Selesai bekerja, Pikiran Sisil di bebani oleh pilihan. Hatinya sangat menolak berada di rumah sang paman. Ia ingin keluar dari rumah itu. Namun, seperti magnet yamg menariknya untuk kembali yang memaksanya untuk tetap ada di rumah itu. Satu harapan Sisil, ia di sana memiliki bi Asih. Melani mendekati Sisil, air wajahnya sangat bahagia. Sebab, tadi pagi Sisil sudah mengiyakan bahwa dia akan tinggal bersamanya. Pun siap membantu Sisil untuk mengemasi barangnya dan minta izin pada sang paman. "Sil, jadi kan?" Melani menggidikan alisnya. "Mel, maaf sepertinya aku tidak bisa satu kontrakan denganmu. Ibuku tidak mengizinkan. Kalau aku tinggal dengan paman, dia akan menjagaku dan Ibu akan merasa tenang," killah Sisil, sebisa mungkin ia memendam rasa kecewanya pada lelaki itu. Melani terdia

