"Hal ... Halwa ... bangun." "Halwaaa ...." Aku mengerjap, "Astagfirullah, Dit ...." Aku terdiam sejenak, mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi. "Kenapa semua gelap?" gumamku ketakutan. Berkali-kali mengucek mata, tapi tidak bisa kulihat sedikit pun cahaya. "Radit ... Bian, kalian dimana?" Aku meraba sekitarku, ini adalah kursi tempatku tadi tidur, tapi kenapa sekarang semua jadi gelap. "Bian ...." Aku berjalan merayap, hati terasa gundah, bagaimana mungkin saat ini aku tidak bisa melihat apapun? "Diamlah Halwa, kamu bisa jatuh." Suara Radit terdengar menggema di kegelapan. "Kamu di mana Dit?" "Aku di sini," jawab Radit sembari membawa lilin dari arah pintu. "Alhamdulillah," ucapku lega. Aku kira mataku yang bermasalah. "Ada pemadaman listrik untuk sementara, ak

