“Banguuun! Kerjaan menumpuk!”
Farhan memaksakan diri membuka mata ketika seseorang menarik selimutnya dan membuangnya ke lantai. Dia bangkit sambil melotot ke arah Faren yang berdiri dengan wajah garang. Farhan mau tak mau balas melotot juga. Kalau kekerasan dalam rumah tangga diperbolehkan, mungkin Farhan sudah mencekiknya sejak dulu.
“Bisa nggak, sih, lo nggak merusak ketentraman gue?!”
“Bisa nggak lo jadi orang profesional?!” balas Faren balik.
Farhan menatapnya kesal. Dengan setengah malas dia berjalan turun ke bawah. Sial, kenapa di saat hari libur dia malah disuruh kerja rodi? Mana kerjaannya banyak pula! Mulai dari cuci baju, masak, cuci piring, mengepel lantai, bersih-bersih kamar, dan semua pekerjaan ART lainnya. Sementara Faren hanya akan asyik menonton tv sambil bermain bersama Izzy. Sangat tidak adil.
“Dasar cewek licik!” gumam Farhan sambil memunguti piring-piring kotor di sekitar dapur.
“Gue denger!” jawab Faren dari belakang Farhan.
“Terserah!”
Farhan menuangkan sebungkus kecil sabun cuci pada kotak plastik. Dengan kesal diremas-remasnya spon di tangannya. Lalu diratakannya busa pada piring dengan kasar. Sesekali terdengar bunyi ketukan piring beradu dengan piring lain yang ditumpuk sembarangan.
“Ppapaa uci iying..” kata Izzy dengan susah payah.
“Iya, Papa lagi sibuk,” ucap Faren sambil menyodorkan sebuah biskuit pada Izzy.
“Uit...” Izzy menatap biskuit di tangan Faren. Seakan bertanya.
“Iya, uit! Nyam... nyam... Makan dulu, Zy.”
Izzy tampak menggeleng-geleng. Dia lebih tertarik melihat papanya sibuk cuci piring. Tangannya bergerak-gerak meminta perhatian agar Farhan menoleh. Tapi dia tetap sibuk dengan piring.
“Ppaapaa...”
“Lagi sibuk, Zy! Ayo dimakan! Aaaa...” Faren menanti sampai Izzy membuka mulut. Sayangnya dia tetap tidak mau membuka mulut. Dan malah asyik melihat Farhan mencuci.
“Paapaa ain.”
Faren melotot. Tanpa sadar menggertak Izzy. “Dibilangin Papa lagi sibuk, sayaaang. Main sama Mama ya?”
“Ppapaapaa... Hiks... Hiks...” Izzy hampir menangis.
Faren melirik Farhan dengan sebal. Cowok itu menoleh ketika merasakan lirikan tajam Faren. Farhan langsung menampilkan senyum penuh kemenangan. Faren mendecih kesal. Dengan setengah terpaksa dia bangkit dari kursi dan menyerahkan Izzy pada Farhan.
“Izzy itu paling nggak suka liat papanya menderita,” gumam Farhan dengan bangga. Faren membuang muka mendengarnya. “Dia ada di pihak gue.”
“Tapi gue yang udah ngelahirin dia! Bukan elo!” tandas Faren tak terima.
“Sayangnya gue punya ikatan batin sama dia.” Farhan lagi-lagi tersenyum bangga, membuat Faren semakin merasa kalah. Cewek itu akhirnya diam dan dengan sangat terpaksa melanjutkan apa yang dikerjakan Farhan.
Farhan mengangkat Izzy tinggi-tinggi. Dia mencium dahinya yang putih. Bayi itu tertawa kegelian. Tangan kecilnya meraba-raba hidung papanya dan memencetnya.
“Jangan Zy, nanti pesek.”
“Hihihi...”
Faren melirik mereka berdua dengan kesal. Dia meletakkan gelas dengan kasar hingga menimbulkan bunyi nyaring. Setelah pekerjaan selesai, dia bangkit menuju kamar.
***
“Ren, suami lo kemana?” tanya Vivi mengambil tempat kosong di samping Faren yang sibuk membaca majalah.
Faren melotot ke arah Vivi. “Kurang keras, Vi!”
Vivi menutup mulut seketika menyadari kesalahannya. “Sorry, Ren.”
Faren tersenyum kecut menanggapi ucapan Vivi. “Jangan bahas dia! Bikin orang bete.”
“Lho, emangnya Farhan bikin kesalahan?”
Faren mengedikkan bahu. “Nggak tahu juga. Liat mukanya aja udah bikin sebel.”
Vivi menatap Faren heran. Dia tidak habis pikir dengan sahabatnya satu ini. Setiap hari ada saja masalahnya dengan sang suami. Vivi saja sampai kelabakan setiap hari mendengarkan omelan Faren mengenai Farhan. Tapi dia tetap berusaha setia menjadi bak sampah untuk semua unek-unek dari Faren tentang suaminya. Mungkin suami-istri muda itu masih belum bisa saling memahami. Jadi setiap harinya hanya diisi dengan pertengkaran.
Faren berusaha tidak peduli dengan tatapan heran Vivi. Dia sibuk membolak-balik majalah di depannya. Ketika Faren mulai bosan, dia bangkit menuju rak-rak buku yang ada dalam perpustakaan luas itu. Matanya bergerak menelusuri satu per satu buku yang ada pada bagian teknik. Jemari lentiknya menyentuh ujung buku bersampul hijau.
Faren meraih buku itu dan melangkah mundur. Seketika sesosok bertubuh tinggi besar menabrak langkahnya. Faren tersentak kaget dan segera mengalihkan pandangannya dari buku hijau itu pada sosok di depannya. Mata Faren membulat seketika.
“Faren!!”
“Kak Ghani?!” ucap Faren seakan tak percaya pada pandangannya. Cewek itu mengucek matanya dan berkedip sekali. Benar. Cowok di hadapannya ini Kak Ghani. Mantan pacarnya waktu masih di Surabaya.
“Faren?! Ini beneran kamu?” sekarang cowok bernama Kak Ghani yang usianya kira-kira dua tahunan lebih tua dari Faren itu mengguncangkan tubuhnya.
Faren tersenyum menanggapi ucapan Ghani. “Kakak sejak kapan pindah ke Jakarta?”
Ghani balas tersenyum. “Sejak lulus SMA aku emang ngelanjutin kesini. Kok kamu nggak tahu?”
“Aku emang baru tahu sekarang.” Faren menunduk sambil menatap buku bersampul hijau di dekapannya.
“Kamu ternyata juga pindah ke Jakarta, ya? Aku nggak nyangka.” Cowok bernama Ghani itu tersenyum tipis. “Aku seneng banget, Ren. Akhirnya kita ketemu lagi.”
Faren mengangkat wajahnya. Dia memaksakan seulas senyum. “Aku juga.”
Ghani tersenyum menanggapi. “Kita— bisa ngobrol-ngobrol bentar, kan?”
Faren berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Oke.”
Mereka berjalan keluar dari barisan rak buku-buku teknik bersama. Setelah say goodbye pada Vivi, Faren dan Ghani berjalan keluar dari perpustakaan. Sialnya, di jalan menuju parkiran Faren harus berpapasan dengan Titha. Teman sekelasnya di SMA yang terkenal cerewet, sekaligus pacarnya Kiky. Titha memasang wajah tidak suka pada Ghani, lalu segera menyeret Faren agak menjauh.
“Ren, siapa tuh orang?” tanya Titha ingin tahu ketika agak jauh dari Ghani.
“Iiih apaan sih lo, Tha?! Dia temen lama gue. Gue cuma mau ngobrol bentar sama dia.”
Titha menghembuskan nafas berat. “Inget ya, lo udah punya suami! Ngerti?!”
Faren melotot kesal. “Gue sama Kak Ghani nggak ada apa-apa!”
Titha melirik Ghani dari atas sampai bawah. “Oke, deh. Tapi kalau sampai lo macam-macam, gue bilangin sama Farhan.”
“Bilangin aja!”
Titha mencubit pelan lengan Faren. “Lo kok gitu, sih, Ren!”
“Lo bawel banget sih, Tha! Udah sana balik, gih. Gue ada urusan penting.”
“Yeee... Awas lo gue aduin beneran!” ancam Titha kemudian.
“Aduin aja! Week...” Faren meleletkan lidah sambil melambaikan tangan pada salah satu teman sekelasnya di SMA itu.
“Kenapa Ren?” tanya Ghani penasaran begitu Faren kembali lagi di sampingnya.
“Ehm... Nggak papa. Temenku itu emang kepo.”
“Oh...” Ghani membulatkan bibir. Kemudian keduanya berjalan menuju area parkir yang luas.
***
“Mau pesen apa, Ren?”
“Capucino aja.” jawab Faren sambil memainkan tasnya.
“Oke.” Ghani tersenyum sambil memanggil salah satu pelayan kafe itu. Sang pelayan kemudian mencatat pesanan mereka. Setelah itu dia kembali ke kasir memenuhi pesanan.
Lagi-lagi Faren dan Ghani terjebak keheningan. Sudah lama tidak berjumpa membuat keduanya jadi asing. Faren tak henti-hentinya melayangkan senyum—yang dibalas Ghani dengan begitu lebar, membuat cewek itu semakin salah tingkah.
“Lama nggak ketemu kamu, Ren.” Ghani mengucapkan hal yang sama seperti beberapa saat lalu.
“Iya, Kak. Aku juga.”
“Oh ya, kamu sekarang kuliah di fakultas apa?”
“Teknik fisika. Kalau kakak?”
“Arsitektur”
Seorang pelayan tiba di meja membawa pesanan Faren dan Ghani. Faren segera menyeruput capuccino di hadapannya dengan agak canggung. Begitu pula dengan Ghani yang meminum soda-nya sambil sesekali melirik ke arah Faren di hadapannya.
Cewek ini makin cantik aja. Batin Ghani tak habis pikir.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Ghani buka mulut lagi. Pembicaraan basa-basi. Tapi cukup membuat keduanya terbahak untuk beberapa saat. Seperti kembali terlempar pada masa lalu. Sampai akhirnya pembicaraan yang dibicarakan mulai kembali ke arah serius. Faren sampai mematung beberapa saat.
“Ren, dulu itu—” Ghani menghembuskan nafas sejenak. “Aku selalu nyariin kamu. Setelah acara wisudaku, aku ke rumah kamu, rumah kamu udah kosong dan mau dijual.”
Faren memutar-mutar handphone di tangannya. “Waktu itu aku sama keluargaku udah pindah ke Jakarta. Papa ada proyek baru.”
“Nomor hape kamu juga ganti.”
“Ehm... itu...” Faren kehabisan kata-kata. Perlahan Faren menunduk. “Maafin aku Kak, kita jadi lost contact.”
“Kamu nggak salah, Ren.”
“Aku pengen bilang yang sebenarnya. Tapi aku nggak mau kakak kecewa.” Faren terdiam sejenak. “Dan kalau dipikir-pikir, LDR itu akan susah, Kak. Lagipula kakak pasti akan dapat yang lebih baik dari aku”
Ghani menggeleng. “Nggak. Sampai saat ini kamu yang paling baik, Ren.”
“Di atas langit ada langit, Kak.” Faren menegaskan. Seakan memberitahu bahwa tak ada lagi jalan untuk kembali mengulang semuanya. Dia tahu posisinya sekarang. Kembali bersama Ghani seperti sebuah mimpi yang semu. Apalagi sejak kehadiran Izzy di hidupnya. Ghani tidak akan bisa menerima Izzy.
“Tapi langit tertinggiku itu kamu.”
Faren hanya diam. Kehabisan kata untuk mengelak lagi.
“Bisa nggak, kita kayak dulu lagi?”
“Aku nggak tahu.”
***
“Ini rumah baru kamu, Ren?” Ghani melongokkan wajahnya melalui kaca jendela mobil yang terbuka separuh. Memandang pada bangunan bercat kuning klasik yang menyedapkan mata.
Faren tersenyum sambil mengangguk. “Kak, aku pulang, ya. Makasih udah mau nganterin aku pulang.”
Ghani balas tersenyum. “Nggak masalah. Ehm... kamu nggak ngajakin aku masuk, nih?” candanya. “Pengen ketemu sama Tante Meranda, nih. Kangen sama Farel juga.”
Faren meneguk ludah kasar. Buru-buru dilayangkannya senyum penuh keraguan. Lalu nada bicaranya berubah ragu-ragu. “Ehm... Gimana, ya?”
“Emang kenapa?”
“So—Soalnya Mama lagi pergi. Farel juga belum pulang. Papa kamu tahu, kan? Beliau kadang pulang malam. Jadinya sepi, deh. Takutnya nanti tetangga mikir yang macem-macem.”
Ghani tertawa melihat tingkah Faren yang gugup. “Iya, aku langsung pulang, deh. Kapan-kapan aja aku main. Bye.”
“Bye, Kak.” Faren melambaikan tangan ketika mobil sport perak di hadapnnya mulai melaju meninggalkan kompleks. Setelahnya Faren menghembuskan nafas lega.
Faren melangkahkan kaki cepat-cepat menuju pintu rumah. Dia membunyikan bel sekali. Tepat ketika itu Farhan langsung muncul dari balik pintu. Penampilannya berantakan dan penuh bubuk s**u yang bertaburan. Bajunya kotor bekas bubur bayi yang dimutahkan Izzy tadi siang. Samar-samar tercium juga bau pesing dari bajunya yang kotor. Ini lebih parah. Bekas ompol Izzy!
“Dari mana aja, lo?!” tandasnya ketus.
“Bukan urusan lo!” balas Faren sama ketus. Padahal dalam hati dia hampir tertawa juga melihat tampang Farhan yang awut-awutan tidak jelas.
Faren nyelonong masuk ke dalam. Tepat sebelum Faren berhasil menjangkau anak tangga, Farhan mecekal lengannya. Menahannya agar tidak bergerak lebih maju. “Akan jadi urusan gue kalau lo nggak seenaknya ninggalin tanggung jawab!”
Faren menatap Farhan sinis. “Lo emang sekali-kali perlu kena ompol kayak gitu! Biar jadi pelajaran buat lo!”
Farhan menampilkan senyuman sinis. “Gue susah-susah di sini ngurusin Izzy. Sedangkan lo? Malah enak-enakan selingkuh.”
“Oh... lo mau selingkuh juga? Silahkan aja! Sama siapa, tuh?” Faren mengangkat alis. “Rissa?”
“Nggak usah mulai, ya! Gue udah capek, Ren! Gue lagi berusaha cari kerja sambilan buat lo sama Izzy. Tapi kalau setiap hari lo pulang ngaret dan nggak tahu waktu kayak gini, kapan gue bisa cari kerjanya? Besok-besok mau makan apa lo sama Izzy nanti?”
Faren memicingkan mata tajam. “Lo mau kerja? Ya sana!”
“Seenggaknya lo pulang lebih awal. Jangan main-main dulu di luar. Kita udah nggak kayak dulu lagi, Ren. Bukan remaja yang bisa main-main sepuasnya. Udah ada Izzy. Gue juga harus mulai kerja dari sekarang. Lo harusnya ngerti kondisi gue.”
“Terus maksud lo gue nggak boleh seneng-seneng?” suara Faren meninggi. “Gue cuma harus jagain rumah dan jadi pengurusnya Izzy?”
“Astaga. Nggak begitu, Ren! Udahlah, ngomong sama lo salah terus. Capek gue lama-lama,” Farhan menggertak jengkel. “Sana urusin Izzy. Gue mau mandi.”
Farhan bergegas masuk. Dia melepas kaosnya dan melemparnya tepat ke sofa. Faren ngeri juga melihat sikap Farhan yang seperti ituitu. Tidak biasanya dia berani mengumbar body di depan Faren. Kalau sudah seperti itu, berarti Farhan memang sedang marah.
Faren berusaha tidak peduli. Dia masuk ke dalam dan menemukan Izzy sedang duduk di mainan berodanya. Bayi itu tersenyum riang tatkala melihat ibunya datang.
“Mamam...”
“Sayaaang... Cup...” Faren mengecup dahi kecil bayi itu. Tangannya bergerak mengelus rambut tipisnya yang halus. “Izzy wangi, nih. Udah mandi ya?”
Izzy mengangguk sambil memainkan kincir di tangannya.
“Dimandiin siapa?”
“Papap...”
Klek!
Faren melirik pada pintu kamar mandi bawah. Panjang umur. Baru saja dibicarakan sudah muncul saja.
Farhan keluar hanya dengan boxer hitam almanac-nya. Body-nya yang lumayan bagus itu lagi-lagi membuat Farhan ngeri. Cowok itu menyampirkan handuknya asal-asalan. Lalu dia bergerak menuju sofa dan melemparkan diri. Dia cuek saja ketika melihat Faren menatap sinis ke arahnya.
Pede gila!
“Pakai baju!” ketus Faren ketika Farhan dengan gampangnya tiduran tanpa baju di atas sofa. Dia membuka koran dan malah asyik membaca sambil mengumbar body.
Faren menahan kesal. Dia berlarian menaiki tangga menuju kamar Farhan. Mengambil asal-asalan salah satu kaos dari almari. Lalu berlari kembali ke bawah.
“Nggak usah pamer!” ujar Faren sambil melempar kaos ke atas tubuh Farhan. “Gue nggak suka liat body lo yang jelek!”
“Thanks, ya, mau ngambilin baju gue,” jawab Farhan sambil tersenyum puas. “Ehm... nggak sekalian makein juga, nih?”
“Pakai sendiri!”
“Kenapa? Lo cuma berani ngambilin doang, nih? Nggak berani makein?” tantang Farhan kemudian.
Faren memaksakan tawanya yang terdengar gugup. “Lo nantang gue?”
“Iya.” Farhan menjawab spontan. “Masak bentak-bentak orang bisa, kayak ginian aja nggak bisa?!”
“Lo mau gue pakein bajunya?!”
“Iya! Ayo pakein! Kenapa?! Nggak berani?!”
Faren mengambil kaos yang dilemparkannya tadi. Dia menatap kesal ke arah Farhan. Cowok itu berjalan mendekat. Sehingga tubuh kedua suami-istri itu kini berhadap-hadapan. Faren meremas-remas kaos Farhan yang ada di tangannya. Lalu melemparkannya pada wajah Farhan sehingga cowok itu marah karena merasa dibohongi.
“Denger, ya, gue bukan pembantu lo! Jadi jangan sok nyuruh-nyuruh gue!”
“Tapi gue suami lo! Hak gue untuk nyuruh-nyuruh lo! Dan udah jadi kewajiban lo melayani gue!”
“Nggak ada aturannya!”
“Oke...” Farhan mengangguk-angguk sok yakin. “Tapi sayangnya, gue bisa bertindak semau gue, Ren!” Dia kemudian mencengkeram tangan Faren dengan erat. Tanpa persetujuan Faren, cowok itu mengecup bibirnya.
PLAAK!
“Dasar kurang ajar!” geram Faren setelah melemparkan tamparan pada pipi Farhan.
Farhan tersenyum sambil meringis tertahan. “Kalau gue mau, gue bisa bertindak lebih dari ini!”
Faren terdiam. Sebisa mungkin menahan agar tangisnya tidak keluar.
“Izzy itu bukti! Gue bisa aja maksa lo bikin Izzy yang lain!”
Faren mengangkat wajah. Farhan nyaris shock melihat mata cewek itu yang sudah memerah menahan tangis. Mendadak dadanya terasa nyeri. Faren kemudian berlari naik tanpa mempedulikannya lagi.
Apa gue udah keterlaluan??? Batin Farhan berteriak frustasi.
***