Rumah itu terletak di kawasan perumahan Bukit Asri. Tidak jauh dari rumah Farhan dan Faren. Bentuk rumah itu sederhana. Seperti rumah pada umumnya. Berlantai dua dengan dekorasi klasik yang enak dipandang mata. Di depan rumah itu terdapat sebuah kolam ikan dengan taman kecil di sekelilingnya. Teras di dekat taman itu tak begitu lebar, tapi cukup nyaman untuk beristirahat dari lelah.
Farhan dan Faren memandang takjub bangunan di hadapan mereka. Tidak menyangka mereka akan dibelikan rumah yang bagus seperti ini. Padahal yang terbayang di pikiran mereka adalah sebuah rumah kontrakan yang tagihannya sangat menuntut dan kalau tidak dibayar mereka akan ditendang keluar.
Beberapa truk silih berganti berdatangan mengangkut barang-barang seperti almari, kulkas, TV jumbo, AC, meja belajar, mesin cuci dan masih banyak lagi. Barang-barang itu tentu masih baru dan disegel. Nyatanya semua barang yang dikirim setidaknya memiliki merk di kancah nasional.
Farhan dan Faren hanya bisa bengong memperhatikan para tukang mengangkut barang-barang tersebut ke dalam rumah baru mereka. Barang itu ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kenyamanan bagi si penghuni rumah.
Kedua Mama tampak sibuk mengatur ini dan itu. Menyuruh beberapa tukang bolak-balik membenahi letak barang-barang jika dirasa tidak cocok. Berulang kali hal itu terjadi. Para tukang sampai jengah dan bosan dengan perlakuan para nyonya. Belum lagi Farah yang sok tahu mengatur kamar Izzy sedemikian rupa. Pakai minta dicat gambar gajah segala pula. Sehingga tukang-tukang yang bekerja semakin kesal karena keinginan yang aneh itu. Farhan dan Faren selaku orang tua saja tidak peduli kamar anaknya mau seperti apa. Asal bisa untuk tidur nyenyak, itu sudah cukup.
Tepat pukul 4 sore acara tata-menata, dekor-mendekor, hias-menghias rumah baru itu akhirnya selesai juga. Para ibu dan Farah sudah pulang. Farhan dan Faren menghembuskan nafas lega. Setidaknya hari yang melelahkan ini akhirnya berakhir juga. Segala omelan dan kecerewetan orang-orang itu juga hilang untuk sementara.
Setelah menidurkan Izzy di kamarnya yang dicat gajah, Faren beranjak turun menuju dapur. Tampak sosok Farhan tengah meminum sirup dingin. Dengan hati-hati Faren mendekatinya.
“Ehm... Ehm...” Faren berdeham. Sengaja agar Farhan menoleh. Dan ketika cowok itu akhirnya menoleh, Faren langsung mengulurkan sebuah kertas.
“Apaan?” tanya Farhan bingung. Dia meletakkan gelasnya dan mengambil kertas di tangan Faren. “Surat perjanjian?”
Faren mengangguk. “Karena kita udah punya rumah sendiri, artinya kita lebih bebas dari kekangan orang tua. Makanya gue bikin peraturan. Lo tinggal tanda tangan aja.”
Farhan meliriknya curiga. “Maksud lo apaan, nih? Terus mana isi perjanjiannya? Kok di sini nggak disebutin? Cuma perjanjian doang.”
“Makanya lo tanda tangan dulu. Nanti gue jelasin.”
“Nggak bisa gitu, dong. Gue mau denger dulu isinya apaan.”
Faren masih memaksa. “Udah dibilangin tanda tangan dulu. Repot banget, sih! Lagian perjanjiannya gampang, kok.”
Farhan menghembuskan nafas kuat-kuat menahan kesal. Dengan terpaksa ditorehkannya tanda tangan di atas kertas itu. Lalu melemparkan bolpennya ke arah Faren. Bolpen itu menggelinding dan langsung ditangkap Faren. Segera dia menorehkan tanda tangan juga.
“Sekarang gue juga tanda tangan. Nah, selesai.” Faren mengulurkan tangan kanannya mengajak bersalaman.
Mau tidak mau Farhan membalasnya dengan malas. “Udah buruan kasih tahu gue isinya. Nggak usah bertele-tele.” Rasanya Farhan sudah malas bersikap sok manis di depan cewek ini. Mau bagaimana pun, tetap saja akan dibalas sinis oleh Faren. Sekarang dia bodoh amat mau dianggap jahat atau bagaimana. Dia sudah tidak peduli.
Faren mengeluarkan secarik kertas dari saku jeans-nya. Dibukanya pelan-pelan lipatan kertas itu, lalu dibaca. “Pertama, gue sama lo pisah kamar.”
“Siapa juga yang mau sekamar sama lo. Gue, sih, sebenernya males. Kalau nggak kepepet juga nggak,” respon Farhan kesal. Padahal dalam hati dia merasa terhina juga. Baru kali ini ada istri yang tidak mau tidur dengan suaminya. Apalagi suaminya ganteng. Benar-benar penghinaan!
“Kedua, dilarang mencampuri urusan pribadi.”
“Gue mah nggak peduli lo punya urusan apa! Mau jadi buron polisi juga derita lo!” Farhan udah terlanjur kesal. Kalau Faren mau seenaknya, dia juga bisa. Kalau Faren mau marah, dia juga bisa balik marah. Kalau Faren mau mengancam, dia juga bakal balik mengancam. Bodo amat!
“Ketiga, kita nikah cuma karena ada Izzy. Gue sayang sama dia. Lo juga, kan?” Faren menatap Farhan. Cowok itu diam saja. Faren menganggapnya sebagai jawaban iya. “Jadi intinya, kalau nggak ada Izzy nggak ada untungnya kita nikah.”
“Emang nggak ada untungnya! Istri gue itu seharusnya Ris—“ Farhan langsung menghentikan ucapannya seketika. Tiba-tiba kejadian beberapa bulan lalu terlintas dicbenaknya. Rissa jelas bukan lagi cewek yang diharapkannya. Dia dan Deny telah menusuknya. “Ya—Yang jelas bukan lo!” lanjutnya tergagap.
“Oke. Terakhir, karena kita nggak punya pembantu, kita bagi tugas kerja. Hari Selasa-Kamis-Sabtu gue yang tugas ngerjain pekerjaan rumah. Terus hari Senin-Rabu-Jum’at-Minggu, yang tugas lo.”
Farhan langsung melotot. “Curang banget! Lo cuma tiga hari! Kok gue empat hari? Nggak! Gue nggak setuju!”
Faren memasang senyum kemenangan. “Yah, lo kan cowok. Lebih tahan banting.”
“Di mana-mana yang ngurusin rumah itu cewek!” protes Farhan keki.
“Yah... Sayangnya lo udah tanda tangan. Gimana dong?” ujar Faren tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Farhan menatapnya dengan penuh amarah. Dalam hati Faren takut juga melihat wajah Farhan yang menyeramkan itu. Selama ini cowok itu lebih sering pasang wajah manis di depannya. Ternyata semua hanya topeng. Jadi seperti ini sifar aslinya!
“Gue mau tidur siang dulu.” Akhirnya Faren bangkit dari duduk. Lalu berjalan menuju tangga. Tapi tiba-tiba dia menoleh sebentar. “Hari ini hari apa, ya? Senin, kan? Oke. Selamat bekerja!” katanya sambil berlalu.
Farhan merutuk. Gue dikerjain!!! Kurang ajaaar!!
***
Farhan membuka matanya yang terasa berat. Silau. Sinar kaca jendela itu menyilaukan matanya. Cepat-cepat dia bangkit dari tidur. Dengan setengah kantuk dia melirik jam di dinding. Jam setengah 10 pagi. Gawat!!
Farhan melotot seketika. Dia berlarian ke kamar mandi sambil menarik sebuah handuk. Segera dinyalakannya kran air shower. Sekitar tiga menit kemudian dia sudah siap dengan kemejanya. Dia berlari turun dengan cepat melesat menuju dapur.
“Kok lo nggak bangunin gue, sih?” protes Farhan pada Faren yang tampak sibuk menyuapi Izzy. Cewek itu menoleh tanpa rasa bersalah. “Kenapa?”
“Kenapa? Pake nanya lagi! Udah jelas-jelas lo nggak bangunin gue! Gue kan ada jadwal kuliah jam 10 pagi.”
“Salah sendiri! Lagipula, itu bukan urusan gue. Makanya lain kali pake jam beker yang gede. Biar bisanya nggak ngomelin orang doang.”
Farhan menggeram penuh emosi. Beginilah kerjanya setiap pagi sekarang. Marah-marahan. Ketus-ketusan. Ejek-ejekan. Sudah biasa! Tidak perlu ditahan lagi kalau ingin marah-marah pada cewek satu ini. Bebas. Mau bunuh-bunuhan juga terserah. Lagipula tidak ada lagi para orang tua di sekitar mereka. Mau ngapain juga terserah. Bodo amat!!
“Gue tunggu di mobil! Nggak pake lama!” ujar Farhan kesal sambil merampas Izzy dari gendongan Faren.
Farhan berjalan ke garasi dengan tergesa. Dia membanting pintu mobil dengan kesal. Matanya kemudian beralih menatap Izzy di pangkuannya yang tersenyum-senyum. Lagi-lagi matanya berbinar.
“Kok kamu mau, sih, punya ibu kayak dia?” gumam Farhan tanpa sadar.
“Papapah...” jawab Izzy terpatah-patah. Tangannya bergerak-gerak menyentuh setir mobil.
“Nggak mau, kan? Kayak nenek lampir. Hiii.... Izzy takut, kan?”
“Papapapah..”
“Iya, sayang. Serem, kan?”
Izzy kali ini diam. Tidak lagi menyebut-nyebutnya. Tangannya malah asyik memainkan setir mobil. Sekarang Izzy sudah mulai berbicara. Meskipun hanya beberapa kata yang dia bisa. Tapi dia sudah bisa menyebut Papa dan Mama.
“Duh... Mana sih tuh anak? Lama!” Farhan melirik pintu melalui kaca spion. Faren tak keluar-keluar juga. Padahal sudah lebih dari lima menit.
“Ngapain aja tuh anak? Nggak tahu apa orang lagi buru-buru?!” geram Farhan untuk yang kesekian kalinya. Dia melirik lagi ke kaca spion. Tidak ada tanda-tanda Faren akan keluar dari rumah.
Farhan menyalakan mobil dan dengan sengaja menyentuh klaksonnya keras-keras. Suara itu terdengar berulang-ulang. Tapi Faren belum juga keluar.
Izzy tertawa senang mendengar suara nyaring klakson mobil. Dia menepuk-nepukkan kedua tangannya sambil berjingkrak-jingkrak di atas pangkuan Farhan.
“Izzy mau nyoba? He-eh? Mau nyoba?” Farhan berbicara pada Izzy yang kini duduk di pangkuannya. Seakan mengerti, Izzy mengangguk senang. Kemudian Farhan mendekatkan jarak Izzy pada klakson mobil. Tapi tangan kecilnya tidak sampai untuk menyentuh klakson.
Akhirnya Farhan mendapat ide juga. Dia mengangkat Izzy dan mendudukkannya di setir. Seketika klakson mobil yang diduduki Izzy mengeluarkan bunyi nyaring dan panjang. Izzy tertawa senang mendengar suara menderu-deru itu keluar dari belakang pantatnya.
Beberapa saat kemudian akhirnya Faren muncul dengan wajah garang. Dibantingnya pintu mobil dengan kasar. “Dasar gila!” geramnya sambil memaksa menurunkan Izzy dari setir. Bayi berusia 9 bulan itu hanya tertawa-tawa senang melihat pertengkaran orang tuanya.
“Lama! Lama! Lama!” Farhan menghardik.
Faren tidak menyahut. Sibuk merapikan rambut Izzy yang berantakan. Lalu mengelus-elus pipi tembem kemerahan anaknya dengan penuh sayang. Sebodo amat dengan bapaknya! Dia tidak mau peduli!
Farhan meliriknya kesal. Kemudian menginjak gas. Mobil berjalan keluar dengan kecepatan tinggi. Sesekali Farhan melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu!
Mobil berhenti tepat di depan rumah Faren yang jaraknya lumayan dekat dengan kampus. Faren segera turun dari mobil setelah menerima ancaman berupa, “Nggak pake lama! Buru!”
Tapi Faren tetep tidak peduli. Dia berjalan masuk ke rumah malah sengaja dilambat-lambatkan. Jadwal kuliahnya, sih, masih tiga jam lagi. Biarkan saja Farhan menunggu lama!
“Ma, titip Izzy, ya?” ujar Faren ketika melihat mamanya di teras.
“Eh, Faren! Tumben kok siang? Kamu kuliah, kan?” Mama berjalan mendekati Faren.
“Iya, Ma. Tapi jam 1 siang. Titip Izzy dulu, ya?”
“Sini Izzy. Ayo main sama Oma.” Mama mengambil alih Izzy dari tangan Faren. Seketika air muka bayi itu berubah merah. Seakan menahan tangis, tak ingin berpisah dengan mamanya.
“Hikss... Hiks...” tangis Izzy pecah sedikit-sedikit. Tangannya terbuka lebar, meminta kembali pada mamanya.
“Mama cuma bentar, kok. Dadah... sayaaang.” Faren melambaikan tangan sambil mengecup dahi bayinya. Tangis Izzy makin deras. Mama Faren membawanya masuk.
Faren meninggalkan halaman rumahnya dengan langkah kecil. Sengaja diperlambat. Begitu masuk mobil lagi-lagi dia mendapat omelan dari Farhan yang sudah menampilkan wajah garang.
“Gue bilang kan nggak pake lama!”
Faren pura-pura tidak mendengarnya. Dia malah memasang headset pada kedua telinganya. Farhan menatapnya kesal. Cowok itu mencengkeram tangan Faren yang hendak memasang headset.
“Apaan, sih?!”
“Denger ya, kalau lo mau seenaknya, gue juga bisa seenaknya!”
“Ya silahkan aja!” tantang Faren kemudian.
Farhan melepaskan tangan Faren dengan kesal. Lalu beralih kembali pada setirnya. Dia menancapkan gas asal-asalan. Mobil pun melaju dengan kencang menuju kampus mereka.
***
Beberapa menit kemudian, mobil sampai di parkiran kampus, Farhan langsung kabur ke fakultasnya. Faren juga. Begitulah mereka setiap hari. Kalau sampai kampus, mereka langsung pergi masing-masing. Tidak peduli satu sama lain. Jalan pun tidak pernah bersama. Bahkan mungkin orang-orang kampus tidak ada yang tahu kalau mereka ini sudah berstatus suami-istri.
Faren sendiri yang menambah peraturan kalau tidak ada yang boleh tahu apapun tentang hubungan mereka. Sebisa mungkin jangan sampai ada yang tahu kalau mereka sudah menikah. Apalagi sudah punya anak. Jangan sampai tahu!
Semua tidak ada yang tahu. Tapi untuk lulusan SMA 40, itu pengecualian. Semua alumni SMA itu jelas sudah tahu apa yang terjadi pada mereka. Sialnya banyak juga teman seangkatan Farhan dan Faren yang melanjutkan kuliah ke kampus yang sama. Jadi kalau kadang bertemu dengan Farhan atau Faren, tak jarang anak-anak menanyakan bagaimana keadaan hubungan mereka sekarang. Apa kabar bayi mereka. Sudah berapa umurnya. Siapa namanya, dan lain-lain. Dan banyak juga isu miring yang berterbangan. Tapi selebihnya tidak ada yang tahu tentang hal itu.
Kesialan Farhan yang terbesar lainnya yaitu harus kembali bertemu dengan Deny dan Rissa yang kuliah di tempat sama dengannya. Kadang Farhan berpikir ingin mencabutkan diri dari kampus ini, toh karena pada dasarnya yang memaksa Farhan kuliah di sini ya Rissa. Jadi kalau dipikir sekarang, perjuangannya masuk kampus ini sudah tidak berguna sama sekali.
Tapi sewaktu Farhan mengatakan hal itu pada Papa, Papa malah melarangnya mati-matian. Tentu saja. Masuk ke PTN sudah susah payah. Eh, dengan seenaknya Farhan malah minta pindah. Jelas Papa tidak setuju. Alasan lain karena Faren—yang kini menjadi junior di fakultas berbeda— juga kuliah di sana, jadi bisa berangkat bersama sekalian.
Setidaknya masih ada satu keberuntungan untuk Farhan. Lebih tepatnya ini keberuntungan Kiky, sih. Karena akhirnya cowok itu mendapatkan jatah kursi juga di kampus ini. Farhan benar-benar tidak menyangka. Akhirnya imipian Kiky yang semu terwujud juga. Bahkan kini mereka sudah memasuki semester keempat bersama-sama.
Begitu masuk kelas, kesialan Farhan benar-benar sudah memuncak. Ternyata si dosen killer sudah masuk dan memulai pelajaran. Farhan menghembuskan nafas berat. Pelan-pelan dia mengetuk pintu kaca di depannya itu.
“Permisi...”
***
Farhan keluar dari kelas dengan wajah kusut. Ternyata diceramahi dosen jauh lebih mengerikan ketimbang jaman SMA dulu. Mahasiswa bodoh saja sok berani nelat, begitu kata dosen tadi. Farhan berusaha mati-matian untuk tetap bersabar menghadapi hari-harinya di sini. Tinggal beberapa semester dan dia harus kuat.
Di pandangannya orang-orang bersliweran keluar masuk kelas dan banyak pula yang hilir mudik menuju kantin. Farhan memasang kedua matanya. Mencari-cari sosok Faren dari fakultas sebelah. Siap-siap saja cewek itu akan kena omelan dan bentakannya.
Baru ketika Farhan bersiap mencarinya ke kantin, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dengan kencang. Dia langsung mendengus melihat wajah Kiky. Di sampingnya berdiri seorang cewek dengan rambut hitam panjang yang dikucir ke samping. Namanya Titha. Pacar Kiky. Kebetulan juga dulu murid SMA 40 jurusan IPA. Anak kelas seberang.
Awalnya Farhan masih belum percaya kalau akhirnya Kiky pacaran dengan Titha. Soalnya semua murid SMA 40 juga tahu kalau mereka ini musuh bebuyutan. Awal mula mereka musuhan itu gara-gara keduanya sama-sama masuk ekskul badminton. Dan dari situlah untuk pertama kalinya Kiky dikalahkan oleh seorang cewek. Merasa tak terima, Kiky mulai sok-sokan menantang Titha setiap kali Sabtu sore. Sejak saat itu keduanya jadi musuh bebuyutan yang tiap kali bertemu langsung tawuran.
Anehnya setelah masuk kuliah, tiba-tiba saja rasa benci itu berubah menjadi cinta. Dan akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Farhan sampai tidak percaya. Padahal dulu dia yang paling sering menghina Kiky sebagai jomblo sejati.
“Kalian lagi...” gerutu Farhan malas.
Kiky langsung cengar-cengir diledek begitu. Cewek di sampingnya itu juga cekikikan.
“Bagus lo tadi ninggalin gue!”
“Ya sorry... Habisnya tadi gue jemput Titha dulu. Eh, waktu gue balik ke kelas, lo udah nggak ada,” jawab Kiky tanpa dosa.
Farhan mencibir. Dia pasang wajah ngambek dan berjalan menjauhi dua makhluk menyebalkan itu. Kedua orang itu mengikuti Farhan dari belakang. Farhan terus melangkah acuh tak acuh.
“Kok sendiri? Faren mana, Far?” tanya Titha kemudian.
“Nggak usah nanyain dia!” jawab Farhan ketus.
Kiky menyenggol pelan bahu pacarnya dan berbisik. “Lagi berantem kali...”
“Oh...” Titha menggumam pelan sambil membulatkan mulut. “Ky, nanti anterin aku ke toko buku bentar, ya? Aku pengen beli komik, nih.”
“Beres sayaaang. Kemana pun dikau pergi, aku akan selalu mengikutimu.”
“Yeay...” Titha terlonjak senang sambil mencubit pipi Kiky dengan mesra.
Farhan melirik mereka dengan iri. Dulu dia dan Rissa juga seperti itu. Sehabis pelajaran Rissa pasti mengajaknya pergi ke toko buku. Cewek itu sangat suka mengoleksi kamus-kamus luar negri, buku kumpulan soal, dan rumus-rumus matematika. Tapi sayangnya, cewek itu kini berubah menjadi seorang devil, sama seperti temannya Deny. Sekarang Farhan tak punya siapa-siapa lagi.
“Far, gue nganter cinta gue dulu, ya?”
Farhan melirik Kiky sinis. “Oh, jadi lo nyamperin gue cuma mau ijin pulang doang nih?”
“Hehehe...” Kiky cengengesan.
“Mendingan lo ikut sekalian aja, deh. Lumayan kan beli komik Naruto buat Izzy. Iya kan, cin?”
“Yup cinta!” sahut Kiky riang.
“Nggak usah menghina, deh! Lagian bayi tuh nggak bisa baca buku. Ngerti?”
“Ya buku bergambar, deh.”
Farhan menghembuskan nafas berat. Lama-lama tidak tahan menghadapi dua makhluk ini. Merasa kesal, Farhan melayangkan tangan ke depan. “Sana pergi sebelum gue—”
Dan sebelum amarah Farhan sempat mencuat keluar, Kiky dan Titha mengacungkan tangan kalah. “Kalau gitu, bye...” setelahnya mereka berlarian entah kemana.
Farhan menghembuskan nafas panjang. Lagi-lagi dia sendiri.
***