.
Bersambung ...