Dimas pulang ketika malam sudah jauh lebih larut daripada biasanya, tetapi Alena sama sekali tidak mengetahui jam berapa pintu apartemen itu terbuka. Tubuhnya sudah menyerah setelah berjam-jam menangis sendirian di kamar sampai akhirnya tertidur dalam posisi membelakangi pintu, masih mengenakan kaus tipis yang sama sejak sore. Lampu kecil di sisi tempat tidur bahkan belum sempat dimatikan. Tidak ada yang berubah pada kamar mereka, setidaknya kalau dilihat dari luar. Kotak cokelat yang beberapa jam sebelumnya menghancurkan hampir seluruh kepercayaannya kepada suaminya sudah dikembalikan ke tempat semula, terselip di belakang tumpukan pakaian seperti tidak pernah disentuh, sementara semua bukti yang dilihat Alena masih tersimpan persis seperti sebelumnya—akta kelahiran Liana, buku tabungan, dokumen rumah Semarang, foto-foto perjalanan, kuitansi, catatan keuangan, sampai dokumen vasektomi yang berkali-kali membuat napasnya sesak setiap kali teringat.
Dimas masuk tanpa tergesa. Ia bahkan sempat berdiri beberapa saat di depan lemari untuk mengganti pakaian, meletakkan dompet dan jam tangannya seperti biasa, kemudian mengambil sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah dari dalam tas kerja. Kotak itu diletakkan di meja samping tempat tidur Alena sebelum lelaki tersebut naik ke ranjang. Tidak ada ketakutan di wajahnya, tidak ada gerakan hati-hati seorang suami yang tahu rahasianya hampir terbongkar, bahkan tidak ada satu detik ketika dirinya berdiri menatap Alena dan bertanya-tanya apakah istrinya mungkin mengetahui ke mana ia pergi pada malam ulang tahun pernikahan mereka.
Bagi Dimas, malam itu mungkin memang tidak berbeda dari malam-malam lain.
Ia menarik selimut, mematikan lampu utama, lalu bergeser mendekat sampai satu lengannya melingkar santai di pinggang Alena dari belakang. Tubuh perempuan itu tidak terbangun. Setelah menangis terlalu lama, tidurnya terlalu berat untuk menyadari bahwa lelaki yang selama tiga tahun selalu dianggap tempat paling aman kini memeluknya dengan tangan yang sama yang pernah memeluk Risma selama kehamilan.
Dimas bahkan tertidur lebih dahulu.
Seolah tidak ada yang salah.
Seolah dirinya tidak pernah meninggalkan istri pada hari jadi pernikahan mereka untuk berada di sisi perempuan lain.
Seolah Liana hanyalah keponakan yang sakit.
Seolah seluruh kehidupan rahasia di Semarang tidak pernah ada.
Pagi berikutnya datang dengan kepala Alena yang berdenyut begitu keras sampai ia membutuhkan beberapa detik hanya untuk membuka mata. Tenggorokannya kering, hidung sedikit tersumbat karena terlalu lama menangis, dan bagian belakang kepalanya terasa berat seolah sepanjang malam dirinya sama sekali tidak beristirahat. Cahaya matahari mulai masuk dari sela tirai, membuat kamar yang semalam terasa begitu gelap perlahan kembali terlihat seperti kamar biasa yang sudah ditinggalinya bersama Dimas selama bertahun-tahun.
Selama beberapa detik Alena hanya merasa lelah.
Kemudian ingatan malam sebelumnya kembali sekaligus.
Liana yang memakai nama Risma Gunawan dalam dokumen.
Foto USG.
Rumah di Semarang.
Tabungan yang dibuat Dimas.
Foto Dimas berdiri di belakang Risma dengan kedua tangan berada di perut perempuan itu.
Dan satu tulisan kecil di belakang foto hasil USG yang sejak semalam terus menempel di kepalanya.
Papa nggak sabar ketemu kamu.
Alena menutup mata kembali.
Dadanya langsung berat.
“Bodoh,” gumamnya sangat pelan.
Ia tidak sedang menyebut dirinya bodoh karena menemukan kotak tersebut. Justru yang terasa menyakitkan adalah kesadaran bahwa selama lima tahun mengenal Dimas—dua tahun berpacaran dan tiga tahun menikah—dirinya hampir tidak pernah merasa perlu mencurigai laki-laki itu. Alena bisa berdiri berjam-jam di ruang operasi dan memeriksa ulang setiap kemungkinan komplikasi sebelum membuat keputusan, bisa membaca hasil laboratorium berulang kali hanya karena satu angka terasa tidak sesuai, tetapi ketika datang kepada suaminya sendiri, seluruh ketelitian itu seperti tidak pernah digunakan.
Mungkin karena seseorang memang tidak seharusnya hidup sambil memeriksa suaminya seperti memeriksa pasien.
Mungkin karena cinta seharusnya memberikan rasa aman.
Atau mungkin Alena memang terlalu percaya.
Ia hendak bangun ketika baru sadar ada berat yang menahan pinggangnya.
Sebuah lengan.
Tubuh Alena langsung menegang sebelum dirinya perlahan menunduk dan melihat tangan Dimas masih berada di atas perutnya. Lelaki itu tidur begitu dekat dari belakang, napasnya menyentuh rambut Alena dan wajahnya terlihat damai, sama persis seperti puluhan pagi lain sepanjang pernikahan mereka.
Kemarin, mungkin Alena masih akan merasa hangat.
Sekarang perutnya justru bergejolak.
Bayangan foto kehamilan Risma masuk begitu cepat ke kepalanya. Tangan Dimas yang sekarang berada di pinggangnya pernah berada pada perut perempuan lain. Lengan yang selama ini dianggap miliknya sendiri ternyata sudah bertahun-tahun mempunyai kehidupan berbeda ketika Alena sedang berjaga malam, operasi, ataupun bekerja lembur supaya uang mereka cukup membangun rumah Surabaya Barat.
Dengan gerakan spontan, Alena menarik lengan tersebut dari tubuhnya jauh lebih kasar daripada yang direncanakan.
Dimas langsung terbangun.
“Hm?”
Alena sudah bergeser ke sisi paling ujung ranjang.
Dimas mengerjapkan mata, belum sepenuhnya sadar. Rambutnya berantakan dan wajahnya masih terlihat mengantuk ketika melihat punggung Alena yang kaku.
“Kamu kenapa?”
Alena tidak menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam sambil berusaha menahan rasa mual yang datang hanya karena menyadari dirinya tidur berjam-jam dalam pelukan lelaki yang sudah menjalani kehidupan seperti seorang suami untuk perempuan lain.
Dimas mengusap wajah, kemudian melihat jam di sisi ranjang. “Masih pagi banget, Lena.”
Alena bangkit.
Gerakannya yang cepat membuat Dimas akhirnya lebih sadar. Ia menopang tubuh dengan satu siku dan memandang istrinya yang berjalan menuju lemari tanpa menoleh.
“Masih marah gara-gara semalam?”
Langkah Alena berhenti sesaat.
Bukan karena hendak menjawab, tetapi karena dua kata itu terasa hampir menghina.
Gara-gara semalam.
Seolah persoalan mereka hanya makan malam anniversary yang batal.
Seolah yang dilakukan Dimas hanyalah memilih menemani keponakan sakit.
Seolah dirinya tidak mempunyai bayi dengan Risma.
Seolah Alena tidak pernah duduk berjam-jam menjalani program fertilitas sambil mempertanyakan tubuhnya sendiri ketika lelaki itu sebenarnya sudah menjalani vasektomi.
Dimas duduk dan bersandar pada headboard, lalu menghela napas ketika Alena tetap diam. “Serius? Sampai pagi masih begini?”
Alena berbalik perlahan.
Wajah Dimas terlihat benar-benar tidak memahami.
Dan justru ketidaktahuan itu membuat rasa muak Alena semakin besar. Laki-laki itu tidak tahu Alena sudah melihat semuanya. Dimas masih berdiri di dalam kehidupannya yang lama, yakin bahwa kebohongannya aman, sehingga semua perubahan sikap Alena pagi itu dianggap sekadar drama istri yang kecewa makan malam anniversary dibatalkan.
“Kamu pulang jam berapa?” tanya Alena akhirnya.
Dimas mengangkat bahu. “Lupa. Sebelas lewat mungkin. Kenapa?”
Alena memperhatikan wajahnya beberapa detik.
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Terus kenapa mukamu begitu?”
Alena tidak menjawab.
Dimas menatapnya beberapa saat sebelum seolah baru mengingat sesuatu. Tangannya mengambil kotak merah di meja samping ranjang.
“Nih.”
Alena melihat kotak itu.
“Apa?”
Dimas membukanya. Di dalam terdapat sebuah cincin emas dengan batu kecil di tengah. Cantik sebenarnya. Modelnya sederhana dan cukup sesuai dengan selera Alena beberapa tahun lalu, ketika hadiah dari suaminya masih bisa membuat dirinya bahagia tanpa mempertanyakan apa pun di belakangnya.
“Hadiah anniversary.” Dimas mengulurkan kotak itu sambil tersenyum kecil. “Aku semalam mampir ambil. Tadinya mau kasih begitu pulang, tapi kamu sudah tidur.”
Alena melihat cincin tersebut tanpa bergerak.
Aneh.
Beberapa minggu lalu mungkin dirinya akan langsung tersenyum, memeluk Dimas dan meminta lelaki itu memasangkannya sendiri.
Sekarang yang muncul justru pertanyaan lain.
Apakah cincin ini dibayar dari rekening yang sama dengan uang sewa rumah Risma?
Apakah dibeli setelah Dimas pergi dari rumah perempuan itu?
Apakah semalam, sebelum datang membawa hadiah anniversary untuk istrinya, Dimas baru saja mencium Liana dan Risma?
“Aku tidak butuh.”
Senyum Dimas berkurang.
“Masih marah?”
“Aku bilang aku tidak butuh.”
Dimas menutup kotak sedikit lebih keras. “Alena, jangan kayak anak kecil.”
Rahang Alena langsung menegang.
Namun Dimas tidak menangkap perubahan tersebut. Ia malah turun dari ranjang sambil membawa kotak itu, seolah dirinya sedang berhadapan dengan istri yang harus dibujuk menggunakan logika sederhana.
“Semalam sudah aku jelasin. Liana sakit. Masa kamu masih mempermasalahkan itu sampai sekarang?” Dimas mendekat dan meletakkan kotak kembali di atas meja rias. “Aku juga sudah beliin hadiah. Malam ini kita makan di luar. Beres.”
Beres.
Satu kata untuk menutup anniversary yang ditinggalkan.
Satu cincin untuk mengganti rasa kecewa.