10

1137 Words
"Kak Rafli... masakannya, udah jadi," ucap Alana memanggil membuat Rafli menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. "Aku, masak sup." Alana bersuara setelah Rafli duduk dikursi meja makan menatap piring saji yang terlihat menggiyurkan. "Enggak lo kasih racun kan?" tanya Rafli. "Enggak!" jawab Alana cepat. "Mana sempat ngasih racun!" ucap Alana dengan polosnya membuat Rafli melotot padanya. "Ups.. maksud aku... aku," ucapan Alana terhenti saat Rafli menarik satu kursi, yang artinya Rafli ingin Alana duduk bersamanya. "Aku bikin teh hangat dulu!" ucap Alana. Rafli mencicipi sup tersebut, menatap Alana yang tengah menyiapkan minuman untuknya. "Lo berbakat juga jadi babu gue," ucap Rafli sinis. Pergerakan Alana terhenti, ekspresinya berubah murung setelah menyerahkan gelas teh dihadapan Rafli. "Duduk," titah Rafli menyantap masakan Alana dengan lahap. "Aku, bukan babu Kakak." Ucap Alana menatap Rafli yang kini juga menatapnya. "Malam ini lo disini," dingin Rafli tanpa memperdulikan ekspresi Alana. "Kak! Aku harus pulang!!" tukas Alana gelisah, mondar- mandir menggigit jarinya. "Aku, bisa pulang sendiri kok!" ucap Alana lagi. "Yaudah pulang," sinis Rafli enggan menatap gadis itu. "Antarin, aku keluar... aku takut nyasar, gedung ini besar banget!" ucap Alana jujur sembari duduk dikursi menatap Rafli dengan berbinar. "Enggak." Alana menghela napas, merebahkan kepalanya di meja makan menatap Rafli yang tak menampilkan ekspresi apapun saat menyantap masakannya. "Kak, aku mau pulang..." pinta Alana lagi. Rafli menghentikan makannya, menatap gadis itu hingga membuat Alana spontan bangkit, bersiap lari takut Rafli kembali memarahinya. "Kalau gue bilang enggak, ya enggak!" kesal Rafli dengan sengaja menumpahkan air di lantai. "Bersihin!" ucap Rafli kemudian pergi kembali ke layar video gamenya. "Aku salah apa..." isak Alana mengelap lantai dengan kain. Air matanya mulai mengalir, hanya detik jam dinding yang menemaninya hingga selesai mencuci piring. Alana duduk dilantai, mencoba menghangatkan dirinya dengan memeluk lulutnya sendiri sampai Rafli datang. "Ayo," ucap Rafli. "Pulang?" tanya Alana berbinar. "Tidur," singkat Rafli. "Kak Rafli!" kesal Alana enggan bangun dari duduknya. "Jangan mikir aneh- aneh! Gue serius!" Rafli menarik tangan Alana mengantarkan gadis itu memasuki sebuah kamar. "Tidur!" perintah Rafli. "Hah?" Alana bergumam menampilkan ekspresi bingung. "Ini udah tengah malam! Lo tinggal tidur, apa susahnya sih!?" tanya Rafli kesal. "Tapi... kita, bukan mahrom." Alana berucap dengan wajah memerah menatap Rafli yang langsung mendatarkan ekspresinya. "Kunci pintunya," titah Rafli keluar dari kamar tersebut. Alana menuruti perintah pemuda itu dan kini, ia menatap bingung pada kasur yang terlihat sangat empuk itu. Alana merebahkan dirinya, memegang perutnya yang terasa lapar. Dilihatnya waktu sudah menujukkan pukul dua belas malam. Bagaimana ia menjelaskan pada ayahnya tentang kejadian ini. Sedangkan disisi lain, Ilham mengayuh sepedanya hingga berhenti di depan sebuah rumah mewah yang tiada lain adalah rumah Salsa. Ia juga kenal baik dengan satpam rumah Salsa. "Alana main kesini ya?" tanya Ilham pada Bian, satpam rumah Salsa. "Alana? Enggak, Pak. Non Salsa sama orang tuanya lagi makan diluar, mungkin mereka nginap di hotel," jelas Bian pada Ilham. "Duh, Alana dimana ya?" gumam Ilham panik. "Yasudah, terimakasih, saya permisi." Ilham pergi mengayuh sepedanya, hujan mulai reda, tak kunjung meredakan kekhawatiran Ilham pada keberadaan puterinya. "Lana, semoga kamu baik- baik aja," ucap Ilham pasrah. Alana tak dapat tidur, gadis itu bangkit dari kasur menatap jam dinding yang menunjukkan pukul dua. Ia melangkah keluar kamar mendapati Rafli masih bermain game dengan serius. "Kak Rafli," panggil Alana membuat Rafli menoleh. "Aku... boleh makan sisa makanan Kakak tadi?" tanya Alan ragu. "Astaga, jadi lo belum makan?" tanya Rafli tak percaya. Alana mengangguk memegang perutnya. "Yaudah sana!" titah Rafli membuat Alana tersenyum lalu melangkah menuju dapur. Gadis itu kembali memanaskan sup, bahkan ia juga menyempatkan untuk memasak nasi untuk makan Rafli di pagi hari. "Enggak bisa tidur?" tanya Rafli mengambil minuman soda di kulkas. "Kakak nggak tidur?" tanya Alana balik. Rafli tersenyum tak menjawab lalu duduk dikursi menatap Alana yang tengah menyantap makanan, sesekali gadis itu tersenyum membuat Rafli juga tersenyum. "Kak, liatin apa?" tanya Alana menoleh kebelakang. "Elo," jawab Rafli kembali meneguk minuman sodanya. "Kakak begadang terus ya?" tanya Alana pada Rafli. "Emang Kakak mainin apa sih? Asik banget sampai nggak tidur," tanya Alana lagi mengakhiri makannya. "Hoam... gue ngantuk. Lo tidur di sofa, gue dikamar!" ucap Rafli membuat Alana tak percaya mendengar perkataan pemuda itu, tapi apa boleh buat. Yang memiliki tempat ini adalah Rafli dan Alana bisa apa. Alana duduk di sofa, mencoba memejamkan mata. Ia mengubah posisi, bahkan sampai duduk dilantai dengan kepala yang berada di sofa. "Dingin..." ucap Alana mulai larut dalam tidurnya. Alana kembali membuka mata dengan sayu merasakan tubuhnya melayang hingga ia berada dikasur empuk. Rafli menarik selimut tebal menutupi tubuh gadis itu. Pemuda itu melangkah menuju balkon menatap pemandangan kota lewat apartemennya yang berada di lantai lima. Udara begitu sejuk meski terasa dingin, sesekali ia menoleh pada Alana yang nampak nyaman dalam tidurnya. "Gue pingin, berhentiin waktu..." Rafli berucap sebelum meninggalkan kamar lalu merebahkan tubuhnya di sofa dengan mata yang mulai terpejam. Jam demi jam berlalu, Alana membuka mata menatap jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Perlahan, gadis itu melangkah keluar dari kamar membawa selimut dan benar saja kalau Rafli tidur di sofa memeluk diri sendiri. Alana menyelimuti pemuda itu, bahkan sempat menyentuh kening Rafli memastikan suhu tubuh pemuda itu. "Tuh kan, aku udah duga kalau Kak Rafli demam," gumam Alana mengingat Rafli sempat terkena hujan, Alana melangkah pergi dan kembali membawa baskom dengan kain. Gadis itu berlutut di lantai, menaruh kompresan di dahi Rafli hingga tanpa sadar, Rafli membuka mata. Alana gelagap dan saat ia hendak pergi Rafli menarik tangannya hingga ia terjatuh tepat dalam dekapan pemuda itu. "Biar, gini dulu..." parau Rafli menenggelamkan wajahnya di lekukan leher gadis itu. "Kak..." ucap Alana lebih takut dari sebelumnya. Ini adalah kali pertama ia bermalam dengan seorang lelaki di tempat yang bahkan tak ia ketahui. Apakah ayahnya akan marah mengetahui hal ini, atau lebih parahnya lagi mungkin ia akan di usir dari rumah. Alana menggeleng, membuat Rafli kembali membuka mata. Rafli berdehem pelan, melepaskan pelukannya pada gadis itu dan Alana langsung turun dari sofa menatap Rafli yang sudah memejamkan mata. "Badan Kakak panas," ucap Alana berniat menaruh kembali kain kompres. "Ck, bukan urusan lo. Pergi," usir Rafli mengubah posisi membelakangi Alana. Alana terdiam, lalu mengangguk. Tanpa sengaja Alana melihat notifikasi pesan dari ponsel Rafli. "Kak Rafli, shalat subuh yuk?" ucap Alana ragu membuat Rafli membuka mata dengan anggukan kecil. Alana tersenyum, setelah membaca pesan singkat dari ibu pemuda itu. "Disini, ada mukena?" tanya Alana lagi. Rafli tak menjawab beranjak menuju kamar membuat Alana melangkah mengikuti meski dengan langkah kecilnya. "Ganti pakaian lo," titah Rafli menyerahkan mukena dan juga sebuah kemeja polos lengkap dengan rok dibawah lutut milik Nesya yang tertinggal. "Di kamar mandi, Alana!" ucap Rafli seolah mengerti hanya dengan melihat ekspresi gadis itu. "Oke!" balas Alana membawa pakaian tersebut namun langkahnya terhenti menatap Rafli yang ternyata masih menatapnya. "Kakak, juga. Tadi malam kan, kehujanan..." pelan Alana lalu masuk kekamar mandi setelah Rafli mengangguk dengan senyum tipis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD