Pagi yang indah, namun tak seindah suasana hati Rafli yang meski sedang mendengarkan musik, seantero tengah berbisik membicarakannya.
"Serius? Kak Rafli nginap di apartemen sama Alana?"
"Mereka ngapain ya?"
"Eh, mereka pacaran ya?"
"Bukannya kemarin Alana dekat sama Kak Rafka?"
"Alana beruntung banget deh, gue jadi iri!"
Rafli mengepalkan tangan, menghentikan langkahnya menatap sekitar. Para gadis yang membicarakannya langsung pergi dengan terburu- buru.
"Dia nggak lebih dari babu gue!" ucap Rafli hingga tatapannya tertuju pada seorang gadis yang tengah berjalan menuju kelas.
"Mau kemana lo?" tanya Rafka mengikuti arah pandang Rafli yang tertuju pada Alana.
"Nesya duluan ya!" Nesya bergegas menuju kelasnya berniat menemui Alana.
Rafli tak menjawab, membuat Rafka hanya bisa terdiam menatap Nea dan Alden.
"Bunda, sampai nangis- nangis," ucap Rafka pada dua sahabatnya.
"Apa sih yang Rafli pikirin?" kesal Nea juga Alden.
"Alana!" panggil Nesya pada Alana yang baru saja duduk dikursinya.
"Nesya, kenapa?" tanya Alana ragu.
"Ini tentang---"
"Alana!" panggil Salsa pada sahabatnya itu.
"Gosip tentang elo yang----"
Nesya langsung membekap mulut Salsa saat seisi kelas menatap mereka, mungkin ini adalah awal pertemanan antara tiga gadis itu.
"Kalian kenapa sih?" tanya Alana bingung.
Salsa menarik satu kursi menggenggam tangan Alana.
"Lo beneran nginap di apartemen sama Kak Rafli?" tanya Salsa pelan.
"Abang gue nggak ngapa- ngapain elo, kan?" tanya Nesya ikut duduk didekat Alana.
Alana menghela napas, tak menjawab apapun sampai guru wanita memasuki kelas.
"Pagi anak- anak," sapa guru wanita itu.
"Ibu lupa ambil buku materi, ada yang mau ambilin? Di perpustakaan, rak nomer dua," pinta guru tersebut namun tak ada yang mengangkat tangan selain Alana.
"Alana, yasudah. Tolong ya," ucap wanita 34 tahun ini mendapat senyum kecil dari Alana.
Saat Alana hampir sampai di perpustakaan, tiba- tiba seseorang menariknya memasuki sebuah ruangan kosong lalu mengunci pintu.
"Kamu!" tegas Alana dan betapa terkejutnya ia saat mendapati pelakunya adalah Rafli.
"Kak Rafli! Aku harus ambil buku di perpustakaan!" ucap Alana berusaha membuka pintu namun Rafli menghalanginya.
"Kak Rafli!"
"Alana!"
Rafli bersuara, membuat Alana terkejut sampai mundur beberapa langkah.
"Aku, ada salah ya?" tanya Alana pelan.
"Iya!" tegas Rafli melonggarkan dasinya membuat Alana terdiam.
"Maaf," ucap Alana. "Ijinin aku keluar, aku mau ngambil buku pelajaran disuruh guru," ucap gadis itu tak berani menatap Rafli yang berjaga di pintu.
"Enggak!" balas Rafli.
"Lo itu babu gue! Lo cuma boleh nurutin perintah gue!" ucap Rafli dengan angkuhnya.
"Tapi, Kak---"
"Enggak ada tapi- tapian!" potong Rafli.
"Berlutut!"
Alana sudah tak kuasa menahan air mata, bagaimana caranya agar ia terbebas dari pemuda ini, mengapa Rafli selalu menyuruhnya berlutut, bahkan berucap sampai menyakiti perasaannya.
Tak ingin banyak bicara, Alana berlutut menuruti perintah Rafli yang tersenyum sinis sambil mengusap kepalanya.
"Anak pintar," puji Rafli semakin membuat Alana terisak.
"Lo dengar apa yang anak- anak bilang?" tanya Rafli membungkuk menatap Alana.
"Aku... berusaha tutup telinga," ucap Alana jujur. Ia juga mendengar bisikan para gadis tentang dirinya dan Rafli yang bermalam di apartemen.
"Aku takut..." beo Alana menunduk hingga tangan Rafli menyusup dilekukan lehernya.
"Alana mana sih?" tanya Salsa begitu pun guru dikelasnya.
"Bu! Saya permisi nyusul Alana!" Salsa angkat suara kemudian pergi meninggalkan kelas disusul Nesya.
"Jangan!" cegah Alana saat Rafli mendekatkan wajahnya hingga ia dapat merasakan deru napas Rafli.
"Hiks..." Alana terisak saat Rafli bangkit lalu pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang menangis sambil memeluk lututnya.
"Alana!!" panggil Salsa terkejut mendapati Alana yang tengah menangis.
"Gue, nyusul Bang Rafli dulu!" Nesya pergi menyusul kepergian kakaknya.
"Lo nggak papa?" tanya Salsa panik memeluk gadis itu. Alana mengangguk kecil merasa lebih tenang saat Rafli sudah pergi.
"Salsa, aku ada salah apa sama Kak Rafli sampai- sampai dia terus nyakitin aku?" tanya Alana parau.
"Lana... jangan sedih, gue jadi ikutan sedih!" Salsa mengusap air mata gadis itu berusaha membuatnya tersenyum.
Disisi lain, Nesya berhasil menghentikan langkah Rafli yang hendak memasuki kelas.
"Abang!" Nesya menyeret Rafli menjauhi kelas, tentu saja Rafka mengejar dua adiknya itu.
"Abang kenapa sih?! Abang mau apa dari Alana?! Kenapa selalu bikin dia nangis!" kesal Nesya memarahi kakaknya dengan berkacak pinggang.
"Abang nggak mikirin perasaan Bunda, hah?" tanya Nesya lagi.
"Hm..." Rafli berdehem pelan membuat Nesya mengangkat dua tangan menjambak rambut Rafli hingga Rafli meringis.
"Nesya!" Rafka datang menjauhkan Nesya dari Rafli yang sudah menampilkan ekspresi kesal.
"Bang Rafli bikin Alana nangis lagi!" tunjuk Nesya mengadu pada Rafka.
"Hah?" bingung Rafli. Setahunya pagi ini ia tak ada bicara apapun pada Alana, begitu pun Rafli.
"Tanya aja sama Bang Rafli!" kesal Nesya melipat tangan. "Dia keluar di ruangan, pas Nesya lihat ternyata ada Alana didalam lagi nangis!" jelas Nesya membuat Rafka mengepalkan tangan.
"Rafli! Lo kenapa sih?!" tanya Rafka mencengkram kerah baju Rafli.
"Apa sih!" sinis Rafli melepaskan diri.
"Lo suka sama Alana? Tinggal jawab!" titah Rafka membuat Rafli melotot.
"Dia nggak lebih dari babu gue!"
Kini berganti Nesya yang menarik kerah baju Rafli.
"Alana itu manusia! Bukan babu, Kakak!" tegas Nesya dengan wajah merah padam.
Rafka tersenyum sinis.
"Bagus deh, kalau lo nggak suka. Soalnya gue mau nyatain cinta ke Alana," ucap Rafka membuat Rafli berontak mendorong saudaranya hingga punggunga Rafka terbentur tembok.
"Ya ampun!!" Nesya mengusap kasar wajahnya.
"Nesya laporin Bunda nih!?" ancam Nesya mengeluarkan ponsel mengarahkannya pada dua kakaknya.
"Alana, punya gue!" tegas Rafli penuh pemaksaan di setiap katanya.
"Punya lo? Sejak kapan? Coba kita tanya Alana, dia lebih milih gue apa elo---"
Bukh!!
Rafka meringis merasakan pukulan Rafli pada wajahnya.
"Dia punya gue!!" ucap Rafli kemudian pergi.
"Abang! Enggak papa?" tanya Nesya khawatir.
"Masuk kelas sana," ucap Rafka lembut.
Nesya kembali kekelas mendapati Alana tengah melamun tak mendengari penjelasan guru hingga jam pulang sekolah tiba.
Alana berjalan bersama Salsa dengan ekspresi murung. Hingga Salsa menggandeng tangannya saat mengetahui tatapan Rafli dari parkiran yang tertuju pada Alana.
"Pak, Lana pulang sama saya ya!" ucap Salsa pada Ilham yang masih sibuk mengatur lalu lintas di depan sekolah.
"Yasudah, Lana tunggu Ayah dirumah ya," ucap Ilham tersenyum pada Alana.
Salsa mengajak Alana masuk kemobil, membuat tangan Rafli terkepal. Rafli pulang lebih dulu meninggalkan Rafka dan Nesya yang pulang bersama Nea.
Pemuda itu tiba dirumah, dilihatnya sang ayah yang tengah berbicara dengan dua orang pria.
"Bunda," panggil Rafli pada ibunya yang tengah menuruni tangga.
"Ayo siap- siap," ucap Ray membuat Rafli kebingungan.
"Hah? Kemana?" tanya Rafli.
"Ngasih kejutan buat, cewek kamu." Azka bersuara membuat Rafli terdiam.
"Enggak! Alana bukan cewek Rafli! Dia babu Rafli!" tegas Rafli lalu berjalan cepat menuju kamarnya.
"Ya ampun..." Ray tak dapat berkata apa- apa lagi.