Ambulans itu bergerak dengan cepat melewati padatnya malam kota Jakarta. Dengan sirine yang meraung-raung, mobil itu berhasil menembus keramaian. Semua kendaraan yang menghalangi segera disingkirkan. Demi keselamatan sebuah nyawa.
“Far, banguuun...” Faren terus memegangi tangan Farhan. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini keluar juga. Faren tertunduk di dekat sosok Farhan yang tidak sadarkan diri.
Sampai pada akhirnya, ambulans itu sampai juga di depan sebuah rumah sakit. Farhan segera dimasukkan ke dalam ruang UGD. Dokter dan para perawat melakukan pertolongan pertama padanya.
Faren menunggu di luar dengan cemas. Dia tidak diperbolehkan masuk. Izzy masih tertidur dalam pelukannya. Diam-diam air matanya meleleh lagi. Sesegera mungkin Faren berlari menuju kamar mandi.
Dia memandangi wajahnya yang pucat pasi melalui cermin. Matanya merah dan berair. Rambutnya acak-acakan. Dia meraih tisu dalam tasnya dan menyeka air mata. Tapi walau dikeringkan seperti apa, matanya tetap kelihatan bengkak.
Tak lama kemudian, mertua dan kakak iparnya datang. Mereka juga kelihatan kaget dan cemas. Mama Farhan terlihat menitikkan air mata. Farah kebingungan seperti orang linglung. Dia terus menggigiti bibirnya takut-takut. Papa Farhan yang selalu tenang pun saat ini tampak begitu tegang.
Dengan air mata berlinang Faren menceritakan kronologis cerita yang terjadi. Mereka semua mendengarkan dengan tidak percaya. Mereka sangat mengenal siapa Deny. Dan yang tak disangka, orang yang sudah dipercaya oleh Mama Farhan itu malah tega-teganya melukai Farhan.
Padahal Mama Farhan sudah menganggap Deny seperti anaknya sendiri. Sudah sejak kelas sepuluh Farhan dan Deny bersahabat. Tapi apa yang barusan didengarnya benar-benar membuat kepercayaan Mama Farhan pada Deny hancur berkeping-keping.
Tak lama setelah itu, Kiky akhirnya muncul juga setelah urusannya dengan polisi selesai. Meski Deny belum diketahui kabarnya, tapi para polisi sudah berjanji untuk segera menangkapnya.
“Gimana keadaan Farhan?”
“Masih di UGD,” jawab Faren pelan.
Kiky menghembuskan nafas berat. Dia terduduk di samping Faren. Tangannya memain-mainkan topi hitam milik Farhan yang tadi ditemukannya di TKP.
Diam-diam Kiky melirik ke arah Faren. Ternyata cewek itu menangis dalam keheningan. Kemudian Kiky menyerahkan topi di tangannya pada Faren.
Faren mengamati topi yang diserahkan Kiky. Ini topi yang tadi dipakai Farhan ketika akan berangkat. Topi itu bukannya mengeringkan air mata Faren, tapi malah membuatnya makin deras.
Topi yang ada di tangannya itu kini berlumuran darah. Warna hitamnya yang tadi cerah seakan mulai koyak dengan adanya berbagai goresan di beberapa bagiannya. Faren masih mengamati detail-detail dari topi itu, sampai akhirnya dia menemukan sebuah ukiran kecil di bagian pojok.
“FR...” gumam Faren disela tangisnya.
“Farhan-Rissa.” Kiky menoleh seketika. “Itu kado sweet seventeen dari Rissa. Meskipun kelihatannya cuma topi, tapi topi itu limited edition. Kalau nggak salah Rissa beli itu waktu liburan ke Prancis. Topi itu sengaja dibeli khusus buat Farhan.”
“Mereka berdua itu saling sayang, ya?”
Kiky mengangguk. “Mereka jadian sejak kelas sepuluh. Hampir tiga tahun Meskipun sering ngambek-ngambekan, pada akhirnya mereka bakal baikan lagi.”
Faren terdiam mendengar penuturan Kiky. Dia masih terus mengalirkan air matanya. Retina matanya diam-diam bergerak. Menyusuri pintu kaca di depannya. Mengamati seseorang yang terbaring disana.
Faren menunduk lagi. Dia kembali berdoa.
***
Seharian ini Izzy rewel. Dia menangis terus dari pagi sampai tadi siang. Bayi kecil itu terus-terusan mencari ayahnya. Faren sampai kehabisan akal untuk meredakan tangisnya. Bahkan setelah makan bubur dan minum s**u, Izzy masih terus menangis. Sampai akhirnya Izzy tertidur dan dibawa pulang Mama Faren.
Faren sendiri kembali diam di depan ranjang Farhan. Kata dokter, Farhan butuh banyak istirahat. Dari kemarin saja, dia belum membuka mata. Kondisinya yang drop membuatnya harus istirahat total.
Faren diam memandangi sosok Farhan yang tertidur di depannya. Di setiap sudut lekuk wajahnya terdapat biru lebam. Dahinya diperban, menimbulkan bercak darah di sana. Namun itu tak menutupi lukisan indah di wajahnya yang putih. Walau agak pucat.
Faren mengambil kompres dan menyeka luka di wajahnya. Pelan-pelan dia menyentuh luka itu, seakan takut sosok itu akan menjerit kesakitan. Tangan Faren berhenti pada pipinya. Dia diam mengamati Farhan dalam tidurnya.
Meski pucat, wajahnya tetap indah. Alis matanya tebal. Bulu matanya lentik walaupun agak pendek. Hidungnya mancung.
Faren memejamkan matanya. Hatinya sakit mengingat dirinya sendiri. Dia merasa menjadi orang paling jahat di dunia ini. Mengingat semua perlakuannya seenaknya selama ini. Harusnya dia yang mengemis maaf. Dan bukannya Farhan.
Ketika Faren menyentuh pipinya yang terluka dengan lembut. Tiba-tiba sosok itu membuka mata perlahan. Faren menurunkan tangannya seketika.
“Gu—Gue ada dimana?” tanya Farhan bingung.
“Lo di rumah sakit,” jawab Faren canggung.
“Hah?”
“Iya.” Faren mengalihkan pandangannya pada mangkuk di atas meja. “Lo mau makan?”
Farhan menggeleng. Dia membenamkan wajahnya pada bantal lalu memejamkan mata kembali.
“Lo harus makan.”
“Gue nggak laper.”
“Tapi lo harus makan. Gue suapin, ya?” Faren menyodorkan sesuap bubur pada mulut Farhan.
Meskipun ragu-ragu, Farhan membuka mulutnya juga. Baru beberapa suap, tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar rawatnya.
Rissa!
Seketika Faren menghentikan gerakan tangannya. Dia dan Farhan sama-sama menatap sosok yang berdiri di ambang pintu. Cewek itu menyuguhkan seulas senyum. Pelan-pelan dia masuk. “Gue boleh ngomong berdua sama Farhan?” tanyanya pada Faren.
Faren melirik Farhan sekilas. Kemudian dia mengangguk dengan ragu. “Boleh.” Faren bangkit sambil berjalan keluar. Lalu duduk di kursi depan kamar dengan gelisah. Entah kenapa, dia ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Tak lama kemudian, pintu ruang rawat Farhan terbuka lagi. Rissa keluar dari ruangan itu dengan senyuman sinis. Faren segera bangkit dari duduknya. Rissa mendekat dan berbisik.
“Lo boleh istrinya. Tapi selamanya cuma gue yang ada di hati Farhan. Dan itu nggak akan pernah bisa berubah.” Rissa segera berlalu setelahnya.
Faren terdiam mematung merenungi perkataan Rissa. Akhirnya Faren hanya bisa menghembuskan nafas berat. Ya, dia tahu yang dibilang Rissa itu memang benar.
Faren melirik pada pintu kaca di depannya dengan bimbang. Pelan-pelan dia mendekati pintu itu. Ketika dia masuk, Farhan tampak sibuk membaca sebuah scrapbook bersampul biru. Faren tidak ingat pernah membawa buku semacam itu ke sini.
Farhan tampak terkejut melihat Faren. Secepat kilat dia menyimpan benda di tangannya ke bawah bantal. Lalu memaksakan seulas senyum ketika Faren mendekat pelan.
“Lagi baca apa?”
“Bukan apa-apa.” Farhan menjawab sambil menekan bantalnya ke belakang. Diam-diam Faren merasa curiga dengan sesuatu yang disembunyikannya. Tapi dia hanya bisa diam.
Diam. Sampai ada saatnya dia tahu.
***
“Ren, lain kali lo harus hati-hati jaga suami lo!” Kiky masih meneruskan ceramah panjang lebarnya pada Faren di lorong rumah sakit.
Faren hanya bisa mengangguk-angguk pasrah sambil mendengarkan semua celotehan yang keluar dari si cerewet satu ini. Titha di samping Kiky juga ikutan menceramahi. Faren benar-benar merasa sangat bodoh diceramahi orang-orang seperti mereka.
Faren bahkan harus menahan malu ketika suster-suster yang bersliweran lewat menyuguhkan senyum. Meskipun tersenyum, sudah tentu suster-suster itu mendengar apa yang dibicarakan mereka. Faren harus memasang muka tebal menghadapi mereka. Terserah saja suster-suster itu menganggapnya orang jahat atau istri yang ceroboh, atau apapun itu. Jelasnya orang-orang seperti Kiky dan Titha memang harus diusir.
“Kalau pagi sama malem, lo juga harus rajin bikinin Farhan s**u. Kan lo dengerkan tadi, Farhan itu harus banyak minum s**u. Tulangnya udah mulai nggak sehat.” Kali ini Titha yang berkoar.
“Iya. Gue ngerti.” Faren berhenti seketika. “Nah, udah sampai lobby nih. Sana gih pulang!”
“Ngusir nih ceritanya?” Kiky setengah mencibir.
“Udah tahu nanya.” Faren menjawab sekenanya. “Thanks ya, udah kesini.
“Iya, kita pulang ya.”
“Bye...”
Kiky dan Titha berjalan keluar area rumah sakit menuju parkiran. Faren kemudian kembali ke dalam ruang rawat Farhan. Ternyata cowok itu sudah tertidur. Padahal setengah jam lalu dia masih tertawa bersama Kiky.
Faren menghembuskan nafas sejenak, kemudian dia mengambil koran di atas meja lalu duduk bersila di sofa. Baru satu kalimat artikel yang dia baca, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia melirik ke arah Farhan. Lalu mendekati ranjangnya.
Faren menggerak-gerakkan tangannya di depan Farhan. Cowok itu tetap terjaga dalam tidurnya. Kemudian Faren beralih pada sesuatu berwarna biru yang terselip di bawah bantal.
Faren menyipitkan mata. Diam-diam dia memasukkan tangannya ke dalam bantal. Lalu menarik scrapbook itu pelan-pelan. Setelah itu dia berjingkrak keluar kamar.
Faren segera duduk di kursi panjang depan kamar rawat. Dia mengamati benda yang ada di tangannya itu. Sebuah scrapbook berlatar langit biru dengan objek sepasang kekasih yang saling menyatakan cinta. Scrapbook itu bertuliskan I love you now and forever.
Ketika membuka halaman pertama, secarik kertas jatuh ke bawah. Faren menunduk dan mengambil kertas itu. Dia membukanya pelan-pelan.
Dear My Love
Farhan,
Maafin aku, Far. Selama ini aku udah berpikiran yang enggak-enggak tentang kamu. Aku udah jahat banget sama kamu. Aku nggak tahu harus kayak gimana supaya kamu mau maafin aku lagi. Aku harus gimana Far?
Aku mungkin terlalu egois waktu itu. Terlalu percaya sama omong kosongnya Deny. Aku tahu aku emang bodoh banget, Far. Harusnya aku percaya sama kamu. Aku udah tahu banget siapa kamu. Dan aku yakin kamu nggak pernah bohongin aku, bahkan selingkuh di belakangku. Harusnya aku nggak mudah percaya sama orang lain. Aku tahu aku salah banget Far.
Mungkin sekarang kamu udah benci sama aku. Tapi aku mohon banget Far, maafin aku. Selamanya, cuma kamu yang ada dihatiku. Bukan Deny. Aku sebenernya nggak pernah sayang sama dia. Kamu harus tahu, kalo yang aku sayang cuma kamu. Dan itu nggak akan pernah berubah, Far. Dan aku akan lakuin apapun supaya kita bisa sama-sama lagi.
Kamu juga sayang sama aku kan?
Aku nggak peduli kamu udah nikah atau gimana. Satu yang harus kamu tahu. Aku cinta sama kamu. Sekarang dan selamanya.
Faren menutup kertas itu cepat-cepat. Tangannya sedikit bergetar ketika memegang lipatan kertas itu. Ketika dia akan mengembalikannya, benda itu melayang jatuh. Seiring dengan setetes air mata yang melayang jatuh mengikuti pergerakan kertas itu.
Kalau mereka balikan, terus gue sama Izzy gimana?
Faren merasakan air matanya menetes lagi. Setetes. Dua tetes. Tiga tetes. Dia mengingat semua kejadian beberapa bulan belakangan ini. Farhan selalu bersikap baik dan manis kepadanya. Kecuali kalau Faren mulai kesal dan marah, barulah cowok itu balas kesal dan marah juga.
Hati orang, siapapun dia kita pasti tidak tahu. Semanis apapun dia, sebaik apapun dia. Faren yakin kalau di hatinya cuma ada Rissa. Dan Faren sangat sadar siapa dirinya, apa posisinya. Dia hanya pelampiasan obat. Persinggahan terindah untuk sesaat. Hanya sekali pakai. Dan setelahnya akan terbengkalai.
Faren menangis dalam diam. Tangannya yang masih bergetar itu membuka halaman-demi halaman scrapbook. Berpuluh-puluh foto Farhan dan Rissa terpampang disana. Hampir setiap foto mempunyai penjelasan di bawahnya.
Foto-foto yang ada di dalam scrapbook itu seluruhnya terlihat hidup. Dengan sedikit bagian yang diedit, membuat foto itu semakin terkesan nyata. Semua objek yang ada di dalam foto itu menonjol dengan indah. Seakan mengatakan hanya satu objek saja yang pantas ada di setiap foto. Objek itu Farhan.
Faren menatap foto-foto itu takjub. Rissa memang fotografer sekaligus paparazzi yang handal. Dia mampu mengambil gambar Farhan baik secara sadar maupun tidak dengan sempurna. Tak heran cewek itu terkenal di jurusan teknik desain dengan kemampuannya yang menakjubkan. Semua foto yang diambilnya selalu tepat sasaran.
Penataan foto pada halaman biru scrapbook itu pun tak kalah indah. Faren yakin pasti Rissa sendiri yang menghias scrapbook ini sedemikian rupa sehingga terkesan mewah dan menarik. Mungkin kalau laku di pameran, scrapbook ini akan bernilai sangat tinggi.
Faren masih terus mengamati gambar Farhan dalam berbagai pose. Wajahnya selalu sempurna dan posenya selalu pas. Tanpa sadar Faren tersenyum mengamati sebuah foto. Objek dalam foto itu sedang memasukan bola ke dalam ring dan masuk dengan indah. Faren membaca tulisan di bawah foto. Farhan @ Friendship Competition with SMA 56. Foto itu jelas diambil ketika dia belum masuk ke SMA 40.
Halaman dibalik, tangis Faren lenyap seketika. Dia bahkan nyaris tertawa melihat foto Farhan yang tampak melahap bakso dengan rakus. Pipinya menggembung sebelah. Tapi tampangnya selalu saja seperti itu. Ganteng.
Pada foto berikutnya, Farhan tampak serius mengerjakan soal. Di foto itu Farhan memakai kacamata berframe hitam. Wajahnya tambah ganteng dengan sentuhan kacamata minus itu.
Di foto yang lain Farhan tampak memakai topi yang diberikan oleh Rissa. Dia juga memegang sebuah kertas bertuliskan I LOVE U. Dan sudah jelas yang dimaksud Rissa.
Faren membalik halaman lagi. Sebuah foto dengan berlatar matahari senja terpampang dengan begitu menawan. Kali ini yang menjadi objek bukan Farhan. Tapi pasir di pinggir pantai dengan ukiran FR. Langit orange di belakang sana seakan memperjelas ukiran di atas pasir itu dan mengatakan bahwa cinta mereka akan abadi. Dan mungkin memang akan begitu.
Pandangan Faren terhenti pada foto dengan objek Farhan dan Rissa. Mereka tampak memasang raut wajah yang aneh-aneh. Rissa menggembungkan pipi sambil mencubit kedua pipi Farhan. Mereka terlihat serasi. Faren merasa iri melihat foto kedua sejoli itu.
Scrapbook itu ditutup dengan perasaan aneh. Faren menatap benda itu dengan bimbang. Perasaannya campur aduk. Ada sedih, kecewa, bingung, sakit, senang. Apapun itu, yang jelas benda ini harus segera dikembalikan pada pemiliknya. Segera sebelum dia bangun.
***