"Kamu dan Fazhura menikah saja!"
Ilham berjalan mondar-mandir sendiri depan kubikelnya. Otaknya sibuk memikirkan apa yang dikatakan oleh abi Fariz. Angannya terbang ke waktu siang kemarin, saat dia dan Fazha yang tiba-tiba digerebek tanpa ada penjelasan.
Abi-umminya serta semua orang menyudutkan keduanya tanpa ada proses tabayyun lebih dulu. Ilham kesal. Perasaannya diruangi rasa cemas. Apalagi tentang pengajuan syarat yang abi Fariz katakan. Jika dalam tempo satu bulan Ilham harus bisa membawa calon istri ke hadapan mereka. Dia dan Fazha akan dinikahkan.
Menikahi Fazhura?
Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Ilham. Dia menyayangi Fazha, itu benar. Tetapi tidak lebih dari kasih sayang seorang saudara. Dia nyaman. Itu juga benar, bahkan Ilham bisa sakit kepala kalau sehari saja tidak mendengar suara Fazha. Lalu, tiba-tiba kebersamaannya dengan Fazhura harus dibatasi dengan adanya insiden tadi siang.
Di mana ada dirinya, di situ ada Fazhura. Mereka berdua seperti sendok dan garpu. Tidak sama, tapi saling melengkapi. Sampai keseharian masing-masing keduanya tahu satu sama lain.
Tentang makanan kesukaan. Hobi, serta aktivitas, juga kebiasaan-kebiasaan kecil yang biasa dilakukan, keduanya hapal.
Ilham tidak akan lupa, kebiasaan Fazhura yang kemana-mana selalu tak tertinggal selalu membawa minyak kayu putih dan colonge bayi. Fazhura beralasan, sebab perempuan muslim itu dilarang memakai bau-bauan yang menyengat seperti parfum apabila keluar rumah. Adzabnya pun tak main-main, jika seorang perempuan melintasi kau lelaki sedang darinya menguar bau wangi, itu dosanya sama saja dengan zina.
Makanya minyak kayu putih serta colonge khusus bayi sengaja dia bawa, sekadar untuk menyegarkan, bukan mengharumkan.
Mengingat kebiasaan Fazha, menjadikan otak Ilham seketika dipenuhi dengan wajah Fazha. Rabbi, Ilham tahu dia tidak boleh terlalu memikirkan Fazhura. Tetapi akalnya tidak bisa memungkiri akan hal tersebut.
Kemarin siang setelah insiden mengagetkan sekaligus memalukan itu, rencana mereka pergi ke mall dan mencari pesanan Fazha pun gagal total. Sebersit rasa bersalah sempat menyergap hati Ilham, apalagi saat melihat raut wajah Fazha yang tidak biasa. Gadis itu tiba-tiba meredup, tidak ceria seperti biasanya.
"Biar Ummi saja yang menemani Fazha nyari pesanan yang Ilham janjikan."
Ucapan ummi Lila siang kemarin saat Ilham menjelaskan perihal kedatangannya menemui Fazhura. Fazha menggeleng. Dia bilang sudah tidak ingin lagi, dan gadis itu memilih tidak pergi kemana-mana.
"Ingat Bang, Abi tunggu secepatnya, Abang Ilham bawa calon istri dan kenalkan pada kami semua."
Tutur kata abi Fariz juga masih terngiang di rungu Ilham. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Memangnya mencari jodoh bisa ditarget? Kalau Allah belum mengantarkan untuk bertemu, mana bisa dipaksakan. Apalagi Ilham pernah dua kali gagal dalam hal menjajaki hubungan ke jenjang serius. Pasti tidak akan semudah itu kembali menjatuhkan pilihan. Akan banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan.
"Nggak usah nyari yang cantik atau modis Bang. Yang penting paham ilmu agama, itu sudah lebih dari cukup."
Imbuh abi Fariz kembali tadi.
Lagipula siapa juga yang ingin mencari calon istri cantik. Ilham tak pernah memasukkan itu dalam kriterianya. Ilham pikir, cantik itu relatif, pilih yang sederhana saja, yang penting shalilah.
Sebab menurutnya cinta, bukan hanya soal seberapa lama kita mengenal dia. Tetapi tentang dia yang selalu membuat kita tersenyum gembira sejak pertama kali bertemu.
Lalu, kalau boleh jujur, baru Fazhura yang bisa membuatnya selalu tersenyum selama ini.
Islam pun telah mengatur sedemikian rupa perihal mencari sosok pendamping hidup. Terutama seorang istri. Sebab perempuan shalih calon ibu, yang akan melahirkan generasi peradaban selanjutnya. Ilham ingin satu saja, yang terbaik dan untuk selamanya.
Memilih seseorang untuk menjadi pendamping yang sesuai dengan kriteria memang tidak mudah. Banyak hal yang dipertimbangkan untuk menentukan siapa orang yang tepat menemani sepanjang hidup tersebut.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung." (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa'i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra)
Hadits ini mengisyaratkan bagaimana memilih jodoh yang baik. Meski Nabi mendahulukan harta, tetap yang menjadi tolok ukur utamanya adalah akhlak serta agamanya.
***
Fazha mengayun langkah dengan tidak semangat saat menyusuri koridor kampus. Setelah kejadian kemarin, hatinya terganjal oleh kata-kata buya Fariz. Sejak sore sampai malam tadi Fazha menon-aktikan handphone-nya. Sengaja dia lakukan sebagai uji-coba menjauhi ammi-nya seperti perkataan abi Fariz, jika tidak ingin dinikahkan dengan Ilham.
Sudut mata Fazha terlihat sedikit membengkak, karena tangisnya semalaman. Entah.., rasanya sesak saja jika mengingat segala hal yang terjadi tadi.
"Hei.., ngelamun aja. Gue lihat dari tadi lo sendirian."
Rungu Fazhura tertelusup suara yang menyapanya. Fazha reflek menoleh. Diamatinya seorang gadis yang Fazha tebak mungkin seumuran dengannya.
"Gue Mega, tapi biasa dipanggil Ega. Lo siapa?" sambung gadis itu memperkenalkan diri pada Fazha.
"Fazhura, biasa dipanggil Fazha," sahut Fazha menyambut uluran tangan Ega, disertai ulasan senyum.
Fazha memerhatikan Ega. Penampilan gadis itu tak jauh beda dengannya. Hanya, jika Fazha tidak pernah memakai celana atu jeans, dan terbiasa memakai gamis atau rok panjang, tapi Ega memakai tunik panjang disertai celana jeans dan dipadu dengan jilbab maxmara-nya. Dia anggun, cantik dan manis. Fazha kagum. Meski begitu Ega tidak sombong dan mau berteman dengannya.
"Anak baru juga ya?" tanya Fazha mencoba dekat.
"Iya. Fakultas pendidikan Islam. Oh iya, lo ngekost atau asli sini?"
"Iya, aku ngekost. Asli Surabaya. Kalau kamu?"
"Gue juga ngekost. Cuma kos gue lumayan jauh dari sini, jadi makan waktu dan ongkos. Lo kos daerah mana? Kali aja masih ada tempat kosong, kasih tau gue ya," ujar Ega bercerita.
Fazha sejenak kepikiran kalau dia tinggal sendiri di rumah yang abi-umminya kontrakan untuknya. Meski membaur jadi satu dengan petakan kos, tapi tempat tinggal Fazha memisah, dan fasilitas lebih lengkap. Fazha berinisiatif ingin mengajak Ega tinggal bersama saja. Toh dia sendirian, dan pula kemarin buya Fariz serta ummah Lila berpesan kalau Fazha lebih baik mencari teman biar tidak terlalu mengandalkan Ilham.
"Tinggal sama aku aja gimana? Kebetulan kontrakan ku kamarnya ada yang kosong. Mubazir kalau ga ada yang nempatin."
Perkataan Fazha menimbulkan binar di mata Ega. Gadis itu tersenyum semgringah.
"Eh, serius? Wah mau dong. Nanti soal uang bulanan gue pasti bayar kok."
"Udah nggak usah dipikirin. Kalau mau, ayok ikut. Nanti kalau udah tau tempatnya kamu tinggal kemas-kemas buat pindahan."
Ega mengangguk, sejurus kemudian mereka berjalan beriringan mengekori Fazhura.
Fazha menghela napas, mengembuskannya perlahan. Meski otaknya masih terhebat oleh banyangan masalah serta ammi-nya, tapi untung ada Ega. Jadi Fazhura agak teralihkan dengan adanya teman baru.
***
Ilham berkali-kali mengecek handphonenya. Berharap ada notifikasi atau pesan masuk dari Fazhura. Tetapi sepertinya dia berharap lebih, sebab sampai siang begini Fazha absen mengirim pesan atau menelponnya.
"Ham! Lo bisa duduk anteng nggak sih? Risih banget gue liatnya. Mondar-mandir nggak jelas, udah kayak ayam mau bertelor aja." Akbar agak terganggu dengan aktifitas Ilham. Sampai-sampai gambar maket yang sedang ia kerjakan terhambat karena konsentrasinya terganggu.
"Berisik lo Bar. Diem bae, gausah ngurusin gue," sahut Ilham tak acuh.
Akbar melirik jam sekilas. Sudah waktunya makan siang. Segera dia bangkit lalu, mengamit tangan Ilham untuk ia seret ke kantin.
"Yabuset! Lo mau apa sih Bar." sentak Ilham menghempas tangan Akbar.
"Ke kantin Mas Vro. Maksi, dulu. Ngopi-ngopi dulu, biar pikiran lo anteng, nggak mondar-mandir malah bikin pusing."
"Lo aja Bar. Gue lagi nggak nafsu."
"Yabuset Mas Vro kenape? Nggak nafsu mulu dari kemarin," selidik Akbar dengan ekspresi mengamati mimik wajah Ilham. "Udah sih, masalah itu ada buat dihadapi, bukan cuma buat dipikirin. Ayok lah, makan siang dulu, baru nanti mikir lagi." imbuh Akbar.
Ilham menuruti kata-kata Akbar untuk istirahat sejanak ke kantin siang ini. Mengayun langkah dengan tak semangat, sampai di kantin keduanya mendesah, agak kesal karena semua tempat penuh, tidak bersisa kursi kosong.
"Penuh Ham. Gimana ini?" seloroh Akbar.
Ilham tak menjawab, tapi matanya sibuk memonitor sekitarnya.
"Gabung di sini saja Pak!"
Ilham dan Akbar menoleh pada suara yang tiba-tiba menawari mereka untuk bergabung. Perempuan itu tersenyum ke arah keduanya sambil tangannya mengisyaratkan agar Ilham dan Akbar duduk di sebelahnya.
"Wah, terima kasih lho. Nggak jadi kelaparan kita Ham. Ayo, ucapkan terima kasih sama Mbak-nya ini, Ammi-Ilham." cetus Akbar bergurau. Sumpah demi Allah, Ilham ingin sekali menyumpal mulut Akbar. Bisa-bisanya bercanda dalam situasi genting begini. Apalagi saat rungu Ilham mendengar panggilan 'Ammi' yang Akbar ucapkan, seketika juga angannya terbang pada Fazhura.
"Terima kasih ya," ucap Ilham sekilas.
Perempuan itu kembali mengulas senyum pada Ilham seraya berkata, "sama-sama, Pak," jawabnya pelan.
Ilham sekilas memerhatikan polahnya. Gadis yang ia perkirakan menempati bagian FO itu sekilas agak mirip dengan Fazhura. Perawakannya mungil, senyumnya ceria, lalu suka sekali tersenyum dan agak cerewet. Ilham juga mengamati gaya berpakaiannya. Celana kulot dipadu dengan kemeja longgar dan jilbab beraksen floral. Sederhana dan manis. Persis Fazha. Halah! Membicarakan Fazhura, tidak akan pernah habis dalam benak Ilham.
"Karyawan baru ya Pak?" sapa gadis itu sesaat setelah mengobrol dengan rekan di sebelahnya.
"Iya Mbak. Kalau Mbak, karyawan lama ya? Bagian apa Mbak?" Akbar yang menjawab. Lelaki itu antusias sekali rupanya.
"Administrasi, Pak. Kalau Bapak?"
"Masih bujangan lho saya, kayaknya panggilannya terlalu over dosis, kecuali sebelah saya ini, Mbak. Sudah pantas dipanggil demikian, iya, kan Ammi Ilham?" Akbar mencoba mengeluarkan guyonan. Ekor mata Ilham melirik sekilas gadis itu tertawa kecil.
"Saya Aliya, anak Firm Operation, bagian admin, Pak." tanpa ditanya gadis itu memperkenalkan diri.
"Saya Akbar, dan yang cuma diem aja itu Ilham, kami Team Project Operation yang baru, pindahan dari Surabaya."
Perkenalan yang mengesankan. Ilham mencibir dalam hati. Tak bereaksi sedikitpun, hanya mengulas senyum tipis. Membiarkan Akbar menghabiskan waktu istirahat siang ini bertukar kata dengan gadis yang baru mereka kenal tersebut, sedang Ilham masih tetap sama. Memikirkan Fazhura. Entah, sedang apa Fazha saat ini.
**************???**************
Bersambung...
Beri dukungan vote dan koment ya..