"Jangan!"
Alana mengalihkan pandangannya hingga bibir Rafli tepat mendarat dipipinya.
"Kenapa jangan?" tanya Rafli berbisik.
Alana, takut!
"Lo kan, babu gue..." ucap Rafli dengan senyuman yang membuat Alana meneteskan air mata.
"Enggak!" Alana berontak hingga Rafli terjatuh saat gadis itu bangkit kemudian berjalan mundur darinya.
"Pas dicium Rafka! Lo diam aja," sindir Rafli enggan menatap gadis itu.
"Kak Rafka enggak manggil aku babu!" tukas Alana memberanikan diri.
Tangan Rafli terkepal, menatap gadis itu.
"Berlutut!"
"Kak!" bentak Alana tak terima atas permintaan Rafli.
"Aku mau pulang! Tadi katanya mau ngantar!" ucap Alana diakhiri isakan.
"Berlutut!"
Alana jatuh, berlutut menatap Rafli yang tak menampilkan ekspresi apapun. Apakah pemuda itu kembali mempermainakannya.
"Jauhin Rafka," ucap Rafli menatap Alana.
"Kakak..." pelan Alana menundukkan wajah.
"Lo dengar kan?" tanya Rafli menarik dagu Alana dengan jemarinya. Alana mengangguk kembali menundukkan wajah bingung harus berkata apa lagi.
"Cepat! Lo mau nginap disini lagi!?" Rafli bangkit dari duduknya mengambil ponsel dan juga kunci mobil hingga mereka keluar dari kamar apartemen.
Beberapa orang yang tinggal disebelah terkejut, namun Rafli tidak memperdulikan itu dan malah menggandeng tangan Alana, lebih tepatnya menyeret Alana dengan cepat menuju lift.
Mereka berada di parkiran, security melayangkan tatapannya pada Rafli saat Rafli membukakan pintu mobil untuk Alana. Rafli masih tak peduli, memilih segera tancap gas mengantarkan gadis itu.
"Rumah lo dimana sih?" tanya Rafli membuat Alana tersadar.
"Di dekat, tempat tadi malam," ucap Alana mendapat anggukan dari Rafli.
Mobil berhenti, Rafli menatap sebuah gang yang mungkin mobilnya tak muat.
"Aku, turun ya..." ucap Alana berniat membuka pintu mobil.
"Gue antar sampai rumah."
Rafli turun lebih dulu disusul Alana yang nampak panik. Bagaimana cara ia menjelaskan pada ayahnya. Tidak mungkin kalau ia bercerita tidur di apartemen bersama seorang lelaki.
"Ayo! Lama banget!" tegur Rafli yang sudah menyeberang jalan.
"Kak, nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri, jalannya kumuh. Nanti Kakak---"
"Berisik." Rafli melangkah lebih dulu memperhatikan sekitar sesekali menatap jalannya takut menginjak kotoran.
Beberapa orang memperhatikan mereka, lebih tepatnya pada Alana yang sepertinya akan menjadi perbincangan hangat para tetangga rumahnya.
"Kak," panggil Alana membuat langkah Rafli terhenti.
"Ini, rumah aku." Alana berucap, Rafli langsung mengetuk pintu.
Pintu pun terbuka, terlihat lah lelaki yang sangat familiar bagi Rafli. Lelaki itu memeluk Alana dengan mata berkaca- kaca.
"Lana... kamu kemana, Nak? Ayah cariin sampai ke rumah Salsa," ucap Ilham tanpa menyadari kehadiran Rafli yang hanya diam menyiapkan penjelesan.
"Lana, baik- baik aja," jawab Alana sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi padanya.
"Yaudah, yuk masuk." Ilham menghentikan kalimatnya menatap seorang pemuda yang hanya diam menatapnya.
"Den Rafli?" tanya Ilham ragu.
Rafli mengangguk, sedikit tersenyum mengetahui kalau Ilham mengenalinya.
"Mari, masuk?" tawar Ilham membuat Rafli melangkah mengikuti dua orang itu. Rafli duduk disebuah kursi kayu, memperhatikan seisi rumah Alana yang terkesan sederhana namun cukup nyaman untuk di tinggali.
"Mau minum? Den?" tanya Ilham.
"Enggak, saya cuma mau jelasin." Rafli menatap Alana yang seolah ketakutan.
"Tadi malam, saya bawa Alana ke apartemen."
Ilham diam tak berkutik, saat Alana menggenggam tangannya, pria itu mencoba tersenyum meski dengan tangan terkepal menatap Rafli yang berucap santai.
"Keluar!" Ilham menunjuk pintu membuat Rafli melotot, ia diusir? Yang benar saja!
"Saya nggak ngelakuin apapun ke Alana, saya cuman minta dia beresin apartemen saya!" ucap Rafli seadanya.
"Dia juga masakin sup buat saya!" Rafli bangkit dari duduknya menatap Ilham yang sepertinya sangat marah dengannya.
"Saya, minta maaf..." Rafli berucap, menatap Alana yang bersembunyi dibalik punggung ayahnya.
"Saya tau, Bapak pasti marah. Tapi, jangan marahin Alana, karena ini kesalahan saya!" tukas Rafli membuat Alana terkejut.
"Saya yang nahan dia buat pulang tadi malam karena hujan deras," jelas Rafli mengakhiri kalimatnya menatap kepalan tangan Ilham yang melonggar.
"Yah... Lana---"
"Masuk kamar," ucap Ilham membuat Alana tak berkutik lagi lalu masuk kekamarnya. Sebelum menutup pintu, pandangannya sempat bertemu dengan Rafli yang menampilkan ekspresi sulit di artikan.
"Den Rafli, tolong..." Ilham berlutut membuat Rafli terkejut langsung membantu lelaki itu untuk bangkit.
"Jangan Alana," ucap Ilham mengusap air matanya.
Rafli mencoba menahan emosinya, dan saat Ilham menggenggam tangannya, Rafli kembali terdiam menatap pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Derajat kita berbeda, Alana puteri saya satu- satunya yang sangat saya jaga," ucap Ilham sendu.
"Tapi saya mau dia." Rafli bersuara, membuat jantung Alana berdegup kencang. Pintu kembali tertutup, membuat Rafli beralih menatap Ilham yang menundukkan wajah.
Rafli sudah berada di mobil dengan tangan terkepal, menahan sesuatu di hatinya yang ingin memaksa Alana agar terus bersamanya. Apakah ia sudah gila, menginginkan gadis itu.
Rafli masuk kerumah, Ayah dan Bundanya menunggu di tangga melingkar dengan karpet merah itu. Dilihatnya, Rafka yang duduk di sofa tanpa ekspresi dan Nesya yang memperlihatkan layar ponselnya pada Rafli. Potret dirinya dan seorang gadis yang keluar dari apartemen, pesan tersebut berasal dari salah satu tetangga yang memang memiliki kekerabatan dengan Azka.
"Rafli." Ray bersuara saat puteranya itu malah melangkah menaiki tangga melewati dirinya dan sang suami.
"Rafli! Kamu bawa cewek ke apartemen?!" tanya Ray hingga Azka menggenggam tangannya mencoba menenangkan agar Ray tak mengeluarkan kata- kata yang semakin memperburuk keadaan.
"Iya..." jawab Rafli menatap ibunya.
"Ya ampun, Rafli... kamu kenapa? Selama ini, kamu nggak dengar apa yang selalu Bunda bilang ke kamu?!" tanya Ray memijat pelipisnya.
"Rafli cuman bawa Alana---"
Plak!
Nesya terkejut, Azka langsung memeluk isterinya sedangkan Rafka mendekat mencoba menjauhkan Rafli dari sang bunda yang sudah marah.
"Alana itu seorang perempuan!" telunjuk Ray mengarah pada Rafli yang masih memegang pipinya.
"Bunda... udah, tenang. Biar Rafka yang ngomong sama Rafli---"
"Rafka! Jangan ngebela adik kamu!" potong Ray membuat Rafka segera menutup mulut.
"Udah..." ucap Azka menenangkan.
"Bunda udah nggak tau, cara biar kamu ngerti sama keadaan sekarang!" ucap Ray pasrah meneteskan air mata dalam dekapan suaminya.
"Maaf..." Rafli menunduk, ini memang kesalahannya hingga Rafka merangkul bahunya seolah mengatakan kalau semuanya akan baik- baik saja.
"Bunda, maafin Rafli!" Rafli berlutut menggenggam tangan Ray, menciumnya berkali- kali sambil menangis.
Azka melepas pelukannya, membiarkan sang isteri memeluk puteranya dengan berderai air mata.
"Maaf..." ucap Rafli lagi.
"Bunda..." panggil Rafli tak kunjung mendapat jawaban selain isakan sang ibu pada bahunya.
"Bunda takut..." ucap Ray membuat Rafli kembali teringat kalimat Alana yang juga takut padanya.
Apakah Rafli semengerikan itu?
Nesya menghampiri sang ayah, lalu memeluknya. Menyisakan Rafka yang terduduk di tangga menyeka air matanya.