Pikiran Yang Kalut

1029 Words
Merasa hari sudah mulai gelap, Frilly mengantarkan Sisil pulang. Sebelum ia harus segera pulang juga, Frlly pergi ke warung Ibunya yang jualan gorengan. Motor yang di kendarai Frilly, telah sampai di rumah Sisil. Sebelum hari gelap gadis itu telah sampai di rumah. "Ly, terima kasih sudah anterin aku," titah Sisil pada sahabatnya itu. "Iya," Frilly mengangguk. Sambil membelokan motornya untuk mengendarai lagi pulang kerumahnya kali ini."Aku pulang dulu!" Sisil berdehem serta anggukan di kepalanya. Setelah sahabatnya itu pulang, Sisil masuk ke rumah. Tiba-tiba langkahnya terhenti, suara yang tidak asing lagi membisingkan telinganya. "Kau habis dari mana? Hampir malam gini, baru pulang. Pantas saja, kau betah di rumah dan bisa kelayapan," sambar Paman Jono, berkacak pinggang melihat Sisil. Sisil tidak membalikan tubuhnya. Hanya mencebik bibirnya serta mata berputar penuh kesal. Ia rasa tidak perlu di jawab perkataan lelaki itu yang ada hanya membuang waktu dan pikirannya. Kaki Sisil melangkah ke kamar dengan hati mendongkol kesal. Mengabaikan sang paman yang ia rasa terlalu mengkekang. Setelah menutup pintu Sisil bibirnya terus mengejek."Kapan sih, mereka balik lagi ke Jakarta? Semenjak kepulangan tante siti dan paman Jono, rumah ini serasa di neraka." Gerundelnya. Samar-samar suara isak tangis, terdengar di telinga Sisil. Di atas tempat tidur terlihat seorang perempuan membenamkan wajahnya di bantal. Berusaha meredam tangisnya, tetapi masih juga terdengar oleh Sisil. "Diana?" Sisil tertegun, melihat sosok adik menangis entah apa penyebabnya. Langkah kaki Sisil mendekati Diana, dalam ringkuhan isak tangis. Tangannya memegang bahu Sisil, terangkat karena tangisan."Kau kenapa?" Sisil membalikan tubuh Diana menghadap padanya. Mata sang adik perempuannya itu sembab, hidung dan pinggiran matanya memerah. Pipinya basah karena sisa-sisa air mata. Tatapan nanar dari Diana membuat dahi Sisil berkerut. "Kau kenapa?" Sisil menyapu cairan bening itu di bawah mata sang adik."Coba cerita sama kakak, ada apa?" Sisil sebagai kakak, tentunya penasaran kenapa sang adik menangis sampai matanya sembab begini. Diana bangun dari tempat tidur, duduk di sebelah Sisil. Mata mereka saling bersitatap. Diana sesaat tertunduk sedih. Sambil berkata,"uang bulananku belum di bayar kak, sudah dua bulan. Buku pelajaran sejarahku juga belum bayar. Guru minta kepastian kapan aku mau bayar. Aku minta uang sama Ibu, katanya belum ada uang." Sisil termenung, ada beban yang di rasakan sang adik. Mungkin Sisil sudah lulus dari sekolah dan tidak memikirkan uang sekolah lagi, tetapi ia masih punya adik yang masih sekolah. Apa lagi, Sisil belum bekerja dan menghasilkan uang membantu perekonomian sang ibu. Sisil seakan terbentur di jalan buntu. Keputusan berat menjadi pilihannya saat ini. Bekerja di rumah, atau mengikuti sang paman? Sisil kebingungan. Jika dia di rumah, gaji di kampung ini hanya cukup untuk keperluannya sendiri. Sedangkan Sisil ingin mewujudkan impian kecil sang ibu mendirikan rumah untuk anaknya. Sisil mengusap rambut Diana, ia pun berkata."Jangan menangis. Nanti kakak bantu mencarikan uang bulananmu dan buku. Jangan menangis lagi, pinggiran matamu sudah bengkak." Sisil menarik Diana dalam pelukannya memenangkan sang adik yang tampak kalut. Ia tahu bagaimana sesaknya jika di tagih uang oleh guru. Tidur pun masih kepikiran, bahkan sampai malas untuk datang ke sekolah. Sebab, Sisil pernah merasakan hal itu. Setelah rona jingga berada di ufuk timur, Ibu Melisa baru saja pulang dari kerjanya sebagai butuh tani. Pakaian penuh tanah, mengotori bajunya. Bukan hanya baju, kaki, tangan bahkan wajahnya pun juga menempel tanah persawahan. Membuka caping sebagai penutup kepalanya yang terbuat dari anyaman bambu. Sisil yang baru saja selesai memasak nasi, ia melihat Ibu Melisa hendak melangkah ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya dari lumpur tanah. Sisil hanya menatap nanar langkah dari wanita yang melahirkan dan membesarkannya itu. Hati Sisil teranyuh, menatap nanar penuh pilu ditambah Diana terbebani biaya sekolahnya. 'Apa aku harus pergi ke jakarta? Bekerja sama paman Jono. Tapi ... hatiku berat meninggalkan ibu. Meski Diana ada di rumah ini. Kalau aku terus-terusan di rumah, bagaimana untuk biaya adik selanjutnya?" Sisil berada di persimpangan jalan. Jalan yang akan membawanya kebahagiaan atau sebuah penyesalan. Melihat sang Ibu menjadi tulang punggung, membuat Sisil tidak tega. Dia juga bukanlah anak kecil lagi, di usianya yang lulus sekolah menengah atas sudah bisa menghasilkan uang dengan cara bekerja yang halal. Malam hari pun tiba. Di meja makan di kelilingi dua adik sang Ibu, siapa lagi paman Jono dan Tante Siti. Tidak dengan paman Seno. Dia sudah pulang kerumah istrinya. Sisil tidak sedikitpun menoleh kepada dua orang itu. Ia ingin segera selesai makan dan pergi masuk ke kamar. Sepertinya paman Jono tidak membiarkan Sisil pergi dengan tenang tanpa beban pikiran di benaknya. Bibirnya yang tebal itu, hendak bergerak. Namun, tertahan oleh makanan yang berada di mulutnya. Sedetik kemudian,"Gimana Sil? jadi ikut paman ke Jakarta? Kalau ia, besok paman akan mengambil tiket." "Kau mau bawa Sisil, Juno?" sambar Tante Siti. Melirik sekilas pada Juno lalu bergiliran pada Sisil. Sedangkan di meja makan Ibu Melisa juga ikut menoleh kepala pada gadis itu yang di buat sangat dilema berat. Sisil yang merasa kesal lagi makan mereka membahas hendak membawanya ke Jakarta, sontak saja kehilangan selera makan. Perutnya yang tadi sangat lapar, harus kenyang cepat mendengar pembicaraan itu. "Rencana iya, Mbak. Lagian, mau ngapain dia di rumah. Seusianya ini sedang lagi pubertasnya, yang ada di malah keluar terus bersama temannya." "Benar itu mbak, Mel. Mendingan Sisil di bawa Jono. Restauran dia lagi butuh karyawan. Kalau dia di sana, di kampung mbak Mel juga ke bantu. Gaji dia saja, bisa di kumpul nanti," titah tante Siti. Ibu Melisa melirik Sisil yang hanya bergeming. Tidak menanggapi pembicaraan garing dua manusia di hadapannya itu. Tanpa seorangpun tahu, ia berusaha menghalau rasa sedih yang perlahan menjalar di hatinya agar tidak merembat pada hidung lalu menjalar pada dua mata indahnya. "Semua tergantung pada, Sisil," gadis itu menoleh pada Ibu Melisa. Tertegun atas ucapan sang Ibu."Dia yang akan menjalankan nanti di sana. Bukan, Mbak!" "Seharusnya Mbak tidak menyerahkan semua keputusan pada anak. Kita sebagai orang tua harus mengarahkan pada hal yang lain. Pada kebaikan masa depannya juga nanti," titah Tante Sisil, memprotes tanggapan kakak perempuannya yang menyerahkan keputusan pada gadis belia itu. Sisil berdiri dari kursi, meninggalkan mereka semua yang ada di meja makan. Bukan karena malas menjawab pertanyaan mereka. Hanya saja Sisil tidak mau dalam keadaan menikmati makan, mereka malah membicarakan yang menurutnya tidak tepat di bahas di meja makan. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD