Sisil yang tengah makan di dapur bersama bi Asih, meredam seketika gelak tawa yang sempat menghangatkan mereka. Mereka menoleh pada Tante Liana yang hadir di tengah mereka tatapan berang wanita itu sangat jelas tertuju pada Sisil. Namun, gadis itu tetap makan tidak menghiraukan Tante Liana. Dari pada menatap bola mata Tante yang sangar itu, ia lebih baik memilih untuk mengenyangkan perutnya. Untuk persediaan tenaganya untuk menghadapi Tante Liana. Bi Asih juga menangkap wajah tak bersahabat pada sang Nyonya majikan. Tante Liana melangkah lebar mendekati Sisil yang tampak acuh dengannya."Hebat ya! Seorang gadis enggak pulang seharian, tiba-tiba pulang makan enak di dapur. Kau kemana, ha?" "Yang pasti aku tidak ketempat maksiat!" timpal Sisil tak acuh. Gadis itu menikmati makanan terakhirn

