Bab. 11

1870 Words
Fazhura; Pesanan yang mana Ammi? Perlengkapan buat kuliah ya? Ammi Ilham; Alhamdulilah wasyukurilah, akhirnya Fazhura udah lupa sama pesanan I-phone-nya. Fazhura; Eh, enak aja! Kagak ih!!! Tetap dong, kalau gitu ayok cepetan Ammi, Fazha tunggu nggak pake lama!!! Ilham; Dasar tukang palak! Ilham mengulum senyum sesaat setelah mengakhiri percakapannya dengan Fazhura melalui pesan singkat. Rasanya berkomunikasi dengan Fazha menjadi moodboster tersendiri bagi Ilham. Tadinya berniat mengulur janji. Akan membelikan pesanan Fazhura nanti saja kalau proyek yang ia tangani selesai. Tetapi Ilham berubah pikiran. Siang ini dia berencana membawa Fazha ke salah satu mall terdekat, lalu akan membiarkan Fazha memilih sendiri barang yang diinginkan. Apalagi siang ini Ilham sedang free, tidak banyak kerjaan, hanya meeting membahas proyek baru yang akan ia tangani bersama Akbar nanti. Jadi Ilham pikir lebih baik sekarang saja, daripada nanti dia akan di sibuk kan dengan pekerjaan, dan pasti akan jarang ada waktu luang. "Mas Vro, ke kantin yok. Maksi kita, sambil cuci mata sama anak FO," seloroh Akbar, mengajak Ilham ke kantin untuk makan siang. "Sorry ye Bar. Gue nggak level makan di kantin. Lo aja sana. Gue udah ada janji sama seseorang," sahut Ilham dalam gurauan. Tentu dia tidak benar-benar dalam berucap. Hanya candaan saat mengatakan 'tidak level makan di kantin.' "Widih, baru juga sehari di sini, udah punya seseorang aja." "Iya dong. Emangnya lo, Bar-Bar! Gue cabut ya. Bubayy Bara-Bere." Ilham melengang meninggalkan kubikel menuju parkiran. Bergegas menyusul Fazhura ke kampus lalu, mereka akan ke mall terdekat untuk mencari pesanan Fazha. *** Mata Ghaly membeliak. Laki-laki itu dibuat tercengang saat rungunya mendengar tutur cerita Satya. "Yang benar Sat?" tanyanya tak percaya "Demi Allah, tanya sama istri Ana, kalau ente nggak percaya. Dia saksinya." Ghaly mengusap wajahnya dengan kasar saat usai menyimak cerita Satya sore kemarin. Kecemasan Fazhura membuahkan kenyataan. Satya yang kemarin bertolak ke Surabaya, sengaja menyempatkan bertemu dengan Ghaly, lalu menceritakan perihal pertemuannya dengan Ilham-Fazhura yang kala itu berduaan di apartemen Ilham. "Bukan bermaksud untuk suudzon atau apa-apa Li. Tapi ente tau sendiri, kan, kalau anak perempuan itu tanggung jawabnya gede. Memang sih, tidak ada ikatan darah, dan Fazhura hanya anak angkat, tapi tetap nanti kalian sebagai orangtua yang mendidik yang akan dimintai pertanggung jawaban." Satya kembali memberi peringtan pada Ghaly. Lelaki itu mengangguk, setuju dengan penuturan sahabatnya. "Iya. Ana paham Sat. Malah makasih ente udah perhatian. Andai saja ente nggak cerita, trus Ana nggak tau dan malah membiarkan Fazha berkhalwat terus sama bang Ilham, pasti Ana bakal merasa, jadi orangtua yang dzalim, karena membiarkan mereka. Meskipun percaya kalau bang Ilham nggak bakal macam-macam, tapi tetap saja rasanya was-was. Apalagi seumuran Fazha sedang masa-masanya beranjak dewasa, masanya perasaan ditumbuhi rasa cinta." Ghaly membalas dengan lugas dan bijak. Bagaimanapun Fazhura merupakan tanggung jawabnya dan Illyana. Meskipun Ilham dan Fazhura dekat dari Fazha kecil, tetapi Ghaly tidak bisa angkat tangan begitu saja. Sedekat apapun, mereka bukan mahram, tidak baik jika berduaan terlalu sering. **** Fazhura mengayun langkah dengan semringah siang ini. Usai menuntaskan makan siangnya di kantin kampus, Fazha bergegas menuju gerbang, menunggu kalau-kalau Ilham sudah datang menjemputnya. Suara klakson mobil menyatroni telinga Fazhura, disertai lambain tangan saat kaca mobil setengah terbuka. Fazhura setengah berlari menghampiri mobil tersebut. Langkahnya lebar dan cepat. Saking senangnya, Fazha tidak sadar kalau di depannya ada bongkahan batu lumayan besar. "Aduuh!! Awwwsh...!" Fazhura meringis. Merasai kakinya nyeri. Sedikit bercak darah merembes menembus kaos kaki Fazha. Terduduk sambil menahan sakit, lebih dari itu, Fazha sudah tidak peduli jadi tontonan lalu-lalang orang yang melintas. "Fazhura Althafunisa! Kebiasaan ya, ceroboh. Ngapain lari-larian sih. Kalau kayak begini siapa juga yang repot?" Ilham mendengkus. Fazha dari dulu tidak pernah berubah. Ceroboh dan kadang berakibat merugikan dirinya sendiri. "Ih, yaudah sih Ammi! Nggak usah ngomel. Kan Fazha kesenangan, makanya tadi ga sadar lari-larian. Bantuin Ammi, jangan dimarahin." "Yaudah kita ke apartemen Ammi saja dulu, itu luka kamu harus cepat diobati." "Kelamaan Ammi, Fazha nggak apa-apa kok." "Fazhura Althafunnisa, kita obati dulu atau tidak jadi i-phonenya!" Fazha menurut. Amminya itu kalau sudah memanggilnya dengan sebutan nama lengkap itu artinya lelaki itu tak mau ada bantahan. "Eh, jangan dong Ammi. Enak saja, sudah janji masak mau dibatalin. Bintitan ntar Ammi matanya. Yaudah diobatin dulu, tapi ke kost-an Fazha saja ya Ammi, kan dekat dari sini daripada ke apartement Ammi." Ilham tak menjawab, tapi bergegas membatu Fazhura berdiri lalu membawa gadis itu ke kost-nya, guna mengobati luka Fazha agar tidak infeksi. "Awwwwsh..sakit Ammi, pelan-pelan dong perih ini." "Tahan dong Fazha, makanya jangan gerak-gerak terus, tambah sakit nanti kalau kamu berontak terus." "Udah dong Ammi, Fazha udah nggak tahan. Aaawwwhs, sakit!" "Eh, maaf Ammi khilaf, terlalu kenceng nekannya. Tahan ih! bawel banget sama kayak si liliput. Ini nanti bisa infeksi kalau nggak dikasih antiseptik." Ilham tak memperdulikan rancauan Fazha dan terus menekan kulit gadis itu dengan sehelai kapas yang telah dibubuhi antiseptik. Braaaaak!!!' Suara dentuman pintu dibuka paksa. Ilham yang tengah takzim mengobati luka Fazhura sampai terkaget. Sementara Fazhatergagap kaget, dan reflek kedua tangannya mengait erat pada leher Ilham. "Astaghfirullah..Fazha! jadi begini kelakuan kalian di belakang kami?" "Uum..mi, Abi. Bukan begitu, tidak seperti yang Ummi lihat. Iya kan Ammi," ucap gadis itu tiba-tiba berkeringat dingin. Rasanya seperti berada di pengadilan sang hakim, dan dia menjadi tersangka utamanya. Peluhnya bertambah deras. Tangannya berkeringat dingin akibat rasa cemas. "Yabuseet Lo berdua! Gue nggak ngapa-ngapain kali!" "Keterlaluan lo Ham! ponakan sendiri dikhilafin. Abi Fariz dan Ummi juga sedang menuju kemari, dan kalian harus bersiap menerima segala resiko akibat perbuatan kalian ini," ucap Ghaly dengan tatapan tajam. Netranya menyirat kecewa. "Abi, dengerin penjelasan Fazha Bi. Fazha sama Ammi nggak ngapa-ngapain." "Berduaan di dalam kost, dengan pintu tertutup. Kamu bilang nggak ngapa-ngapain? Ummi kecewa sama Fazha. Apalagi sama bang Ilham." Illyana hampir menangis saja rasanya. Selama ini berusaha menutup mata akan kedekatan Fazha dan Ilham. Menganggap hal lumrah kasih-sayang diantara mereka. Lalu sekarang Illyana dibuat membeliak, kaget. "Yaelah lo berdua ya! m***m amat pikirannya. Mana mungkin sih gue bisa khilaf sama Fazha." Ilham memicingkan mata. Agak menyesal kenapa tadi membiarkan pintunya tertutup. Padahal biasanya terbuka lebar, agar orang tidak salah paham seperti saat ini. Kemarin setelah mendengar cerita Satya--Ghaly langsung berinisiatif mengadakan musyawarah bersama kedua mertuanya. Abi Fariz dan ummi Lila hanya angut-angut, setuju dengan usulan Ghaly. Apalagi Ummi Lila sudah dari lama mencium gelagat aneh pada tatap Ilham untuk Fazha. Setelah membicarakan dan untuk kemaslahatan bersama, mereka sepakat terbang ke Jakarta, guna membuktikan sendiri apa yang Satya omongkan. "Abi kecewa sama Abang Ilham! Kenapa bisa sampai tidak amanah begini. Bilangnya mau bantu ngawasin Fazha, makanya Ilham terima waktu dimutasi dan pindah ke apartemen. Fazha juga begitu, kalau tahu begini kemarin nggak usah dikasih ijin tinggal di kost saja." Abi Fariz menatap lekat pada Fazha dan Ilham secara bergantian. Matanya menyiratkan kekecewaan. Sementara ummi Lila hanya bergeming. Tak bisa berkata-kata. Ilham yang kini berusia 36 tahun dan masih betah sendiri, jika ditanya tentang calon istri dan pernikahan selalu saja mengelak serta bungkam, tidak menyangka akan melakukan hal nekat pada Fazha, keponakannya sendiri. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah. Tetapi ini benar-benar memukul telak perasaan perempuan paruh baya itu. "Abi, dengerin penjelasan Ilham dulu. Jangan asal nuduh dong. Mana mungkin sih, Ilham berbuat macam-macam sama Fazha." Ilham berusaha membela diri. "Fazha bilang sama Ummi, diapain aja sama Ammi?" Illyana ikut-ikutan mengorek keterangan. Matanya menyelidik dengan tatapan curiga. "Ammi cuma khilaf sedikit kok tadi Ummi. Tapi udah nggak sakit lagi sekarang." "Fazha, mulutmu! Kapan Ammi khilaf?" ah, Ilham merasa ingin melemparkan sesuatu saat ini juga. Pernyataan Fazha bisa-bisa menambah runyam hidupnya. "Tadi, waktu Ammi terlalu kenceng nekan Fazha, kan perih banget rasanya," sahut Fazhura. Gadis itu juga merasa ketakutan saat ini. Apalagi melihat ekspresi tatapan orang-orang di sekelilingnya. "Stop! Sudah jangan diteruskan Fazha. Ummi malu sendiri mendengarnya. Kalian berdua ini benar-benar memalukan. Abang Ghaly bagaimana ini?" "Tidak ada jalan lain. Sudah terlanjur basah. Kita nikahkan saja Ilham dan Fazha." ucap Ghaly tegas. "Hah? Menikah?!!!" Ilham dan Fazha saling melempar pandangan, tak percaya dengan pendengarannya barusan. Ini benar-benar seperti mimpi buruk bagi keduanya. "Yabuset!! Keterlaluan lo Ghaly. Masa gue disuruh nikahin bocah ingusan." "Ammi! Fazha nggak ingusan ya!" Lagian siapa juga yang mau. Fazha nggak mau ih. Apalagi sama Ammi, abege tua!" "Kalian nolak buat dinikahin. Tapi terus saja berkhalwat. Berduaan kemana-mana. Ilham juga, paham kan hukumnya gimana? Fazhura bukan mahram, Bang." Abi Fariz menjejali keduanya dengan rentetan ceramah. "Paham Bi. Lagian kita juga nggak ngapa-ngapain. Orang cuma mau jalan bareng doang ke mall." Ilham berkata dengan mimik wajah tak bersalah. "Sudah. Abi nggak mau tau! Kalau Abang nggak mau dinikahkan sama Fazha, ikuti syarat yang Abi berikan." "Lha? Abi, nggak adil itu namanya. Tabayyun dong Bi." "Tabayyun apa, sudah jelas di depan mata kok. Jalan berdua bukan mahram juga dosa Abang. Abi dan Ummi nggak mau lagi ambil resiko. Syarat dari Abi dan semuanya, kalau Abang Ilham nggak mau nikah sama Fazhura. Abi kasih waktu satu bulan buat Abang bawa calon istri ke hadapan Abi dan Ummi." Tutur Abi Fariz memberi pilihan. "Ebuset! Abi ini. Emangnya nyari calon istri segampang order barang ke Zilingo. Abi nggak fair. Lo juga Ghaly, bantuin gue, malah diem bae semuanya." "Fazha juga. Satu bulan ini nggak boleh deket atau ketemu sama Ammi Ilham. Kalau Fazha langgar, konsekuensinya kembali ke poin satu. Kalian nikah saja, biar kami juga nggak was-was terus." Lagi. Jelas abi Fariz. Kali ini netranya menyorot pada Fazhura. *** Ilham menyantap makan malamnya kali ini dengan tidak berselera. Setelah insiden 'penggrebekan' mendadak oleh keluarganya siang tadi, kini otak Ilham dijejali dengan berbagai angan dan pikiran. Apalagi bila teringat syarat yang diajukan oleh Abi-umminya. Ilham mau pingsan saja rasanya. Mana bisa dalam waktu yang sesingkat-singkatnya akan mendapatkan calon istri lalu, dibawa ke hadapan keluarganya. Halah! Mustahil Vro! Kalau bukan karena keajaiban Tuhan semata. Lalu opsi kedua. Jika dalam tempo satu bulan Ilham tidak bisa membawa calon istri ke hadapan mereka---dia akan dinikahkan dengan Fazhura. Menikah memang impiannya yang belum terwujud. Tapi menikah dengan Fazha. Ilham malah tidak pernah membayangkan sedikitpun. Kalau sampai kejadian, akan bagaimana nanti hubungannya dengan Fazha. "Ham, kasihan itu makanan, lo aduk-aduk mulu dari tadi. Pusing dia kalau bisa ngomong." Akbar menginterupsi Ilham dengan tegurannya. "Bodo amat! Nggak nafsu gue." "Jangan bilang lo nafsunya sama gue? Alemong Mas Vro, jangan nodai diriku yang masih sucih ini." canda Akbar. Laki-laki itu sengaja Ilham ajak untuk tinggal bersama di apartemennya. Daripada Akbar ngekos atau mengontrak rumah, toh apartemen Ilham masih lebih dari cukup untuk tinggal berdua. "Najis! Gue nggak mood becanda Bar. Pusing pala gue." Ilham mendelik. Sejurus kemudian beranjak, melenggang ke dalam kamarnya meninggalkan Akbar yang dengan dahi berkerut karena bingung. **************???************** Saya ngetik ini sambil cekikikan sendiri. Ngebayangin kalau Ilham dan Fazha jadi dinikahkan. Lalu, nanti kira-kira panggilan Fazha ke Ilham akan berubah jadi apa ya? Mas? Aa? Kak? Abang? Ayah? Papa? Sayang? Ayang? Honey bunny sweety preketiew...? ??? Bhahaaks.. Kok aneh ya. Saking udah terbiasa manggil Ammi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD