Suka dan duka sudah Anna lalui sendiri selama enam tahun ini tanpa adanya seorang suami. Anna pun merasa bangga karena bisa bertahan sejauh ini bersama dengan anak-anaknya.
Anna membangunkan anak-anaknya untuk salat Subuh. Dia
mendidik anak-anaknya agar selalu rajin beribadah. Ia mau anak-anaknya menjadi anak yang saleh dan salihah.
"Eza, Erik, Ella, bangun, Sayang. Ayo siap-siap sebentar lagi azan Subuh.”
"Hm …," gumam Erik.
"Bentar lagi, Bunda," gumam Ella dengan suara seraknya.
"Lima menit lagi, Bunda. Eza masih ngantuk."
"No! Ayo bangun. Mau Bunda siram air?" ancam Anna. Itu hanya sebuah ancaman, ia belum pernah menyiram air kepada anak-anak.
"Iya Bunda, iya," ucap mereka.
Mereka pun bangun dari tidurnya terduduk untuk mengumpulkan kesadaran mereka. Anna tersenyum melihat anak-anaknya. Ia merasa bahagia memiliki anak yang penurut seperti mereka. Bahkan, mereka sangat mengerti keadaannya. Mereka juga tak banyak mengeluh kepadanya.
"Bunda siapin tempat sholatnya dulu ya, kalian siap-siap." Anna mencium kening Eza, Ella, dan Erik bergantian.
"Iya, Bunda." Mereka pun mengangguk mendengar ucapan Bunda mereka. Saat ini anak-anak sudah duduk di tempat salat yang sudah disiapkan oleh Anna.
"Ya Allah, kata Pak Ustadz, berdoa di antara adzan dan iqomah itu adalah waktu yang mustajab. Ya Allah ..., Eza dan adik-adik Eza pengen ketemu sama Ayah. Kami kangen sama Ayah. Kami janji akan menjadi anak yang baik, gak akan jadi anak nakal. Izinkan kami bertemu dengan Ayah, Ya Allah. Kata Bunda, Ayah sedang kerja yang jauh agar kehidupan kita tercukupi. Yang kami butuhkan hanya Ayah kami, tak apa hidup sederhana seperti ini yang terpenting kami bertemu Ayah. Kami gak mau Bunda sedih karena kami selalu menanyakan kapan Ayah pulang. Eza mohon ya Allah, kabulkan doa kami. Aamiin." Eza, Ella, dan Erik, anak berusia lima tahun sedang berdoa kepada pemilik alam semesta. Yang mereka inginkan hanya bertemu dengan Ayah. Mereka ingin seperti anak-anak diusianya yang dapat bermain bersama Ayah. Diantar dan dijemput ke sekolah oleh Ayah mereka.
Dibalik tembok, Anna yang sedang melihat anak-anaknya berdoa itu pun menangis. Air mata semakin deras membasahi pipi. Ia tak bisa menahan tangisnya mendengar permintaan buah hatinya.
"Aku harus bagaimana, Ya Allah? Maafin Anna, Mas. Suatu saat nanti, Anna janji akan pertemukan kalian," batin Anna. Anna segera menghapus air matanya. Ia menghampiri anak-anaknya, lalu melaksanakan salat Subuh bersama.
Setelah selesai, mereka bersiap-siap untuk ke sekolah.
"Anak-anak, ayo sini kita sarapan!"
"Sebentar, Bunda." Anna tersenyum senang melihat anak-anaknya yang sudah rapi dengan baju seragam.
"Bunda, tolong ikatkan rambut El," pinta Ella.
"Sini, Sayang." Dengan telaten Anna menyisir rambut Ella, kemudian mengikatnya menjadi kepang satu.
"Sudah, Sayang. Cantiknya anak Bunda."
"Terima kasih, Bunda," ucap Ella, lalu mengecup pipi Anna.
Mereka sarapan hanya dengan telur. Dahulu, Anna pernah
mengalami kesusahan ekonomi. Saat itu, ia pernah meminjam uang kepada pemilik toko sembako tempatnya bekerja untuk membeli bahan makanan.
Untung saja pemilik toko tempat ia bekerja sangat baik.
"Sarapannya pakai telur gak papa kan, Nak?" tanya Anna.
"Gak papa, Bunda." Erik pun tersenyum. Ia tak suka melihat bundanya sedih.
"Iya Bunda, gini aja El udah seneng." Ella menunjukkan senyum manisnya.
"Eza justru seneng bisa makan bareng-bareng. Eza juga bersyukur kita masih bisa makan, daripada gak makan sama sekali." Eza juga menunjukkan senyum manisnya. Sebagai anak pertama, ia sangat menunjukkan sifat yang dewasa.
Anna terharu mendengar ucapan anak-anaknya. Mereka mau menerima apa pun keadaannya. Anna berjanji akan bekerja keras untuk membahagiakan anak-anaknya.
Setelah semua selesai sarapan, mereka bergegas berangkat ke sekolah. Jalanan dipenuhi anak-anak sekolah. Wajar saja, waktu sudah menunjuk pada jam berangkat sekolah. Tak lama, Anna tiba di tempat anak-anaknya menimba ilmu.
"Kalian harus rajin belajar, dengerin kata ibu guru,
ya. Jangan nakal, oke? Buat Eza dan Erik jagain adik kalian, ya."
"Iyaa, Bunda." Mereka mengangguk patuh dan memeluk Anna. Eza masih betah memeluk Anna dengan erat, sedangkan kembarannya hanya melihat tingkah kakaknya itu.
"Kenapa, hmm?"
"Bunda tau „kan, Eza sayang banget sama Bunda."
"Iyaa, Bunda tau." Anna tersenyum geli melihat tingkah anaknya.
"Eza sayang banget, banget, banget, sama Bunda."
"Kamu selalu bilang begitu, Kak," ucap Anna.
"Karena Eza sayang banget sama Bunda, Eza janji akan rajin belajar dan jadi orang sukses. Eza mau bahagiain Bunda dan gak akan buat Bunda sedih." Anna memeluk Eza dengan erat. Perlahan Ella dan Erik punikut bergabung memeluk Bunda dan saudara kembarnya. Mereka pun mengurai pelukannya.
"Ya udah, kalian masuk sana, sebentar lagi bel masuk." Mereka pun mengangguk. Sebelum pergi, Anna mencium kening ketiga anaknya bergantian.
"Dadah, Bunda!" mereka melambaikan tangan ke arah Anna. Anna pun membalas lambaian tangan mereka.
***
Seorang pria dewasa itu sedang melihat-liat kemacetan di jalan raya itu dari atas gedung perusahaan miliknya. Pria itu menghembuskan nafas lelahnya. Kemudian ia kembali duduk di kursinya.
"Sudah enam tahun berlalu tapi aku belum juga menemukanmu Anna. Di mana kamu, Sayang? Pulanglah, aku merindukanmu. Apakah kamu baik-baik saja di sana?" gumamnya dengan lirih.
Pria itu adalah Farhan, suami Anna. Kini dirinya menjadi orang yang sangat dingin tak tersentuh. Semenjak Anna pergi dari rumah, hidupnya menjadi kacau. Ia sering pulang larut, dan berangkat bekerja sangat pagi. Farhan menjadi seorang pria yang workaholic. Dirinya terlihat lebih kurus dan tak terurus. Yang ada dipikiran Farhan hanya Anna, Anna, dan Anna. Bulu-bulu tipis di sekitar rahangnya pun jarang ia cukur, hanya ketika ingat saja.
Farhan mengambil foto Anna yang ada di meja kerjanya, ia mengusap foto cantik Anna.
"Aku akan berusaha lagi untuk menemukanmu, Sayang."
Farhan menatap ke arah pintu, ketika mendengar suara pintu ruangannya dibuka tanpa permisi. Ternyata di sana mamanya berdiri membawa seorang perempuan cantik. Akan tetapi, bagi Farhan, tetap Anna-lah yang paling cantik. Hatinya sudah terpenuhi oleh Anna, dan hanya milik Anna. Farhan menatap mamanya jengah, ia sudah muak dengan tingkah mamanya.
"Farhan, kenalkan dia Maura. Gimana? Cantik, kan?" ucap Dina dengan semangat. Wanita yang bernama Maura itu pun berdiri di hadapan Farhan dengan penuh percaya diri. Farhan menatap Mama dan wanita dengan riasan menor di depannya dengan wajah datarnya.
"Pergi!" ucap Farhan dengan tegas.
"Ayolah, Farhan. Sudah waktunya kamu menikah lagi, umur kamu sudah tiga puluh tahun. Mama hanya ingin cucu."
"Itu salah Mama sendiri! Jika Mama tidak mengusir Anna dari rumah, mungkin Mama sudah memiliki cucu!" Farhan sedikit menaikkan nada bicaranya. Bukannya ia mau menjadi anak durhaka, tingkah sang Mama-lah yang membuatnya muak dan kecewa. Mamanya, bahkan tak terlihat menyesal telah mengusir Anna.
"Jangan pernah kamu sebut nama wanita mandul itu Gara-gara dia, kamu sekarang mulai berani sama Mama!!"
"Jangan pernah menyebut Anna dengan sebutan wanita mandul!" bentak Farhan. Sudah cukup sabar ia menghadapi tingkah Mama.
"Mungkin saja saat itu jika Mama tak mengusirnya, kami sudah memiliki anak!"
"Jangan pernah lagi bawa wanita mana pun ke hadapan Farhan! Silakan keluar!"
"Kamu berani ngusir Mama, hah?!" Dina emosi.
"Tau „kan, letak pintu keluar ada di mana?" ucap Farhan dengan dingin.
"Jadi begini sikap kamu terhadap Mama?"
"Pergi atau saya akan suruh security datang dan menyeret kalian."
Wanita yang bernama Maura itu pun sakit hati dan segera keluar. Dina pun langsung pergi mengikuti Maura. Farhan menghela napasnya, ia merasa kepalanya begitu pusing. Farhan memijat pelan pangkal hidung untuk mengurangi rasa
pening yang ia rasakan.
Dina mengikuti langkah Maura, mencegah wanita itu pergi.
"Maura, tunggu!" Dina mencekal tangan Maura. Maura langsung menghempaskannya.
"Maafin sikap anak Tante ya, Ra."
"Maaf? Aku sakit hati, Tante! Belum apa-apa sudah dicampakkan. Selama ini belum pernah ada yang mencampakkan diriku seperti itu. Tolong jangan hubungi saya lagi, Tante. Permisi!” Maura langsung pergi meninggalkan Dina.
“Gara-gara kamu, Anna. Semuanya jadi berantakan. Kamu sudah tak ada di kota ini pun, masih menjadi masalah buat saya," ucap Dina dengan emosi. Sorot matanya menandakan kebencian.