BAB 10

1588 Words
Usia kandungan Faren hampir menginjak usia tujuh bulan. Farhan merasa nyaris gila. Faren sekarang sudah jarang marah, tapi dia lebih sering meminta hal-hal yang aneh. Dan hal itu pasti ada sangkut pautnya dengan dia. Minta kelapa matang, mangga India, tongseng sapi,  sate kelinci, dan sebagainya. Semua yang dimintanya pasti gila. Farhan yang memenuhinya juga hampir gila. Setidaknya Farhan bersyukur karena beberapa bulan ini hubungannya dengan Faren jauh lebih baik dan tampak harmonis­­— setidaknya di depan orang tuanya. Meskipun Faren masih sering membentak dan suka makan seenaknya, tapi Farhan berusaha untuk terus bersabar menghadapi Faren. Berbeda dengan Rissa yang harus bersabar menghadapi Farhan. Kini giliran Farhan yang belajar bersabar. Farhan menghembuskan nafas berat sambil menenteng belanjaannya keluar dari mobil. Di sampingnya Kiky hanya bisa bengong. Belakangan ini, Kiky bawaannya ingin bengong terus kalau berada di dekat Farhan. Pasalnya ada-ada saja yang dikerjakan sahabatnya satu itu. Setelah kemarin dia disuruh menemani Farhan memancing ikan di sungai, sekarang dia dipaksa menemaninya ke restaurant iga bakar pedas. Sialnya, Kiky yang sudah lelah itu sama sekali tidak mendapat traktiran gratis. Farhan memang pelit. “Duh, gue kok jadi kere gini, ya?” tanya Farhan terlebih pada diri sendiri. Dia merogoh-rogoh dompetnya yang kosong. “Setiap beli makan seratus. Besok seratus. Besoknya lagi juga.” “Makanya kalau punya bini jangan yang doyan makan!” sembur Kiky kesal. Perutnya mulai keroncongan. Tapi Farhan lagaknya tidak mau peduli. “Ini keadaan, Ky.” Farhan menarik daun pintu. Tidak dikunci. Dia menerobos ke dalam. Faren asyik menonton Drama Asia di televisi. “Nih, titipan lo!” Farhan mengulurkan plastik di tangannya dengan tak ikhlas. Sebaliknya Faren malah tersenyum senang menerimanya. Bibirnya komat-kamit kegirangan. Faren bangkit dari tempat tidur. Dilihatnya Kiky berdiri di belakang Farhan dengan muka mupeng iga bakar pedas. “Makan, Ky?” ajak Faren basa-basi. Mata Kiky melebar. Dia tersenyum senang sambil mengangguk-angguk. “Ambil aja di kulkas. Ada telur, kok. Tapi goreng sendiri, ya.” Seusai mengatakan itu Faren berlarian ke dapur. Farhan menahan tawa. Kiky langsung mencibir. Farhan tertawa girang. “Bener, Ky! Nyeplok telur aja sono!” “Sialan!” dengus Kiky kesal. *** Siang ini sehabis dari dokter, Faren memutuskan untuk mampir ke rumah. Dan seperti yang dia duga sebelumnya, dia pasti langsung akan dibanjiri berjuta pertanyaan. Ternyata benar. “Ren, cewek apa cowok?” tanya Mama ingin tahu. “Cowok,” jawab Faren sambil melemparkan diri ke atas sofa. Dia merasa semakin sering lelah dan pusing. Ditambah bebannya yang semakin berat. Dia jadi sulit bergerak. “Wah...” Farel berseru senang. “Berarti Farel bisa ngajakin dia main dong, Kak.” “Hmm...” jawab Faren malas. “Kamu mau kasih nama dia siapa?” Mama masih terus bertanya. Faren menatap mamanya datar. “Faren nggak tahu, Ma.” “Lho? Kok begitu?” “Ma, kayaknya Faren nggak siap jadi ibu, deh. Soalnya Faren juga nggak tahu apa-apa.” “Siap nggak siap, Ren. Gimana pun juga semua udah kayak gini. Kamu mesti siap tanggung resikonya.” Faren menghembuskan nafas berat. “Tapi, Ma...” “Ren, setiap orang sayang sama anaknya. Meskipun kamu nggak tahu apa-apa, Mama yakin kamu akan tetep berusaha melakukan segala cara supaya anakmu nanti tersenyum.” Faren diam saja. Dia berusaha mencerna perkataan mamanya dengan baik. Apa dia bisa jadi ibu yang baik dan pengertian? Ya, kalau dia sayang dengan anaknya. Kalau tidak? *** Tepat pukul tujuh malam Farhan datang ke rumah mertuanya. Faren masih asyik di kamarnya sambil membaca koleksi majalah langganannya. Farhan tahu kalau istrinya itu suka membaca majalah remaja yang membahas fashion dan artis-artis terkenal. Baik barat dan Asia. Farhan masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang sambil memandang Faren yang masih asyik. “Ren, mau balik nggak?” Faren tidak menjawab. Dia malah mengulurkan tangan kanannya. “Bantuin!” “Gitu aja nggak bisa!” gerutu Farhan sambil menarik tangan Faren.  Faren bangkit sambil memegangi pinggulnya yang kram lagi. Sebisa mungkin dia menahan rasa sakit itu. Dia meraih tas dan berjalan turun pelan-pelan. Farhan segera menyusulnya. Setelah berpamitan pada kedua orang tua Faren, mereka masuk ke dalam mobil. Di perjalan sempat terjadi macet panjang di daerah bunderan HI yang kebetulan malam itu sangat ramai. Mobil bergerak maju sejengkal-dua jengkal. Tapi macet itu tak kunjung usai juga. Akhirnya mobil terjebak di sana. Farhan memandang ke luar jendela. Langit malam Jakarta yang bermandikan cahaya tampak berkilauan. Di belakang sana antrian bermil-mil jauhnya terjebak dalam kebisuan. Jakarta macet luar biasa. Tak ada toleransi. Terpaksa menunggu paling lama sekitar dua sampai tiga jam untuk sampai di rumah orang tua Farhan. Dan itu berarti akan ada omelan karena pulang larut malam. Seketika suasana di dalam mobil hening. Baik Farhan maupun Faren diam dalam kebisuan masing-masing. Tak tahan dengan suasana canggung, Farhan berinisiatif menyalakan radio. Kemudian terdengar alunan merdu suara Bruno Mars dengan lagunya yang berjudul Marry You. Lagu itu lagu favorite Farhan. Dulu dia sering bermimpi akan melamar Rissa dengan menyanyikan lagu itu diiringi petikan gitar di bawah sinar rembulan. Tapi sekarang semuanya buyar seketika. Gara-gara sesuatu yang tidak diinginkan terjadi begitu saja. “It’s a beautiful night... We looking for something dumb to do... Hey baby, I think I wanna marry you...” suara Farhan dan Faren nyaris beradu dalam duet yang romantis kalau Faren tidak segera menutup mulutnya. “Who cares baby? I think I wanna marry you...” Farhan masih terus menyanyikan lagu itu sampai ke bait terakhir. Tepat pada saat itu, mereka saling berpandangan dalam diam. Mobil di depan tak kunjung maju sehingga Farhan tak perlu takut menabrak mobil lain karena sekarang mobil yang dikemudikannya masih diam. Lagu usai. Tapi mereka masih berpandangan di bawah malam sunyi kota Jakarta. Faren ingin bilang sesuatu, tapi bibirnya serasa terkunci rapat. Farhan juga, tapi dia merasa belum saatnya untuk mengatakan ini. Jadi, keduanya memilih untuk diam sambil saling menatap satu sama lain. Mencoba memahami dari balik hitam terang bola mata mereka. Keduanya masih seperti itu sampai satu ketika terdengar bunyi klakson dari belakang. Farhan terlonjak dan segera kembali ke alam sadar. Dia memajukan mobil pelan-pelan. Sedikit demi sedikit kemacetan mulai berkurang. Dan akhirnya marcedes hitam itu berhasil lolos dari kepadatan kota Jakarta. Mobil berbelok memasuki kawasan taman kota. Mendadak Faren ingin turun dari mobil. Mau tidak mau Farhan terpaksa menuruti kemauannya. Jadi sekarang mereka berada di dalam taman. Kebetulan malam minggu ini banyak sekali pasangan kekasih yang menghabiskan waktu di sana dengan duduk-duduk melihat air mancur atau sekadar berjalan-jalan. Faren melonjak kegirangan ketika melihat ayunan di sekitar belakang air mancur. Tepatnya di samping pepohonan rindang yang sejuk. Dia berjalan cepat-cepat menghampiri ayunan itu dan mendudukinya. Jadi gara-gara ini... Farhan menyusul dari belakang dengan terpaksa. Dia menduduki ayunan di samping Faren. “Ngapain ke sini?” tanya Farhan kemudian. “Nggak tau. Tiba-tiba pengen aja naik ayunan.” “Oh.” Farhan mengangguk-angguk. Diam-diam menarik kesimpulan kalau ini termasuk sesi ngidam. Pantas Faren langsung girang begitu keinginannya tercapai. Setelah Faren puas menaiki ayunan itu, mereka segera pulang. Siap atau tidak Mama pasti akan ngomel. Dan Farhan sangat tahu itu. *** Satu yang paling Faren tidak suka dari sikap keluarga Farhan. Terutama Mama dan Farah yang hobi mencampuri urusan orang. Sehari saja tanpa campur tangan dari mereka, itu berarti hari yang bahagia. Tapi sepertinya Faren tidak mungkin mendapatkan hari tenang seperti itu. Karena kedua makhluk itu selalu menghantuinya setiap hari. Tak kecuali hari ini, Farah dan Mama memaksa Faren untuk segera membeli semua perlengkapan bayi. Semuanya. Tanpa terkecuali. Mama dan Farah tampak bersemangat sejak pagi tadi. Beda sekali dengan Farhan dan Faren yang justru ogah-ogahan. Mereka cuma bisa mengikuti jejak Mama dan Farah yang cepat menghilang dari satu rak ke rak yang lain secepat laju angin. “Wah, Mamaaa lihat deh boksnya lucu banget!” seru Farah girang. “Ren, sini!” Farah menarik Faren ke tempat boks itu berada. “Lihat, nih, lucu banget, kan?” Faren langsung melongo melihat boks bercat pink bergambar pasukan Princess dari negeri Walt Disney yang ditunjukkan oleh kakak iparnya dengan penuh semangatitu. “Kak, anaknya Faren itu cowok. Bukan cewek.” Faren menerangkan, membuat Farah tersenyum malu-malu. “Duh, saking semangatnya jadi lupa, nih! Hehe... Ya udah, yang gambar Cars aja gimana?” Farah masih terus mengajukan pendapat. “Jangan dong Rah, yang gambar kereta-kereta ini lucu, lho.” Kali ini Mama. Pandangan Farah dan Faren tertuju pada boks bergambar Thomas & Friends yang diusulkan Mama. Farah mencebik seketika. “Ya elah Mama. Kereta-keretaan itu kuno. Bagusan juga mobil, nih.” “Tapi kok Mama sreg-nya sama yang kereta ini, ya? Kan lucu banget, Rah.” “Ya nggak bisa gitu dong, Ma.” Farah bersikukuh. “Mama tuh harusnya berpikiran modern. Jaman sekarang ini mobil jauh lebih keren daripada kereta api.” “Tapi kereta api jauh lebih bersahabat sama anak-anak daripada mobil. Mobil itu untuk orang dewasa.” “Iiiih... Mama kok nggak percaya Farah banget, sih? Bagusan yang cars pokoknya! Titik!” “Mama suka yang kereta!” Faren dan Farhan hanya bisa bengong menyaksikan ribut kecil antara Mama dan Farah. Padahal yang mau punya anak mereka, Kenapa malah Mama dan kakaknya yang repot sendiri? Akhirnya setelah dirundingkan lebih lanjut, boks yang akan dibeli boks yang bergambar Cars. Semula Farhan malah berinisiatif mencari boks bergambar label Manchester United. Untungnya usul itu langsung ditentang mati-matian oleh Mama dan kakaknya. Jadi sepakat boks yang dibeli bergambar Cars. Boks itu rencananya akan dikirim ke rumah baru Farhan dan Faren. Tapi setelah dipikir lebih ulang, ada baiknya kalau boks itu ditaruh dulu di rumah Farhan. Jadi sekarang rumah Farhan dipenuhi oleh segala t***k-bengek untuk bayi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD