16

1133 Words
"Rafli, kok baru pulang? Tumben?" tanya Ray menatap puteranya yang baru memasuki rumah setelah Rafka dan Nesya pulang setengah jam yang lalu. "Ngantar Alana," jawab Rafli membuat Ray tersenyum pada pemuda itu. "Jadi supir lo sekarang?" tanya Rafka melangkah menuruni tangga membalikkan kalimat Rafli yang dulu pernah tertuju padanya. "Iri?" tanya Rafli balik. "Udah, jangan ribut. Kita siap- siap shalat magrib yuk? Rafka, panggil Nesya ya," pinta Ray pada Rafka. "Malam ini, Rafli mau keluar," ucap Rafli pada ibunya. "Beli video game baru," ucap Rafli sebelum Ray bertanya. "Sama Alana kan?" tanya Rafka memilih duduk di tangga dengan tatapan tak suka pada Rafli. "Bukan urusan lo," singkat Rafli melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. "Rafka..." panggil Ray lembut duduk disamping puteranya. "Bunda... Rafka nggak suka Alana sama Rafli!" ucap Rafka meluapkan kekesalannya. "Alana disuruh- suruh sama tuh anak, tadi Rafli juga maksa Alana buat jadi ceweknya, Rafka nggak suka!!" jelas Rafka masih sempat didengar oleh Rafli. "Kenapa gue nggak bisa kayak Rafka yang langsung cerita apa adanya sama Bunda?" tanya Rafli menatap pantulan dirinya di cermin. Beberapa saat kemudian, saat ini mobil Rafli sudah terparkir di depan rumah Alana. Pemuda itu mengetuk pintu yang langsung dibuka oleh Alana. "Jadi ya?" tanya Alana yang memang belum bersiap. "Lo kira gue bercanda?" tanya Rafli langsung duduk di sofa. "Iya..." cicit Alana menatap pemuda itu. "Yaudah siap- siap! Buruan!" titah Rafli kesal. "Tapi, aku belum izin sama Ayah. Ayah belum pulang," ucap Alana lagi. Rafli berdecak menempelkan ponselnya di telinga. "Bilang sama Pak Ilham kalau Alana jalan sama saya." Rafli menutup panggilannya membuat Alana menampilkan tatapan lugu. "Udah sana! Siap- siap, gue udah nelepon orang di perusahaan," jelas Rafli membuat Alana tersenyum lalu melangkah menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama, gadis itu kembali dengan tas selempangnya. "Kita mau kemana?" tanya Alana saat sudah berada di mobil. "Mall," jawab Rafli sambil mengirimkan pesan pada seseorang lewat ponselnya. "Serius? Tapi aku nggak punya uang!" ucap Alana menatap Rafli berbinar hingga ponsel digenggaman Rafli jatuh. "Ups..." Alana hendak mengambil, namun Rafli mencegahnya. "Ck! Masih mikirin itu, sekarang lo sama gue. Mau Mall nya sekalian gue beli?" tanya Rafli membuat Alana terkejut tak percaya. Rafli tersenyum tipis mengangkat tangan mengusap kepala gadis itu hingga mereka tiba di pusat perbelanjaan. Rafli memarkirkan mobilnya, membuat Alana turun lebih dulu menatap banyaknya mobil mewah seperti yang ia tumpangi. "Kak," panggil Alana menatap Rafli. "Ini, kali pertama aku ke Mall..." ucap gadis itu membuat Rafli menampilkan ekspresi konyol. "Pegang tangan gue!" ucap Rafli membuat Alana menurut. Mereka melangkah bersama, sedari tadi Alana tak henti- hentinya berucap kagum hingga membuat Rafli tersenyum pada gadis itu. Rafli membawa Alana memasuki sebuah tempat yang Alana tidak tahu menjual apa, tapi seperti yang pernah Rafli mainkan saat di apartemen. "Kak Rafli Razza Samuel?" tanya seorang wanita yang bekerja di tempat tersebut. "Ini, barang yang Kakak pesan. Mau bayar cash? atau kredit?" tanya wanita itu. Rafli masih menggandeng Alana hingga tiba di kasir menyerahkan kartu kreditnya. "Ambil," ucap Rafli pada Alana saat wanita tadi menyerahkan papper bag padanya. Alana menerimanya, tersenyum manis pada wanita tersebut sampai Rafli menyelesaikan pembayaran. "Tujuh juta lima ratus ribu rupiah, terimakasih telah berkunjung," ucap kasir dengan ramah membuat Alana terkejut mengetahui harga barang yang dibeli Rafli. "Kakak, ini mahal banget!" ucap Alana saat mereka sudah berjalan meninggalkan tempat tersebut. "Elo pun bisa gue beli, kalau gue mau." Ucap Rafli sinis membuat senyum Alana memudar. "Omongan Kak Rafli pedas banget," ucap Alana tersenyum hambar. Rafli mengeratkan genggamannya membawa Alana ke sebuah restaurant cepat saji. "Mau makan apa?" tanya Rafli menyerahkan kertas menu pada Alana. "Aku, udah kenyang." Jawab Alana menundukkan kepala. "Aku, nggak mau selalu ngerasa hutang budi sama Kakak sampai kayak sekarang ini," ucap Alana membuat tangan Rafli terkepal. Rafli menarik Alana keluar dari restaurant hingga mereka kembali berada di mobil. Rafli melempar asal papper bag ke kursi belakang hingga membuat Alana terkejut. "Gue marah!" ucap Rafli tancap gas meninggalkan tempat tersebut. Rafli mengantarkan Alana, di depan pintu sudah menunggu Ilham yang terlihat khawatir. "Aku, turun ya..." ucap Alana ragu. Alana terkejut, saat Rafli memeluknya tiba- tiba. "Maaf..." Alana tersenyum menepuk pelan punggung pemuda itu, "iya..." ucapnya pelan. Hari berganti pagi, saat ini Alana tengah berjalan bersama Salsa menuju kelas setelah Salsa mendapati Alana yang berangkat sekolah bersama Rafli. Alana berhenti sejenak menatap Rafli yang berjalan bersama Nea bahkan pemuda itu merangkul bahu Nea dengan tawa kecil. Ah, apa yang sedang ia pikirkan. Sudah jelas Rafli hanya menjadikannya sebagai babu, dan status menjadi 'ceweknya' hanya akal- akalan Rafli agar ia benar- benar berada dalam genggamannya. Alana duduk dikursinya, disampingnya terdapat Salsa hingga seorang guru wanita memasuki kelas diikuti seorang pemuda yang mungkin adalah murid baru dikelas. "Hari ini, kalian kedatangan teman baru. Silahkan, perkenalkan nama kamu," titah guru tersebut. "Gue, Nathan Danial." Pemuda itu memperkenalkan diri hingga pandangannya tertuju pada Alana yang juga tengah menatapnya. "Ketemu lo!" "Dia liatin elo!" bisik Salsa yang juga disadari Nesya. "Kalian kenal ya?" tanya Nesya pelan. Alana menggeleng, rasanya ia belum pernah bertemu pemuda itu hingga Nathan duduk di kursi yang lumayan dekat dengan Alana. Jam istirahat tiba, Alana memutuskan pergi ke perpustakaan untuk menghindari Rafli sebentar saja. "Jadi, lo suka baca?" tanya seseorang duduk dihadapan Alana. Alana terkejut, Nathan Danial tersenyum padanya yang hanya ia balas dengan anggukan kecil. "Ibu lo, juga suka baca," ucap Nathan santai. "Ibu?" Alana menutup buku yang dibacanya menatap Nathan dengan tatapan tak biasa. "Kamu, tahu dimana Ibu aku?!" tanya Alana pada pemuda itu. "Mungkin," jawab Nathan mengangkat tangan mengusap air mata Alana. "Jawab! Dimana Ibu Aku!!" Alana mencoba tersenyum, benarkah? Ibunya masih hidup? Setelah meninggalkannya sejak kecil. "Jawab!!" pinta Alana lagi. Buk! Rafli datang, menggebrak meja hingga membuat beberapa orang terkejut. "Ikut gue!" tegas Rafli menarik Alana namun Alana enggan bergerak dari tempat duduknya. Nathan tersenyum miring pada Rafli, seolah merendahkan pemuda itu. "Jawab aku!" pinta Alana mengangkat tangan mengenggam bahu Nathan. "Alana!" Rafli bersuara, dengan tangan terkepal memaksa Alana pergi meninggalkan pemuda itu. "Kak Rafli!" bentak Alana sudah berderai air mata. "Tolong... kali ini aja..." ucap Alana membuat langkah Rafli yang baru keluar dari perpustakaan terhenti. Nathan berjalan dibelakang mereka dengan ekspresi santai. Bukh!! Alana menutup mulutnya tak percaya saat Rafli tiba- tiba saja menampar wajah Nathan hingga pemuda itu jatuh ke lantai. "Kak Rafli! Stop!!" cegah Alana namun Rafli yang sudah kelewatan emosi tak sengaja meyangkan sikutnya pada Alana. Alana terjatuh, Rafka yang melihat dari kejauhan langsung berlari membantu Alana bangkit disusul Nea dan Alden. "Rafli!" Nea menarik Rafli menjauh dari Nathan yang tertawa sambil mengusap sudut bibirnya yang terlihat berdarah. "Lana, nggak papa?" tanya Rafka menangkup wajah Alana dan saat Rafli menyadari kesalahannya, pemuda itu menunduk menyesal. "Enggak.." ucap Alana pelan. Rafka mendekatkan bibirnya meniup pelipis Alana yang sedikit membiru. Kali ini Rafli hanya diam hingga Nea menggenggam tangannya, dan Rafli malah memeluk gadis itu menahan sesak di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD