Sudah berulang kali Faren melirik jam di dinding. Hampir pukul 10 malam. Tapi, Farhan tak juga pulang. Faren menghembuskan nafas frustasi. Izzy sudah tidur sejak tadi. Faren ingin segera menyusul. Hanya saja kantuk tak kunjung datang. Pikirannya terus tertuju pada Farhan. Kemana sih dia?
Faren berusaha tak peduli. Tapi semakin lama dia mulai gelisah juga. Biasanya di malam hari, Farhan akan terlambat pukul 9. Tapi sekarang sudah jam 10. Dan Farhan belum juga pulang!
Akhirnya Faren mengambil handphone. Dia menimang-nimang sejenak. Lalu dia memutuskan untuk menelpon kakak iparnya lebih dulu. Beberapa detik berikutnya terdengar suara serak milik Farah.
“Hallo, Ren. Hoahm...”
“Hallo, Kak. Ehm... Farhan ada di rumah nggak?” tanya Faren sembari menggigit bibir takut-takut.
“Ha?Nggak ada, tuh.”
“Oh, ya udah. Makasih Kak.”
Tak ada jawaban. Sepertinya Farah terlelap kembali ke alam mimpi. Faren segera memutuskan sambungan. Pada akhirnya dia menekan nomor milik Farhan. Sambungan terhubung. Tapi anehnya tak ada yang menyahut. Faren mencoba sekali lagi. Hasilnya sama saja. Tidak diangkat.
Dengan kesal Faren berlari menuju kamar Farhan. Siapa tahu dia sudah pulang diam-diam dan malah sudah tepar di ranjang. Tapi ketika membuka kamarnya, kamar itu kosong melompong.
Faren melangkahkan kakinya masuk. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah benda berbentuk persegi panjang dengan layar k-touch. Faren mengambil benda itu dan mendelik kesal. Pantas tidak diangkat. Ternyata benda itu tidak dibawa pergi.
Faren duduk di tepi ranjang sambil mengamati benda di tangannya. Tiba-tiba rasa penasarannya timbul. Setengah jam kemudian dia larut dalam kegiatan stalker-nya. Ternyata Farhan masih menyimpan beberapa fotonya dengan Rissa dalam sebuah folder berlabel Memory’s. Faren mengamati salah satu dari foto itu. Mereka sangat serasi dalam foto.
Faren beralih membuka folder Pesan dalam menu utama. Matanya tertumbuk pada sebuah SMS di deret pertama yang diterima sekitar tiga jam lalu. Tepat ketika Farhan meminta izin pergi.
Devil_Deny
Gw tunggu lo di markas Graha! Skrng! Kalo lo gk datg, brati lo PENGECUT!
Tubuh Faren menegang seketika. Dia mencoba mengingat-ingat kapan dia pernah mendengar nama itu. Faren memejamkan mata. Bersikeras mengingat apa yang pernah terjadi. Akhirnya dia ingat satu hal. Farhan pernah bilang kalau Deny itu mantan temannya yang...
Dengan cepat Faren membuka percakapan antara Farhan dan Deny. Ternyata sudah cukup lama mereka vakum SMS-an. Dan baru kali ini Deny mengirim SMS lagi pada Farhan. Rasa penasaran Faren menjadi-jadi. Dia membaca ulang SMS terakhir antara Farhan dan Deny. Untungnya, Farhan belum menghapus pesan-pesan lamanya itu
Devil_Deny : Hallo PENGECUT!! Hapy merid ya...
Me : Thx
Devil_Deny : duh... kok plt bgt jwbnya?
Me : Mau ap lg lo?
Devil_Deny : Kok gt nanggepinnya? Gw cm mau ngucap selamat J
Me : Cih! Gw gk btuh!
Devil_Deny : Semoga jd keluarga yg sakinah mawadah warahmah. Dan smg
anaknya tambah byk...
Me : Puas lo PENGHIANAT???
Devil_Deny : Iya puas bgt. Tp klo liat lo, merana bgt yak emg udah nasib lo kyk gtu sih.
Me : Terserah!!!
Devil_Deny : Gmn rasanya minum obat dari gue? Hebat bgt, kan?
Me : Sialan! Pecundang!
Devil_Deny : Udh mending minum lo cuma gw taruh obt kyk gtu. Bkn racun
sekalian biar lo mati.
Devil_Deny : Satu lg, lo hrs makasih sm gw.. Video p***o itu cm gue sebarin ke anak-anak. Bukan ke dunia sekalian. Bersyukur lo.
Faren merasakan nafasnya sesak membaca bait demi bait SMS itu. Tangannya membuka kembali SMS pertama yang dia baca. Jantungnya berdetak menggila. Faren memasukkan handphone itu ke dalam sakunya lalu segera berlari keluar.
***
Faren mengemudikan mobil pink-nya dengan gila-gilaan. Sebenarnya dia paling benci melakukan hal gila begini. Tapi dia tidak tahu apa yang mendorongnya menekan gas semakin dalam. Sesekali Faren melirik pada kaca spion. Izzy masih tertidur di jok belakang dalam sabuk pengamannya. Semoga saja dia tidak bangun.
Faren berusaha mengingat tempat itu. Hanya ada dua tempat bernama Graha di sini. Graha baru tidak memungkinkan. Entah mengapa, Faren sangat yakin kalau yang dimaksud di pesan itu adalah Graha lama yang sempat hangus.
Keyakinan Faren terbukti saat itu juga. Di ujung jalan dia melihat mobil marcedes hitam milik Farhan terparkir di muka gedung. Secepat kilat Faren memarkirkan mobilnya di belakang mobil Farhan. Dia memastikan seluruh pintu mobil terkunci. Sehingga Izzy yang sudah terlelap itu akan aman.
Faren celingukan kesana-kemari. Tempat itu sangat sepi. Hanya sesekali kendaraan bersliweran lewat. Pelan-pelan Faren melangkahkan kakinya mendekati gedung. Seketika dia mendengar suara godaman kayu yang dahsyat. Suara itu dari bawah.
Faren melongokkan kepalanya ke lorong parkir. Ada suara berisik aneh menusuk-nusuk telinganya. Lagi-lagi suara godaman itu berulang. Faren memejamkan matanya sejenak. Kemudian pelan-pelan dia menelusup ke bawah.
***
“Bangun, Far!! Cuma segitu doang, HAH?!” suara Deny terdengar menyentak seluruh ruangan.
“Boss, dia udah mau sekarat!” jawab salah seorang preman.
“Bagus. Emang itu yang gue tunggu!” Deny tersenyum penuh kemenangan. Dia melangkahkan kakinya mendekati Farhan. Lalu menarik rambut Farhan sehingga wajahnya yang penuh darah itu terlihat. “Sirup lo banyak banget!”
Farhan meringis kesakitan. Darahnya terus merembes dari dahi dan hidungnya. “Pu—Puas lo se—sekarang?”
“Gue nggak pernah puas kalau lo belum mati, Far,” jawab Deny dengan tenang. Kedua tangannya masuk ke dalam saku. Sementara matanya terus memandangi wajah mantan temannya itu. “Kalau wajah lo rusak, Rissa pasti nggak bakal suka lagi sama lo!”
“Gu—Gue em—emang udah lo rusak!” Farhan berucap susah payah sambil terus memegangi perutnya yang baru saja memuntahkan darah.
“Payah! Bangun!” Deny mengomando para anak buahnya. Preman-preman itu memaksa Farhan berdiri lagi.
“Ada yang mau lagi? Mainan kalian masih kuat, kok.”
Dan seorang preman maju.
Lalu jerit kesakitan Farhan kembali terdengar.
***
Faren membeku di tempatnya berdiri. Tubuhnya merosot jatuh ke bawah. Dia terduduk di antara tumpukan kayu yang menjulang tinggi di belakang basement parkir. Dia tidak berani menoleh lagi. Lewat tempat ini dia melihat semua kejadian mengerikan itu. Tanpa sadar air matanya mengalir dalam diam.
Berhentii!! Gue mohon berhentiii!!! Jangan sakiti dia lagi!!
Faren menutup telinganya ketika mendengar suara godaman kayu yang menyakitkan itu lagi. Dia menyentuh dadanya yang kini berdetak tak karuan. Air matanya semakin deras mengalir. Dia ingat kata-kata terakhir Farhan sebelum pergi.
“Jagain Izzy, ya?”
Faren menangis mengingat kejadian tadi. Dan dia sama sekali tidak mau menanggapi apa yang dikatakan Farhan. Dia bahkan mengabaikan permintaan maaf tulus dari suaminya itu. Dan sekarang? Apa yang dia lihat? Kalau dia pergi, siapa yang akan menggantikan posisi ayah untuk Izzy?
Faren menggeleng tegas. Berusaha melupakan semua kecemasan dan ketakutannya. Dia memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan tangan bergetar dia mengambil handphone dari dalam tas selempang kecilnya. Secepat kilat dia mengirim SMS pada Kiky.
Siapapun... Gue mohon siapapun ke sini... Gue mohon... Siapapun tolong Farhan... Tolong selamatkan dia... Tolong Ky, tolong Farhan...
Faren terdiam. Matanya kembali terpejam. Dia hanyut dalam doanya. Dia ingin keluar dan menolong Farhan. Tapi dia takut melawan preman-preman itu. Dia hanya bisa berdoa dari sini. Dari lubuk hatinya.
Tak lama setelahnya terdengar sirine patroli polisi dan ambulans yang beradu menjadi satu. Kiky berlarian menyusup ke area parkir bersama beberapa orang polisi. Deny dan anak buahnya sudah kabur melalui lorong belakang.
“Jangan kabur lo, Den!!” teriak Kiky sambil berusaha mengejar Deny yang kini berlari semakin kencang. Di belakangnya para kawanan polisi dengan pistolnya bergerak dengan langkah cepat.
Melihat keadaan yang kini memungkinkan, Faren keluar dari persembunyiaannya. Dia berlari ke arah Farhan yang berdiri sedikit terhuyung. Farhan kemudian jatuh terduduk di tempatnya berdiri tadi.
“Farhan!!”
Faren berlari ke arah Farhan. Tangannya menyentuh lembut lengan Farhan. Dengan sentakan kecil, Farhan menoleh. Faren nyaris tidak mengenali wajahnya karena wajah Farhan sudah berlumuran darah.
Faren menutup mulutnya kaget. Pandangannya beralih pada pelataran parkir yang tak luput dari genangan darah. Ketika mata mereka bertemu, mata cowok itu tampak menatapnya dengan sayu.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Faren hati-hati. Dia mencari-cari kotak tisu yang selalu dibawanya di tas.
Faren menatap Farhan dengan khawatir. Pandangan Farhan lama-kelamaan mulai mengabur. Dan sebelum Faren sempat menyeka darah Farhan yang terus mengalir, cowok itu sudah jatuh dalam pelukannya.
“Farhan!!”
“Bangun!! Farhan banguuun!!”
Faren terus menggoyang-goyangkan tubuh Farhan. Tapi Farhan tetap tidak sadar. Darahnya yang merah kental itu membasahi baju putih yang dikenakan Faren. Faren menepuk-nepuk pipiya. Farhan tetap tidak mau membuka mata.
***