15

1076 Words
Buk!! Alana terkejut, baru saja ia turun dari angkot tiba- tiba seseorang melempar tas kepadanya. Orang itu adalah Rafli, ia berdiri di depan gerbang seolah menunggu Alana. "Bawain tas gue!" titah Rafli membuat Alana mengangguk berjalan dibelakang pemuda itu. "Kak Rafli sama Alana ada hubungan apa ya?" "Kalian udah tau belum kalau keluarga Samuel ngasih rumah mewah ke Alana?" "Hah? Serius!" "Astaga, jangan- jangan ada sesuatu antara Alana sama Kak Rafli." Alana berjalan dengan wajah menunduk hingga tanpa sadar menabrak punggung Rafli saat pemuda itu menghentikan langkahnya. Arah pandang Alana juga tertuju pada Rafka yang tengah berjalan bersama Nea dan Alden. Dengan santainya, Rafli menarik Alana, agar gadis itu berdiri lebih dekat dengannya. "Rafli, apa lagi sih?" tanya Nea pada pemuda itu. "Alana, jangan mau bawain tas Rafli!" tegur Alden membuat Alana bingung harus berkata apa. "Kenapa? Dia kan babu gue! Suka- suka gue!" tegas Rafli mengetahui Rafka yang tengah menatap Alana. Alana terkejut saat Rafka meninggalkan mereka, ia hendak mengejar namun tangannya masih digenggam oleh Rafli. "Mau ke kantin nggak?" tawar Nea. "Beliin gue makanan! Gue tunggu di rooftop!" tukas Rafli membuat Nea dan Alden melongo. "Alana! Jangan mau!" cegah Alden menarik gadis itu menjauhi Rafli. "Lepasin tangan lo dari babu gue!!" tegas Raflo kembali menarik Alana. "Rafli! Jangan kayak anak kecil deh, lo!" tegur Nea kesal bukan main pada tingkah menyebalkan Rafli. "Oke! Kalau gitu, beliin gue s**u sama roti! Cepat!" suruh Rafli pada Alana. "Lo!!" Nea sudah mengangkat tangan bersiap melayangkan pukulan pada Rafli namun Alana menggeleng. "Kak... aku, nggak papa kok. Kalian, jangan ribut," ucap Alana pelan. "Udah Ney!!" Alden merangkul bahu Nea yang masih ingin memarahi Rafli. "Buruan!" dingin Rafli berdecak pada Alana. "Tapi, tas Kakak?" Alana menyerahkan tas Rafli yang langsung diambil oleh pemuda itu. Alana pergi menuju kantin mengikuti langkah Nea dan Alden. Gadis itu tiba di kantin mendapati tatapan berbeda dari Rafka yang duduk sendiri tanpa menghiraukan Nea dan Alden. Alana bergegas meninggalkan kantin setelah membeli makanan sesuai perintah Rafli. Rafka tak tinggal diam, pemuda itu mengejar Alana hingga ia berhasil menggenggam tangan gadis itu. "Lana..." panggil Rafka begitu lembut menatap koridor menuju taman belakang yang sepi. "Kak Rafka..." balas Alana menatap pemuda itu. "Kakak marah ya sama aku?" tanya Alana. Rafka menggeleng menarik gadis itu kedalam pelukannya. "Rafli, bilang apa sama lo?" tanya Rafka membuat Alana melepas pelukannya kembali teringat pada pemuda itu. "Enggak ada!" alibi Alana pada Rafka. "Aku, pergi dulu!" ucap gadis itu melangkah cepat menuju taman belakang diikuti Rafka yang bersembunyi. "Kak Rafli." Alana bersuara dengan napas ngos- ngosan sehabis berlari. "Duduk," titah Rafli meminta Alana duduk di kursi panjang. Alana menurut saja sampai Rafli merebahkan kepala di pahanya dengan mata terpejam damai. "Tadi malam, Kak Rafli nggak tidur ya?" tanya Alana menatap wajah tampan pemuda itu. Rafli tak menjawab, tangan Alana terangkat menyentuh pelan rambut Rafli hingga pemuda itu membuka mata. Saat Alana hendak menjauhkan tangannya, Rafli kembali memejamkan mata dengan senyum kecil. Alana mengusap lembut kepala pemuda itu dengan perasaan campur aduk. "Kak, makasih ya..." ucap Alana buka suara. "Mulai hari ini aku udah tinggal di rumah baru," ucap Alana tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. "Oh.." singkat Rafli tanpa membuka mata. "Mungkin, jadi pesuruh Kakak, enggak terlalu buruk buat semua yang Kakak kasih ke aku---" Belum sempat Alana mengakhiri kalimatnya tiba- tiba Rafli bangkit memegang dua bahunya hingga punggungnya tersender pada kursi. "Kkkak..." gugup Alana bingung harus berbuat apa. "Jangan banyak berharap, elo nggak lebih dari babu gue!" ucap Rafli tanpa sadar membuat setetes air mata Alana jatuh. "Iya..." isak Alana menundukkan wajah tak mampu menatap Rafli yang masih melayangkan tatapan tajam padanya hingga Alana melotot saat Rafli tiba- tiba saja menciumnya. Mencium, bibirnya! "Kak----" Alana memukul- mukul punggung Rafli hingga pemuda itu menghentikan aksinya dengan sudut bibir terangkat mengusap bibir Alana dengan jempolnya. Tangan Alana yang masih berada di bahu Rafli bergetar hebat, dengan wajah pucat pasi menahan air mata sebisa mungkin. "Ck! Gitu aja nangis, lo bakal terbiasa!" ucap Rafli mengambil kotak s**u juga roti yang Alana beli untuknya. "Kenapa, harus aku?" tanya Alana menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. "Mungkin karena, gue suka?" tanya Rafli balik sembari menatap Alana yang masih menangis. "Gue mau elo," ucap Rafli penuh paksaan. Alana menggeleng, takut Rafli melakukan hal yang lebih parah dari ini pada dirinya. Alana bisa apa, tenaga pemuda itu lebih kuat darinya, ditambah Rafli selalu saja mengeluarkan kata- kata pedas yang menyakiti perasaannya. Alana, hendak pergi dari semua ini. Menjadi dirinya yang dulu, gadis periang meski hanya berteman dengan Salsa. "Alana," panggil Rafli dengan tatapan berbeda hendak menyentuh gadis itu. "Aku takut..." isak Alana membuat pergerakan Rafli terhenti. "Pergi," usir Rafli. Alana membuka mata, menatap Rafli yang masih sama angkuhnya. "Pergi gue bilang! Lo nggak dengar?!" Rafli mengangkat tangan, membuat Alana menunduk memalingkan wajah. "Argh!" Alana kembali terkejut saat Rafli memeluknya, bahkan napasnya terasa sesak. "Kenapa nangis sih?" tanya Rafli menenggelamkan wajahnya dilekukan leher Alana. "Emang gue semengerikan itu? Ha?" tanya Rafli lagi merasakan tak ada pergerakan apapun dari Alana. "Bunda juga bilang, takut sama gue..." ucap Rafli pelan membuat Alana tertegun menepuk pelan punggung pemuda itu. "Gue, bukan Rafka yang bisa bikin orang ketawa..." ujar Rafli tak berniat melepas pelukannya pada Alana. "Gue nggak punya siapapun yang bisa gue jadiin tempat buat luapin emosi selain, elo." Rafli berucap, tanpa sadar air matanya jatuh. "Maaf..." Alana mengangguk, hanya dengan satu kata maaf Rafli. Ada apa dengan dirinya, mengapa ia seolah mengerti perasaan Rafli yang bahkan tak memiliki rasa kasihan padanya. "Alana," panggil Rafli masih memeluk gadis itu. "Lo, harus mau jadi... cewek gue," Rafli tersenyum sinis pada Rafka yang berdiri tak jauh dari mereka. "Hah?" tanya Alana bingung hendak melepas pelukannya namun Rafli menolak. "Gue nggak terima penolakan," ucap Rafli dingin. "Kalau aku tolak, Kakak juga pasti maksa," pelan Alana membuat Rafli tiba- tiba tertawa melepas pelukannya tak memperdulikan Rafka lagi. "Good girl!" puji Rafli mengusap kepala Alana yang menunduk patuh. "Mulai sekarang, lo harus berangkat dan pulang sekolah sama gue," ucap Rafka. "Peraturan kedua, jangan pergi sama siapapun kecuali gue." "Elo nggak boleh dekat sama Rafka, Nea, atau pun Alden." Alana melotot mendengar aturan yang sangat mengekang dirinya. "Terakhir, gue bebas ngelakuin apapun dan elo nggak boleh nolak!" ucap Rafli dengan santainya. Bahkan pemuda itu tersenyum menatap ekspresi lugu Alana yang terkesan sangat menggemaskan. "Oke?" tanya Rafli, tangannya kembali terangkat menyentuh kepala Alana hingga gadis itu mengangguk pasrah. "Sip! Malam ini, kita jalan, gue mau beli video game terbaru! Lo harus mau!" Lagi- lagi Alana mengangguk hingga Rafli tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD