Siang ini Farhan boleh pulang dari rumah sakit. Dia akan menjalani rawat jalan dan kembali ke rumahnya lagi. Papa dan Farah sudah datang menjemput. Sementara Mama di rumah Farhan menjaga Izzy.
Di muka rumah sakit, Faren dan Farhan ditemani seorang suster sudah tampak dari lobby. Begitu sang suster kembali ke dalam, Farhan segera beranjak menuju pintu mobil. Sebelum menyentuh knop pintu, Faren sudah membukakan pintu untuk Farhan. Cowok itu langsung tersenyum tipis.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya mobil itu sampai juga di halaman rumah baru Farhan. Secepat mungkin Farhan melangkah turun dan berjalan memasuki rumahnya.
“Ppappa...” Izzy dalam gendongan Oma-nya tampak kegirangan sambil mengulurkan kedua tangannya. Farhan segera merebut Izzy dari gendongan Mama. Bayi itu tertawa-tawa senang dalam pelukan ayahnya.
“Papa kangen banget sama Izzy.” Farhan mengecup pipi anaknya dengan penuh sayang. Izzy kembali tertawa. Lalu menepuk-nepuk pipi ayahnya.
“Udah nyam-nyam?”
“Dah... Ppapa atit?” Izzy menyentuh perban putih di dahi Farhan.
“Iya. Tapi udah sembuh,” jawab Farhan sambil tertawa.
Di dalam ruang tamu hanya tinggal Farhan, Faren, dan Izzy. Papa keluar menuju teras dan membaca koran di sana. Farah dan Mama beranjak menuju dapur. Hari ini Mama memang sengaja memasak makanan special untuk merayakan kepulangan anaknya. Farah juga sudah mempersiapkan puding coklat kesukaan adiknya.
Tinggalah Faren dalam keheningannya. Dia melirik ke arah Farhan dan Izzy yang masih tertawa bersama melepas kerinduan. Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam hati Faren.
Faren tidak tahu, tapi dia merasa ada gejolak aneh dalam hatinya. Diam-diam dia berharap Farhan juga merindukannya ketika dia tidak ada. Sama seperti ketika cowok itu merindukan Izzy. Tapi Faren sadar tak ada tempat di hati Farhan untuk merindukannya. Lagipula, untuk apa merindukan orang yang jelas-jelas jahat sama kita? Tidak ada untungnya!
Anehnya lagi, gejolak di dalam hati Faren semakin menggila. Lebih gila karena dia juga berharap lebih dan lebih. Dia berharap Farhan juga memeluknya, dan bahkan menciumnya. Sama seperti Izzy. Hari ini Faren merasa Izzy menjadi saingannya. Dia iri dengan apa yang diperoleh Izzy. Ini benar-benar aneh!
Faren akhirnya memilih kabur dan pura-pura berganti pakaian menuju kamarnya. Dia sengaja berlama-lama di dalam kamar sampai akhirnya dia disuruh turun untuk makan siang.
Di meja makan, semua sudah berkumpul. Sesegera mungkin Faren bergabung d isana. Anehnya, suasana makan siang kali ini Farhan lebih banyak diam. Biasanya dia dan Farah akan bertengkar disela-sela acara makan. Tapi kali ini sosok itu lebih banyak diam. Mungkin dia masih sakit.
Mungkin.
Tapi sedetik kemudian Faren membeku. Adakah hubungannya dengan Rissa?
***
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Tapi Faren masih begadang di dalam kamarnya sambil memainkan laptop. Dia menekan-nekan mouse berulang kali. Sesekali tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri.
Skak.
Lagi-lagi dia kalah. Sehebat apapun kemampuannya bermain catur, tetap saja dia tidak bisa menang jika melawan komputer. Sialnya pion miliknya dimakan habis oleh kerajaan hitam.
Faren meregangkan kedua tangannya. Dia berjingkrak menuju kamar Izzy. Bayi itu tampak tenang dalam boks Cars-nya yang berwarna biru. Tangannya menggenggam sebuah mobil-mobilan.
Faren mendekat ke arah Izzy. Dia mengelus dahi mungil anaknya dengan lembut, lalu mengecupnya penuh sayang. Tiba-tiba pandangan Faren terasa kosong. Dia menatap anaknya dengan hampa.
Setetes air mata melayang jatuh. Faren memejamkan matanya rapat-rapat. Farhan boleh pergi darinya. Boleh. Faren akan rela kalau Farhan kembali lagi dengan Rissa. Toh, sekarang semuanya sudah jelas. Farhan nggak bersalah sama sekali. Dia hanya korban. Sama seperti Faren.
Tapi bagaimana dengan Izzy? Izzy sudah terlanjur ada. Dan kalau mereka sampai berpisah, akan jadi apakah Izzy nanti?
Faren merenung dalam diam. Sampai dia mendengar suara pintu dibuka dari samping. Farhan muncul dengan wajah heran. “Belum tidur?”
Faren menggeleng sekilas sambil sesekali mengusap matanya yang kemerahan. “Lo juga belum tidur?”
“Belum. Gue lagi bingung nyari sesuatu.”
“Sesuatu apa?” tanya Faren ingin tahu.
“Surat.”
Faren merasa kaku dalam sekejap. Jantungnya berdetak lebih cepat. Pikirannya melayang pada secarik kertas yang terjatuh di lantai rumah sakit. Seketika Faren berjalan menerobos keluar tanpa bicara apa-apa.
Farhan memandang punggung Faren dengan heran. Ada yang aneh. Tapi dia tidak tahu.
***
Farhan beranjak turun ketika melihat siluet cahaya menyusup ke dalam gorden kamarnya. Dia berjalan menuju ruang makan. Faren tampak sibuk menyuapi Izzy yang duduk di kursi istimewanya. Panjang kursi itu saja melebihi tinggi kursi pada umumnya. Sehingga Faren dapat dengan mudah menyuapi Izzy tanpa perlu menunduk sekali pun.
“Pagi...” sapa Faren dengan ceria. Tumben.
“Pagi.” Farhan menjawab dengan agak ragu. Dia memaksakan seulas senyum.
“Mau minum apa? Teh anget atau s**u?”
Farhan menggaruk kepala bingung. Hari ini Faren aneh banget. Dia tidak tahu apa yang ada di pikiran Faren, sehingga cewek itu mau bersikap baik padanya. “Teh...”
“Oke.”
Farhan masih terus mengamati Faren yang kini sibuk dengan tekonya. Dia mencari suatu keanehan yang mulai bersarang pada cewek pemarah itu. Tapi tetap saja dia tidak tahu apa penyebab keanehannya. Apa mungkin dia merasa bersalah?
Farhan menggeleng tak pasti. Dia masih merenung dalam diam. Izzy tiba-tiba menarik-narik piyama atasannya.
“Ppapap...” panggil Izzy dengan susah payah.
Farhan mengelus rambut Izzy yang tipis. “Izzy nyam-nyamnya jangan belepotan, ya?”
Izzy langsung diam. Tangannya malah bergerak meremukkan biskuit di genggamannya.
“Izzy bandel sekarang ya?” Farhan setengah tertawa sambil membersihkan bekas kotoran biskuit yang dihancurkan itu. Izzy malah tertawa senang. “Hihihi...”
Tak lama setelahnya Faren datang dengan secangkir teh di tangannya. Dia tersenyum manis ketika mengulurkan teh itu di hadapan Farhan.
“Habis ini lo minum obat, ya?” kata Faren sambil berbalik. Tapi langkahnya seketika terhenti karena Farhan menarik lengannya. “Kenapa?”
Farhan menghembuskan nafas berat. “Lo aneh, Ren.”
“Maksud lo?” Faren terkejut. Tiba-tiba sikapnya berubah agak sinis.
Farhan merasa salah bicara. Dia kehilangan kata untuk menjelaskan. “Ma... Maksud gue, nggak biasanya lo kayak gini.
“Jadi lo nggak suka gue kayak gini?”
“Bukannya gitu, Ren. Ya kayak bukan lo aja.”
“Kayak bukan gue? Jadi selama ini gue monster di mata lo?” nada suara Faren semakin meninggi.
“Enggak gitu.” Farhan masih berusaha bersikap lembut. “Cuma aneh aja, Ren. Kita udah cukup buat saling kenal. Kalau ada yang berubah, pasti ada alesannya.”
Faren merasa matanya tiba-tiba panas. Sebentar lagi mungkin air matanya akan jatuh. Tapi dia berusaha untuk menahannya dan tetap tegar sebagai cewek pemarah dan kuat di hadapan Farhan.
“Bilang aja lo nggak suka kalau gue kayak gini?!” nada suara Faren meninggi.
Farhan menunduk dan memejamkan mata sejenak. “Lo salah paham, Ren. Gue cuma mau tahu alasan lo tiba-tiba kayak gini.”
Faren menatap Farhan dengan matanya yang memerah dan mulai berair. “Nggak ada alesan.”
Farhan sendiri agak kaget melihat Faren mulai menangis. Padahal selama ini Farhan belum pernah melihat Faren menangis. Tapi sekarang cewek itu menangis. Tepat di depannya.
“Tapi kalau...”
“Tapi apa?” Faren mulai emosi. Tangisnya tak tertahan. “Kenapa sih gue selalu salah di mata lo? Gue gini salah, gue gitu salah. Terus gue mesti gimana?”
Farhan menggeleng. “Gue nggak bilang kayak gitu.”
“Kayaknya kita emang udah nggak ada harapan. Mendingan kita cerai aja, Far.”
Farhan tampak kaget. “Harus berapa kali, sih, gue bilang?! Lo salah paham. Gue tanya kenapa lo tiba-tiba berubah. Apa salah, kalau gue tahu?”
“Sejak awal kita nikah cuma karena Izzy, kan? Dan sekarang...” Faren menghapus air matanya yang berlinang. “Gue udah tahu semuanya. Dan gue rasa, lo nggak harus bertanggung jawab atas gue dan Izzy lagi.”
“Ren...” Farhan mengejar Faren yang mulai berjalan menuju kamarnya. Dia menarik lengan Faren. Seketika Faren membalik. Tapi dia langsung menepis tangan Farhan dengan kasar.
“Gue mau cerai sama lo. Lagian buat apa semua ini? Kita nggak saling cinta, Far. Buat apa terus dilanjutin? Selamanya kita nggak akan bahagia.”
“Faren, lo salah paham!”
“Salah paham apalagi?” tangis Faren semakin menjadi-jadi. “Udah, kita cerai aja. Nggak apa-apa. Biar Izzy tinggal sama gue. Gue bisa ngurusin Izzy sendiri. Nggak perlu lo.”
BRAAK...
Pintu dibanting. Farhan terdiam di depan kamar Faren. Dia masih berusaha menggedor pintu kamar Faren. Tapi tetap tidak dibuka.
“Ren, biar gue jelasin dulu. Gue nggak bermaksud kayak gitu. Gue cuma nanya aja. Lo salah paham!”
Tidak ada sahutan. Farhan mencengkeram kenop pintu kamar dengan kuat. Berharap pemiliknya akan keluar. Tapi sedetik setelahnya malah terdengar suara tangisan Izzy. Secepat mungkin Farhan berlari turun.
***
Faren membanting pintu kamarnya dengan kesal. Dia melempar tubuhnya ke atas kasur dan menangis sepuasnya di sana. Hampir seharian ini dia mengurung diri di kamar. Air matanya berdesakan turun. Terus dan terus tanpa dapat dia hentikan.
Waktu bergulir begitu cepat. Hari mulai sore. Langit yang cerah tiba-tiba berubah. Terdengar suara petir menyambar dari luar. Seketika Faren bangkit dari tidurnya. Dia mendekat menuju pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.
Langkahnya terasa hati-hati ketika menyentuh ubin yang mulai beku di luar. Angin kencang langsung menyerbunya. Pohon-pohon di sekitar kompleks mulai bergoyang-goyang tak tentu arah ketika hembusan angin semakin kencang. Langit mendung. Hitam kelam. Sama seperti hatinya sekarang.
Faren menyentuh matanya yang bengkak dan basah. Dia terdiam agak lama. Kemudian duduk di pojok balkon. Dinginnya ubin begitu terasa menusuk. Tapi Faren tidak peduli. Dia membiarkan angin menyentuhnya. Tak peduli bagaimana pun sakitnya. Dia hanya terus memandang gumpalan awan mendung di atas. Dalam diam dan keheningan yang menyakitkan.
***