17

1014 Words
"Cowok tadi, ngomong apa?" tanya Rafli pada Alana. Gadis itu hanya diam menunduk takut tak berani menatap Rafli. "Alana! Jawab!" tegas Rafli menepikan mobilnya mencengkram dua bahu gadis itu. "Dia... ngomong soal Ibu aku," ucap Alana pelan. "Tiba- tiba Kakak datang, aku nggak bisa dengar penjelasan dia tentang Ibu, kenapa dia tahu kalau Ibu suka baca buku, kayak aku," jelas Alana membuat Rafli langsung menarik gadis itu kedalam dekapannya. "Maaf..." ucap Rafli begitu pelan. "Gue, nggak suka lihat lo sama cowok lain," ucap Rafli mengusap kepala gadis itu. "Kakak kira, aku suka ngelihat Kakak sama cewek lain?" tanya Alana pada Rafli. "Hah?" bingung Rafli melepas pelukannya menatap Alana. "Ulang," titah Rafli namun Alana menggeleng. "Ulang, apa yang lo omongin tadi, gue nggak dengar," ucap Rafli. "Hubungan Kakak... sama, Kak Nea..." ucap Alana menunduk takut hingga membuat Rafli tersenyum menepuk pelan kepala gadis itu. "Lo gimana sih? Nea itu udah gue anggap saudara sendiri!" jelas Rafli kembali melajukan mobilnya berniat mengantarkan gadis itu. "Beruntung banget ya, Kak Nea," ucap Alana kembali membuat Rafli menoleh padanya. "Dia cantik, banyak yang suka. Termasuk, Kak Rafli," tutur Alana, Rafli tersenyum mengacak pelan rambut gadis itu hingga membuat Alana menampilkan ekspresi kesal. "Lo kira, lo enggak beruntung?" tanya Rafli pada gadis disampingnya. "Hah?" tanya Alana bingung. "Sekarang lo itu cewek gue," ucap Rafli semakin membuat Alana bersedih. "Babu, Kakak..." ucap Alana memilih menatap jalanan. "Justru itu, gue merintahin elo buat jangan dekat- dekat sama cowok tadi, ngerti?" tanya Rafli penuh penekanan hingga Alana mengangguk. "Nanti malam, mau jalan- jalan?" tawar Rafli saat mobil sudah berhenti di depan rumah Alana. "Tadi malam kan udah?" tanya Alana bingung. "Ck! Tadi malam bukan jalan- jalan, tapi beli video game!" jelas Rafli dengan kesalnya. "Tapi, Kakak yang minta izin ke Ayah aku ya?" pinta Alana diangguki Rafli. "Udah sana, turun!" titah Rafli membuat Alana mengangguk hendak membuka pintu mobil namun Rafli menarik tangannya hingga bibir pemuda itu mendarat di keningnya. "Dah..." ucap Rafli membuat pili Alana memanas, dengan jantung berdetak cepat bahkan saat mobil Rafli sudah pergi. "Lana... kamu kenapa sih!" Alana merutuki dirinya sendiri lalu masuk kerumah. Rafli sudah tiba di mansion, menatap Rafka yang tengah bersantai di kamarnya sambil bermain ponsel. "Pergi lo!" usir Rafli melempar tasnya kepada Rafka. "Buset, sensian amat. Cewek lo gimana Pak Supir? Udah selamat sampai tujuan?" tanya Rafka dengan kekehan kecil bermaksud mencibir adiknya. "Bukan urusan lo! Dia punya gue, jadi terserah gue!" ucap Rafli didengar oleh Ray yang kebetulan berniat mengajak si kembar untuk shalat magrib. "Jangan ribut, ayo shalat?" ajak Ray pada dua puteranya. "Tadi Rafli berantem sama murid baru," adu Rafka membuat tangan Rafli terkepal. "Rafli, benar yang di bilang Kakak kamu?" tanya Ray mendekati Rafli. "Iya," singkat Rafli menyalakan layar video gamenya. "Kalau di suruh milih, pasti Alana lebih milih gue di banding elo," sinis Rafka. Rafli sudah bersiap melayangkan pukulannya pada Rafka namun dihentikan oleh Azka yang baru datang. "Yah, Rafli----" "Lo kenapa sih! Suka banget ganggu gue?!" tanya Rafli pada Rafka. "Aduin aja semuanya sama Ayah!" kesal Rafli duduk di sofa kamarnya dengan ekspresi tak bersahabat. "Rafli, maksa Alana buat jadi ceweknya!" "Terus, apa masalah lo?!" tanya Rafli pada saudaranya. "Alana itu, punya gue! Bukan punya lo! Gitu aja ribet!" gusar Rafli membuat tatapan kedua orang tuanya tertuju padanya. "Rafli, kalau kamu beneran anggap Alana sebagai punya kamu, jaga dia. Jangan bikin dia nangis kayak sebelumnya," ucap Ray mengusap punggung anaknya. "Rafka, Bun! Selalu ganggu kesenangan Rafli!" adu Rafli berbalik membuat Rafka berdecak lalu pergi disusul Azka. "Rafli nggak suka, dia dekatin Alana," ucap Rafli jujur. "Mulai sekarang, kamu harus tunjukin ke Rafka kalau kamu bisa ngejaga Alana, oke?" balas Ray mendapat anggukan kecil dari Rafli. "Malam ini, Rafli mau ajak Alana jalan- jalan," ucap Rafli, Ray mengangguk. "Yaudah, sana mandi. Bunda tunggu di mushola, terus kita makan malam dulu, baru kamu jalan- jalan sama Alana, ya? Anak ganteng..." Rafli tersenyum mendengar perkataan ibunya yang terdengar sangat tulus. Sedangkan disisi lain, Alana tengah menyantap makanan yang di beli oleh Ilham. Dengan ragu, Alana berucap. "Yah, Ibu masih hidup?" tanya Alana membuat aktivitas makan Ilham terhenti. "Lana, kok nanya itu?" tanya Ilham berusaha tersenyum. "Lana mau tau..." ucap Alana memberanikan diri. "Iya.." jawab Ilham pelan. "Alhamdulillah..." Alana tersenyum menatap makanannya. "Ibu, udah bahagia sama keluarga barunya," jawab Ilham cukup membuat hati Alana bagai di tusuk ribuan pisau. "Syukurlah..." balas Alana tersenyum menyembunyikan kesedihannya. "Lana, ke kamar dulu. Mau ngerjain tugas," ucap Alana berjalan meninggalkan Ilham yang sudah menangis tanpa suara menatap punggung puterinya. "Ternyata, Ibu masih hidup?" tanya Alana merebahkan diri dikasur, air matanya terus jatuh. Ia senang, mengetahui kabar kalau Ibunya masih hidup, tetapi ia juga berduka, mengapa sang ibu tak pernah menemuinya lagi. "Lana, kangen ibu..." isak Alana hingga ketukan pintu membuatnya segera bangkit mengusap air mata. Alana membuka pintu, betapa terkejutnya ia saat mendapati Rafli yang menatapnya dengan tatapan berbeda. "Maaf... aku lupa kalau malam ini Kakak ngajak jalan, tunggu ya! Aku---" Alana terkejut, saat Rafli memeluknya. "Jangan pernah, tinggalin gue, ya?" pinta Rafli pelan. "Kkk--- Kak..." gugup Alana membuat Rafli melepas pelukannya. "Aku, siap- siap dulu." Alana berucap mendapat anggukan dari Rafli yang kini bersantai di sofa. "Den, mau kemana?" tanya Ilham setelah membuatkan minuman untuk Rafli. "Jalan- jalan, Pak." Jawab Rafli seadanya tersenyum menatap minuman yang dibawa Ilham. "Alana, lagi sedih. Tadi dia nanya tentang Ibunya yang sudah pergi ninggalin kami sejak Alana kecil," ucap Ilham bercerita. "Saya harap, Aden bisa ngertiin Lana," pinta Ilham, Rafli mengangguk lalu meneguk minuman yang dibuatkan Ilham. "Ayah, Lana pergi dulu ya," ucap Alana mencium punggung tangan ayahnya. "Hati- hati," balas Ilham tersenyum menatap kepergian puterinya bersama Rafli. Kini keduanya sudah berada di mobil, Rafli menyetir dengan satu tangan dan satu tangan lagi menggenggam lembut tangan Alana, seolah memberi kekuatan untuk gadis itu. "Lana," panggil Rafli membuat Alana terkejut. "Mulai sekarang," ucap Rafli pelan. "Iya, kenapa?" tanya Alana antusias namun Rafli malah menggeleng, enggan mengutarakan isi hatinya. "Um, kita mau kemana Kak?" tanya Alana bingung. "Lo mau makan?" tawar Rafli. "Aku baru aja makan," jawab Alana jujur meski ia tak menghabiskan makanannya. "Yaudah, kita ke taman," ucap Rafli pada akhirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD