Setelah mengantar anak-anaknya ke sekolah, Anna berkeliling mencari pekerjaan yang lainnya. Tadi ia menelepon Bu Ida untuk meminta izin tak masuk kerja, sekaligus menitipkan ketiga anaknya. Ida pun memberi izin. Ia dan suami sudah menganggap Anna dan baby triplet sebagai anak dan cucunya sendiri.
Semua anak Bu Ida sudah berumah tangga. Setiap dua atau tiga kali dalam seminggu anak-anak mereka berkunjung. Terkadang Bu Ida dan suaminya yang berkunjung ke rumah anak-anaknya. Oleh karena itu, kehadiran Anna dan triplets dapat mengobati rasa rindu Bu Ida kepada anak serta cucunya.
Anna menitipkan anak-anaknya kepada Bu Ida, jika ia nanti
belum pulang ke rumah. Sebenarnya ia tak ingin merepotkan Bu Ida dan suaminya, namun karena ia harus mencari pekerjaan, dengan terpaksa ia menitipkan anak-anaknya kepada Bu Ida.
Anna sudah mengelilingi Kota Bali untuk mencari pekerjaan, tetapi belum juga didapatnya. Anna duduk di bangku taman, beristirahat sejenak. Kakinya sudah merasa pegal karena cukup lama berjalan. Anna memijit kakinya dengan pelan-pelan.
"Ya ampun, pegel banget kaki gue," gumamnya. Anna meminum air mineral yang ia beli tadi untuk menghilangkan dahaga. Rasanya begitu menyegarkan.
"Gue gak boleh nyerah. Gue harus semangat demi anak-anak." Anna bangkit dari duduknya, lalu kembali mencari lowongan pekerjaan.
Setelah sekian lama mencari, ia menemukan sebuah restoran mewah. Terpampang tulisan besar mengenai lowongan pekerjaan. Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, ia berjalan ke restoran itu. Anna melihat brosur di kaca, mencermati data-data yang dibutuhkan untuk menjadi karyawan di restoran ini.
"Permisi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang pria. Anna terkejut dan melihat ke samping kanan, seorang pria tampan dengan pakaian formal.
"Ehh, ini Mas, saya mau melamar pekerjaan di sini," ucap Anna dengan ramah.
"Kalau begitu, Mbak bisa ikut dengan saya." Anna menatap pria itu dengan ragu. Seperti paham isyarat tatapan mata Anna, pria itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
"Reno, Manajer FA Restoran ini." Pria itu tersenyum ramah
kepada Anna. Anna membalas uluran tangan Reno.
"Hm .... Nama saya Anna."
"Ayo, silakan masuk." Anna mengikuti langkah Reno menuju ruangan manajer. Kini Anna duduk di depan Reno yang sedang mengecek formulir miliknya. Anna duduk dengan gugup, ia berdoa semoga ia bisa bekerja di sini.
"Ekhmm ..., Saya lihat, syarat-syaratnya sudah lengkap, saya
putuskan kamu untuk masa percobaan kerja selama tiga minggu. Jika kerja kamu bagus dan semangat bekerja, kamu akan diterima di sini. Kamu tenang saja, kamu akan tetap digaji selama masa training."
"Alhamdulillah. Terima kasih, Pak. Saya janji akan bekerja
dengan baik. Saya akan berusaha sebisa saya untuk tidak mengecewakan Bapak. Sekali lagi, terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama, Anna. Mulai besok kamu bisa mulai bekerja. Mari ikut saya, saya akan tunjukkan pekerjaan kamu dan loker kamu. Nanti saya akan berikan seragam pegawai."
"Baik, Pak." Dengan semangat, Anna mengikuti Reno mengelilingi restoran.
Restoran itu memang terlihat sangat mewah. Anna berdecak kagum melihatnya. Anna yakin, gajinya pasti lumayan besar. Setidaknya gajinya akan sangat cukup untuk triplets.
***
Setelah urusannya selesai, Anna segera pergi ke toko Bu Ida untuk menjemput anak-anaknya.
"Assalamualaikum Bu, Pak."
"Waalaikumsalam." Anna mencium tangan Bu Ida dan Pak Suryo bergantian.
"Bagaimana, Nak? Apa kamu mendapatkan pekerjaan?" tanya Bu Ida. Anna mengangguk dengan semangat.
"Alhamdulillah. Ibu sama Bapak seneng dengernya."
"Iya Alhamdulillah Pak, Bu. Tapi tenang aja, Anna masih bisa bantu Bapak sama Ibu. Anna dapet shif pagi sampai sore soalnya."
"Nanti kamu kecapekan, Anna. Ibu gak mau ya lihat kamu sakit, terus cucu-cucu Ibu jadi sedih."
"Bener, Nduk. Lagipula karyawan di toko Bapak juga banyak."
"Anna 'kan masih kerja di sini Pak, Bu. Kalian bisa potong gaji Anna karena kerjanya cuma sebentar."
"Baiklah," ucap Pak Suryo pasrah. Ia tahu Anna sedikit keras
kepala, jadi hanya itu yang bisa ia katakan.
"Eza, Erik, dan Ella mana Pak, Bu?" tanya Anna.
"Lagi main sama Dio dan Nia, cucu Ibu."
"Loh, Mbak Yuli sama Mas Anton dateng, Bu?" tanya Anna dengan antusias.
"Iya, kamu masuk aja sana ke dalam rumah." Dengan semangat Anna berlari kecil memasuki rumah Pak Suryo. Ya, Anna sudah sangat dekat dan akrab dengan keluarga Pak Suryo. Yuli dan Anton sudah menganggap Anna seperti adik mereka sendiri.
***
Ikhsan duduk di tepi ranjang dengan laptop yang ada di pangkuannya. Sesekali ia menyesap kopi yang sudah disiapkan istrinya.
"Ma, tolong siapin perlengkapan Papa buat besok, ya." Kening Dina berkerut ketika mendengar ucapan suaminya.
"Memangnya Papa mau ke mana?" Ikhsan mengalihkan
pandangannya, ia menatap istrinya yang duduk di sofa. Dina yang tadi sedang membaca majalah, mengalihkan pandangannya dan melihat suaminya.
"Papa besok mau ke Bali. Ada pertemuan penting dengan client. Mau bahas tentang pembangunan Mall baru."
"Mama ikut ya, Pa. Udah lama Mama gak ke Bali."
Dina terlihat begitu antusias ketika suaminya akan pergi ke luar kota.
Walaupun suaminya datang untuk bekerja, setidaknya ia bisa jalan-jalan dan menikmati waktu untuk berlibur. Rasanya sudah lama ia tidak pergi keluar kota, mungkin sekitar satu bulan yang lalu.
"Iya Ma, Mama siapin aja perlengkapannya. Tapi ingat Ma, yang penting-penting aja jangan semuanya mau Mama bawa."
"Iyaa Papa,” balas dina.
"Hm …, tapi Pa, kenapa gak Farhan aja yang turun tangan?"
"Kasihan Farhan Ma, dia juga butuh istirahat. Dia terlalu memforsir tenaganya sampai kayak mayat hidup." Ikhsan merasa sangat prihatin dengan anak semata wayangnya. Karena perbuatan istrinya, Farhan menderita. Sebisa mungkin Ikhsan akan mencari keberadaan menantunya.
Ia tak ingin anaknya semakin menderita, yang ia inginkan anaknya bahagia dengan pilihannya.
"Papa peringati lagi sama Mama, kalau kamu ingin anak kamu tidak semakin kecewa, bahkan benci kepadamu, Jangan pernah lagi menjodoh-jodohkan Farhan dengan wanita-wanita pilihanmu itu. Farhan sudah cukup sedih karena berpisah dengan Anna. Tolong, jangan buat Farhan semakin sedih dan membencimu."
Sebenarnya ia kecewa dengan perilaku istrinya. Ia merasa gagal menjadi imam yang baik untuk keluarganya. Sebisa mungkin ia akan membimbing istrinya kembali untuk menjadi orang yang baik, seperti saat ia pertama kali berjumpa.
Entah kemana sifat istrinya yang dulu penyabar. Sekarang ia bingung dengan sifat istrinya yang bisa disebut jahat itu. Apakah pengaruh dari ibu-ibu sosialita zaman sekarang? Itulah yang ada di pikiran Ikhsan.
"Sudahlah Pa, jangan bahas itu terus. Mama bosen dengernya."
Ikhsan diam tak menanggapi lagi perkataan istrinya. Dina pun mulai mempersiapkan perlengkapan yang perlu dibawa besok ke dalam koper.