Alena masih berdiri di tengah ruang keluarga rumah baru mereka beberapa menit setelah telepon dengan Dimas berakhir, memandangi meja makan yang sejak sore dipersiapkannya dengan begitu hati-hati sementara pikirannya seolah tertinggal pada satu kalimat yang terus berputar tanpa memberi kesempatan kepada dirinya untuk memikirkan hal lain.
Anniversary bukan sesuatu yang spesial, Lena.
Entah mengapa kalimat sederhana itu terasa lebih menyakitkan dibandingkan apabila Dimas membentaknya sejak awal, sebab selama hampir lima tahun mengenal laki-laki tersebut, dua tahun berpacaran dan tiga tahun hidup sebagai suami istri, Alena selalu percaya bahwa meskipun Dimas bukan seseorang yang pandai menunjukkan perasaan, ada beberapa hal dalam hubungan mereka yang tetap mempunyai arti baginya.
Hari pernikahan mereka adalah salah satunya.
Setidaknya Alena mengira demikian.
Ia menundukkan kepala sambil memandangi gaun merah anggur yang dipilihnya setelah menghabiskan hampir dua puluh menit berdiri di depan lemari rumah sakit sebelum pulang sore tadi, sesuatu yang sebenarnya cukup lucu apabila mengingat dirinya terbiasa mengambil keputusan jauh lebih sulit dalam hitungan detik ketika berada di ruang operasi, tetapi untuk memilih pakaian yang menurutnya akan disukai Dimas, ia masih bisa mempertimbangkan warna, model, bahkan panjang gaun seperti seorang perempuan yang sedang melakukan kencan pertama.
Semua usaha itu sekarang terasa memalukan.
Alena mengembuskan napas panjang, kemudian berjalan menuju meja makan untuk memadamkan kedua lilin yang tinggal separuh. Asap tipis langsung naik ketika api padam dan aroma lilin bercampur dengan makanan yang sudah dingin memenuhi ruangan, sementara Alena membereskan semuanya tanpa terburu-buru, seolah apabila tangannya terus bergerak maka pikirannya tidak akan mempunyai kesempatan untuk mengingat bahwa saat ini Dimas sedang duduk di ruang tunggu dokter anak bersama Risma dan Liana pada malam yang sudah dijanjikannya untuk mereka berdua.
Ia memasukkan makanan ke lemari pendingin, menutup botol wine yang bahkan belum sempat dibuka, lalu mengembalikan dua gelas yang sejak sore diletakkan berdampingan ke dalam kabinet.
Tidak ada yang dibuang.
Alena tidak pernah suka membuang makanan hanya karena sedang marah.
Namun ketika tangannya hendak mengambil kotak kecil berisi gantungan kunci yang tadinya ingin diberikan kepada Dimas, gerakannya berhenti beberapa detik.
Kotak itu dibuka perlahan.
Gantungan kecil berbentuk rumah masih terbaring di sana, permukaannya memantulkan cahaya lampu ruang makan sementara ukiran di bagian tengah terlihat sangat jelas.
A & D — Our Home.
Alena mengusap tulisan tersebut dengan ujung ibu jarinya.
Tiga tahun.
Tiga tahun ia menyimpan sebagian besar bonus yang diterimanya dari rumah sakit, mengambil tambahan jadwal operasi ketika ada kesempatan, bekerja di dua rumah sakit berbeda dan beberapa kali menerima pekerjaan sebagai dokter pendamping penerbangan medis karena bayaran yang diperolehnya cukup besar untuk mempercepat pembangunan rumah tersebut.
Tidak pernah sekalipun dirinya berpikir rumah itu adalah miliknya seorang.
Dimas memang tidak memberikan banyak uang untuk pembangunan, tetapi Alena selalu mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa mereka berada dalam satu pernikahan, sehingga apa yang diperolehnya merupakan milik mereka, sama seperti keberhasilan Dimas dalam pekerjaannya selalu ia anggap sebagai keberhasilan mereka bersama.
Saat membeli tanah, notaris sempat bertanya apakah sertifikat akan dibuat atas nama keduanya.
Dimas kebetulan sedang berada di Semarang ketika itu dan mengatakan melalui telepon bahwa tidak perlu menunggu dirinya pulang.
"Atas nama kamu saja nggak masalah, Lena. Kita suami istri ini, rumah siapa juga sama saja."
Alena menurut.
Malam ini, untuk pertama kalinya sejak dokumen tersebut ditandatangani, ia merasa lega rumah itu hanya tercatat atas namanya.
Pikiran itu membuat Alena terdiam.
Ia tidak tahu sejak kapan dirinya mulai memikirkan kepemilikan seperti itu.
Mungkin karena sedang marah.
Mungkin karena kecewa.
Mungkin besok pagi semua perasaan ini akan mereda dan dirinya akan kembali menganggap pertengkaran mereka hanya akibat salah paham.
Namun malam ini Alena tidak ingin berada di sana.
Rumah yang sejak tiga tahun lalu dibangun sebagai tempat memulai babak baru kehidupan mereka tiba-tiba terasa terlalu besar, terlalu sunyi dan terlalu asing untuk ditempati seorang diri.
Ia mengambil tas, memastikan seluruh lampu yang tidak diperlukan sudah mati, kemudian berjalan keluar sebelum mengunci pintu utama dan pagar depan dengan teliti. Setelah beberapa langkah menuju mobil, Alena sempat menoleh sekali lagi pada bangunan dua lantai tersebut, memperhatikan jendela-jendela besar yang sudah lama dipilihnya bersama arsitek karena Dimas menyukai cahaya alami, halaman kecil yang kelak ingin mereka gunakan sebagai tempat anak bermain, serta balkon kamar utama tempat Dimas pernah mengatakan dirinya ingin minum kopi bersamanya setiap Minggu pagi.
Rumah itu sempurna.
Hanya orang yang seharusnya pulang ke dalamnya yang tidak berada di sana.
Alena membuka pintu Honda HR-V miliknya lalu masuk tanpa membiarkan dirinya berdiri lebih lama.
Perjalanan kembali menuju apartemen mereka di kawasan Mayjen Sungkono dilakukan dalam keheningan. Biasanya Alena akan menyalakan radio atau memilih playlist favoritnya apabila harus menyetir malam hari, tetapi kali ini suara apa pun terasa mengganggu, sehingga yang terdengar hanya dengungan mesin, bunyi indikator kendaraan dan sesekali suara klakson dari jalan raya yang masih cukup ramai.
Beberapa kali ponselnya menyala karena pesan masuk.
Alena tidak memeriksanya.
Ia tidak ingin mengetahui apakah salah satunya berasal dari Dimas, meskipun bagian kecil di dalam dirinya tetap mengharapkan layar tersebut memperlihatkan nama suaminya disertai sebuah pesan sederhana seperti maaf, aku akan segera pulang.
Namun ketika tiba di basement apartemen dan akhirnya mengambil ponsel sebelum turun, tidak ada pesan dari Dimas.
Satu pun tidak.
Hanya pesan dari grup dokter bedah, sebuah notifikasi bank dan pesan Mama yang sudah dibacanya tadi.
Alena tersenyum kecil tanpa kegembiraan kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas.
Apartemen itu gelap ketika dirinya tiba.
Dimas belum pulang.
Entah mengapa hal tersebut tidak lagi mengejutkannya.
Ia membuka pintu, menyalakan lampu ruang keluarga lalu menaruh tas di sofa sebelum berjalan menuju kamar utama tanpa keinginan untuk makan ataupun mandi terlebih dahulu. Gaun yang dikenakannya terasa terlalu rapi untuk malam seperti ini, sehingga Alena menggantinya dengan kaus longgar dan celana tidur sebelum berdiri beberapa saat di depan cermin sambil menghapus riasannya perlahan.
Wajah yang menatapnya dari pantulan terlihat lelah.
Bukan hanya karena hari ini dirinya sempat melakukan operasi hampir empat jam sebelum meninggalkan rumah sakit.
Ada kelelahan lain yang tidak dapat disembuhkan dengan tidur.
Alena menyibakkan rambut ke belakang lalu berjalan menuju lemari.
Sebenarnya tidak ada rencana khusus untuk membereskan pakaian malam itu, tetapi apartemen ini sebentar lagi akan mereka tinggalkan karena pindah ke rumah baru sehingga sejak beberapa minggu terakhir Alena memang mulai memilah barang sedikit demi sedikit. Lagipula, ia tahu apabila hanya berbaring di tempat tidur sekarang, pikirannya akan kembali kepada Dimas dan Risma sampai dirinya tidak dapat tidur.
Lebih baik melakukan sesuatu.
Ia menarik sebuah tas kain berukuran besar dari bagian bawah lemari kemudian membuka bagian yang berisi pakaiannya sendiri.
Sebagian besar pakaian Alena masih dalam kondisi sangat baik meskipun jarang digunakan, sebab beberapa tahun terakhir dirinya lebih banyak hidup dalam scrub rumah sakit, jas dokter, celana panjang sederhana dan pakaian yang mudah dikenakan apabila mendapat panggilan mendadak. Gaun yang dulunya sering dipakai untuk makan malam atau bertemu teman semakin lama semakin jarang keluar dari lemari, sementara beberapa pakaian baru yang dibeli Mama bahkan masih memiliki label.
Alena sudah lama mempunyai kebiasaan membawa pakaian yang masih bagus tetapi tidak lagi digunakannya ke sebuah panti asuhan yang dikenalnya sejak masih menjalani pendidikan dokter.
Karena itu ia mulai memilah.
Sebuah blus biru muda yang sudah hampir setahun tidak digunakan masuk ke dalam tas.
Dua buah dress yang ukurannya masih sesuai tetapi modelnya sudah tidak terlalu disukai ikut dimasukkan.
Sementara pakaian yang menurutnya masih akan digunakan setelah pindah rumah dipindahkan ke sisi lain.
Pekerjaan sederhana tersebut cukup berhasil mengalihkan pikirannya, sampai tanpa sadar hampir dua puluh menit berlalu.
Ketika hendak mengambil sebuah kardigan miliknya yang terselip pada rak bagian atas, Alena harus berdiri sedikit berjinjit karena tumpukan sweater Dimas berada tepat di depannya. Ia menarik kardigan tersebut perlahan, tetapi ujung kain tersangkut pada sesuatu di belakang tumpukan pakaian.
Alena menarik sekali lagi.
Sebuah benda bergeser.
Kemudian jatuh.
Bruk.
Suara kotak menghantam lantai membuatnya refleks mundur.