BAB 9

1738 Words
Rissa masih terus memandangi foto dirinya dan Farhan ketika masih menggunakan seragam SMA. Di foto itu mereka tampak tersenyum cerah sambil membawa sebuah permen lollipop berukuran besar. Rissa hampir saja menangis mengingat saat itu. Saat di mana dia merasa benar-benar mencintai seseorang dengan tulus. Tapi kini cinta itu hilang tak berbekas. Meninggalkan lubang yang menganga lebar di hatinya. Foto itu diambil ketika dia dan Farhan masih kelas sebelas. Dan Rissa sangat bahagia ketika itu. Mereka menjadi pasangan paling spektakuler di Fourty D. Rissa yang kalem dan banyak digilai para cowok dan Farhan yang nyaris sempurna di mata para cewek. Semua orang pasti iri dengan mereka. Tapi sekarang semua telah menjadi mimpi yang semu. Faren! Cewek itu telah merusak kebahagiaannya. Dia tidak pernah menyangka kalau ternyata Farhan dan cewek itu berselingkuh di belakangnya. Dan apa yang dibilang Deny telah membuatnya tercekik. Kenyataan yang membuat mereka menikah telah berhasil menamparnya telak. Setelah semua rasa sakit ini, sekarang dia harus menerima kenyataan. Bahwa dia mencintai orang yang salah. Deny muncul tiba-tiba dan menarik bingkai foto itu dari pelukan Rissa. Rissa nyaris tersentak kaget ketika benda di pelukannya itu hampir melayang jatuh ke lantai. “Lo apa-apaan, sih?!” sentak Rissa marah. “Udahlah Ris, b******n kayak dia nggak usah dipikirin! Come on, masih banyak cowok yang lebih oke!” Rissa mengalihkan wajah. Pura-pura tidak peduli. Tapi hatinya tidak bisa berbohong lagi. “Gue sayang banget sama Farhan. Dari dulu sampai sekarang. Nggak bisa berubah, Den! Gue udah berusaha, tapi nggak bisa—” suara Rissa makin lama makin parau. “Lupain Farhan!” suara Deny meninggi. Rissa menatap Deny sambil berkaca-kaca. Air matanya tumpah seketika. Deny bersimpuh di hadapannya dan menggenggam kedua tangan Rissa. “Please, lupain Farhan!” *** Faren memakan nasi goreng di hadapannya dengan lahap. Papa, Mama, dan Farah sampai bengong melihatnya makan seperti itu. Farhan pura-pura nggak peduli, asyik dengan makanannya sendiri. Lagi-lagi Mama mulai membahas kehamilan Faren. Dan itu membuat Farhan dan Faren cukup muak. Mereka hampir kehilangan nafsu makan. “Ren, gimana kemarin senamnya?” tanya Mama memecah keheningan. Faren hampir tersedak. Dia meneguk air putih sebelum mual mulai menyerangnya kembali. “Ke—Kemarin, Faren,” Faren melirik Farhan meminta pertolongan. Tapi cowok itu masih asyik melahap makannya tanpa beban. Faren mencibir dalam hati. “Pasti seru banget, kan, kemarin?” Farah tersenyum senang . Faren dan Farhan berpandangan tanpa ekspresi. “Kamu juga sudah cocok sama pelatihnya, kan?” sekarang giliran Papa yang bertanya. Faren menginjak kaki Farhan di bawah meja. Cowok itu hampir menjerit kesakitan. Untung  dia belum sempat berteriak. “Se—Sebenernya, kemarin Faren sama Farhan nyasar, Ma. Jadi kita nggak ketemu tempat les yoga itu. Hahaha...” Farhan memaksakan tawa. Lainnya langsung berpandangan. “Lo buta arah, Far?” tanya Farah sangsi. “Ya enggak gitu, Kak. Tapi emang kemarin nggak ketemu.” Farah menatap Mama bingung. “Kayaknya waktu survey kemarin tempatnya deket, ya, Ma? Udah gitu, gede lagi. Masak lo nggak ketemu, sih?” “Ya, emang begitu.” Farhan pura-pura menyembunyikan kegugupannya. “Bener, kan, Ren?” “Iya, Far.” Faren menjawab semanis mungkin. Farhan balas mencibir dalam hati. Cewek satu ini jago akting. Coba kalau di belakang orang tuanya, bakal dicincang habis-habisan dia. “Nanti biar Mama telpon ke sana, ya?” “Nggak usah!!” jawab Faren dan Farhan serempak. “Lho kenapa?” Faren langsung memaksakan senyum. “Menurut Faren, senam yoga terlalu dini, Ma. Jadi mending besok-besok aja.” Mama bertukar pandang dengan Farah. “Farah setuju, sih.” Farah mengeluarkan argumen masih sambil melahap nasi goreng. “Tapi bakal lebih bagus kalau segera, Ren.” Lagi-lagi Mama masih membantah. Faren menatap Farhan lagi. Cowok itu tidak bereaksi dan tidak mau peduli. Dia malah asyik makan tanpa memikirkan bagaimana perasaan Faren. Faren berusaha menata emosinya. Dia mencoba tersenyum semanis mungkin meski raut wajahnya mengingkari. “Besok Faren coba, Ma.” *** Faren membanting pintu keras-keras. Farhan di belakangnya langsung menutup telinga agar suara gedoran itu tak terdengar gendang telinganya. Tapi gagal, Faren berhasil mematahkan telinganya dengan satu sentakan kuat. Dia menghembuskan nafas pasrah sambil menatap istrinya yang garang itu. “Aduh, gue capek, Ren! Lo ngamuk terus, deh, kerjaannya!” Farhan membentak Faren dengan kesal. Kemudian nada suaranya merendah. “Bilang sama gue, kalau marah-marah itu nggak termasuk kategori orang lagi hamil!” “Lo nggak bisa tegas, Far!” balas Faren dengan nada bentakan. “Nggak tegas gimana?!” “Denger ya, gue nggak mau ikut-ikut senam kayak gitu! Malu-maluin tahu nggak? Nanti gue bakal diledekin sama orang-orang! Pokoknya gue nggak mau!” Farhan menghembuskan nafas pasrah. “Oke, gue bakal bilang sama Mama. Selesai, kan?” jawabnya santai. Farhan menghembuskan nafas panjang. Lalu melempar diri ke atas ranjang. Berusaha memejamkan mata sampai akhirnya dia merasakan lemparan guling mendarat di wajahnya. “Selesai?! Segampang itu?!” Farhan melotot. “Emangnya apa yang belum selesai?! Sumpah, ya, Ren, gue nggak betah ngehadepin lo! Lo tukang marah-marah! Beda banget sama Rissa.” Faren balas melotot. “Terus? Kenapa enggak dia aja yang lo ajak nikah? Kenapa gue?” “Maksud lo?” nada suara Farhan merendah. Hampir tak terdengar. “Kalau gue bisa, gue bakal milih Rissa yang gue ajak nikah!” lanjutnya dongkol. Baik Farhan maupun Faren langsung terdiam dan duduk di tepi ranjang. Faren sebelah kanan dan Farhan di sebelah kiri. Mereka saling memunggungi. Farhan diam memandangi langit kamarnya. Sedangkan Faren mulai terisak. Dia merindukan rumahnya, keluarganya, juga kehidupannya. Dia merasa benar-benar berbeda sekarang. Dia hidup di tengah-tengah orang asing. Jauh dalam lubuk hatinya, Faren masih belum bisa menerima kenyataan ini. Hanya gara-gara pesta ulang tahun teman seangkatan yang belum begitu dikenalnya, dia bertemu dengan seorang cowok yang mabuk dan gila. Dan yang membuatnya sangat kesal, niat baiknya untuk menolong malah dibalas dengan penghinaan yang memalukan. Farhan memandangi Faren dalam diam. Tanpa sadar Faren juga berbalik menghadapnya. “Lo belum bisa maafin gue, kan?” Faren membual. “Lo emang nggak bisa dimaafin!” Farhan menatapnya dalam-dalam sambil tersenyum sekilas. Dia menghadapkan wajahnya pada Faren. Faren mundur menjauh dari tatapan itu. Tak dapat dipungkiri kalau suaminya itu memang ganteng. Harusnya dia beruntung. Tapi sayangnya di jidat suaminya itu seperti tertulis: playboy, penipu, pemabuk, dan segala macam lainnya. Hal itu membuat Faren muak dan menyadari betapa ruginya dia. “Ada beberapa alasan yang mengharuskan lo memaafkan gue!”  jelas Farhan dengan serius. “Pertama, karena gue nggak salah. Kedua, karena gue dijebak. Dan ketiga, karena gue udah berusaha bertanggung jawab semaksimal mungkin.” Faren menatapnya tidak mengerti. “Asal lo tahu, Ren. Gue dijebak sama temen gue. Namanya Deny.” Farhan tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Ketika nama itu disebut, dia merasa seluruh organnya mulai berfungsi untuk membalaskan dendam dan sakit hatinya yang tak berperi. Deny telah merusak kebahagiaannya. Dan mungkin juga merebut... Rissa!  “Dia yang naruh obat pemacu ke minum gue. Sampai tubuh gue panas dan sakit. Gue nggak bisa nahan lagi. Gue udah hampir pingsan. Sampai gue akhirnya lihat lo.” perkataan Farhan terhenti seketika. Memori otaknya memutar pada kejadian malam itu. Ketika dia sadar, seseorang tengah menyeka seluruh keringat yang mengalir di sekujur tubuhnya. Dan bayangan itu membentuk wajah Rissa. Dia merasa panas itu semakin menggila. Tanpa sadar tangannya sudah menarik lengan sosok itu. Dan yang terjadi selanjutnya adalah anggota tubuhnya yang bergerak gila-gilaan tanpa dapat dia hentikan. Memeluk, mencium, meraba. Sampai-sampai dia tidak mempedulikan suara jerit tangis yang menusuk-nusuk gendang telinganya. Farhan merasa hampir gila memikirkan itu. Kepalanya berdenyut-denyut heboh dan rasa sakitnya memuncak. Dia menatap wajah Faren dengan lesu. “Gue enggak sengaja, gue nggak tau apa-apa. Pokoknya gitu.” Sesegera mungkin dia menyambar handuk dan bergegas ke kamar mandi. Sebelum dia benar-benar gila. Faren menatap punggung laki-laki itu dalam diam. Dia ingin mengerti, tapi tidak bisa memahami. *** “Far, lo mau makan semua ini?!” tanya Kiky tak percaya. Dia memandangi segepok makanan yang terhidang di atas meja sambil menelan ludah. Pandangannya teralih pada Farhan yang memakan makannya dengan lahap dan rakus. “Far, lo kok jadi rakus gini?!” “Bodo!” sahut Farhan kesal. Dia melahap satu bandeng besar sekaligus. Sampai-sampai dia tersedak duri di kerongkongannya. “Uhuk... Minum! Minum!” Kiky meraih segelas jus alpokat dan dengan cepat mengulurkannya pada Farhan. Dalam hitungan detik, Farhan langsung menyambar jus itu dan meminum sesukanya. Jus itu sampai menyemprot ke mana-mana. Kiky mendelik geli. Buru-buru dilemparkannya tisu ke arah Farhan. Farhan tak peduli. Malah semakin melanjutkan makannya yang gila-gilaan. Kiky masih bengong. Dia bahkan belum sempat mencicipi bandeng Semarang favoritnya. Dan makanan itu sekarang sudah dilabas habis sahabatnya yang mendadak mirip raksasa kelaparan. “Gue juga laper kali,” gumam Kiky sambil mendencingkan piring kosongnya dengan sendok. Percuma saja, makanannya sudah habis. “Nih, makan sisa gue!” gumam Farhan kesal sambil menyurungkan piringnya yang tinggal tulang-tulang bandeng dan ayam. Kiky melongo sambil mencebik. Sekarang Farhan  ikutan menyambar jus mangga milik Kiky dan menghabiskannya sampai ke tetes-tetes terakhir. “Kok kayaknya gue masih laper, ya?” gumamnya tak karuan. “Loe laper atau doyan, sih? Kayaknya yang biasa makan banyak itu gue, deh.” “Ah, bodo amat! Pokoknya gue laper. Ada makanan lain nggak?” Kiky melongo. Dia berjalan terseok-seok ke kulkas. Diambilnya beberapa bungkus makanan ringan dan diserahkannya pada Farhan—yang langsung dilahapnya dengan rakus. Kiky hanya bisa bengong lagi dan lagi. “Far, gue lo kasih kemasannya doang, nih?” Farhan meliriknya sambil terus mengunyah. Dia mengambil sebuah dan mengulurkannya pada Kiky. Kiky menatap sekeping potato bundar di tangannya. Lalu melahapnya dengan pedih. Dia menyurungkan tangannya lagi. Tapi tak digubris oleh Farhan. “Lo kayak bini lo, ya! Makan aja kerjaannya!” Farhan diam seketika. Dia juga bingung kenapa mendadak bisa serakus Faren. Kiky juga tahu bagaimana rakusnya Faren saat sedang makan. Farhan memang sering sekali mengajak Kiky makan bersama mereka. Dan benar saja, Kiky langsung shock melihat porsi makan sahabatnya yang segunung. “Far, mending lo pulang, deh. Terus habis itu lo tanding makan sama Faren. Coba siapa yang menang? Gue penasaran.” “Jangan bandingkan gue sama orang hamil!” gertak Farhan kesal sambil melempar bungkus makanannya ke arah sofa. “Ya habis, lo sensitif banget, sih, Far. Coba kalau sensitifnya nggak ngehabisin makanan sih nggak apa-apa. Lah ini? Makanan di rumah gue labas semua!” Farhan diam lagi. Dia memilih untuk menghentikan acara makannya. Daripada harus dihina mati-matian oleh Kiky, lebih baik dia tidak usah makan lagi. Farhan menghembuskan nafas berat. Dia harus memikirkan banyak cara untuk memperbaiki semuanya. Semuanya. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD