09

1047 Words
"Rafli, mau kemana?" tanya Azka yang kebetulan baru pulang. "Keluar," jawab Rafli menatap sang ayah. "Kerumah Alden ya?" tanya Ray setelah mencium punggung tangan suaminya, dan Azka langsung mengecup singkat kening Ray. Hal itu sudah terjadi selama pernikahan mereka, terlihat sangat manis, pikir Rafli yang tersenyum tanpa menjawab pertanyaan ibunya. "Rafli?" tanya Ray memastikan. "Apartemen, Rafka ganggu main game," jawab Rafli pergi begitu saja dengan mobil hitamnya. "Rafli bukan anak kecil lagi, jangan khawatir," ucap Azka membuat Ray menatapnya setelah membiarkan Rafli pergi. "Aku cuman takut, Rafli mulai tertutup sama kita," ucap Ray jujur. "Kita jarang ngobrol sama dia," tambahnya membuat Azka juga merasakan hal yang sama. Sementara itu, Rafli mengemudi dengan kecepatan tinggi berniat pergi ke apartemen miliknya yang memang diberikan oleh orang tuanya. Sebab Rafli memang suka sendiri, menghindari gangguan dari Rafka. Ponselnya berdering, dan ternyata panggilan yang berasal dari saudaranya. Rafli tak menjawab memilih mematikan ponselnya berniat menaruhnya di laci mobil. Tiba- tiba saat pandangan Rafli sudah tertuju pada jalanan. Kakinya dengan cepat menginjak rem hingga kepalanya hampir terbentur stir mobil. Rafli menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya dan saat ia turun dari mobil memastikan apakah ia menabrak orang itu, atau tidak. Untungnya, tidak. Seorang gadis berjongkok menutup dua telinganya dengan tangan. "Heh!" tegur Rafli membuat gadis itu membuka mata. "Maaf!" Rafli bersuara membuat gadis itu mengangkat wajah. "Elo!" bentak Rafli menarik Alana ke tepi jalan yang lumayan sepi itu. Rafli memperhatikan sekitar, untung saja tak ada yang menyadari kejadian tersebut. "Lo pikir ini FTV! Untung gue sempat nginjak rem!" ucap Rafli masih menggenggam erat tangan Alana. "Maaf... tapi, mobil Kakak, cepat banget," ucap Alana membela diri. Sebab, untuk apa ia menyeberang jalan jika akan ada mobil yang lewat. "Nyalahin gue? Lo berani sama gue?" tanya Rafli. Alana menggeleng pelan, "maaf." Ucap gadis itu hingga membuat Rafli semakin kesal. "Ganti rugi!" Alana melotot menatap Rafli. "Ganti rugi, buat apa? Uang Kakak kan banyak," ucap Alana dengan polosnya. "Lo! Benar- benar ya!" Rafli mengambil sesuatu dari mobilnya yakni ponsel mahalnya membuat Alana terkejut. "HP gue! Retak!" ucap Rafli memperlihatkan layar ponselnya yang tak bisa menyala, padahal memang ia matikan. Retak tersebut, juga sudah sejak lama sejak Rafka tak sengaja menjatuhkan ponsel miliknya. "Aku... nggak punya uang, HP Kakak, mahal banget!" ucap Alana kaget. "Makanya! Jangan cari mati!" kesal Rafli melempar kembali ponselnya kedalam mobil lewat celah kaca hingga membuat Alana kembali terkejut. "Ayo! Ganti!" Rafli menadahkan tangan, membuat Alana semakin bingung. Uang jajannya sebulan, bahkan tak mampu mengganti ponsel Rafli. Apakah Rafli memang ingin mempermainkannya. "Oh gue tau!" Rafli bersuara saat Alana membuka mulut. "Elo kan, anak satpam..." ucap Rafli tersenyum sinis. "Kak.." pelan Alana menundukkan wajah. Ia sudah menduga, Rafli akan kembali menghinanya. Perlahan, hujan turun dengan derasnya seiring pipi Alana yang basah akibat air mata. Alana terkejut, saat Rafli kembali menarik tangannya untuk menghindari hujan dengan membawanya masuk kedalam mobil. "Kak Rafli." Alana bersuara, menatap Rafli yang basah kuyup sebab membuka dan menutupkan pintu mobil untuknya. Rafli mengambil ponsel miliknya lalu menyalakannya. Tanpa memperdulikan Alana yang sedikit kesal sebab ternyata Rafli memang mempermainkannya. Baru saja ponsel mahal itu menyala, pesan beruntun juga panggilan tak terjawab membuat Rafli berdecak. "Lo dimana sih?!" "Di jalan!" jawab Rafli pada panggilan Rafka. "Pulang kek! Mana kamar di kunci, gue kan mau numpang tidur di kamar lo!" "Kamar lo kan ada! Gimana sih!" decak Rafli mulai melajukan mobilnya ditengah guyuran hujan yang begitu deras tanpa mengingat seseorang yang berada disampingnya. "Kak Rafli! Turunin aku! Aku mau pulang!" Rafli menoleh, spontan mengerem menatap Alana dengan tajam. "Sama siapa lo?" "Bukan urusan lo!" tegas Rafli lalu menutup panggilan tersebut. "Kok lo disini?!" tanya Rafli ingin marah. "Kakak, yang narik aku..." jawab Alana menunduk takut. "Gue kenapa sih!" Rafli berucap dalam hati sambil mengacak pelan rambutnya. "Karena lo udah disini! Lo harus ikut gue!" ucap Rafka ditolak mentah- mentah oleh Alana yang ingin pulang. Pasti, ayahnya sudah menunggu setelah ia berpamitan ingin membeli alat tulis di warung dekat gang rumahnya. "Enggak! Aku mau turun!" Rafli tersenyum sinis mengunci mobil dengan otomatis membuat Alana hanya bisa memukul- mukul kaca mobil. "Kakak mau bawa aku kemana?!" tanya Alana was- was, ditambah ia hanya mengenakan pakaian seadanya dan tak membawa ponsel, takut Rafli melakukan hal yang tidak- tidak padanya. "Kak!" cegah Alana saat Rafli bersiap tancap gas lagi. "Aku... takut... hiks!" Alana menangis dengan menundukkan wajah, bibirnya bergetar dengan wajah pucat pasi. "Ck!" Rafli berdecak. "Beresin apartemen gue!" ucap Rafli bermaksud memanfaatkan Alana. "Hah?" Alana mengangkat wajah mengusap pipinya. Rafli tak menjawab, langsung menginjak pedal gas dan kali ini Alana diam saja menatap keluar jendela hingga mobil berhenti diparkiran gedung apartemen mewah. "Kak?" tanya Alana saat Rafli turun dari mobil membuat Alana juga turun. Gadis itu menatap polos pada Rafli, dan saat Rafli kembali menarik tangannya tanpa menghiraukan tatapan security yang memang mengenalnya. "Kak, kita mau kemana?" tanya Alana saat mereka memasuki lift. "Sekali lagi lo nanya, gue jahit mulut lo!" ancam Rafli membuat Alana menutup mulutnya rapat- rapat hingga lift kembali terbuka dan Rafka berhenti didepan sebuah kamar masih menggandeng tangan Alana. "Kak, kita---" Alana menghentikan kalimatnya saat mereka berdua sudah masuk ke apartemen yang lampunya menyala otomatis saat Alana melangkah mengitari tempat sekitarnya berdiri. Gadis itu tersenyum membuat Rafli diam saja didekat pintu. Rafli mengambil alat pembersih lantai lalu menyerahkannya pada Alana. "Ini apa?" tanya Alana memegang alat tersebut. "Cepat, bersihin!" titah Rafli melangkah menuju sofa menyalakan layar televisi besar yang langsung terhubung pada video game yang memang tersedia di apartemennya. "Caranya?" polos Alana menatap punggung Rafli. "Aku biasa bersih- bersih pakai sapu sama pel," ucap Alana lagi. "Yaudah sapu, pakai tangan!" sinis Rafli mulai bermain game. "Buat pelnya, lepas aja baju lo." Ucap Rafli membuat Alana menganga dengan wajah merah padam. Gadis itu memilih duduk didekat pintu tanpa bertindak apapun sampai Rafli menoleh padanya. "Ngapain lo!" kesal Rafli namun Alana tak menjawab. "Aku, nggak suka sama Kakak!" ucap Alana memberanikan diri. "Bagus, bukannya itu yang diminta Rafka?" tanya Rafli pada gadis itu. Alana terdiam, kembali teringat perkataan Rafka. "Iya..." pelan Alana menundukkan wajah. "Masak sesuatu, di dapur!" tunjuk Rafli. Alana menyerngit bingung. "Cepetan sana!" perintah Rafli kembali menatap layar besar dihadapannya. "Ini balas budi!" dingin Rafli membuat Alana bergegas mengikuti telunjuk pemuda itu. Alana membuka kulkas, banyak bahan makanan yang tersedia. Pertanyaannya, ia harus memasak apa untuk pemuda menyebalkan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD