Bab. 13

1513 Words
"Jangan panggil Mbak, panggil Aliya saja, Pak." Gadis yang memberi tempat duduk pada Akbar dan Ilham itu menyebut panggilan namanya pada mereka. Akbar menanggapi dengan rentetan obrolan panjang, sedang Ilham tak acuh, hanya menjadi penyimak yang sesekali melempar senyum tipis. Perkenalan yang mengesankan! Cibir Ilham dalam hati. Bukan pada Aliya, tapi pada sikap lebay Akbar. Seperti tidak pernah ketemu perempuan cantik saja. Norak sekali menurut Ilham. Masih dengan pikiran yang sama. Otak Ilham terasa tertawan pada Fazhura. Sampai detik ini Fazha belum memberi kabar sama sekali. Akbar setengah berteriak memanggil pelayan kantin. "Soto sama teh es 1 Mbak," ucap Akbar memesan makan siang. Lelaki itu melambaikan tangan sebagai instruksi agar pelayan kantin mendekat. "Lo mau pesan apa Ham?" tawarnya pada Ilham. Beberapa detik Ilham bergeming. Tidak ingin memesan apapun saat ini. Nafsu makannya sudah menguap entah kemana, "Kopi aja Bar!" sahut Ilham. Akbar mengernyit, "Cuma itu? Nggak mesen nasi?" "Nggak usah. Gue masih kenyang." Akbar menyebut pesanan mereka pada pelayan kafe. Sedang Ilham kembali bergeming dan angannya melayang pada satu hal. Konsentrasinya buyar, yang tersisa hanya rasa cemas, sebab Fazhura belum ada kabar sama sekali. Beberapa kali mendial nomer Fazha guna menelponnya, tapi handphone Fazhura tidak aktif. Kesal. Ilham ingin uring-uringan rasanya. Kembali pada penuturan Abi Fariz. Ilham nampak memikirkan sesuatu. Tawaran abi memang bukan sesuatu yang buruk. Malah Ilham sempat kaget, tidak percaya kalau keluarga mendukung dia dan Fazhura untuk menikah saja. Tapi tidak segampang itu. Banyak faktor yang Ilham pikirkan, kenapa dia tidak meng-iyakan saja usulan abi-umminya. Pertama Ilham dan Fazhura sudah terbiasa bersama sejak gadis itu usia balita. Lalu, mana mungkin akan ada rasa lain di hati keduanya selain kasih-sayang layaknya saudara. Kedua. Ilham tak yakin Fazhura akan setuju, meski seandainya dia tidak menolak, tapi belum tentu dengan Fazhura. Ilham memang belum yakin jika diantara dia dan Fazhura ada rasa lain yang diam-diam menyelinap, tapi sejauh ini dia merasa sangat nyaman ada di dekat Fazhura. Ketiga, Ilham tidak siap dengan komentar orang-orang sekitarnya, apa kata mereka nanti kalau sampai dia menikahi Fazhura? Yang ada pasti bakal muncul praduga yang macam-macam. Ilham tidak peduli jika dia yang dijadikan bahan slentingan tak enak, toh dia sudah biasa, sejak dua kali gagal menikah dulu. Tetapi Ilham memikirkan perasaan Fazha. Dia tidak bisa tinggal diam kalau Fazhura yang jadi bahan pergunjingan. Tidak! Jangan sampai seperti itu. "Hoey! Minum tuh kopinya, malah ngelamun." Suara Akbar disertai tepukan pelan lelaki itu menginterupsi angan Ilham. "Oh, jadi Aliya ini asli sini ya. Wah, boleh dong kapan-kapan ajak keliling Jakarta. Maklum saya, kan belum seberapa paham daerah sini." "Iya Pak, boleh. Kapan-kapan kalau mau saya jadi guide-nya Pak Akbar sama Pak Ilham." "Panggilannya yang selow aja Al, ini kan diluar kantor. Panggil Mas Akbar saja, panggil sayang juga boleh." Gombalan Akbar menciptakan kekehan kecil dari gadis bernama Aliya itu. Ekor mata Ilham melirik sekilas sambil berdecih dan mencibir sikap alay Akbar. "Mas Ilham dari tadi kenapa diem aja?" Ilham tergagap saat Aliya berseru padanya. Pandangan gadis itu terarah padanya. "Lagi sakit gigi Ilhamnya, Aliya, nggak usah diganggu, nanti marah si Bujang Ammi." Akbar yang menyahut pertanyaan Aliya. "Nggak papa, lagi mikirin kerjaan Aliya. Oh iya, kami duluan ya. Jam makan siang sudah hampir habis." timpal Ilham tersenyum pada Aliya, dia sedang tidak ada mood untuk ikut larut dalam perbincangan Akbar dan Aliya yang lebih banyak terdengar gombalan si Akbar itu. "Akbar Supriyadi! Ayo balik, waktunya kerja. Jangan ngegombal mulu!" imbuh Ilham menghardik Akbar sesaat setelah melirik arlojinya. "Sewot aja bujang lapuk." meski mendengkus tapi Akbar setia mengekori Ilham kembali ke kubikelnya. "Aliya, kita duluan ya," pamitnya pada Aliya. **** "Wah, besar juga kontrakan lo Fazha. Ini beneran gue boleh ikut tinggal di sini?" "Iya ga papa. Tadi aku udah telpon ummi. Katanya nggak masalah, malah seneng aku ada temannya." Fazhura menunjukkan rumah kost yang ia tinggali, dan Ega akan turut tinggal di sana. "Kamu liat-liat aja dulu Ga, itu dapurnya ada di sebelah sana." Fazha menunjuk ruang yang berada persis di sebelah ruang makan. Ada dapur bersih di sana, yang biasanya Fazha gunakan untuk sekadar membuat roti bakar atau minuman. Sedang dapur kotor tersedia agak di belakang, biasanya digunakan untuk memasak yang berat. "Ini kamar aku sebelah sini. Nah sebelahnya persis ini kosong, sama di sebelah sana yang deket kamar mandi itu juga kosong, kamu boleh pilih yang mana yang ku suka Ga." imbuh Fazha menawari Ega. Ega tersenyum semringah. Gadis itu menatap harus pada Fazhura. "Makasih ya Fazha, lo baek banget sih. Padahal kita kan baru kenal." Ega tak henti mengucapkan terima kasih. Gadis itu sepertinya senang sekali bisa tinggal di kost yang sama dengan Fazhura. Selain lebih dekat ke kampus dan akses kemana pun, juga lebih lega dan rapi daripada kost-nya yang dulu. "Kamu juga baik kok Ga, makasih udah mau jadi temenku," sahut Fazha. " Aku tidak tinggal ke kamar dulu ya Ga. Kamu lanjutin aja liat-liatnya." Fazhura pamit pada Ega, dan dibalas anggukan serta sunggingan senyum. Sampai di kamar, Fazha membanting diri sejenak ke kasur. Baru beberapa menit kemudian gadis itu mempreteli khimar serta mengganti gamisnya dengan gamis rumahan yang lebih santai. Melengang ke kamar mandi yang ada dalam kamarnya, Fazha membasuh wajahnya dengan air mengalir di wastafel. Menatap ke dalam cermin sejenak bayangan dirinya. Sejenak angan Fazha terbang ke dalam dimensi beberapa tahun belakang. Masih sangat jelas tercekat di benak Fazha saat masa kanak-kanaknya. Dia tidak lupa bahwa dulu berkat adopsi Abi Ghaly dan Ummi Illyana, dirinya bisa mendapat dan merasakan kasih sayang utuh dari sebuah keluarga. Lebih dari itu Fazha bahagia bisa mengenal sosok Ilham yang dia panggil Ammi. Sedang hati Fazhura kini bimbang akan kata-kata dan permintaan Buya Fariz kemarin. Tetapi dia juga tidak cukup nyali untuk meng-iyakan. Banyak sekali faktor yang tidak mendukung untuk Fazhura menyetujuinya. Dia nyaman berada di dekat Ilham. Iya itu benar. Tetapi tidak terlintas sedikitpun dalam otak Fazha untuk mendampingi Ilham, apalagi menjadi istrinya. Apa kata orang-orang nanti? Lagipula Fazha masih ingin meniti pendidikan, meniti karir, sebelum nanti dia benar-benar dipertemukan oleh jodoh dan menikah. Fazhura mengusap wajahnya dengan kasar. Kembali dari kamar mandi, Fazha membanting lagi raganya ke ranjang. Tetapi baru saja menyentuh kasur rungu Fazha mendengar notif dari hape yang baru ia aktifkan. 11.00 Ammi Ilham; Fazha! Kemana sih bocah, ditelpon nggak aktif, dichat juga ga dibls. Minggat kemana kau ini Nak?! Fazhura menggigit bibirnya sendiri saat membuka pesan lalu membacanya. Ternyata dari Amminya. Agak sedikit merasa bersalah sebab seharian ini absen tidak memberi kabar sama sekali. 15.00 Fazhura; Maaf Ammi, hapenya ngedrop. Fazha lupa ngeces. Ada apa Ammi?" Fazha mengirim balasan. Sengaja berbohong dan mengatakan kalau hapenya ngedrop dan lupa tidak mengisi batre. Baru akan meletakkan kembali tapi telepon seluler yang masih dalam genggaman tangannya itu kembali bergetar. 15.03 Ammi Ilham; Yabuset!!! Fazha, kamu tau nggak? Bedanya vape sama kamu itu apa? Kalau vape semprot satu detik, bebas nyamuk 10 jam! Lha kalau kamu, Ammi chat satu detik, kamu balesnya berjam-jam! #kesyel Fazhura tidak bisa menahan untuk tak tertawa saat membaca pesan balasan Ilham. Lelaki itu memang paling bisa. Suasana sedang canggung dan genting seperti ini masih saja bisa bercanda. 15.09 Fazha; Iya Ammi. Maaf deh. Fazha beneran lupa tadi. Ada apa sih? Kangen yak?" 15.10 Ammi Ilham; Make nanya lagi. Yaiyalah, Ammi khawatir tauk. Nanti pulang kerja Ammi mampir ke sana ya. 15.15 Fazha; Eh, jangan Ammi! Nanti ada mata-mata, trus ngadu lagi sama Buya dan Abi. Nanti kita ke warning lagi lho. 15.16. Ilham; Bodo amat! Ammi Nggak peduli. Lagian ga ngapa-ngapain kok. Udah jangan cerewet tunggu aja, nanti Ammi mampir. Udah dulu ya, Ammi banyak kerjaan. Jangan nakal... (Sayangnya Ammi) ^^ Kali ini tawa Fazhura meledak. Ilham itu memang nekat. Sudah diwarning tapi tetap saja akan dilanggar. Entah. Hati Fazha tiba-tiba tak karuan. Apalagi saat tahun kalau Ilham sangat khawatir sekali saat seharian ini dirinya tak ada kabar. Fazha tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sendiri saat ini. Entah, apa ini namanya. Apakah hubungannya dengan Ilham kini termasuk sehat dan normal-normal saja, atau justru sebaliknya. Sebab hubungan yang sehat itu bukan cuma sekadar bilang sayang. Percuma tiap hari bilang sayang kalau endingnya juga ngilang. Sendiri dalam taat itu lebih mulia, daripada berdua tapi maksiat. Halah! Lalu bagaimana dengan Ilham dan Fazhura selama ini? Ilham kan suka sekali bilang sayang pada Fazha. Entah sayang yang ia ucapkan itu dalam konteks apa. Orang bilang kalau mereka itu saling melengkapi. Fazha yang cerewet, tidak bisa diam, selalu aktif dan kadang suka jail, tapi sangat sabar dan jarang terlihat sedih lalu, disandingkan dengan Ilham yang sukanya ceplas-ceplos. Kocak dan suka bercanda, tapi kalau sudah marah jadi sangat menakutkan. Meskipun perbedaan umur mereka lumayan sangat jauh. Beda Ilham dan Fazhura adalah delapan belas tahun. Tapi bukannya, Saling melengkapi itu bukan cuma yang sepantaran, bukan pula yang cantik dengan yang tampan. Tetapi jika satu pendiam, satunya periang, itu baru saling melengkapi. Jika jodoh, pasti akan terasa getarannya. Ibarat Qolqolah kubroh, terpantul-pantul dengan sangat keras, menalu hebat dalam debaran jantung. *************???************** Bersambung... Yang baca wajib koment! Yang ga koment jodohnya jauh kayak Ammi Ilham... ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD