Keputusan Berat

1122 Words
Matahari baru saja merangkak naik, teriknya pun belum juga membakar kulit. Kicauan burung masih indah di dengar. Udaranya pun masih sejuk terasa, tetapi Sisil di buat terpaku duduk di sisi ranjang. Perhatiannya tersita penuh pada sebuah amplop panjang berwarna putih bersih dan sengaja tidak di segel itu mengambil alih etensinya. Sang hati merintis pilu memercik cairan bening di iris matanya. Ke dua bahunya melorot lemah dengan keadaan tidak sealun sesuai harapan yang di inginkan Namun, apalah daya keadaan yang ia lalui sudah menjadi takdir di hidupnya yang harus ia jalani meski terpaksa melangkah dan jauh dari Ibu dan sang adik. Demi menaikan derajat orang tua dan tidak selalu bergantung hidup dengan orang lain, Sisil harus mengalah pada kekesalan di hati. Menyurutkan keegoisan. Sisil yang telah mengambil keputusan setelah malam tidak mampu membuatnya memejamkan mata, akhirnya ia harus mengiyakan saat paman Jono akan mengambil satu tiket untuknya. Keras hati yang ia pertahankan sejauh ini harus luluh seketika. Menganggukan pelan kepalanya yang membuat paman Jono mengambangkan senyum, dan mengatakan pilihan Sisil adalah pilihan yang tepat. Pasrah, kata yang tepat saat sisil tidak lagi mempunyai pilihan lain. Kini, satu tiket telah ia pegang tujuan Jakarta, penerbangan 10.30 pesawat Garuda Indonesia. Mata Sisil terpejam rapat, menghembuskan gumpalan napas berat di dadanya perlahan. Tatapannya menatap keluar jendela yang tersekat trali besi. Hanya hitungan jam, besok tidak lagi berada di rumah. Pekerjaan yang sehari-hari ia lakoni membantu sang ibu mengembalakan hewan ternaknya, akan berganti dengan seragam restauran. Memberikan tugasnya pada sang adik untuk mengurus hewan ternaknya dan membantu Ibu dalam keseharian. Sebelumnya Sisil tidak pernah jauh-jauh dari sang ibu, untuk pertama kalinya jarak memisahkan Sisil dengan wanita yang telah melahirkan, dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Sisil melipat tiket penerbangannya, lalu memasukan ke dalam amplop putih menaruhnya dalam tas jinjing yang akan ia kenakan besok. Raut wajah sendu terlihat jelas dari wajah cantiknya, seperti awan tanpa matahari. Langkah seseorang menghampiri Sisil perlahan."Sil," serunya kemudian. Sisil menoleh matanya menemui Ibu Amelia tengah mendekatinya. Tangan yang penuh kasih sayang itu mengelus lembut puncak kepala Sisil, hangatnya sampai menyentuh kerelung hati terdalam. Tanpa bertanya, Ibu Melisa paham dengan raut wajah sang anak di depannya itu. Anak yang tidak biasa jauh darinya, sekalinya pergi langsung menyeberangi selat sunda menghubungi antara sumatera dan jawa. "Sil, kalau kau merasa keberatan, lebih baik jangan di paksakan, Nak. Ibu tidak memaksamu untuk harus ikut dengan paman Jono," dahi Ibu Melisa berkerut seiring air wajahnya yang keruh. Sisil meleburkan suasana hatinya agar raut wajahnya yang sendu juga ikut tersamarkan dari bacaan mata Ibu Melisa."Kata siapa Sisil terpaksa? Sisil mau ikut Paman Jono karena keinginan Sisil sendiri. Lagian, di kampung Sisil mau kerja apa coba? Lagian, Selama ini Sisil juga ingin sekali pergi ke Jakarta. Sisil penasaran dengan kota Jakarta itu. Sisil juga bekerja sama paman Jono, tidak sama orang lain." Sisil mengulas senyum di bibirnya yang melengkung. Lalu merebahkan kepalanya di bahu Ibunya."Doakan Sisil ya, Bu. Semoga saja nasib baik berpihak pada kita." Telapak tangan Ibu Melisa mengusap lembut di pipi Sisil. Ibu selalu mendoakan anak-anak Ibu, Nak. Baik kau ataupun Diana. Sisil mengangkat kepalanya kembali. Menatap penuh sang Ibu dari sisi samping wajah wanita paruh baya itu."Kalau Sisil tidak di rumah, Ibu hati-hati di rumah. Jangan kecapean.' "Iya, sayang. Ibu akan menjaga diri di sini dan adik mu. Ya sudah, nanti jangan ada yang terlupakan barang bawaan yang kau perlukan di sana nanti. Ibu mau ke belakang dulu," ujarnya pada Sisil. Sisil mengangguk, melepaskan tangannya yang melingkar di tangan Ibu Melisa. Wanita paruh baya itu keluar dari kamar sang anak. Sisil hanya menatap kepergian Ibu Melisa. Hatinya sedikit menghangat setelah bertukar suara dengan sang Ibu. Setelah berdiam diri cukup lama, Sisil keluar untuk melanjutkan pekerjaannya menjemurkan kain yang sudah selesai ia cuci itu. Waktunya telah tersita lama karena amplop tiket yang ia terima tadi. Waktu tersisa sebelum keberangkatannya besok akan Sisil manfaatkan sebaik mungkin. Termasuk untum bertemu Frilly, bahwa dia memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Meninggalkan sahabatnya yang Sisil tidak tahu entah kapan ia akan kembali pulang. "Sil, jadi berangkat besok sama paman Jono?" pertanyaan Tante Siti menyambar di telinga gadis itu. Sisil menghentikan pekerjaannya sebentar, melihat pada adik kandung Ibu Melisa itu. "Hemm ... jadi! Pesawat berangkat jam sepulu," jawab Sisil, ia mengambil baju yang basah itu lalu memerasnya untuk di jemur selanjutnya. "Berarti satu jam sebelum keberangkatan pesawat kau sudah berada di bandara," timpal Tante Siti. Sebab, ia akan berselisih berangkat ke Jakarta dengan paman Jono, beda beberapa hari. Sisil yang tidak tahu, sebab tidak pernah berangkat kemana-mana dengan pesawat tentunya itu menguras pikiran gadis muda itu."Memangnya seperti itu, Tante?" tanyanya dengan polos. Tante Siti mengangguk."Makanya, sekali-kali kau harus pergi naik pesawat. Agar kau tahu rasanya naik pesawat itu bagaimana. Kalau kau cuma berdiam diri di rumah, yang ada kau tidak tahu dunia luar itu seperti apa. Ya sudah, nanti malam mulailah berkemas. Pagi tinggal pergi jangan sampai ketinggalan pesawat." Wanita pergi dari hadapan Sisil setelah panjang lebar celoteh di telinga gadis itu. Perkataannya tidak mengenakan di hati Sisil."Memangnya aku pikiran di tinggal pesawat. Kalau enggak jadi yang ada aku malah bersyukur! dasar nenek gomeng!" gerundelnya. Beruntung tidak terdengar oleh Tante Situ umpat Sisil. Jika wanita itu dengar, pasti telinga Sisil panas mendengarnya. Selesai dengan menjemur pakaian, Sisil membawa ember plastik berukuran sedang itu ke dapur lagi. "Kakak!" Seru Diana, datang tiba-tiba di hadapan Sisil. Sisil terperanjat sambil memegangi dadanya dan bahu juga ikut terangkat saat jantungnya melompat di dalam sana. Tangan Sisil menjitak kepala sang adik dengan kesal."Jangan kebiasaan kagetin orang! Kalau jantungan gimana?!" Semburnya. "Sorry, gak maksud Dian seperti itu," Diana memang tidak bermaksud mengejutkan sang kakak."Kak, aku dengar kakak ikut paman Jono? Pasti gara-gara aku, kan,? Aku minta maaf kak, aku membebani kakak. Jangan pergi, mendingan aku berhenti sekolah saja. Itu akan meringankan beban Ibu. Lagian juga kan, aku sudah bisa berhitung, memba--" Sisil menyentil dahi adik perempuan itu."aauuwwww ..." jerit Diana, sang adik meringis sakit. Tangannya mengusap dahi bekas sentilan sang kakak. "Sekali lagi bicara itu lagi, kakak ulek sambal lalu di cocol ke bibirmu itu. Biar kepanasan sekalian! Orang di luar sana menginginkan sekolah, kau malah minta berhenti! Sekarang mungkin kau merasa tidak butuh sekolah. Di masa akan nanti penyesalan itu pasti ada. Setidaknya tamatkan dulu sekolahmu, di bangku menengah atas. Lagian ... kata siapa kakak ke Jakarta karenamu. Kakak ke Jakarta itu atas keinginan sendiri untuk mencari pengalaman kerja. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu, ok!" Diana mengangguk tegas, memeluk erat kakak satu-satunya itu yang sebentar lagi meninggalkan dia. Meski mereka saling berantem, tidak banyak bicara pada hal satu rumah, tetapi sebagai kakak dan adik ada rasa yang sangat erat dalam ikatan saudara. Sedih akan di tinggalkan Sisil tentunya menyentuh hati Diana. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD