Bab 6 - Patah Hati

1165 Words
Matahari sudah mulai terbit, Eza dan Erik sudah rapi dengan seragam mereka masing-masing. Anna memakai pakaian biasa dan berniat menggantinya di tempat kerja nanti. Mereka sedang melakukan sarapan pagi sebelum memulai aktivitasnya masing-masing. Anna masuk ke kamar Ella sambil membawa bubur, minum, dan obat penurun panas. "Ella bangun, Sayang. Kamu sarapan dulu trus minum obat." "Hmm." Ella bergumam. Kemudian membuka matanya perlahan. Anna membantu Ella duduk dan bersandar di ranjangnya. "Sarapan dulu ya, Bunda suapin." "Pahit, Bunda," gumamnya dengan lirih. "Setidaknya perut kamu gak kosong, Sayang. Biar cepet sembuh kamunya. Bunda sedih lihat kamu sakit." Ella pun menerima suapan dari Bunda, ia tak mau melihat bundanya sedih. "Udah, Bunda." "Sekali ini aja, baru empat suap loh." "Bunda bilangnya sekali-sekali terus," protesnya, Anna terkekeh mendengar ucapan Ella. "Janji deh, sekali ini. Habis itu minum obat." Ella pun menurut. Dengan telaten Anna mengelap badan Ella, tak lupa memberikan minyak telon, parfum untuk anak-anak, dan bedak bayi agar Ella tetap harum. "Hari ini Ella di rumah aja sama Nenek, sama Kakek, ya. Bunda mau berangkat kerja. Kakak-kakak kamu yang berangkat sekolah sekalian kasih surat izin kamu." "Tapi El pengen sekolah, Bun," ucap Ella dengan wajah cemberut. "Enggak, Sayang. Bunda gak mau lihat kamu makin parah sakitnya. Biar demam kamu sembuh dulu baru sekolah. Bunda gak akan tenang kerjanya kalo kamu sakit gini. Dengan kamu bersama Nenek dan Kakek, Bunda merasa sedikit tenang. Walaupun Bunda berat ninggalin kamu dalam keadaan begini, Nak." Anna mengusap kepala anaknya dengan sayang, ia juga mengecup kening Ella. Ella memeluk erat bundanya. "Ella sayang Bunda. Ella janji akan jadi anak yang baik dan buat Bunda bangga. Maafin Ella Bunda, udah buat Bunda sedih. Ella di rumah aja sama Nenek dan Kakek, Bunda kerja aja. Ella gak papa, nanti Ella pasti sembuh." Ella menatap Bundanya sambil tersenyum. Anna juga membalas senyuman Ella. "Bunda juga sayang banget sama Ella." Mereka kembali berpelukan. "Bunda sama Ella gak sayang sama kami?" Kedua perempuan berbeda usia itu pun menoleh ke arah pintu. Di sana Eza berdiri dengan gaya yang cool dan Erik berdiri dengan gaya yang sok keren yang membuat Ella dan Anna terkekeh melihatnya. Anna suka melihat anak-anaknya yang ceria. Ia selalu tertawa melihat tingkah Erik yang dibuat sok keren itu. Padahal kenyataannya memang anaknya keren dan tampan. "Gak usah banyak gaya deh Kak Erik. Gaya kamu itu tengil gak cocok jadi cool kayak Kak Eza." Erik mendengus kesal mendengar ucapan Ella. Anna merentangkan tangannya tanda agar mereka ikut bergabung. "Kalian gak mau Bunda peluk?" Eza dan Erik pun berlari menghamburkan pelukannya. Mereka berempat saling berpelukan layaknya teletubbies. Anna, Eza, dan Erik mengantar Ella ke rumah Bu Ida. Anna akan menitipkan Ella di sana. "Kamu di sini istirahat aja ya, Nak. Jangan nakal, jangan nyusahin Nenek sama Kakek." Ella mengangguk mendengar ucapan Anna. Ella mencium tangan Bundanya kemudian kedua pipinya. "Apaan sih kamu Anna, Ibu seneng Ella di sini. Tapi Ibu gak suka lihat cucu Ibu yang cantik ini sakit." Anna beruntung bertemu dengan Bu Ida dan suami yang selalu membantunya dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri. "Maaf ya Bu, Anna selalu ngerepotin Ibu sama Bapak." "Huss .... Kamu itu ngomong apa to, Nduk. Gak usah ngomong gitu lagi. Bapak sama Ibu gak suka dengernya. Iyo to, Bu?" "Iyo, Pak." "Ya udah, Anna sama anak-anak berangkat dulu Pak, Bu. Ella ingat pesan Bunda 'kan, Sayang?” Ella pun mengangguk. Anna, Erik, dan Eza pun menyalami Bu Ida dan suaminya. "Bunda sama kakak hati-hati dijalan. Semangat kerjanya, Bunda! Kak Eza sama Kak Erik semangat belajarnya. Ella mau rebahan di rumah." Ella menggoda kedua saudara kembarnya itu. "Bun, Erik di rumah aja deh nemenin Ella." "No! Kamu harus sekolah." "Enak banget Ella di rumah cuma rebahan. Erik di sekolah belajar." "Iri bilang, Boss!" ucap Ella dengan senyum mengejek. Ia suka sekali menggoda Erik. "Kan Ella sakit, Erik. Kamu kan gak sakit." Erik pun pasrah, sedangkan Eza diam saja. Memang Eza itu orangnya sedikit cuek, tapi penyayang. "Ya udah, ayo berangkat, nanti kita terlambat," ajak Eza. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Anna dan anak-anak pun pergi setelah mengucapkan salam. Anna harus mengantarkan anak-anaknya terlebih dahulu. Barulah ia pergi ke tempat kerjanya. *** Pagi ini Ikhsan dan Dina sudah sampai di Bali. Mereka baru saja keluar dari bandara. Kemudian, menuju hotel tempat pertemuan, yang juga tempat mereka bermalam. Setelah sampai di hotel, Ikhsan dan istrinya mengistirahatkan tubuh yang lelah. Ikhsan butuh energi untuk melakukan meeting nanti. "Pa, bangun .... Sebentar lagi Papa meeting, „kan?" Dina mencoba membangunkan suaminya. "Bentar lagi, Ma," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur. "Terserah Papa aja. Mama mau keluar dulu, Pa. Mama mau jalan-jalan sekalian mau cari camilan." Ikhsan hanya bergumam. Dina berlalu pergi setelah izin kepada suaminya. *** Anna sudah mulai bekerja hari ini. Menurut pandangan Reno, Anna bekerja dengan sangat tekun. Para karyawan di restoran itu pun berteman baik dengan Anna, meskipun ada beberapa yang tak menyukai Anna. Hari sudah menjelang siang. Para karyawan berganti shift untuk istirahat dan makan siang. Anna pun ingin meminta izin kepada bosnya untuk menjemput anak-anaknya. "Lin, gue izin duluan, ya. Gue mau jemput anak-anak." "Oke, Na. Lo hati-hati di jalan, ya." Anna menganggukkan kepalanya. Lina adalah teman akrabnya, walaupun baru pertama kali bertemu, Anna merasa Lina adalah orang yang baik. Lina orang yang humble dan mudah bergaul, tak heran jika Lina mempunyai banyak teman. Anna mencari keberadaan Reno, bosnya. Setelah berkeliling restoran, Anna menemukan bosnya di taman depan. Anna segera menghampirinya. "Ekhm ..., maaf, Pak mengganggu waktunya." "Eh, iya ..., ada apa, Anna?" "Berhubung ini jam istirahat dan jam makan siang, saya mau izin sebentar, Pak. Menjemput anak-anak saya di sekolah." Reno terkejut dengan penuturan Anna. Ia tak menyangka jika Anna sudah memiliki anak. Pupus sudah harapan Reno, ia kira Anna masih single. Ia tertarik dengan Anna saat pertama kali bertemu. "Boleh kan Pak, saya izin sebentar?" tanya Anna dengan ragu karena melihat Reno hanya diam saja. Reno pun tersadar dari lamunannya. Reno tersenyum untuk menutupi rasa sakit di hatinya. Padahal ia sudah jatuh hati pada Anna. "Ehh, iya gak papa. Kamu jemput saja anak kamu terlebih dahulu. Apa perlu saya antar?" tawar Reno. "Oh, tidak usah, Pak. Saya sendiri aja, terima kasih untuk tawarannya. Saya permisi dulu." Reno menganggukkan kepalanya. Anna segera mencari kendaraan umum untuk menjemput anak-anaknya. Tak lama kemudian, Anna sampai di sekolah anak-anaknya. Mereka baru saja keluar dari kelasnya. Eza dan Erik menghampiri bundanya yang sudah menunggu mereka di depan pagar. "Bunda!" teriak mereka sambil berlari menuju ke arah Anna. "Jangan lari-lari!" peringat Anna, tapi tak didengarkan oleh mereka. "Huuhh ... Huhh ...." Mereka mengatur napas sehabis berlari. "Bunda udah bilang jangan lari-lari. Nanti kalau kalian jatuh gimana?" omel Anna gemas. Justru yang diomeli malah cengengesan. "Hehe, kami gak akan jatuh Bunda. Kami sudah berhati-hati kok," sahut Erik. Anna hanya menggelengkan kepalanya. "Ya udah, ayo pulang!" "Let's go!" ucap Eza dan Erik dengan serempak. Banyak pasang mata yang menatap Anna dengan anak-anaknya. Mereka tak pernah melihat anak-anak Anna bersama dengan ayahnya. Banyak orang yang berpikiran negatif jika melihat Anna dan anak-anaknya. Akan tetapi mereka tak ambil pusing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD