Apa kamu sudah meminumnya?" tanyanya pelan. "Aku hanya tidak ingin calon kekasihku menjadi gendut. Tenanglah, aku hanya berniat membersihkan perutmu," ucap Bastian santai. "Hal-wa?" Suara Radit terdengar gamang. Aku menatap Radit, wajahnya yang putih berubah merah padam. Lalu, berbalik menatap Bastian, lelaki itu hanya tersenyum cilik. Saat kulihat tangan Radit siap melayang untuk memukulnya, aku beranjak dari duduk dan menahannya. Kucondongkan tubuh tepat di hadapan lelaki itu, ia masih terlihat santai bersandar di kursi. Bruuuuusss! kopi yang baru saja kusesap, keluar seperti air shower tepat di wajah angkuhnya. "Sebelum kamu membersihkan perutku, bersihkan dulu wajahmu itu!" pekikku lantang. Wajahnya terbengong sesaat, lalu ia meneggakan tubuh, mengusap kasar wajahnya. "Berani

