Seorang pria tengah berada di taman belakang rumahnya. Di setiap sudut taman, tumbuh tanaman Gypsophila atau Baby Breath. Tanaman yang paling disukai oleh istrinya. Ia sengaja menanam tanaman itu untuk mengungkapkan rasa rindunya.
Tidak hanya di taman, tetapi juga di seluruh ruangannya ada bunga Gypsophila. Arti dari bunga putih kecil ini sangatlah bagus dan mendalam, yaitu melambangkan cinta abadi. Tidak hanya untuk pasangan kekasih tetapi juga keluarga dan sahabat. Bunganya yang putih kecil mewakili perasaan tulus dan murni yang harus dimiliki sepasang pengantin saat upacara pernikahan. Saat pernikahannya dulu, istrinya juga meminta bunga Gypsophila untuk pajangan dan riasan di rambutnya.
Farhan membuatkan taman khusus untuk istrinya di rumah mereka berdua. Tidak ada yang tahu keberadaan rumah ini, kecuali dirinya. Jauh di lubuk hatinya, Farhan berdoa agar Anna dapat kembali dengan keadaan baik ke pelukannya, ke rumah keduanya, ke taman penuh Gypsophila ini.Sesekali Farhan akan tidur disini dengan alasan menginap di apartemennya.
Hari semakin gelap, Farhan masuk ke kamarnya. Di atas nakas dekat jendela dan di dekat ranjangnya juga terdapat Gypsophila di dalam vas bunga. Ia bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah salat Magrib. Dalam tengadah tangannya, terselip doa-doa keselamatan dan kelancaran kehidupan istrinya, serta keinginan agar keduanya dipertemukan kembali.
Setelah melaksanakan ibadah ia pun kembali ke ruang kerjanya dengan membawa sepiring kue dan kopi untuk menemaninya bekerja. Di meja kerjanya pun ada bunga Gypsophila dalam vas bunga. Entah sudah berapa lama ia berada di ruang kerjanya. Rasanya kepalanya sedikit pusing. Farhan pun memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pusing.
Tak terasa ternyata sudah tengah malam. Farhan pun menutup laptopnya, kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Farhan merasa badannya panas, sepertinya ia benar-benar demam.
Ia mematikan lampu dikamar dan menyalakan lampu tidur. Ia butuh istirahat agar cepat pulih. Tak membutuhkan waktu lama untuk Farhan memasuki alam mimpinya.
"Ayah ... Ayah." Tangisan dan suara rengekan lirih menyapa pendengaran Farhan. Farhan mengernyitkan keningnya, memperhatikan tempat yang asing baginya.
Sebuah taman yang indah. Bukan itu yang menjadi perhatiannya, tapi suara anak-anak kecil. Apakah anak-anak itu lagi?
"Di mana ini? Apakah itu suara anak-anak itu lagi?" Farhan melihat sekelilingnya mencari keberadaan anak-anak itu.
"Ayaah ... Ayahh ...." Suara tangisan seorang anak perempuan. Farhan berkeliling mencari sumber suara. Ingin memanggil, tapi ia tak tau nama anak-anak itu. Mereka sering datang ke mimpinya, tapi hingga saat ini tidak ada yang memperkenalkan namanya.
"Ayahh..." Farhan mendengar suara tangisan itu semakin nyata dan terdengar seperti di dekatnya. Farhan membalikkan badannya. ia
terkejut melihat anak perempuan itu menangis, dan kedua anak laki-laki yang sedang menenangkan saudara perempuannya. Mereka menatap ke arah Farhan dengan raut wajah yang sedih. Hati Farhan seperti teriris melihat raut wajah itu. Tak dipungkiri ia seperti melihat duplikatnya diwajah tampan anak laki-laki yang berpipi sedikit chubby.
Farhan mendekat ke arah mereka, ia mensejajarkan tubuhnya. Farhan merentangkan tangannya, ketiga anak itu pun berhambur memeluk Farhan dengan erat.
"Ayah," panggil mereka dengan serempak. Rasanya hati Farhan menghangat mendengar mereka memanggil namanya. Tapi siapa mereka? Mengapa memanggilnya ayah? Bahkan dirinya belum memiliki anak. Mengapa mereka itu memanggil dirinya Ayah?
"Sakit, Yah,” lirih anak perempuan itu sambil memegang dadanya. Mereka melepaskan pelukannya, menatap anak perempuan itu dengan khawatir.
“Mana yang sakit, Nak?" tanya Farhan dengan panik.
"d**a Ella sakit, Yah," ucap Ella. Farhan membawa Ella ke gendongannya dan mengajak dua anak laki-laki itu mengikutinya duduk di bangku taman.Farhan mendudukkan Ella di pangkuannya.
"Bernapaslah pelan-pelan, atur napas kamu, Nak." Ella mengikuti perintah Farhan. Perlahan dadanya sudah tak sakit lagi, pernapasannya pun sudah kembali normal.
Farhan memeluk anak perempuan itu yang baru ia ketahui namanya. Ella bersandar nyaman di d**a Farhan.
"Beginikah rasanya menjadi seorang ayah? Jika dihitung dengan kepergianmu, mungkin aku memiliki anak yang seumuran dengan mereka. Tapi mengapa mereka selalu datang ke mimpiku dan memanggilku ayah?" batinnya.
"Sudah lebih baik, Nak?" Anak perempuan itu mengangguk.
"Panggil El, Ayah. Nama aku Ella." Farhan menunduk menatap Ella yang tersenyum manis kepadanya.
"El ...." Ella tersenyum sumringah.
"Lalu nama kalian siapa, Nak?” tanya Farhan kepada dua anak laki-laki itu.
“Aku Eza, Ayah. Ini adik laki-lakiku, Erik." Farhan tersenyum senang.
"Mau a-ayah peluk?" tanyanya dengan ragu, bahkan ia ragu mengucapkan kata Ayah. Ia masih tak menyangka, apakah semua ini nyata?
Ia berharap masih tertidur nyenyak dan tak ada yang mengganggu tidurnya. Mimpi ini seperti nyata. Ia ingat bahwa tadi ia sedang tidur karena tak enak badan.
Eza dan Erik pun langsung memeluk ayahnya. Mereka berpelukan, setelah itu mereka bermain bersama. Farhan tampak begitu kelelahan.
"Istirahatlah, Yah. Ayah pasti lelah. Jaga kesehatan Ayah, El sayang Ayah." Ella mencium kedua pipi Farhan dan juga keningnya.
"Jaga kesehatan Ayah, Eza sayang sama Ayah. Kami menunggu Ayah," ucap Eza. Eza juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan adik perempuannya.
"Erik juga sayang sama Ayah. Jaga kesehatan Ayah, jangan terlalu lelah bekerja. Kami menunggu Ayah menjemput kami." Erik tersenyum lebar dan ia juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh kedua kembarannya.
"Menjemput? Ke mana?" batinnya bertanya-tanya.
"Ayah tidak apa-apa, Nak. Ayah senang bermain dengan kalian." Farhan tersenyum, ketiga anak itu pun juga tersenyum.
"Istirahatlah, Yah. Kami harus pergi dulu. Dadah, Ayah," ucap mereka. Kemudian, mencium wajah Farhan bergantian sebelum pergi.
"Kalian mau ke mana?” tanya Farhan. Ada rasa tak rela melihat mereka akan pergi.
“Bunda mencari kami, Ayah," ucap Erik.
"Bunda? Apakah itu kamu Anna?" batinnya.
"Jangan pergi, Nak. Bermainlah bersama Ayah."
"Suatu saat kita akan bertemu lagi, Ayah," ucap Eza.
"Dadah, Ayah." Mereka pun melambaikan tangannya kepada Farhan. Mereka berlari menjauh dari Farhan. Seketika kaki Farhan tak bisa digerakkan.
"Ella! Eza! Erik! Jangan pergi, Nak!" teriak Farhan.
"Ella! Eza! Erik!"
Farhan terbangun dari tidurnya dengan peluh yang membasahi wajahnya. Ia menghela napasnya, mimpi itu datang lagi, tapi kali ini seakan lebih nyata. Farhan mengambil air putih di nakasnya dan meminumnya.
"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa wajah Erik mirip denganku waktu kecil, Ella sedikit mirip dengan Anna, dan Eza seperti perpaduan wajahku dengan Anna," gumamnya. Ia melihat jam di nakas. Masih pukul tiga dini hari. Farhan pergi ke dapur untuk meminum obat. Rasanya kepalanya benar-benar berat.
Mimpi itu sangat aneh menurut Farhan, sudah dua kali ia bermimpi bertemu dengan ketiga anak kembar itu. Ia yakin itu hanya sebuah mimpi. Tapi semuanya terasa begitu nyata.
Jika memang itu nyata, apakah mereka adalah anak-anaknya dengan Anna? Tapi saat itu Anna sedang tidak mengandung. Ada apa sebenarnya? Farhan terus bertanya-tanya dengan apa yang ia alami saat ini.