Seharian ini di luar hujan turun terus. Sejak tadi sore, air mulai turun membasahi bumi. Tapi rasanya hujan kali ini enggan berhenti. Ingin bermain lama-lama dengan bumi yang haus akan sentuhan air. Kilat dan petir menyambar berulang-ulang. Terasa menusuk dan menyakitkan.
Farhan melirik jam di dinding. Hampir jam 7 malam. Tapi Faren sama sekali tidak mau keluar kamar. Seharian ini dia mengurung diri. Bahkan dia melewatkan makan siangnya. Dan mungkin dia juga tidak akan keluar untuk makan malam.
Farhan melirik kamar Faren dengan cemas. Pelan-pelan dia berjalan menuju kamar itu. Lalu mengetuk pintu kamarnya pelan-pelan.
“Ren, makan yuk! Kalau lo nggak makan, nanti lo bisa sakit.” Farhan berucap di depan kamar Faren, seperti yang sudah-sudah. Tapi hasilnya masih sama. Tidak ada sahutan. Tidak ada jawaban.
Farhan menghembuskan nafas berat. “Di luar hujan, lo nggak mau minum teh anget?”
Tetap tidak ada jawaban.
“Lo nggak laper?”
Farhan menyerah. Dia kembali menuju kamarnya.
Untung hari ini Izzy sudah tidur dengan sendirinya. Jadi dia tidak perlu repot-repot menidurkan Izzy atau menemaninya bermain boneka dan mobil-mobilan sampai bayi itu tertidur.
Farhan melamparkan diri di atas ranjang. Berusaha memejamkan mata. Tapi rasanya susah. Biasanya dia tidur larut malam. Tapi hari ini? Entah kenapa dia ingin tidur lebih awal agar hari yang melelahkan ini segera berakhir. Tapi tetap saja dia tidak mengantuk.
Pandangan Farhan tertuju pada jendela kamarnya yang lebar. Jendela itu basah oleh titik-titik hujan yang mengalir turun dengan bebas. Hujan di luar masih deras saja.
Farhan tidak tahu apa yang mendorongnya, tapi tiba-tiba dia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu balkon. Farhan mengamati titik-titik hujan yang masih turun membasahi bumi. Terjun bebas seperti air mata. Dalam titik-titik hujan itu dia memejamkan mata sambil bersandar pada tembok kamarnya.
Ketika Farhan menoleh ke samping, tepatnya ke arah kamar Faren. Dia langsung kaget melihat sosok dengan rambut panjang terurai dan wajah pucat duduk bersandar di sudut balkon sambil memeluk lututnya. Hampir saja Farhan berteriak kalau tidak segera sadar sosok itu adalah Faren.
Farhan berlari ke arah sosok itu. Dan benar itu Faren. Kedua mata cewek itu terpejam. Tubuhnya yang kecil bersandar pada tembok balkon. Wajahnya pucat pasi. Bajunya juga agak basah.
“Ren...” Farhan menyentuh lengan Faren. Tapi dia langsung terkejut merasakan lengan cewek itu yang beku. Farhan langsung mengguncangkan tubuh Faren. “Ya, ampun Ren! Lo ngapain di sini?”
Faren tidak bangun.
“Ren...” Farhan menepuk-nepuk kedua pipi Faren yang dingin.
Faren tetap diam. Farhan segera mengangkat tubuh Faren dan membawanya masuk ke dalam kamar yang terbuka lebar. Dia merebahkan tubuh Faren di atas ranjang.
“Ren, lo nggak apa-apa?” kata Farhan dengan lembut. Tangannya bergerak menyentuh dahi cewek itu. Rasa dingin yang menjalar tadi kini hilang menjadi panas.
“Demam...” Farhan bergumam lirih. Kemudian dia berlari mengambil kompres di dapur. Secepat kilat dia kembali ke dalam kamar Faren dengan membawa baskom bercampur es batu. Itu yang selalu dilakukan Mamanya ketika Farhan sakit. Biasanya panas akan cepat hilang setelah dikompres.
“Mmmhh...” Faren bergumam setengah sadar ketika Farhan masuk.
“Ren, lo nggak apa-apa? Pusing, ya? Atau gimana?”
Faren mengangguk lemah. “Dingin...” gumamnya sambil terbatuk.
Farhan melirik kaos Faren yang basah kuyup. “Baju lo basah, sih. Ganti dulu. Gue ambilin.” Farhan segera mengambil setelan piyama hangat dari dalam lemari.
“Ganti pakai ini.” Farhan meletakkan setelan piyama berwarna ungu itu di samping Faren.
Faren menggeleng dalam tidurnya. Dia membalikkan badannya ke arah lain. Farhan segera menahan lengannya. “Kalau nggak ganti, lo tambah sakit. Buruan ganti.”
Faren masih bersikeras. Tapi Farhan tahu cewek itu menggigil dalam tidurnya. Dia terus menerus memeluk tubuhnya yang bergetar dalam dingin yang menusuk.
“Ayo buruan ganti!” Farhan terus membujuk Faren.
Faren tetap memejamkan mata. Dia masih menggigil. Kedua tangannya bersedekap mencari kehangatan di atas kaosnya yang basah kuyup.
Farhan menunduk dan berbisik. “Ayo ganti baju dulu.”
Faren membuka matanya sedikit. “Pusing..”
“Iya, ganti baju dulu. Nanti gue kasih obat.”
Akhirnya Faren menyerah dan mendudukkan diri di atas ranjang. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat dan lesu.
“Nih, ganti!”
Faren meraih piyama atasannya tanpa bersemangat. Dia melepaskan kancing piyama itu dengan lambat. Farhan merasa gemas melihatnya. Dia segera merebut piyama itu dari tangan Faren dan melepas semua kancingnya dengan ekstra cepat.
“Buruan kaosnya dicopot.” Farhan memerintah Faren. Tapi cewek itu malah diam merenung dengan wajah tertunduk menahan pusing yang menjalar.
Farhan segera memposisikan dirinya di samping Faren. “Sini tangan lo dikeluarin.” Farhan menyentuh tangan Faren dan membantunya mengeluarkan tangannya dari lengan kaos. Anehnya, cewek itu menurut saja ketika Farhan membantunya mengganti pakaian.
Kaos itu lepas dan jatuh. Faren menarik selimutnya dan berusaha menutupi setengah bagian dari badannya yang terbuka. Dia tertunduk malu.
Seketika Farhan merasakan wajahnya panas. Dia mengalihkan pandangannya. Dia baru menyadari tindakan konyolnya barusan. “Sori, gue cuma mau bantuin. Nggak ada maksud apa-apa kok. Ehm... gue keluar dulu, ya. Gue bikinin teh,” katanya tanpa berani menoleh.
Farhan bangkit. Tapi Faren malah menarik lengannya. “Jangan pergi!” katanya lirih. Seketika Farhan diam. Dia mundur dan kembali duduk di samping Faren.
“Kenapa?”
“Gue yang buang surat itu.” Faren menjawab dengan begitu lirih. Kepalanya tertunduk.
Farhan agak terkejut mendengar jawaban Faren. “Surat dari Rissa?”
Faren mengangguk dalam diamnya. “Gue nggak mau lo pergi ninggalin gue sama Izzy.”
Farhan duduk kembali di samping Faren. “Gue udah jadi milik lo sepenuhnya. Gue nggak mungkin pergi.”
Tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Faren terdiam menatap kedua mata Farhan yang bersinar. Dan itu mengingatkannya pada mata Izzy. Mata yang sama. Hitam yang terang dan berbinar.
Mereka bertatapan dalam keheningan. Faren merasakan jantungnya berdetak cepat ketika melihat wajah Farhan mendekat. Cekalan tangannya pada selimut semakin kuat. Dia memejamkan matanya. Sebuah sentuhan manis menyentuh bibirnya dengan lembut. Hangat. Dan dia tidak butuh barang hangat lain yang melindunginya dari dingin. Dia hanya butuh Farhan.
***
Hari esok datang begitu cepat. Siluet-siluet terang itu menembus kaca jendela. Faren menggeliat dalam tidurnya. Matanya setengah terbuka. Dia mengucek matanya sejenak. Kemudian pandangannya tertuju pada Farhan yang tertidur di sampingnya.
Faren mengamatinya dalam diam. Farhan tampak tenang dalam tidurnya. Selalu seperti itu. Wajahnya selalu tampak sempurna. Dan akan lebih sempurna lagi ketika dia membuka matanya yang terang dan bersinar.
Tanpa sadar Faren tersenyum dan membelai pipinya lembut. Seketika tangan Farhan bergerak menyentuh tangan Faren yang berada di atas pipinya. Kedua mata Farhan perlahan terbuka. Faren merasa salah tingkah ketika sepasang mata yang terang itu menatapnya. Pipinya mulai merona merah. Secepat kilat Faren bangkit dari tidurnya.
“Mmm... Izzy kayaknya udah bangun,” Faren berujar cepat sambil berlari terbirit keluar kamar. Farhan hanya bisa tersenyum sambil mengikutinya menuju kamar Izzy.
Di kamarnya, Izzy sudah menangis meraung-raung dalam boks. Mobil-mobilannya dibuang di lantai. Bayi itu terus berusaha berdiri dalam boks. Faren langsung mengangkat Izzy dan menggendongnya dalam pelukan.
“Mmama... Ppapaa...” kata Izzy dengan girang. Tangannya yang satu melingkar di leher Faren. Satunya lagi bergerak-gerak ke arah Farhan meminta perhatian.
“Pagi Izzy...” Farhan mengelus rambut tipis Izzy yang halus.
“Agi...”
“Pinter... Papa mandi dulu, ya?” Farhan berbalik menatap Faren. “Gue mandi dulu ya, Ren.” Setelahnya dia beranjak keluar.
“Oke.” Faren tersenyum tipis sambil mengecup pipi Izzy.
***