BAB 14

1932 Words
Keesokan harinya Faren bangun pukul 6 pagi. Mulai detik ini, dia tidak mau tahu soal Farhan lagi. Dia benar-benar sudah tidak peduli dengan cowok itu. Bendera perang di antara mereka kini berkibar semakin tinggi. Kebencian Faren terhadap cowok itu semakin menjadi-jadi saja. Kalau kemarin-kemarin dia masih mau bicara walaupun sekadar marah-marah atau paling tidak membentak. Mulai saat ini dia tidak akan pernah lagi mau bicara dengan cowok itu. Dia benar-benar sudah benci pada Farhan. Setelah selesai memandikan Izzy, Faren pergi ke rumahnya dan menitipkan Izzy pada Mama. Wanita itu selalu kelihatan senang setiap kali cucunya dititipkan di rumah. Mama dengan riang akan mengajak Izzy jalan-jalan. Farel juga sering sekali mengajak Izzy main. Papa kalau sudah pulang pasti juga senang melihat cucunya. Tepat pukul 9 pagi Faren sudah sampai di kampus dengan memakai taksi. Biasanya dia berangkat barsama Farhan, meskipun yang diisi selama perjalanan cuma makian dan bentakan. Tapi mulai saat ini? Deal. Faren tidak akan pernah mau berurusan lagi dengannya. Kemarin-kemarin dia masih mau membangunkan Farhan yang kerjanya kebo tiap waktu. Tapi sekarang? Bodo amat! Biarkan dia bangun sendiri. Biarkan dia pergi sendiri. Selama Izzy sudah beres, Faren bebas melakukan apapun. Dan tidak ada urusannya dengan Farhan. Buktinya cowok itu sekarang belum menampakkan batang hidungnya di depan Faren. Paling juga tidurnya kebablasan. Atau mungkin tengah shock gara-gara rumah kosong melmpong. Faren tak mau tahu lagi. Biar saja Farhan mengurus semuanya sendiri! Baru ketika Faren masuk ke dalam pelataran kampusnya yang sangat luas, sosok tubuh tinggi jangkung dengan kulit agak kecoklatan yang menawan berdiri sambil menyunggingkan seulas senyum. “Hai, Ren!” sapa Kak Ghani. “Hai, Kak!” jawab Faren sambil memaksakan senyum, mencoba menghilangkan semua kegundahan hatinya. “Ehm... Boleh aku antar ke kelas?” “Boleh, dong.” “Yuk...” *** Farhan terbangun dari tidurnya pukul 10 lewat. Dia langsung terlonjak kaget dan jatuh berdebam di lantai. Farhan meringis sejenak. Lalu buru-buru bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Setelah memakai kemeja dan jeans hitamnya, Farhan langsung berlarian turun. Dia langsung kebingungan begitu tahu Faren dan Izzy tidak ada di rumah. Cowok itu berlarian kesana-kemari mencari istri dan anaknya. Tapi sayangnya mereka berdua tidak ada dimana-mana. Akhirnya Farhan memutuskan untuk menelpon mertuanya. “Halo. Farhan?” jawab wanita di ujung sana. “Iya, Ma.” “Kenapa, Far? Tumben pagi-pagi telpon kesini? Bukannya kamu ada kuliah?” “Iya, Ma. Sebenernya ini Farhan juga udah telat.” “Lho?” Mama Faren tampak kebingungan. “Bukannya kamu sama Faren udah berangkat dari tadi, ya?” Farhan diam sejenak. Berusaha mencerna maksud pembicaraan mertuanya. Akhirnya dia mengerti juga. Dengan susah payah Farhan memaksakan tawa bercandanya. “Hehe... Iya, sih, Ma. Cuma mau nanyain kabarnya Izzy aja sebenernya. Tiba-tiba aja kangen.” Mama Faren tertawa lebar. “Kamu ini. Haha... Tenang aja, Izzy baik-baik aja kok sama Mama. Dia lagi main dinosaurus di kamarnya Farel.” “Oh gitu. Ya udah ya, Ma. Maaf Farhan jadi ganggu.” “Iya, Far. Lain kali jangan suka nelat cuma buat tanya kabar Izzy. Pokoknya kalau ada Mama semua beres.” “Hehe. Iya, Ma. Maaf. Farhan nggak bakal nelat lagi. Makasih ya, Ma. Farhan kuliah dulu.” “Oke, Far. Belajar yang bener.” Sampungan pun terputus. Farhan menggenggam handphone-nya erat-erat. Ternyata Faren berangkat sendirian tanpa bilang apa-apa dengannya. Jadi sekarang ceritanya Faren sedang mengacuhkannya gara-gara masalah sepele kemarin. Padahal Farhan hanya ingin mengerjai Faren saja. Tidak ada maksud apa-apa. Tapi Faren selalu saja menyalahartikan semua perbuatan Farhan. Farhan menghembuskan nafas berat. Dia berjalan keluar sambil mengunci pintu rumah. Lalu berjalan terlambat-lambat menuju marcedes-nya. *** Farhan terlambat-lambat melangkahkan kaki memasuki area kampus. Jam masuk sudah kelewat setengah jam, tapi dia tidak peduli. Bahkan dia tidak peduli pada dosen killer-nya Pak Bambang yang siap menyemprotnya dengan segala omelannya yang membosankan. Langkah Farhan terasa semakin berat dan lambat ketika melihat sosok Faren berjalan dengan seseorang yang tak dia kenal. Seorang cowok yang tampaknya salah satu senior di kampus. Faren sengaja buang muka ketika pandangannya dan Farhan bertemu. Farhan meremas kedua tangannya gemas. Tanpa mempedulikan kedua orang itu lagi, Farhan melangkahkan kaki memasuki gedung fakultasnya. Di jalan dia berpapasan dengan Rissa yang kebetulan sedang memasuki kawasan fakultas Manajemen. Mungkin mencari Deny. Tepat ketika pandangan mereka bertemu, Rissa langsung membuang muka. Melihat sikap Rissa yang menyebalkan, Farhan segera mempercepat langkahnya. Bagus! Dua cewek yang penting dalam hidupnya serempak membuang muka ketika melihat dia. Farhan sampai bingung, sebenarnya dia punya dosa apa pada mereka? Terlalu lama merutuki nasib, Farhan sampai tidak sadar Kiky dan Titha sudah berada di hadapannya. Memandang ke arahnya dengan heran. “Woy, Bro!” “Kok bengong, sih, Far?” Farhan mengangkat wajahnya dan memaksakan senyum. “Nggak apa-apa. Lagi mikir aja,” jawabnya bohong. Secara tidak mungkin juga dia jujur seterang-terangnya bahwa dia baru diacuhkan oleh istri dan mantan pacarnya. Bisa habis mukanya di depan Kiky! “Eh iya Far, cowok yang barengan sama Faren itu siapa?” tanya Kiky. Farhan mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Dan gue nggak mau tahu. Terserah aja dia mau ngapain.” Sebenarnya Farhan penasaran juga siapa senior yang berjalan bersama Faren tadi. “Katanya Faren, temen lamanya gitu. Kebetulan kemarin gue ketemu sama dia di perpus.” “Kayaknya senior.” “Ya emang, say! Gimana sih?” Titha mencebik kesal. “Lagian coba dilihat, deh. Tampangnya aja kelihatan tua gitu,” Titha berbisik sambil menunjuk Faren dan seorang cowok yang kebetulan terlihat berjalan bersebelahan di gedung fakultas Teknik. “Tapi orangnya lumayan. Paling juga senior semester 6.” Kiky diam-diam mulai menilai juga sosok yang terlihat berjalan bersama Faren dari kejauhan itu. “Far, lo jangan kalah!” ketika Titha menoleh dia langsung kaget begitu mendapati Farhan sudah tidak berdiri di sampingnya. “Lho? Kok ilang?” “Heh? Mana tuh anak! Ngilang kayak jin aja!” “Cemburu kali.” Kiky berpikir sejenak. “Ya udah deh, biar dia menjernihkan pikiran dulu. Hehe...” “Bener juga. Terus sekarang kita ngapain?” “Aha!” Kiky berseru girang. “Kantin, yuk...” “Ayok!” jawab Titha tak kalah semangat. Tapi semangatnya langsung surut begitu menyadari satu hal. “Eh, tunggu. Bukannya lo baru mau masuk kelas sekarang ya?” “Ha?” Kiky bengong sejenak. Kemudian tersadar. “Oh iya, dasar b**o! Pantes si Farhan main kabur aja, Pak Bambang, sih!” “Gimana, sih?! Dasar!” “Aduh...” Kiky menelan kekecewaan. “Ya udah say, aku pergi dulu.” “Huuu... Ya udah!” Kiky secepat mungkin melesat pergi menuju kelasnya. Pintu sudah tertutup rapat. Dia menyiapkan mental yang kuat untuk menghadapi Pak Bambang. Huufh... *** Rissa berjalan menelusuri fakultas Manajemen. Matanya bergerak kesana-kemari mencari sosok Denny. Tadi ketika dia sampai di kelas Denny, kelasnya sudah kosong melompong. Sepertinya jadwal pulang dimajukan. Dan Rissa tidak tahu. Sialnya, di gedung ini dia kembali harus berpapasan dengan wajah itu. Wajah yang selalu menari-nari di pikirannya. Wajah yang tak pernah bisa dia hapus dari memori otaknya. Wajah yang selalu menghiasi mimpi di malamnya. Farhan. Cowok itu telah berhasil membuatnya menjatuhkan hati sejatuh-jatuhnya. Sampai sakit rasanya. Dan entah kenapa, sakit itu masih bersarang. Tapi cinta itu pun juga masih membekas. Selama ini Deny mungkin hanya pelarian cintanya saja dari Farhan. Karena itu dia membutuhkan Deny untuk melindungi hatinya. Agar setiap saat tak bisa disakiti terus-menerus oleh Farhan. Baru beberapa langkah, jantungnya serasa berhenti berdetak ketika melihat wajah itu. Secepat kilat Rissa membuang muka meskipun rasanya sakit sekali. Meskipun dalam hatinya, dia selalu merindukan wajah itu.  Tapi dia tidak bisa terus-terusan memandangnya. Karena ketika memandang wajahnya, hanya rasa sakit dan goresan perih yang dia dapat. Rissa mempercepat langkahnya. Samar-samar dia mendengar suara yang sangat dia kenal. Suara Deny. Cowok itu sedang tertawa bersama teman-temannya di bawah tangga lantai dua yang lumayan sepi. Langkah Rissa terhenti seketika. Dia mendekat pada tempat itu. Berusaha menemui Deny. Namun, di beberapa langkah berikutnya dia benar-benar berhenti bergerak. “Rissa mana, Den?” tanya salah satu dari ketiga teman Deny. “Masih ada pelajaran,” jawab Deny sambil memainkan handphone di tangannya. “Lo nggak takut si Rissa ada hubungan lagi sama—” teman Deny itu terdiam cukup lama. “Farhan bukan namanya? Temen lo itu?” “Lebih tepatnya mantan temen gue!” sambung Deny cepat. “Nah, itu maksud gue. Farhan atau siapa tuh, lo nggak takut Rissa ada hubungan lagi sam dia?” “Takut? Hahaha...” Deny terbahak keras. “Kenapa mesti takut? Mana ada sih cewek yang masih suka sama cowok beranak? Sinting kali!” “Hahahaha....” kemudian tawa di tempat sempit itu merebak seketika. Rissa menajamkan pendengarannya. Percakapan antar lelaki itu ternyata masih terus berlanjut. Sebisa mungkin Rissa diam tanpa bergerak sedikitpun. “Sumpah, Den, lo itu emang jenius banget!” “Iyalah, Deny Sanjaya gitu! Apa sih yang nggak bisa gue lakuin?!” Deny berbangga diri. “Cuma dengan sekali tepuk aja dua lalat jatuh. Dasar manusia b**o!” “Gue penasaran, nih. Terus mantan temen lo itu, waktu lo kasih obat gimana reaksinya?” tanya teman Deny yang lain. “Eh, coba deh waktu itu loe lihat tampangnya. Sumpah gue ngakak banget! Udah kayak apaan, aja!” lagi-lagi tawa Deny membahana. “Nggak nyangkanya, ternyata dia beneran main-main sama cewek lain! Beuh... keren nggak tuh?” “Emang dasar, ya. Manjur banget!” “Iyalah, orang mahal banget. Cuma demi Rissa gue rela ngelakuin itu. Termasuk menghianati temen gue sendiri.” “Tapi kasihan banget kalau jadi temen lo itu. Masak dia nggak tahu apa-apa, eh, tiba-tiba ngehamilin anak orang. Terus lo pakai nyebarin video p***o segala lagi. Sumpah nggak bisa bayangin jadi temen lo itu. Kasihan juga. Loe nggak punya perasaan banget, sih, Den.” “Udah dibilangin mantan temen gue! Gimana, sih?!” Deny agak kesal. Tapi kemudian senyuman dingin terkembang di wajahnya. “Awalnya gue nggak tega juga masukin obat kayak gitu ke minumannya. Tapi mau gimana? Udah terlanjur gue beli sih! Lagian cuma buat bercandaan doang. Yang masalah dia main-main sama cewek itu di luar kuasa gue. Angkat tangan, dah,” tawa Deny merebak kembali. PLAAKK!! Tiba-tiba sebuah gamparan tangan yang dahsyat mendarat tepat di pipi kiri Deny. Cowok itu menoleh dengan kaget. Kekagetannya bertambah tatkala melihat sosok Rissa berdiri tepat di sampingnya. Mata cewek itu merah seakan menahan tangis. Tapi wajahnya penuh dengan kebencian yang membara. “Jadi semua ini kerjaan lo, Den?!” teriak Rissa menahan amarah. “Ternyata lo nggak lebih dari pecundang! Gue nyesel percaya sama lo!” katanya sambil berlari menjauh. Deny terkesiap panik. Raut wajahnya tampak gugup. “Lo salah paham, Ris!” Deny berusaha mengejar Rissa. Dia menarik pergelangan cewek itu. Refleks Rissa menoleh dan melayangkan tamparannya yang kedua. “Dua kali tamparan!” kata Rissa ketus. “Demi apapun, gue nyesel udah ngasih tamparan kayak gitu ke Farhan! Dan lo pantes dapat tamparan yang sama. Bahkan mungkin beratus kali lebih banyak!” Rissa berbalik bersiap pergi. Tapi Deny bersikeras menahannya. “Gue kayak gini karena gue cinta sama lo, Ris!” “Gue nggak butuh cinta dari lo, Den!” Rissa menepis tangan Deny dengan keras. Tangisnya nyaris keluar. “If you know, gue nggak pernah cinta sama lo! Loe itu cuma pelampiasan cinta gue ke Farhan yang hancur. Dan ternyata pelampiasan gue salah sasaran!” Deny menegang di tempatnya berdiri. Hatinya seakan hancur dan remuk. Dendamnya pada Farhan semakin membesar dan menggunung tiada tara. “Lo udah menghancurkan semuanya! Mulai detik ini kita putus!” Rissa masih terisak. “Riss...” “Gue benci sama lo!” Rissa berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Deny yang diselimuti dendam kebencian. “s**t! b******k!” maki Deny sambil menendang tembok kampus kuat-kuat. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD