Tengah malam, Ella menangis dalam tidurnya. Eza dan Erik pun terbangun karena mendengar tangisan Ella, mereka memang tidur bertiga. Eza segera pergi ke kamar bundanya. Sayup-sayup Anna juga mendengar suara tangisan di sebelah kamarnya. Ia pun terbangun, ketika itu pula Eza masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, wajahnya tampak panik. Anna menjadi khawatir karena melihat raut wajah panik anak sulungnya.
"Bunda ...," panggil Eza dengan panik.
"Ada apa, Sayang?" tanya Anna.
"Ella, Bunda. Ella demam." Setelah mendengarkan ucapan Eza, Anna bergegas menuju kamar anak-anaknya. Eza mengikuti langkah Anna, ia mengekor seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
"Ella, Sayang .... Bangun, Nak." Anna mengusap air mata yang mengalir di pipi chubby milik Ella.
"Ayahh ... Yahh ... Ayahhh ...," gumam Ella.
"Erik, bisa tolong ambilkan air hangat untuk mengompres Ella, Nak?" pinta Anna dengan suara lembutnya. Erik pun mengangguk dan segera pergi ke dapur.
Eza diam mematung mendengar gumaman adiknya yang terus memanggil ayah. Sebenarnya ia sangat ingin bertemu dengan ayah mereka, tidak hanya dirinya, tapi kedua saudara kembarnya. Sayangnya mereka belum mengetahui seperti apa bentuk wajah ayahnya. Ia ingin bertanya kepada Bunda, tapi takut nanti Bunda menjadi sedih. Ia tak tahu apa yang terjadi sampai ayahnya pergi jauh untuk mencari uang untuk mereka, karena itulah yang dikatakan Bunda. Namun, yang mereka butuhkan hanyalah kehadiran seorang Ayah.
"Ya Allah, pertemukan lah kami dengan Ayah. Eza pengin ketemu sama Ayah. Eza pengen melihat wajah Ayah. Eza tak butuh banyak uang. Eza hanya ingin Ayah. Eza gak suka lihat saudara Eza sedih. Eza juga gak suka lihat Bunda sedih. Sampaikan salam rindu Eza kepada Ayah, Ya Allah. Walaupun Eza dan saudara Eza belum pernah melihat Ayah, tapi Eza percaya kekuatan doa akan memperkuatnya. Dan semoga Engkau segera pertemukan kami dengan Ayah, Aamiin."
Eza berdoa dalam hati, air matanya pun menetes. Ia segera mengelap air matanya. Dadanya ikut merasa sesak ketika saudaranya sakit ataupun sedih, mungkin saja ini ikatan batin mereka. Eza segera mengatur napasnya agar dadanya tak merasa sesak. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Erik kembali lagi. Erik membawa baskom berisi air hangat dan sapu tangan untuk mengompres Ella.
"Ini, Bunda." Ia memberikan baskom itu kepada Anna.
"Makasih, Nak." Dengan segera Anna mengompres Ella.
Erik terdiam, ia duduk di dekat Ella. Ia tak tega melihat adiknya sakit, dadanya juga ikut sesak ketika melihat saudaranya itu sakit. Apalagi Ella selalu bergumam terus menerus memanggil Ayah.
“Ya Allah, pertemukan lah kami dengan Ayah kami. Kami sangat merindukannya, kami ingin memeluknya. Ayah datanglah temui kami, kami membutuhkan Ayah. Kami akan selalu menunggu Ayah sampai kapan pun itu. Ya Allah, jagalah Ayah kami, lindungilah dimana pun ia berada. Sampaikan salam rindu kami kepadanya, Ya Allah. Semoga ia selalu diberi kesehatan dan umur panjang, Aamiin." Doa Erik di dalam hati. Ia juga meneteskan air matanya, tapi dengan segera ia mengelapnya. Ia mengatur napasnya agar dadanya tak sesak. Hal itu sudah sering terjadi jika salah satu saudaranya sedang sakit ataupun sedih. Mereka sudah bisa mengatasinya sendiri.
"Ayah ..., Ella kangen Ayah ...," gumam Ella.
"Ella pengen ketemu Ayah .... Ayahh."
"Apa aku terlalu kejam, ya Tuhan? Tidak memberitahukan keberadaan anak-anakku kepada suamiku? Mungkin bisa dibilang mantan suamiku. Kenapa sakit sekali melihat anak-anak yang selalu sedih seperti ini. Mereka pasti akan selalu menanyakan keberadaan ayahnya dan aku harus mempersiapkan diri untuk itu. Bunda janji Nak, akan pertemukan kalian dengan Ayah kalian jika waktunya sudah tepat. Tapi, Bunda takut kalian akan dibawa pergi oleh Oma, Bunda gak sanggup pisah dari kalian. Kalianlah alasan Bunda kuat menjalani hidup ini," ucap Anna dalam hati.
Tak terasa air mata Anna jatuh di pipinya yang terlihat tirus. Eza mengetahui itu dan mendekat ke arah bundanya. Ia mengelap air mata Anna. Anna pun tersentak kaget atas perlakuan anaknya.
"Bunda jangan nangis. Eza gak suka lihat air mata Bunda. Bunda boleh nangis, asal itu menangis bahagia," ucap Eza. Eza pun memeluk Bundanya, Erik pun ikut bergabung memeluk bundanya. Air mata Anna justru mengalir dengan deras. Ia takut jika nanti bertemu dengan ibu mertuanya, anak-anaknya akan dibawa pergi menjauh darinya.
"Jangan pernah kalian ninggalin Bunda, Nak," ucap Anna dengan lirih. Anna juga mempererat pelukannya pada Eza dan Erik.
"Bunda tenang aja, kami gak akan ninggalin Bunda," ucap Erik menenangkan Bundanya.
"Iya, Bunda. Kami gak akan ninggalin Bunda. Kami sayang sama Bunda," ucap Eza.
"Bunda sayang kalian."
"Kami juga sayang sama Bunda," ucap Eza dan Erik bersamaan. Anna pun memutuskan untuk tidur bersama anak-anaknya. Mereka tertidur nyenyak di dalam dekapan Anna.
***
Pagi ini, Farhan memutuskan untuk berangkat ke kantor walaupun keadaan badannya kurang sehat. Ia sudah rapi dengan setelan kantornya, Farhan hanya memakan sedikit sarapannya, ia sedang tak nafsu makan. Farhan pun memutuskan untuk segera berangkat.
Terdengar suara ponsel berdering, Farhan pun segera mengangkat telpon dari Papanya.
"Assalamualaikum, Pa."
"Waalaikumsalam, Han. Suara kamu kok begitu? Kamu sakit, Nak?"
"Farhan gak papa kok, cuma demam. Nanti juga sembuh."
"Kamu istirahat saja Farhan, tidak usah pergi ke kantor."
"Farhan udah diperjalanan Pa, bentar lagi sampai." Diseberang sana Ikhsan menghela napasnya.
"Jangan lembur, Han. Kerja semampu kamu aja."
"Iya, Pa."
"O iya, Papa sama Mama mau pamit, kita berangkat ke Bali pagi ini."
"Papa sama Mama hati-hati dijalan. Papa jaga kesehatan. Maaf Pa, Farhan udah ngerepotin Papa terus."
"Enggak, Nak. Kamu anak yang baik. Papa bangga sama kamu. Kamu juga jaga kesehatan. Mama sama Papa mau berangkat dulu, Assalamualaikum."
"Iya Pa, Waalaikumsalam"
Bertepatan setelah sambungan telepon terputus, Farhan pun sampai di kantor. Ia menyuruh salah satu pegawainya untuk memarkirkan mobilnya. Ia berjalan memasuki gedung kantor dengan wajah datarnya, semua pegawai menunduk hormat. Ada pula para karyawan perempuan berbisik-bisik memuji ketampanan bos mereka. Memang pernikahan Anna dan Farhan dulu diadakan sederhana, tak banyak yang tahu bahwa Farhan memiliki istri,. Maka dari itu banyak karyawan perempuan yang mengira Farhan masih lajang. Bahkan, ada yang terang-terangan menggoda Farhan. Namun, Farhan mengacuhkannya, bahkan langsung memecatnya. Farhan sudah duduk di kursi kebanggaannya. Ia memeriksa beberapa dokumen yang perlu ditandatanganinya.
"Mengapa dadaku terasa sesak, bahkan aku tak memiliki penyakit asma," gumam Farhan. Ia menyandarkan dirinya di kursi dan mengatur napasnya, Farhan memejamkan matanya sejenak. Kilasan mimpi ketiga anak kembar itu muncul kembali, raut kesakitan seorang anak perempuan itu selalu mengusiknya.
"Siapa sebenarnya mereka? Mengapa mereka terus datang ke mimpiku? Mengapa mereka memanggilku Ayah? Padahal aku tak mengenal mereka, bahkan aku juga belum memiliki anak. Apakah semua ini ada hubungannya denganku?" gumamnya.
Ia membuka kacamatanya. Farhan memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pening yang menyerang kepala. Setelah merasa lebih baik, ia kembali berkutat dengan dokumen-dokumennya. Ia selalu menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen itu.
Farhan berhenti membaca dokumen-dokumen yang ada di hadapannya ketika mendengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" Farhan menatap kearah pintu, ternyata sekretarisnya yang datang menemuinya.
"Maaf Pak, mengganggu waktunya. Ini ada dokumen yang harus bapak tanda tangani hari ini." Toni menyerahkan dokumen yang ia bawa. Farhan menerima dokumen yang diberikan Toni.
"Bagaimana dengan keuangan perusahaan?"
"Sejauh ini selalu meningkat, Pak."
"Pastikan karyawan yang teladan diberi bonus, agar kinerja
mereka juga meningkat."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Farhan hanya menganggukkan kepalanya. Ia kembali berkutat dengan kertas-kertas di meja kerjanya.